Login
Section Marketing Management

The Effect of Financial Literacy, and Financial Technology on Financial Behavior with Peers as a Moderation Variable in Generation Z Student of the Accounting Study Program, University of Muhammadiyah Sidoarjo


Pengaruh Literasi Keuangan, dan Financial Technology terhadap Perilaku Keuangan dengan Teman Sebaya sebagai Variabel Moderasi pada Mahasiswa Generasi Z Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Vol. 21 No. 1 (2026): February:

Mitha Yulia Amanda (1), Aisha Hanif (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Financial behavior among Generation Z students is closely related to financial literacy and the use of financial technology in an increasingly digital financial environment. Specific Background: Students of the Accounting Study Program at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo use financial technology while managing personal finances, with peers representing an important social context. Knowledge Gap: Previous studies have reported inconsistent findings regarding financial literacy and financial technology in relation to financial behavior, while studies specifically examining peers as a moderating variable remain limited. Aims: This study examines the relationships of financial literacy and financial technology with financial behavior and analyzes the moderating role of peers among Generation Z accounting students. Results: Using a quantitative causal-associative design, data were obtained from 155 respondents selected from a population of 642 students through simple random sampling. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling with SmartPLS 3.0. Financial literacy and financial technology show positive and significant relationships with financial behavior.  . Novelty: The study examines peers as a moderating variable in both relationships within Generation Z accounting students. Implications: The findings provide consideration for students, universities, and financial technology service providers in supporting wiser and sustainable financial behavior.


Key Findings Highlights


Both main predictors show positive and significant relationships with the outcome variable.


The social environment weakens the first relationship between the predictor and the outcome.


The social environment strengthens the second relationship between the predictor and the outcome.


Keywords : Financial Literacy, Financial Technology, Financial Behavior, Generation Z Students, Peer Moderation

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Perkembangan financial technology (fintech) di era digital telah membawa perubahan yang besar terhadap pola pikir dan perilaku keuangan mahasiswa. Transformasi teknologi keuangan telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan ekonomi, termasuk cara mahasiswa dalam mengelola uang, melakukan transaksi, dan mengambil keputusan keuangan [1]. Fenomena ini menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan yang baik tentang pengelolaan keuangan, khususnya melalui pemahaman literasi keuangan maupun pemanfaatan teknologi keuangan.

Mahasiswa yang saat ini menempuh pendidikan tinggi sebagian besar berasal dari Generasi Z, yaitu generasi yang lahir pada rentang tahun 1997–2012 dan dikenal sebagai digital natives karena sejak usia dini telah terbiasa dengan internet, gawai, dan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari [2]. Mahasiswa Generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital yang serba cepat dan praktis, di mana berbagai platform keuangan daring memberikan kemudahan dalam bertransaksi, berinvestasi, dan mengelola pengeluaran. Namun, di balik adanya berbagai kemudahan tersebut, muncul pula tantangan berupa meningkatnya risiko konsumtif, rendahnya pengendalian diri terhadap pengeluaran, serta rendahnya literasi keuangan dalam memanfaatkan layanan keuangan digital [3]. kondisi ini menjadikan Generasi Z kelompok yang relevan dan strategis untuk dikaji dalam konteks perilaku keuangan di era digital.

Perubahan perilaku keuangan di kalangan mahasiswa juga dipengaruhi oleh pergeseran budaya transaksi dari tunai ke non-tunai. kecenderungan mahasiswa dalam melakukan transaksi dengan dompet digital, dan sistem pembayaran secara cashless kini telah menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari [4]. Adapun survei nasional yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwasannya tingkat literasi keuangan pada mahasiswa indonesia masih relatif rendah sehingga perlu untuk ditingkatkan. Mahasiswa seringkali belum mampu untuk membuat keputusan finansial yang tepat, seperti dalam mengatur antara kebutuhan dan keinginan, memprioritaskan pengeluaran, serta mengelola dana darurat untuk hal yang tak terduga. Kondisi ini dapat diperburuk dengan karakter Generasi Z yang mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif dan tekanan yang ada di lingkungan sosial seperti tren fesyen, gaya hidup kafe, hingga fenomena fear of missing out (FoMO) [5].

