Login
Section Accounting System

The Influence of Religiosity, Emotional Intelligence, and Moral Reasoning on the Ethical Behavior of Accounting Students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


Pengaruh Nilai Religiusitas, Kecerdasan Emosional dan Moral Reasoning terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Vol. 21 No. 2 (2026): May:

Zackya Gana Donda (1), Aisha Hanif (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Ethical behavior is an important aspect of accounting education because accounting students are prepared for professional roles that require integrity and ethical decision-making. Specific Background: Religiosity, emotional intelligence, and moral reasoning are examined as internal factors associated with ethical behavior among accounting students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Knowledge Gap: Previous studies have examined these factors separately or in combination with other variables, while limited research has examined religiosity, emotional intelligence, and moral reasoning simultaneously within one research model. Aims: This study analyzes the relationships of religiosity, emotional intelligence, and moral reasoning with the ethical behavior of accounting students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Results: Using a quantitative explanatory approach, data were obtained from 135 respondents through purposive sampling and analyzed using SPSS 26. The results show positive and significant relationships between religiosity, emotional intelligence, moral reasoning, and ethical behavior, with t-statistics of 8.131, 7.242, and 8.773, respectively, and significance values of 0.000. Novelty: The study examines the three internal factors simultaneously in one model among accounting students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Implications: The findings provide considerations for accounting education in developing students’ religiosity, emotional intelligence, and moral reasoning as aspects related to ethical behavior,


Key Findings


Religiosity shows a positive and significant relationship with students’ ethical behavior.


Emotional intelligence shows a positive and significant relationship with students’ ethical behavior.


Moral reasoning records the highest t-statistic among the three examined variables, while the model explains 75.7% of ethical behavior variation.


Keywords: Religiosity, Emotional Intelligence, Moral Reasoning, Ethical Behavior, Accounting Students

Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Perilaku etis mahasiswa merupakan aspek penting di berbagai negara terutama indonesia, pendidikan tinggi menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian utama karena perannya dalam meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan. termasuk indonesia. Khususnya di bidang akuntansi, perilaku etis mencerminkan komitmen mahasiswa terhadap prinsip moral, integritas, serta tanggung jawab profesional, yang terwujud dalam pengambilan keputusan akademik maupum profesional di masa depan. Hal ini sangat relevan karena profesi akuntan bergantung pada kepercayaan publik yang dibangun melalui perilaku etis individu[1]. Tingkat pelanggaran etika di lingkungan akademik juga menjadi sorotan para peneliti, karena berpotensi mencerminkan pola perilaku profesional mahasiswa di masa depan. Berbagai temuan empiris di indonesia mengindikasi bahwa penilaian mahasiswa akuntansi terhadap perilaku tidak etis seorang akuntan turut dibentuk oleh sejumlah faktor antara lain, idealisme, relativisme, pengetahuan etika, dan gender. Pada konteks di kehidupan nyata faktor-faktor tersebut erat kaitannya dengan kapasitas mahasiswa dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip etika[2]. Khususnya, pada program studi akuntansi dalam mempersiapkan diri menjadi akuntan professional, mahasiswa tidak hanya perlu menguasai kemampuan teknis, tetapi juga mengembangkan kematangan moral agar mampu menghadapi berbagai dilema etika yang kompleks di dalam lingkungan pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil kajian literatur yang telah dilakukan oleh peneliti, berbagai faktor penting di antaranya seperti, religiusitas, kecerdasan emosional, serta kemampuan penalaran moral berperan penting dalam membentuk perilaku etis mahasiswa akuntansi Ketika menghadapi berbagai situasi yang memerlukan pengambilan keputusan, baik di lingkungan akademik maupun profesional[3].

Pada dasarnya, religiusitas merupakan nilai yang mencerminkan sejauh mana keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama tertanam dalam diri seseorang serta menjadi pedoman dalam menentukan sikap dan perilaku. Dalam konteks mahasiswa akuntansi, religiusitas tidak hanya berkaitan dengan tingkat keyakinan terhadap ajaran agama, tetapi juga bagaimana nilai-nilai agama tersebut diterapkan ketika menghadapi suatu tindakan atau kondisi yang mengandung pertimbangan etis. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain dapat menjadi landasan bagi mahasiswa dalam menentukan perilaku yang sesuai dengan prinsip etika.[4]. Dengan demikian, semakin kuat nilai religiusitas yang dimiliki mahasiswa, semakin besar kecenderungannya untuk mempertimbangkan nilai moral dan etika dalam mengambil keputusan. Hal tersebut menjadikan religiusitas sebagai salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pembentukan perilaku etis mahasiswa akuntansi. Berbeda dengan individu yang memiliki kecerdasan emosional yang baik, seseorang dengan kecerdasan emosional yang rendah cenderung kesulitan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain dalam berbagai situasi sosial maupun profesional. Berdasarkan hasil penelitian, kecerdasan emosional dan religiusitas terbukti memberikan kontribusi positif terhadap kemampuan mahasiswa dalam menilai suatu permasalahan secara etis[3]. Mahasiswa akuntansi dibekali oleh kecerdasan emosional untuk bertahan menghadapi tekanan akademik mauapun godaan untuk berprilaku menyimpang dari norma etika ketika dihadapkan pada situasi dilema moral[5]. Di samping itu, kemampuan penalaran moral atau moral reasoning juga turut membentuk perilaku etis seseorang sebagai faktor yang sangat penting. Seseorang menggunakan moral reasoning sebagai proses kognitif untuk mengevaluasi suatu dilema moral guna menentukan tindakan yang yang selaras dengan standar moral yang berlaku[6]. Berperan penting dalam membentuk perilaku etis mahasiswa akuntansi , terutama ketika mereka dihadapkan pada persoalan moral dalam konteks dunia kerja maupun lingkungan profesional, telah dikonfirmasi oleh berbagai hasil penelitian[7].

Penelitian mengenai perilaku etis mahasiswa akuntansi telah berkembang dalam bidang akuntansi keperilakuan, terutama dalam mengkaji faktor-faktor internal yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan etis individu. Salah satu faktor yang banyak menjadi perhatian adalah religiusitas. Religiusitas berkaitan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai keagamaan yang dapat menjadi pedoman seseorang dalam menentukan tindakan yang benar dan salah. Penelitian yang membahas dampak pemahaman kode etik akuntan dan religiusitas menunjukkan bahwa religiusitas menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pembentukan perilaku etis individu[8]. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat berperan sebagai landasan moral dalam membentuk pertimbangan etis mahasiswa ketika menghadapi suatu tindakan atau dilema etika. Selain religiusitas, kecerdasan emosional juga menjadi faktor yang banyak dikaji dalam penelitian mengenai perilaku etis mahasiswa akuntansi. Bota, Mitan, dan Goo (2024) meneliti pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi dengan kecerdasan intelektual sebagai variabel moderasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perilaku etis mahasiswa akuntansi[5]. Kecerdasan emosional memungkinkan individu untuk mengenali, mengendalikan, dan mengelola emosi serta memahami kondisi emosional orang lain. Kemampuan tersebut dapat membantu mahasiswa mengendalikan dorongan pribadi dan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan ketika menghadapi situasi yang mengandung dilema etika. Penelitian Mada dan Putri (2022) yang tercantum dalam referensi [9] juga mengkaji kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dalam kaitannya dengan perilaku etis, sehingga semakin memperkuat perhatian penelitian terhadap faktor psikologis dan nilai internal individu dalam pembentukan perilaku etis. Selain itu, moral reasoning juga menjadi fokus penting dalam penelitian etika akuntansi, karena berkaitan langsung dengan kemampuan berpikir moral individu. Berdasarkan hasil penelitian Ayu Putu (2022), semakin baik moral reasoning yang dimiliki mahasiswa akuntansi, semakin etis pula perilaku mereka dalam menghadapi dilema etika di dunia kerja. Mahasiswa dengan tingkat moral reasoning yang tinggi cenderung membuat pertimbangan terhadap dampak moral dari setiap alternatif pilihan secara lebih cermat dan mendalam sebelum suatu keputusan yang diambil[9]. Dalam penelitian Pratiwi dan Susilowati (2025), peran yang signifikan dalam membentuk perilaku etis juga diungkapkan oleh moral reasoning, khususnya dalam upaya pencegahan terhadap munculnya perilaku menyimpang dan tindakan kecurangan[10]. Meskipun penelitian mengenai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning telah dilakukan, masih terdapat ruang penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian terdahulu cenderung menguji faktor-faktor tersebut secara terpisah atau menggabungkannya dengan variabel lain, seperti kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual. Penelitian Bota, Mitan, dan Goo (2024), misalnya, berfokus pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual sebagai variabel moderasi [5]. Sementara itu, penelitian mengenai kode etik dan religiusitas juga menempatkan religiusitas dalam konteks yang berbeda [8]. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk menguji pengaruh nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning secara bersama-sama terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi dalam satu model penelitian.Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama membahas perilaku etis mahasiswayang dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam mengambil keputusan etis. Namun, kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan ketiga variabel tersebut secara simultan dalam satu model penelitian untuk menjelaskan perilaku etis mahasiswa akuntansi. Dengan demikian, research gap dalam penelitian ini terletak pada adanya keterbatasan penelitian yang menguji ketiga faktor internal tersebut secara simultan serta adanya perbedaan fokus dan kombinasi variabel dalam penelitian terdahulu. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning terhadap perilaku etis mahasiswa. Hasil penelitian diharapkan dapat memperluas kajian mengenai faktor-faktor internal yang berperan dalam membentuk perilaku etis mahasiswa akuntansi.

Rumusan masalah dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana faktor-faktor internal mahasiswa berkontribusi terhadap terbentuknya perilaku etis mereka.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat pengaruh nilai religiusitas,kecerdasan emosional, dan moral reasoning terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi Universitas Muhammasiyah Sidoarjo. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk menganalisis pengaruh setiap variabel tersebut baik secara individual maupun secara bersama-sama dalam membentuk perilaku etis mahasiswa sebagai calon profesional akuntansi. Secara lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana nilai religiusitas berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran moral dan perilaku etis mahasiswa.Selain itu, penelitian ini juga menguji pengaruh variabel nilai religiusitas, kecerdasan emosional, termasuk moral reasoning secara simultan dalam membentuk perilaku etis mahasiswa akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo juga diuji secara simultan dalam penelitian ini. Melalui penelitian ini, diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai besarnya kontribusi masing-masing variabel dalam membentuk perilaku etis. Dengan demikian, upaya untuk mengidentifikasi variabel mana yang paling dominan pengaruh yang dilakukan oleh peneliti, sehungga hasil temuan ini dapat menjadi landasan yang kuat dalam pengambilan keputusan, khususnya dalam rangka pengembangan kurikulum dan perancangan metode pembelajaran yang relevan dan akurat.

Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) karena teori ini menjelaskan bahwa perilaku individu merupakan hasil dari sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku[11]. Dalam konteks penelitian ini, perilaku etis mahasiswa dapat dipengaruhi oleh faktor internal yang membentuk cara individu menilai dan menentukan suatu tindakan. Nilai religiusitas mengadopsi konsep yang dikemukakan oleh Charles Glock dan Rodney Stark. Menurut Glock dan Stark (1968) menjelaskan bahwa religiusitas menggambarkan tingkat keterikatan individu terhadap ajaran agamanya, yang tercermin dalam lima dimensi utama, yaitu keyakinan (belief), praktik ibadah (practice), pengalaman religius (experince), pengetahuan agama (knowledge), dan konsekuensi perilaku (consequence)[12].Selain itu, kecerdasan emosional juga menggunakan teori yang dikembangkan oleh Daniel Goleman, yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial maupun profesional tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan dalam memahami dan mengelola emosi. Goleman (1995) mengidentifikasi lima komponen utama kecerdasan emosional yaitu, kesadaran diri (self-awareness), pengaturan diri (self-regulation),motivasi (motivation),empati (empathy),dan keterampilan sosial (social skills[13]. Sebagai landasan tambahan, penelitian ini juga merujuk pada teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, yang menjelaskan bahwa kemampuan individu dalam membedakan hal yang benar dan salah berkembang secara bertahap melalui beberapa tingkatan. Kohlberg (1981) mengklarifikasikan perkembangan moral ke dalam tiga tingkat utama, yaitu pro-conventional, conventional, dan post-conventional, yang masing-masing terbagi menjadi dua tahap[14].

Dengan demikian, Theory of Planned Behavior digunakan sebagai landasan untuk menjelaskan bahwa faktor-faktor tersebut dapat berkontribusi terhadap terbentuknya niat dan perilaku etis mahasiswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pemyusunan kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada aspek pengetahuan akademik, tetapi juga mendukung pengembangan kecerdasan emosional dan kemampuan berpikir moral mahasiswa. Dengan begitu, lulusan akuntansi diharapkan memiliki integritas, empati, serta kemampuan mengambil keputusan yang etis ketika sudah masuk ke dunia kerja.

Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Nilai Religiusitas terhadap Perilaku Etis

Religiusitas merujuk pada tingkat pemahaman, keyakinan, dan pengalaman seseorang terhadap ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup keyakinan terhadap ajaran agama, pelaksanaan ibadah, pengalaman religius, pengetahuan agama, serta cara nilai-nilai agama membentuk perilaku individu yang didukung oleh Theory of Planned Behavior (TPB) dan konsepCharles Glock dan Rodney Stark (1968)[15]. Individu dengan nilai religiusitas tinggi biasanya menunjukkan komitmen moral yang kokoh dan lebih cenderung menjauhi perilaku yang bertentangan dengan norma[16]. Pada mahasiswa akuntansi, berbagai bentuk perilaku yang bertentangan dengan norma etika, seperti manipulasi data maupun pelanggaran integritas akademik, cenderung dihindari oleh mereka untuk memiliki nilai religiusitas yang tinggi. Kecenderungan tersebut dimunculkan sebagai manifestasi dari kesadaran moral yang kokoh, yang bersumber dari internalisasi nilai-nilai spiritual yang diayakini dan dipegang teguh oleh seseorang yang bersangkutan[17]. Adanya hubungan positif antara religiusitas dan perilaku etis yang turut dikonfirmasi oleh berbagai temuan empiris, di mana orientasi etis yang lebih kuat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan akademik dan profesional ditunjukkan oleh seseorang dengan nilai religiusitas yang tinggi.Salah satunya menemukan bahwa individu dengan nilai religiusitas yang lebih tinggi cenderung mengambil keputusan bisnis yang lebih etis[12]. Demikian pula, penelitian oleh saat penelitian kedua menunjukkan bahwa mahasiswa dengan komitmen religius yang kuat lebih peka terhadap isu etika akuntansi[18]. Dalam lingkungan akademik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang berlandaskan nilai-nilai islam, peran signifikan dalam membentuk perilaku etis diperkirakan dimiliki oleh religiusitas. Kemungkinan mahasiswa yang terlibat dalam tindakan tidak etis yaitu dipengaruhi dari nilai religiusitas yang diukur dari frekuensi ibadah, pemahaman ajaran agama, dan konsistensi penerapan ajaran agama. Hal ini menegaskan bahwa komitmen moral individu dapat diperkuat oleh nilai spiritual. Oleh karena itu, nilai religiusitas diprediksi memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