Faktor pertama yang mempunya peran penting dalam pembentukan perilaku keuangan mahasiswa yakni, literasi keuangan. Literasi keuangan merupakan suatu cakupan tentang pengetahuan, keyakinan, dan pemahaman yang membuat individu bijak dalam memutuskan finansial dengan tangung jawab yang tinggi, serta efektif. Mahasiswa yang memiliki suatu tingkat literasi keuangan yang baik otomatis dapat menyusun rencana keuangan pribadinya, memahami berbagai resiko jika penggunaan finansialnya buruk, dan mampu mengelola keuangannya dengan efisien [6]. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 yang dilakukan oleh OJK, indeks literasi keuangan nasional meningkat menjadi 66,46 persen dan inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Meskipun meningkat, hasil tersebut menunjukkan masih perlunya upaya edukatif yang sistematis untuk membangun kesadaran finansial mahasiswa [7].

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah financial technology (fintech). Financial technology merupakan bentuk inovasi teknologi dalam bidang keuangan yang mengubah pola transaksi konvensional menjadi serba digital. Melalui berbagai platform, financial technology menghadirkan kemudahan seperti pembayaran elektronik (e-wallet), investasi daring, pinjaman digital, hingga layanan perbankan berbasis aplikasi [8]. Di kalangan mahasiswa, penggunaan fintech semakin meningkat karena menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan. Aplikasi dompet digital seperti GoPay, DANA, OVO, ShopeePay, dan LinkAja kini telah menjadi bagian penting dari gaya hidup mahasiswa. Namun, di balik adanya kemudahan tersebut tentunya terdapat konsekuensi berupa meningkatnya perilaku konsumtif mahasiswa, dan risiko ketergantungan pada layanan digital. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki literasi keuangan yang baik agar tidak terjebak dalam penggunaan financial technology secara tidak bijak, seperti berutang konsumtif melalui PayLater, dan melakukan pembelian secara impulsif (impulsif buying) [9].

Perilaku keuangan merupakan gambaran nyata dari bagaimana individu mengelola, menggunakan, dan memutuskan segala hal yang berkaitan dengan uang. Perilaku ini mencerminkan tingkat kedewasaan seseorang dalam memahami konsep ekonomi dan pengelolaan keuangan pribadi [10], dan [11]. Mahasiswa yang memiliki perilaku keuangan baik akan lebih terencana dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, membuat anggaran bulanan, serta mengutamakan kebutuhan dibanding keinginan. Sebaliknya, perilaku keuangan yang buruk dapat mengakibatkan permasalahan finansial seperti ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, penumpukan utang, atau ketidakmampuan menabung.

Penelitian ini menambahkan variabel moderasi teman sebaya, hal ini dilakukan karena teman sebaya merupakan suatu individu yang pada dasarnya berada dalam suatu kelompok usia dan latar belakang yang hampir sama, sehingga terdapat pengaruh terhadap perilaku keuangan dan keputusan individu [12]. Di dalam konteks perilaku keuangan, teman sebaya memiliki fungsi sebagai sumber pengaruh positif ataupun negatif, dimana jika teman sebaya mempunyai perilaku yang positif dalam sikap finansialnya maka, hal tersebut dapat mendorong individu lain untuk bersikap baik juga dalam finansialnya seperti dalam hal menyisihkan sebagian uang untuk ditabung, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi finansial. Namun, jika lingkungan pergaulan didominasi oleh perilaku konsumtif, mahasiswa cenderung meniru pola pengeluaran yang tidak sehat [13]. Dengan demikian, mekanisme moderasi teman sebaya terletak pada sejauh mana pengaruh sosial mampu memperkuat atau melemahkan hubungan antara literasi keuangan, dan financial technology terhadap perilaku keuangan mahasiswa.

Meskipun penelitian-penelitian terdahulu belum secara eksplisit menjadikan teman sebaya sebagai variabel moderasi, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Teman Sebaya berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku keuangan Mahasiswa [5], [13], dan [14]. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa teman sebaya berpotensi berperan sebagai faktor kontekstual yang memperkuat atau melemahkan pengaruh literasi keuangan, dan financial technology terhadap perilaku keuangan mahasiswa.

Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang belum konsisten mengenai hubungan antara kedua variabel utama tersebut dengan perilaku keuangan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara literasi keuangan, dan financial technology terhadap perilaku keuangan mahasiswa [15], [13], [14], [16], [17], dan [18]. Namun, terdapat pula penelitian lain yang menyatakan pengaruhnya tidak signifikan [10], dan [19]. Ketidaksesuaian hasil ini mengindikasikan adanya research gap, yaitu ketidakkonsistenan temuan empiris serta minimnya penelitian yang menganalisis teman sebaya sebagai variabel moderator dalam hubungan kedua variabel tersebut. Kondisi ini memiliki urgensi penelitian guna memahami peran teman sebaya dalam memoderasi hubungan literasi keuangan dan financial technology terhadap perilaku keuangan Mahasiswa.

Penelitan ini memilih Theory of Planned behavior (TPB) sebagai landasan teori utama karena sangat relevan untuk menjelaskan perilaku keuangan mahasiswa. Perilaku ini tidak hanya didorong oleh aspek rasional, tetapi juga oleh sikap pribadi, norma subjektif dari lingkungan, dan persepsi tentang kontrol atas perilaku sendiri [20]. Literasi keuangan berperan dalam membentuk sikap pribadi mahasiswa (Attitude toward behavior) terhadap perilaku keuangannya, sedangkan teman sebaya berperan dalam membentuk norma subjektif (Subjective Norms), yaitu persepsi individu terhadap adanya dukungan atau tekanan sosial dari lingkungan pertemanan, yang pada akhirnya dapat memperkuat kecenderungan mahasiswa dalam mengambil keputusan keuangan, sementara penggunaan financial technology memengaruhi persepsi kontrol perilaku (Perceived Behavioral Control), yaitu keyakinan mahasiswa dalam mengelola dan mengendalikan keputusan keuangan [18]. Dalam praktiknya, keputusan keuangan mahasiswa tidak selalu berada dalam kendali penuh individu karena turut dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, kemampuan analisis, kemudahan akses teknologi, serta keterbatasan sumber daya [14]. Oleh karena itu, TPB dinilai mampu memberikan kerangka penjelasan yang komprehensif dalam menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian secara sistematis.

Untuk memperkuat penjelasan mengenai pengaruh lingkungan sosial, penelitian ini didukung oleh Social Learning Theory yang menjelaskan bahwa perilaku individu dapat terbentuk melalui interaksi sosial dan proses peniruan terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya peran teman sebaya dalam membentuk perilaku keuangan mahasiswa [21]. Selain itu, Technology Acceptance Model (TAM) digunakan sebagai teori pendukung untuk menjelaskan penerimaan dan penggunaan financial technology, terutama terkait persepsi kemudahan (perceived ease of use) dan persepsi kegunaan (percevied usefulness) yang memengaruhi intensitas penggunaan teknologi keuangan [22]. Kombinasi ketiga teori ini dinilai relevan dalam bidang ilmu akuntansi dan keuangan perilaku karena mampu menjelaskan perilaku keuangan mahasiswa secara seimbang dari aspek kognitif, sosial, dan teknologi.

Berdasarkan uraian identifikasi masalah di atas, penelitian ini merumuskan apakah literasi keuangan, dan financial terchnology dapat mempengaruhi perilaku keuangan, serta apakah teman sebaya mampu memoderasi kedua variabel tersebut terhadap perilaku keuangan Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dengan memperhatikan fenomena dan fokus penelitian, tujuan utama penelitian ini untuk menguji pengaruh literasi keuangan, dan financial technology terhadap perilaku keuangan mahasiswa Generasi Z pada Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan teman sebaya sebagai variabel moderasi.

Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperkaya kajian tentang perilaku keuangan dengan menggabungkan faktor rasional, seperti literasi keuangan, dan faktor kemudahan, seperti financial technology, serta faktor sosial, seperti teman sebaya yang dijadikan sebagai variabel moderasi pada penelitian ini. Secara praktis, peneltian ini membantu mahasiswa dalam memahami perilaku keuangan dengan baik, memanfaatkan kemudahan financial technology dengan tepat dan melakukan kebiasaan finansial yang positif (tidak FoMO dan impulsif buying). Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan bagi institusi pendidikan dalam meningkatkan pembelajaran literasi keuangan yang lebih aplikatif dalam penerapannya, dan fleksibel seiring dengan kemajuan teknologi finansial.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Perilaku Keuangan