H1: Nilai Religiusitas berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Perilaku Etis

Kecerdasan emosional dapat didukung oleh Theory of Planned Behavior (TPB) dan konsep Daniel Goleman (1995) yang merupakan kemampuan seseorang untuk memahami perasaan dirinya sendiri, mengendalikan emosinya dengan baik, serta memahami dan menghargai perasaan orang lain[19]. Kecerdasan emosional sangat membantu seseorang dalam mengambil keputusan tepat karena emosi dapat mempengaruhi cara berpikir dan menilai suatu tindakan. Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi biasanya lebih tenang saat menghadapi tekanan, mampu mengendalikan emosinya, dan lebih peduli terhadap perasaan orang lain[20]. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin baik pula kemampuannya dalam mengambila keputusan yang etis,terutama dalam lingkungan akademik[21]. Hal ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa seseorang dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi cenderung memiliki perilaku lebih etis dalam lingkungan organisasi[22]. Hasil penelitian lainnya juga membuktikan bahwa kecerdasan emosional berkaitan dengan perilaku etis, baik di lingkungan akademik maupun profesional. Oleh karena itu, mahasiswa yang mampu mengendalikan diri , berempati, dan menyelesaikan konflik dengan baik, maka semakin besar pula kecenderungan mereka untuk menunjukkan perilaku etis.Kecerdasan emosional digunakan mahasiswa akuntansi untuk membantu mereka menghadapi berbagai dilema akademik seperti plagiarisme dan manipulasi data[23] Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam membentuk perilaku etis mahasiswa. Oleh karena itu, kecerdasan emosional diperkirakan memberikan pengaruh terhadap perilaku etis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo diperkirakan dimiliki oleh variabel ini.

H2: Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Pengaruh Moral Reasoning terhadap Perilaku Etis

Moral reasoning paling kuat didukung oleh Theory of Planned Behavior (TPB) dan konsep perkembangan moral Lawrence Kohlberg(1981) yang mengacu pada kemampuan individu dalam melakukan pertimbangan moral untuk menentukan tindakan yang sesuai berdasarkan dengan nilai, norma, dan prinsip etika yang berlaku[24]. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan seseorang dalam melakukan penalaran moral, semakin besar kecenderungannya untuk berperilaku etis[25]. Beberapa penelitian juga mendukung hal ini, ada yang bahwa mahasiswa dengan moral reasoning yang tinggi lebih peka terhadap masalah etika dalam akuntansi[26]. Penelitian lain menegaskan bahwa moral reasoning menjadi faktor utama dalam menentukan perilaku etis, karena berpengaruh pada kualitas penilaian moral seseorang.Di samping itu, oleh sejumlah bahwa diindikasikan bahwa keputusan audit yang lebih berorientasi pada nilai-nilai etika cenderung dihasilkan oleh auditor yang memiliki tingkat moral reasoning yang tinggi. Dalam konteks pendidikan akuntansi, posisi yang sangat strategis ditempati oleh moral reasoning mengingat mahasiswa kerap dihadapkan pada situasi yang melibatkan konflik kepentingan[27]. Melalui kemampuan penalaran moral yang memadai, dilema etika mahasiswa dapat dievaluasi secara lebih rasional dan objektif. Di samping itu, peran yang tidak kalah penting dimiliki oleh moral reasoning dalam meminimalkan kecenderungan perilaku tidak etis, seperti kecurangan maupun manipulasi data[28]. Oleh karena itu, moral reasoning dianggap sebagai faktor penentu penting bagi perilaku etis mahasiswa.

H3: Moral Reasoning berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Kerangka Konseptual

Figure 1.

Gambar 1. Kerangka Konseptual

II. Metode

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan pendekatan eksplanatori (explanatory resesarch) bertujuan untuk menjelaskan hubungan dan pengaruh antarvariabel yang diteliti. Metode ini digunakan karena penelitian ingin mengetahui apakah nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning dapat mempengaruhi perilaku etis mahasiswa. dengan pengukuran dan analisis statistik yang akurat. Secara prinsip, penelitian kuantitatif bertujuan menguji teori melalui pengukuran hubungan antarvariabel menggunakan instrumen penelitian serta analisis data statistik[29]. Penelitian eksplanatori dipakai karena studi ini tidak hanya mendeskripsikan fenomena, melainkan juga mengungkap hubungan kausal antarvariabel. Sebagaimana disebutkan, penelitian eksplanatori berfungsi untuk menjelaskan posisi variabel serta keterkaitan di antara variabel-variabel tersebut melalui pengujian hipotesis

Tabel 1. Indikator Variabel

No Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Sumber
1 Nilai Religiusitas (X1) Religiusitas mencerminkan sejauh mana individu menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Individu yang memiliki nilai religiusitas tinggi cenderung mempunyai prinsip moral yang kuat serta lebih mampu menghindari tindakan yang bertentangan dengan norma yang berlaku [15],[16]. 1. Keyakinan Agama 2. Pengetahuan Agama 3. Pengalaman Religius 4. Konsekuensi Beragama Likert (1-4) [15] [16]
2 Kecerdasan Enosional (X2) Kecerdasan emosinal merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan emosinya sendiri maupun memahami emosi orang lain. Kemampuan ini memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan etis karena emosi mempengaruhi cara seseorang menilai suatu Tindakan dari sisi moral[19],[20]. 1. Kesadaran Diri2. Pengendalian Diri3. Empati4. Pengambilan Keputusan Likert (1-4) [19] [20]
3 Moral Reasoning (X3) Moral reasoning didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam menilai dan memutuskan suatu tindakan berdasarkan prinsip moral tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat moral yang dimiliki seseorang, maka semakin besar kecenderungannya untuk selalu bertindak sesuai dengan nilai dan prinsip etika[24],[25]. 1. Hukuman dan Kepatuhan2. Kepentingan Pribadi3. Prinsip Etika Likert (1-4) [24] [25]
4 Perilaku Etis (Y) Perilaku etis menggambarkan bagaimana seseorang bertindak dengan benar dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan serta nilai moral yang dianut. Perilaku etis dalam penelitian ini adalah kecenderungan mahasiswa akuntansi untuk bertindak jujur, bertanggung jawab, dan mematuhi aturan akademik dalam situasi yang berpotensi menimbulkan dilema etika[30]. 1. Tanggung Jawab2. Kejujuran Akademik 3. Integritas dalam pengambilan keputusan Likert (1-4) [30]
Table 1.

Sumber : Ringkasan Peneliti, 2026

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini melibatkan seluruh mahasiswa akuntansi aktif tahun akademik 2025-2026. Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada tahun tahun akademik berjalan. Pemilihan mahasiswa akuntansi sebagai populasi didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka merupakan calon akuntan yang akan berhadapan dengan proses pengambilan Keputusan keuangan dan penerapan etika dalam dunia kerja[31]. Berdasarkan data akademik tahun 2025-2026 yang tersedia jumlah mahasiswa akuntansi aktif di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo adalah sebanyak 617 mahasiswa. Agar penelitian dapat mencerminkan keadaan populasi, Sampel yang dipilih harus mampu mewakili seluruh anggota populasi. Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang jumlah populasinya telah diketahui. Jumlah sampel kemudian ditentukan melalui perhitungan menggunakan rumus slovin :

Figure 2.

Tingkat kesalahan (error tolerance) yang digunakan dalam pennelitian ini adalah sebesar 10% atau 0,1. Hasil perhitungan rumus Slovin menghasilkan jumlah sampel sebesar 86,05 responden, yang kemudian dibulatkan menjadi 86 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, berdasarkan kriteria yang ditentukan.

Kriteria responden dalam penelitian ini meliputi:

  1. Mahasiswa aktif Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
  2. Pernah mengikuti kegiatan keagamaan di dalam/luar kampus
  3. Pernah menikuti kegiatan kampus (organisasi)
  4. Telah memiliki pengalaman mengikuti pelatihan/seminar terkait etika atau karakter.

Melalui penyebaran kuesioner secara daring via Google Form, terdapat 135 responden yang memenuhi syarat penelitian. Seluruh data responden tersebut kemudian digunakan dalam proses analisis agar hasil penelitian dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan memiliki tingkat akurasi yang baik.

Tabel 2. Karakteristik Responden

Demografi Frekuemsi Presentase
Jenis Kelamin
Laki-Laki 75 75,00%
Perempuan 60 60,00%
Semester
Semester 1-2 25 25,00%
Semester 3-4 27 27,00%
Semester 5-6 27 27,00%
Semester 7 ke atas 56 56,00%
Tingkat keaktifan dalam kegiatan keagamaan(dikampus/luar kampus)
Aktif 52 52,00%
Kurang aktif 45 45,00%
Tidak aktif 38 38,00%
Organisasi yang diikuti (jika ada)
Tidak mengikuti organisasi 50 50,00%
Organisasi keagamaan 44 44,00%
Organisasi kemahasiswaan 41 41,00%
Lainnya - 0%
Pengalaman mengikuti pelatihan/seminar terkait etika atau karakter
Pernah 78 78,00%
Tidak pernah 57 57,00%
Table 2.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berbentuk kuantitatif, diperoleh langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner secara online menggunakan Google Forms. Kuesioner tersebut diberikan pada mahasiswa akuntansi aktif Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan menggunakan skala likert sebagai alat pengukuran[32]. Pemilihan data primer ini didasarkan pada karakteristik penelitian ini yang mengkaji hubungan antar variabel psikologis dan perilaku, sehingga membutuhkan informasi yang diperoleh secara langsung dari responden sebagai subjek penelitian.

Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui metode survei dengan kuesioner terstruktur sebagai instrumen utama untuk memperoleh data primer. Metode survei dianggap paling tepat untuk mengetahui persepsi, tingkat pemahaman, serta perilaku etis responden yang bersifat subjektif dan sulit diamati secara langsung. Penyusunan kuesioner mengacu pada indikator masing-masing variabel penelitian, yaitu nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning, dan perilaku etis tersebut mengacu pada teori serta hasil penelitian terdahulu yang relevan agar instrument yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian.

Dalam penelitian ini, kuesioner disebarkan secara daring (online) sebagai metode pengumpulan data untuk menyesuaiakan dengan karakteristik responden, yaitu mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang terbiasa memanfaatkan media digital dalam kegiatan akademik. Metode ini dipilih karena memudahkan peneliti dalam memperoleh responden serta mempermudah proses pengisian kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui berbagai platform digital seperti Google Form, grup media sosial mahasiswa, dan aplikasi komunikasi akademik. Selama proses pengumpulan data, peneliti tetap memperhatikan etika penelitian dengan menjaga kerahasiaan identitas dan data pribadi setiap responden.

Kuesioner disusun menggunakan skala likert empat poin untuk mengukur tingkat persepsi responden terhadap setiap pernyataan, dengan pilihan jawaban berupa sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Skala empat poin dipilih karena dapat memberikan variasi jawaban yang cukup jelas, sehingga perbedaan sikap, persepsi, dan kecenderungan perilaku setiap responden dapat diukur dengan lebih baik. Sebelum digunakan, kuesioner terlebih dahulu melalui uji keterbacaan dan uji konsistensi, guna memastikan bahasa yang dipakai mudah dipahami, setiap pernyataan konteks penelitian, dan tidak menimbulkan perbedaan penafsiran antar responden. Tahap ini dilakukan agar data yang diperoleh memiliki kualitas yang baik dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya bias dalam proses pengukuran.

Setelah terkumpul, data diperiksa dan dibersihkan untuk memastikan seluruh jawaban reesponden lengkap serta layak analisis. Proses analisis selanjutnya dilakukan dengan bantuan program SPSS 26, yang dipilih karena menyediakan berbagai metode analisis statistik untuk menguji hubungan dan pengaruh antar variable dalam penelitian[33]. Melalui analisis ini, peneliti dapat mengetahui pengaruh nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, baik secara parsial maupun simultan sesuai dengan kerangka konseptual yang telah disusun.

Teknik Analisis Data

Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk memastikan setiap pernyataan dalam kuesioner benar-benar mampu mengukur variabel yang ingin diteliti. Pengujian ini dilakukan dengan mengamati hubungan antara skor tiap item pernyataan dengan skor total variabel menggunakan korelasi pearson. Suatu item dinyatakan valid jika nilai r hitung > r tabel pada tingkat signifikansi 0,05 (5%). Jika memenuhi syarat tersebut, maka item pernyataan dianggap layak digunakan dalam penelitian[34] .

Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas bertujuan mengetahui tingkat konsistensi kuesioner dalam mengukur suatu variabel. Instrument kuesioner dikatakan reliabel apabila hasil pengukuran yang diperoleh dari jawaban responden terhadap setiap pernyataam memiliki tingkat konsistensi yang baik. Kriteria reliabilitas terpenuhi jika nilai Cronbach Alpha > 0,70, yang mengindikasikan bahwa instrument memiliki tingkat konsistensi internal yang baik [35].

Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini, analisis regresi digunakan untuk sebagai metode analisis data untuk mengetahui sejauh mana variabel independent mampu menjelaskan sekaligus mempengaruhi perubahan pada variabel dependen.

a. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur pengaruh nilai religiusitas (X₁), kecerdasan emosional (X₂), dan moral reasoning (X₃) terhadap variabel dependen yaitu perilaku etis (Y) [46]. Melalui analisis regresi linear berganda, penelitian dapat mengidentifikasi besarnya kontribusi masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan regresi linier berganda yang digunakan adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Keterangan:

Y = Variabel dependen

a = Konstanta

b1, b2, dan b3 = Koefisien regresi masing-masing variabel

X1, X2, dan X3 = Variabel independen

e = Standart error

b. Uji T

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen berpengaruh secara individual terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan melihat nilai signifikansi < 0,05 dan arah koefisien regresi sesuai dengan hipotesis yang diajukan, maka H0 ditolak dan Hα diterima, yang berarti variabel independen tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen[35].

c. Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variasi pada variabel dependen, dengan nilai berkisar antara 0 hingga 1. Semakin nilai R² mendekati 1, semakin besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Sebaliknya, senakin mendekati 0, semakin besar pula variasi variabel dependen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian [32].