Literasi keuangan merupakan kemampuan individu dalam memahami, dan mengelola keuangan secara efektif sesuai dengan kondisi kebutuhan pribadi dengan berbagai aspek seperti menabung, merencanakan keuangan, dan mengelola hutang, untuk mencapai kesejahteraan finansial [23]. Dalam konteks Theory of Planned Behavior (TPB), kemampuan ini berkaitan dengan preceived control, tingkat literasi keuangan yang tinggi mampu membentuk sikap

positif terhadap pengelolaan keuangan dan meningkatkan niat individu untuk berperilaku finansial secara bijak [20]. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya [13] menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh positif dan siginifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa dimana tingkat literasi keuangan yang tinggi lebih terencana dalam mengelola keuangan dan lebih disiplin dalam pengeluaran. hasil serupa juga ditemukan oleh [23], dan [5] yang membuktikan bahwa Mahasiswa dengan tingkat literasi keuangan yang baik akan lebih mampu membuat keputusan keuangan secara rasional dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut terjadi karena adanya perencanaan keuangan yang baik. Sehingga dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Literasi Keuangan berpengaruh positif terhadap perilaku keuangan.

Pengaruh Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan

Financial Technology (fintech) bisa diartikan sebagai inovasi di bidang keuangan yang memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi, pembayaran. Di kalangan mahasiswa, penggunaan financial technology semakin meningkat karena menawarkan kecepatan, kemudahan, dan kepraktisan dalam aktivitas keuangan sehari-hari. Dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM), penerimaan dan penggunaan financial technology dipengaruhi oleh persepsi kemudahan (perceived ease of use) dan persepsi kegunaan (perceived usefulness) yang dirasakan oleh pengguna [22]. Kemudahan tersebut dapat membantu mahasiswa mengelola keuangan secara lebih efisien, namun juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan pengendalian diri dan literasi keuangan yang memadai. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya [19] menunjukkan bahwa financial technology berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, dimana financial technology memberikan alat yang praktis untuk melakukakan perencaraan anggaran, melacak pengeluaran, bahkan dapat lebih mudah dalam berinvestasi. Hal ini tidak hanya memperkuat kesadaran keuangan, tetapi juga mendorong kebiasaan pengelolaan uang yang lebih bijak di kalangan mahasiswa, membantu mereka membangun dasar finansial yang kokoh untuk masa yang akan datang. hasil serupa juga ditemukan oleh [17], dan [18] yang membuktikan bahwa dengan adanya financial technology mahasiswa mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, semakin intensif pemanfaatan layanan teknologi keuangan, maka semakin optimal mahasiswa dalam mengelola keuangan pribadinya. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Financial Technology berpengaruh positif terhadap perilaku keuangan.

Moderasi Teman Sebaya terhadap Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Perilaku Keuangan

Perilaku keuangan mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan seseorang dengan pemahaman dan kemampuan dalam pengelolaan keuangannya, tetapi juga seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sosial sehari-hari, khususnya pertemanan. Teman sebaya memiliki intensitas yang tinggi sehingga seringkali menjadi acuan dalam pembentukan sikap dan perilaku keuangan mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya [12] menunjukkan bahwa teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa, dimana mahasiswa harus bijak dalam hal memilih teman. Jika teman sebaya memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi, dan kepandaian dalam mengatur, serta mengelola keuangannya secara otomatis akan memberikan pengaruh positif dalam perilaku keuangan, begitupun sebaliknya. Selain itu, mahasiswa yang masih memiliki keterbatasan terkait pemahaman keuangan cenderung mencari alternatif melalui interaksi dan diskusi bersama teman sebayanya. Dengan adanya komunikasi yang baik antar teman sebaya literasi keuangan mahasiswa menjadi meningkat dan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hasil serupa juga ditemukan oleh [13], dan [24] yang membuktikan bahwa teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, dimana mahasiswa cenderung mengikuti perilaku keuangan dan pengambilan keputusan keuangan teman sebayanya. Dengan demikian, teman sebaya yang memiliki literasi keuangan tinggi dan kemampuan mengelola keuangan dengan baik akan memberikan dampak positif terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Oleh karena itu, penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Teman Sebaya Memoderasi Hubungan antara Literasi keuangan dan Perilaku Keuangan.