III. Hasil dan Pembahasan

Uji Validitas

Uji validitas bertujuan mengukur tingkat kelayakan dan ketepatan instrumen penelitian dalam mengukur variabel yang diteliti, sekaligus memastikan bahwa setiap item pernyataan dalam kuesioner mampu merepresentasikan indikator dari masing-masing variabel penelitian. Proses pengujian dilakukan dengan bantuan software SPSS versi 26. Hasil pengujian validitas terhadap seluruh item pernyataan pada empat variabel penelitian, yaitu nilai religiusitas, kecerdasan emosional, moral reasoning, dan perilaku etis disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Item R Hitung R Tabel Keterangan
Nilai Religiusitas (X1) X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X1.10 0,836 0,837 0,779 0,787 0,812 0,866 0,831 0,779 0,836 0,843 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Kecerdasan Emosional (X2) X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 0,873 0,875 0,849 0,821 0,827 0,834 0,816 0,800 0,815 0,762 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Moral Reasoning (X3) X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 0,781 0,802 0,776 0,799 0,743 0,835 0,821 0,825 0,798 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Perilaku Etis (Y) Y.1 Y.2 Y.3 Y.4 Y.5 Y.6 Y.7 Y.8 0,848 0,779 0,830 0,848 0,855 0.804 0,815 0,760 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 0,159 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Table 3.

Sumber : Output Spss data diolah 2026

Hasil uji validitas tersebut menunjukkan bahwa instrumen penelitian telah memenuhi kriteria valid, di mana setiap item pernyataan memiliki nilai r hitung > r tabel (0,159) dengan tingkat signifikasi 0,05, sehingga instrumen penelitian dapat dinyatakan valid dan seluruh pernyataan dalam kuesioner layak digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Cronbach Alpha untuk setiap variabel, di mana suatu variabel dinyatakan reliabel apabila memiliki nilainya > 0,70. Pengujian dilakukan menggunakan aplikasi SPSS versi 26 guna mengetahui tingkat konsistensi instrumen penelitian, dengan hasil disajikkan pada tabel berikut.

Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Nilai Cronbach’s Alpha Standar Keterangan
Nilai Religiusitas X1 0,946 0,70 Reliabel
Kecerdasan Emosional X2 0,949 0,70 Reliabel
Moral Reasoning X3 0,929 0,70 Reliabel
Perilaku Etis Y 0,929 0,70 Reliabel
Table 4.

Sumber : Output Spss data diolah 2026

Sebagaimana terlihat pada tabel, seluruh variabel penelitian memiliki nilai Cronbach Alpha yang memenuhi batas minimum reliabilitas, yaitu > 0,70. Oleh karena itu, selirih item pernyataan pada masing-masing variabel dapat dikatakan reliabel karena mampu mengukur variabel penelitian secara konsisten.

Uji Hipotesis

a. Analisis Linear Berganda

Uji regresi dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen, nilai religiusitas, kecerdasan emosioanal, dan moral reasoning, terhadap variabel dependen yaitu perilaku etis. Pengujiam ini dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 26, sehingga diperoleh persamaan regresi yang digunakan sebagai model dalam penelitian berikut ini.

Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Model Unstandardized CoefficientsB Std. Error
1 (Constant) -3.354 1.282
Nilai Religiusitas .316 .039
Kecerdasan Emosional .275 .038
Moral Reasoning .375 .043
Table 5.

Sumber : Output Spss data diolah 2026

Berdasarkan tabel koefisien di atas, diperoleh persamaan regresi linear berganda dalam penelitian ini sebagai berikut:

Y = -3.354 + 0,316X1 + 0,275X2 + 0,375X3 + e

Berdasarkan persamaan regresi tersebut, maka dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Nilai konstata sebesar -3.354 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen, memiliki nilai 0 atau dianggap konstan, maka nilai variabel dependen yaitu sebesar -3.354
  2. Variabel nilai religiusitas menujukkan koefisien regresi sebesar 0,316 dengan arah hubungan positif, yang berarti peningkatan religiusitas berasosiasi dengan peningkatan perilaku etis. Dengan kata lain, setiap kenaikan nilai religiusitas akan diikuti dengan peningkatan perilaku etis.
  3. Variabel kecerdasan emosional menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,275 dengan arah hubungan positif, yang berarti peningkatan kecerdasan emosional berasosiasi dengan peningkatan perilaku etis. Semakin baik kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya,maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk menunjukkan perilaku etis.
  4. Variabel moral reasoning menunjukkan koefisien regresi sebesar 0,375 dengan arah hubungan positif, yang berarti peningkatan moral reasoning berasosiasi dengan peningkatan perilaku etis. Dengan demikian, kemampuan seseorang dalam mempertimbangkan aspek moral berperan dalam meningkat perilaku etis.

b. Uji T

Pada pengujian ini disajikan hasil analisis yang bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen yang terdiri dari nilai religiusitas, kecerdasan emosional, moral reasoning berpengaruh secara individual terhadap variabel dependen, yaitu perilaku etis.

Tabel 6. Hasil Uji T

Model Unstandardized CoefficientsB Std. Error StandardizedCoefficientsBeta t Sig.
1 (Constant) -3.354 1.282 -2615 .010
Nilai Religiusitas .316 .039 .400 8.131 .000
Kecerdasan Emosional .275 .038 .350 7.242 .000
Moral Reasoning .375 .043 .407 8.773 .000
Table 6.

Sumber : Output Spss data diolah 2026

a. Pengujian hipotesis 1 mengenai pengaruh nilai religiusitas terhadap perilaku etis menunjukkan nilai signifikansi sebesar nilai 0,000 < 0,05. Variabel nilai religiusitas menghasilkan nilai t hitung sebesar 8,131, jauh melampaui t tabel sebesar 1,656. Merujuk pada kriteria pengujian, kondisi ini membuat H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan kata lain, nilai religiusitas terbukti berpengaruh terhadap perilaku etis.

b. Pengujian hipotesis 2 mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap perilaku etis menunjukkan nilai signifikansi sebesar nilai 0,000 < 0,05. Pada variabel kecerdasan emosional, nilai t hitung sebesar 7,242 yang juga lebih besar dari t tabel 1,656. Hasil ini mengindikasikan bahwa H2 diterima, yang berarti bahwa kecerdasan emosional memberikan pengaruh nyata terhadap perilaku etis.

c. Pengujian hipotesis 3 mengenai pengaruh moral reasoning terhadap perilaku etis menunjukkan nilai signifikansi sebesar nilai 0,000 < 0,05. Sementara itu, variabel moral reasoning mencatat nilai t hitung tertinggi diantara ketiganya, yaitu 8,773 yang juga lebih besar dari t tabel sebesar 1,656. Temuan ini menunjukkan bahwa H3 diterima, sehingga moral reasoninh dapat disimpulkan berpengaruh terhadap perilaku etis.

c. Koefisien Determinasi (R²)

Uji koefisien determinasi bertujuan mengetahui sejauh mana model penelitian mampu menjelaskan variasi pada variabel dependen. Melalui nilai R Square, yang berkisar antara nilai antara 0 hingga 1. Semakin nilai R Square, mendekati angka 1, semakin besar kemampuan model dalam menjelaskan variasi variable dependen. Sebaliknya, semakin mendekati 0, semakin terbatas kemampuantersebut. Nilai R Square yang diperoleh dari tabel Model Summary disajikan sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi

Model R R Square Ajusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .870 .757 .751 3.44819
Table 7.

Sumber : Output Spss data diolah 2026

Nilai R Square sebesar 0,757 pada tabel model summary menunjukkan bahwa variabel nilai religiusitas (X1), kecerdasan emosional (X2), dan moral reasoning (X3) secara bersama-sama mampu menjelaskan 75,7% variasi pada variabel perilaku etis (Y), sedangkan sisanya sebesar 24,3% dijelaskan oleh faktor-faktor lain penelitian yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

Pembahasan

Nilai Religiusitas berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, nilai religiusitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai t-statistik sebesar 8,131 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1,656 serta nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, H1 dinyatakan diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai religiusitas yang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa untuk menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma etika. Pengaruh positif tersebut menunjukkan bahwa religiusitas tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan secara formal, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai agama diinternalisasikan dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari[15]. Dalam konteks penelitian ini, religiusitas dapat tercermin melalui frekuensi menjalankan ibadah, pemahaman terhadap ajaran agama, serta konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan[16]. Mahasiswa yang memiliki pemahaman agama yang baik akan memiliki pedoman internal dalam membedakan tindakan yang benar dan salah.

Apabila dikaitkan dengan indikator religiusitas, frekuensi ibadah menunjukkan adanya kebiasaan mahasiswa dalam menjalankan kewajiban keagamaan secara konsisten. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung dapat membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Hasil penelitian juga dapat dijelaskan melalui karakteristik lingkungan pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang memberikan ruang terhadap penguatan nilai-nilai keislaman. Lingkungan pendidikan yang mendukung internalisasi nilai agama dapat membantu mahasiswa menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab akademik dan professional. Temuan penelitian ini diperkuat yang melibatkan 880 mahasiswa akuntansi di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan bahwa latar belakang lingkungan religius universitas, religiusitas, orientasi etis, dan nilai personal berpengaruh positif terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi[36]. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lingkungan perguruan tinggi yang mendukung nilai religius dapat menjadi faktor eksternal yang memperkuat pembentukan perilaku etis calon akuntan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pendidikan akuntansi Islam dapat memberikan pengaruh positif terhadap perilaku etis mahasiswa melalui internalisasi nilai seperti kejujuran, amanah, dan profesionalisme. Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa tingkat religiusitas secara individual tidak berpengaruh terhadap perilaku etis. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa religiusitas tidak selalu menghasilkan perilaku etis secara otomatis, tetapi efektivitasnya dapat dipengaruhi oleh bagaimana nilai agama diinternalisasikan dan diterapkan dalam lingkungan pendidikan[37]. Hasil penelitian ini juga memiliki relevansi dengan penelitian mengenai religiusitas dan persepsi etis mahasiswa akuntansi. Religiusitas menjadi salah satu faktor personal yang dapat memengaruhi cara mahasiswa dalam memandang tindakan yang berkaitan dengan etika profesi akuntansi[38].

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Nilai t-statistik sebesar 8,131 menunjukkan dukungan empiris yang kuat terhadap hipotesis penelitian. Artinya, peningkatan religiusitas yang tercermin melalui pelaksanaan ibadah, pemahaman ajaran agama, dan konsistensi penerapan nilai agama berhubungan dengan semakin baiknya perilaku etis mahasiswa. Religiusitas dalam penelitian ini bukan hanya menjadi aspek spiritual, tetapi juga berperan sebagai kontrol internal yang membantu mahasiswa menjaga kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan integritas dalam menjalankan aktivitas akademik maupun mempersiapkan diri sebagai calon akuntan.

Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil tersebut ditunjukkan oleh nilai t-statistik sebesar 7,242 yang lebih besar daripada t-tabel sebesar 1,656 serta nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, H2 dinyatakan diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kecerdasan emosional yang dimiliki mahasiswa, semakin baik pula kecenderungan mahasiswa dalam menunjukkan perilaku etis. Kecerdasan emosional dalam penelitian ini berkaitan dengan kemampuan mahasiswa dalam mengenali dan mengendalikan emosi, memahami kondisi orang lain, serta menghadapi konflik secara tepat[19]. Jika dikaitkan dengan indikator penelitian, kemampuan pengendalian diri menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan perilaku etis. Mahasiswa yang mampu mengendalikan emosinya cenderung tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat. Ketika menghadapi tekanan akademik, misalnya keterbatasan waktu dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi ujian, mahasiswa dengan pengendalian diri yang baik akan lebih mampu mempertimbangkan konsekuensi dari setiap tindakan.

Hasil ini juga didukung oleh penelitian mengenai ethical judgement calon akuntan di Malaysia yang menemukan bahwa kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif terhadap ethical judgement mahasiswa akuntansi. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kecerdasan emosional tidak hanya berhubungan dengan pengelolaan perasaan, tetapi juga dapat membantu individu dalam melakukan pertimbangan etis sebelum mengambil keputusan. Penelitian lain pada mahasiswa akuntansi juga menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan locus of control secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku etis mahasiswa[39]. Meskipun demikian. Dalam penelitian mahasiswa Akuntansi UMSIDA, hasil t-statistik sebesar 7,242 dan signifikansi 0,000 memberikan bukti empiris bahwa kecerdasan emosional memiliki kontribusi yang nyata terhadap perilaku etis responden.

Dengan demikian, kecerdasan emosional dapat dipandang sebagai kemampuan personal yang membantu mahasiswa menerjemahkan pengetahuan mengenai etika ke dalam tindakan nyata. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu tindakan merupakan tindakan yang salah, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan dorongan, mengelola tekanan, memahami orang lain, dan menyelesaikan konflik agar mampu mempertahankan keputusan yang etis[40]. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mengendalikan diri, berempati, dan mengelola konflik, semakin besar kecenderungannya untuk menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma etika.

Moral Reasoning berpengaruh positif terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, moral reasoning berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil pengujian menunjukkan nilai t-statistik sebesar 8,773 yang lebih tinggi dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1,656 serta nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, H3 dinyatakan diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan moral reasoning mahasiswa dalam mempertimbangkan persoalan moral, semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa untuk menunjukkan perilaku etis. Moral reasoning merupakan kemampuan individu dalam mempertimbangkan alasan moral sebelum menentukan suatu tindakan[24]. Dalam konteks mahasiswa akuntansi, kemampuan tersebut menjadi penting karena bidang akuntansi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis dalam mencatat dan menyajikan informasi keuangan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi dilema etika. Apabila dikaitkan dengan indikator moral reasoning, kemampuan mahasiswa dalam mempertimbangkan benar dan salah menunjukkan adanya proses evaluasi sebelum suatu tindakan dilakukan. Mahasiswa dengan moral reasoning yang baik tidak hanya mempertimbangkan apakah suatu tindakan menguntungkan dirinya, tetapi juga mempertimbangkan apakah tindakan tersebut dapat dibenarkan secara moral dan sesuai dengan norma yang berlaku[25].

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa moral reasoning memiliki nilai t-statistik paling tinggi dibandingkan dua variabel independen lainnya, yaitu sebesar 8,773. Berdasarkan hasil tersebut, moral reasoning dapat dikatakan sebagai variabel yang memiliki dukungan statistik paling kuat dalam menjelaskan perilaku etis mahasiswa dalam penelitian ini. Namun, perlu ditegaskan bahwa nilai t-statistik yang paling tinggi tidak secara otomatis berarti bahwa moral reasoning merupakan variabel yang memiliki pengaruh terbesar secara substantif. Penelitian lain juga menemukan bahwa moral reasoning berpengaruh terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi. Penelitian tersebut dilakukan pada 333 mahasiswa akuntansi di beberapa perguruan tinggi di Kota Batam dan menguji moral reasoning bersama ethical sensitivity dan ethical climate[41]. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa moral reasoning berpengaruh signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi, sedangkan variabel lain seperti gender tidak menunjukkan pengaruh yang sama. Selain itu, penelitian mengenai creative accounting menemukan bahwa moral reasoning berpengaruh positif terhadap persepsi mahasiswa akuntansi terhadap praktik creative accounting[42].

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa moral reasoning berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Nilai t-statistik sebesar 8,773 dan signifikansi sebesar 0,000 memberikan bukti empiris yang kuat bahwa kemampuan mahasiswa dalam mempertimbangkan aspek moral berhubungan dengan kecenderungan untuk berperilaku etis. Mahasiswa yang mampu menilai konsekuensi, mempertimbangkan prinsip benar dan salah, serta mengevaluasi dilema etika secara lebih matang akan lebih mampu mempertahankan integritas dalam aktivitas akademik maupun ketika mempersiapkan diri memasuki profesi akuntansi.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dapat disimpulkan Nilai religiusitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-statistik sebesar 8,131 yang lebih besar dari t-tabel sebesar 1,656 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi religiusitas mahasiswa yang tercermin melalui pelaksanaan ibadah, pemahaman ajaran agama, dan konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai agama, maka semakin baik pula perilaku etis mahasiswa.Kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-statistik sebesar 7,242 yang lebih besar dari t-tabel sebesar 1,656 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang mampu mengendalikan diri, memiliki empati, serta mampu mengelola konflik dengan baik cenderung lebih mampu mengambil keputusan dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan norma etika. Moral reasoning berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal ini dibuktikan dengan nilai t-statistik sebesar 8,773 yang lebih besar dari t-tabel sebesar 1,656 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan mahasiswa dalam mempertimbangkan nilai benar dan salah, menilai konsekuensi suatu tindakan, serta menghadapi dilema moral, maka semakin tinggi kecenderungan mahasiswa untuk berperilaku etis.

Di antara ketiga variabel tersebut, moral reasoning merupakan variabel yang memberikan pengaruh paling besar terhadap perilaku etis. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam mempertimbangkan benar dan salah serta mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai moral menjadi faktor yang paling dominan dalam membentuk perilaku etis. Sementara itu, nilai religiusitas membantu mahasiswa berpegang pada nilai-nilai agama dalam bertindak, dan kecerdasan emosional membantu mereka mengendalikan emosi, berempati, serta mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan 75,7% variasi perilaku etis mahasiswa, sementara 24,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning memiliki peran penting dalam membentuk perilaku etis mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sebagai calon akuntan yang profesional, berintegritas, dan mampu menghadapi berbagai dilema etika di dunia kerja.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Pertama, penelitian hanya dilakukan pada mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, sehingga hasil penelitian memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi terhadap mahasiswa akuntansi di perguruan tinggi lain yang memiliki karakteristik lingkungan pendidikan, budaya, dan latar belakang responden yang berbeda.Kedua, penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Penggunaan kuesioner memungkinkan adanya subjektivitas responden dalam memberikan jawaban karena responden dapat memberikan jawaban yang dianggap paling baik atau sesuai dengan norma sosial, khususnya pada pertanyaan yang berkaitan dengan religiusitas dan perilaku etis. Kondisi tersebut memungkinkan adanya perbedaan antara jawaban yang diberikan melalui kuesioner dengan perilaku responden dalam situasi nyata.Ketiga, penelitian ini hanya menggunakan tiga variabel independen, yaitu nilai religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning dalam menjelaskan perilaku etis mahasiswa. Sementara itu, perilaku etis merupakan suatu konsep yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang belum diteliti dalam penelitian ini, seperti ethical sensitivity, kecerdasan spiritual, pemahaman kode etik profesi, love of money, locus of control, lingkungan akademik, maupun budaya organisasi.Keempat, penelitian dilakukan dalam satu periode pengumpulan data sehingga penelitian belum dapat menggambarkan perubahan perilaku etis mahasiswa dalam jangka panjang. Tingkat religiusitas, kecerdasan emosional, dan moral reasoning dapat mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya pengalaman akademik, pengalaman organisasi, maupun pengalaman kerja mahasiswa.

Bagi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus memperkuat pendidikan etika dan pembentukan karakter mahasiswa akuntansi. Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran etika profesi, kegiatan yang mendorong internalisasi nilai keagamaan, serta pemberian contoh kasus nyata mengenai dilema etika dalam bidang akuntansi. Selain itu, pengembangan kemampuan kecerdasan emosional dan moral reasoning juga dapat dilakukan melalui diskusi kasus, simulasi pengambilan keputusan etis, dan pembelajaran berbasis masalah. Bagi mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya perilaku etis sejak berada di lingkungan akademik. Mahasiswa tidak hanya perlu meningkatkan kemampuan akademik dan teknis akuntansi, tetapi juga perlu membangun integritas, meningkatkan pengendalian diri, mengembangkan empati, serta membiasakan diri mempertimbangkan konsekuensi moral sebelum mengambil keputusan. Hal tersebut penting sebagai persiapan untuk menghadapi tuntutan dan dilema etika ketika memasuki dunia kerja sebagai calon akuntan profesional.Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas objek penelitian dengan melibatkan mahasiswa akuntansi dari beberapa perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan memiliki tingkat generalisasi yang lebih baik. Penelitian selanjutnya juga disarankan untuk menambahkan variabel lain yang berpotensi memengaruhi perilaku etis mahasiswa, seperti ethical sensitivity, kecerdasan spiritual, pemahaman kode etik profesi, love of money, locus of control, lingkungan akademik, atau budaya organisasi. Penambahan variabel tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang membentuk perilaku etis mahasiswa akuntansi.

References

P. O. Okougbo, E. N. Okike, and A. Alao, “Accounting Ethics Education and the Ethical Awareness of Undergraduates: An Experimental Study,” 2021, doi: 10.1080/09639284.2021.1888135.

K. Indah and D. Lestari, “Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi Atas Perilaku Tidak Etis Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud),” E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 2020, Bali, Indonesia.

R. P. Sugijaya, A. Widyaningsih, and M. Arief, “Factors That Affect Ethical Behaviour on Accounting Students: Literature Review,” Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan, vol. 11, pp. 183–196, 2023.

D. E. Intelligence and A. Students, “Does Emotional Intelligence and Religiosity Affect the Ethical Judgment of,” vol. 5, pp. 21–30, 2021.

V. A. Bota, W. Mitan, and E. E. K. Goo, “Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual dengan Kecerdasan Intelektual sebagai Variabel Moderasi terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi (Studi Empiris pada Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Nusa Nipa),” vol. 2, no. 4, 2024.

D. Belajar, P. Didik, and D. I. Sma, “Pengaruh Penalaran Moral terhadap Perilaku,” 2025.

M. Ariani and U. T. Yogyakarta, “Ethical Behavior of Accounting Students,” pp. 1–9, 2021.

K. Etis, L. O. F. Control, and D. A. N. Religiusitas, “Analisis Dampak Pemahaman Kode Etik Akuntan,” vol. 10, no. 1, pp. 16–31, 2024.

A. M. F. Putri, Rispantyo, and B. Widarno, “Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Locus of Control terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi (Studi Kasus di UNISRI, UNSA, UNIBA, USB dan UTP),” Jurnal Akuntansi dan Sistem Teknologi Informasi, vol. 17, no. 1, 2022.

Pratiwi and Susilowati, “Moral Reasoning dan Perilaku Etis,” J. Economic and E. Journal, vol. 7, no. 1, pp. 31–43, 2025.

I. Juli, J. U. R. N. Akuntansi, N. S. I. I. Vol, and N. R. Salisa, “Faktor yang Mempengaruhi Minat Investasi di Pasar Modal: Pendekatan Theory of Planned Behaviour (TPB),” vol. 9, no. 2, pp. 182–194, 2020.

U. I. N. Palopo and A. M. U. H. Almahdy, “Kesehatan yang Dimoderasi,” 2025.

R. Chintya and M. Sit, “Analisis Teori Daniel Goleman dalam Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak Usia Dini,” vol. 4, no. 1, pp. 159–168, 2024, doi: 10.37680/absorbent.

W. Asfiyah and L. Kohlberg, “Perkembangan Moral Kohlberg Menurut Perspektif Islam,” vol. 1, no. 2, 2023.

C. Y. Glock and R. Stark, Religion and Society in Tension. Chicago, IL, USA: Rand McNally, 1965.

E. Religiusitas and S. Pemoderasi, “Penalaran Moral terhadap Whistleblowing,” 2024.

I. P. Jaya and S. Sukirno, “The Effect of Religiosity and Ethical Orientation on Perceptions of Undergraduate Accounting Students on Creative Accounting,” Jurnal Dinamika Akuntansi, vol. 12, no. 1, 2020, doi: 10.15294/jda.v12i1.17701.

H. Agustinus, “Pengaruh Pendidikan Etika Bisnis, Religiusitas, Gender, dan Performa Akademik terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi,” vol. 4, no. 2, pp. 276–283, 2020.

A. E. Nugraha and I. Susilawati, “Kecerdasan Emosional Menurut Goleman dalam Perspektif Kurikulum 2013 PAUD,” vol. 1, no. 2, 2022.

R. Hermawan and V. S. Maghfiroh, “Dimensi Kecerdasan Emosional Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Tinjauan Teori Goleman dan Salovey,” pp. 1–17, 2025.

D. Nyamori, “Exploring the Relationship between Moral Decision-Making and Emotional Intelligence,” International Journal of Philosophy, vol. 3, no. 1, pp. 13–24, May 2024, doi: 10.47941/ijp.1866.

S. Etis, P. Rumah, and S. Islam, “Pengaruh Kepemimpinan Etis Islam terhadap Perilaku Etis dengan Mediasi Iklim Etis, Kepuasan Kerja dan Sensitivitas Etis Perawat Rumah Sakit Islam di Jawa Timur,” 2021.

G. Desrianti, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi Mengenai Praktik Akuntansi Kreatif. Tanjungpinang, Indonesia: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Tanjungpinang, 2024.

M. Ahyaruddin and M. Asnawi, “Pengaruh Moral Reasoning dan Ethical Environment terhadap Kecenderungan untuk Melakukan Whistleblowing,” 2017.

P. S. Psikologi, F. Psikologi, D. A. N. Kesehatan, U. Islam, and N. Sunan, “Hubungan antara Moral Reasoning dengan Academic Dishonesty pada Mahasiswa,” 2019.

T. J. Jasmine and C. Susilawati, “Pengaruh Penalaran Moral dan Sensitivitas Etika terhadap Persepsi Etis dengan Gender sebagai Variabel Moderasi,” vol. 17, no. 1, pp. 64–81, 2019.

D. Marlina, F. Jeremi, and R. Rukmana, “Dilema Etika pada Akuntan – Sebuah Studi Persepsi Mahasiswa Akuntansi,” vol. 4, no. 2, pp. 159–172, 2017.

I. Saputra, W. Anggraini, R. Adekantari, and S. Pebrianti, “Membentuk Keputusan Bisnis yang Etis: Peran Pendidikan Etika Profesi bagi Mahasiswa Akuntansi,” vol. 2, no. 3, pp. 3481–3486, 2021.

M. Sari, H. Rachman, N. J. Astuti, M. W. Afgani, and R. Abdullah, “Explanatory Survey dalam Metode Penelitian Deskriptif Kuantitatif,” Jurnal Pendidikan Sains dan Komputer, vol. 3, no. 1, pp. 10–16, 2023.

R. Wijayanti, “Ekonomi Modernisasi,” vol. 14, no. 3, pp. 142–156, 2018.

P. Kerja, D. A. N. Nilai, N. Sosial, and R. Linda, “Akuntan Publik (Studi pada Mahasiswa Angkatan 2020 Prodi Akuntansi Syariah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung): Pasar Kerja dan Nilai-Nilai Sosial Akuntan Publik,” 2024.

R. Dan et al., “Metode Penelitian Kualitatif,” 2019.

M. Wu, K. Zhao, and F. Fils-Aime, “Response Rates of Online Surveys in Published Research: A Meta-Analysis,” Computers in Human Behavior Reports, vol. 7, p. 100206, 2022, doi: 10.1016/j.chbr.2022.100206.

A. T. R. I. Basuki and D. Spss, “Analisis Statistik dengan SPSS,” 2020.

E. S. Ningsih, F. S. Fatimah, R. J. Sarwadhamana, and E. Sulistyaningsih, “Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kuesioner Manajemen Talenta,” vol. 4, no. 2, pp. 4–7, 2021.

Z. Arifin, S. A. Bumi, and A. Way, “Metodologi Penelitian Pendidikan: Education Research Methodology.”

H. Kartikahadi, R. U. Sinaga, L. Leo, M. Syamsul, S. V. Siregar, and E. T. Wahyuni, Akuntansi Keuangan Berdasarkan SAK Berbasis IFRS, Buku 1, Edisi Keempat. Jakarta, Indonesia: Ikatan Akuntan Indonesia, 2023.

F. H. Maulana and S. F. Laela, “Determinants of Student Ethical Behavior: A Study on Islamic Accounting Education and Student Religiosity,” vol. 10, no. 1, pp. 39–52, 2024, doi: 10.34204/jiafe.v10i1.9549.

C. M. Putri, N. Rahmawati, and U. Bashir, “Examining the Role of Religiosity in Shaping Ethical Perceptions of Creative Accounting among Accounting Students,” vol. 26, no. 2, 2025, doi: 10.18196/jai.v26i2.26561.

S. Hidayatin, I. E. Nganjuk, and S. Etisme, “Seminar & Call for Economic Paper (SCPE) UKMC 2025: Dampak Kecerdasan Intelek, Kecerdasan Emosional, & Kecerdasan,” vol. 4, no. 1, pp. 257–268, 2025.

K. Intelektual, D. A. N. Kecerdasan, A. Karimah, and S. Variabel, “Islamic Accounting and Finance Review,” vol. 4, 2023.

D. Muliana, “The Effect of Moral Reasoning, Ethical Sensitivity, and Ethical Climate on the Accounting Student’s Ethical Behavior,” vol. 377, no. Icaess, pp. 51–56, 2019.

T. Poje, M. Li, and M. Z. Groff, “Who Enrolls in Accounting? Ethical Predispositions of Undergraduate Accounting Students,” vol. 71, no. November 2022, 2025, doi: 10.1016/j.jaccedu.2025.100966.