Moderasi Teman Sebaya terhadap Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Keuangan

Perilaku keuangan mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh adanya berbagai kemudahan dan manfaat yang ditawarkan oleh financial technology, tetapi juga karna pengaruh dari lingkungan sosial, khususnya teman sebaya. Berbagai kemudahan yang diberikan financial technology sepertidalamhal transaksi, dan pengelolaan keuangan sering kali pemanfaatannya dipengaruhi oleh kebiasaan dan rekomendasi yang berkembang di lingkungan pertemanan mahasiswa. Beberapa penelitian terdahulu [25] menunjukkan bahwa teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial technology, dimana mahasiswa sering mengikuti kebiasaan dan rekomendasi teman sebaya dalam memanfaatkan layanan keuangan digital, selain itu intensitas penggunaan financial technology juga sering dipicu oleh tren dan pengalaman teman sebaya. Hasil serupa juga ditemukan oleh [14], dan [5] membuktikan bahwa teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, hal ini terlihat dari kebiasaan mahasiswa dalam menggunakan layanan keuangan digital, sehingga semakin baik penggunaan financial technology di pertemanan

maka semakin positif pula perilaku keuangan mahasiswa, begitupun sebaliknya. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4: Teman Sebaya Memoderasi Hubungan antara Financial Technology dan Perilaku Keuangan.

KERANGKA KONSEPTUAL

Figure 1.

Metode

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang berfokus pada pengolahan data numerik. Penelitian Kuantitatif digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh literasi keuangan, dan financial technology terhadap perilaku keuangan dengan teman sebaya sebagai variabel moderasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif kausal yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, serta menganalisis peran variabel moderasi [26].

Jenis dan Sumber

Data Jenis data pada penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh secara langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner kepada ketua kelas Program Studi Akuntansi, kemudian tautan kuesioner dibagikan kepada anggota kelas mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo melalui grub whatsApp. Data penelitian ini bersumber dari jawaban responden melalui kuesioner yang telah disebarkan, kemudian diukur dengan skala likert, mengenai literasi keuangan, penggunaan financial technology, perilaku keuangan, dan pengaruh teman sebaya sebagai variabel moderasi.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dari angkatan 2022 – 2025, dengan jumlah populasi sebanyak 642 mahasiswa yang diperoleh dari data mahasiswa aktif Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun akademik 2025/2026. Dalam menentukan jumlah sampel peneliti menggunakan rumus slovin sebagai berikut:

Figure 2.

Maka perhitungannya:

Figure 3.

Sampel pada penelitian ini berjumlah 155 responden, jumlah sampel tersebut dihasilkan dari perhitungan menggunakan rumus slovin dengan tingkat toleransi kesalahan 7%. Alasan digunakannya margin of error 7% adalah mengacu pada tingkat kesalahan yang dapat ditolerir dalam penelitian ilmu sosial, dan mempertimbangkan keterbatasan waktu dalam proses penyebaran kuesioner, tetap representatif namun realistis untuk dikumpulkan tanpa mengurangi hasil penelitian, yakni 5% hingga 10%. Penelitian ini termasuk penelitian sosial dikarenakan fenomena pada penelitian ini fokus pada analisis hubungan antar variabel sosial, serta objek penelitian berupa perilaku dan sikap mahasiswa dalam mengelola keuangan pribadi, pemanfaatan financial technology, dan pengaruh teman sebaya terhadap perilaku keuangan [27], dan [28].

Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Metode ini dipilih karena setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama menjadi sampel, sehingga hasil penelitian lebih representatif dan dapat digeneralisasikan.

Tabel. 1 Karakteristik Responden

Demografi Frekuensi Presentase
Jenis kelamin
Laki-laki 26 16,8 %
Perempuan 129 83,2 %
Usia
18-20 Tahun 33 21,3 %
21-23 Tahun 108 69,7 %
24-25 Tahun 14 9,0 %
Semester
Semester 1-2 15 9,7 %
Semester 3-4 19 12,3 %
Semester 5-6 31 20,0%
Semester 7 ke atas 90
Table 1.

Karakteristik responden pada tabel di atas merupakan suatu bentuk informasi demografi yang dikumpulkan untuk mengontrol dan membuktikan bahwa sampel yang terpilih secara acak (probability sampling) sudah representatif dan mencerminkan karakteristik populasi yang sebenarnya, sehingga hasil penelitian ini nantinya layak untuk digeneralisasikan.

Definisi Operasional Variabel

Tabel 2. Tabel Operasional Variabel

Variabel Definisi Indikator Sumber Skala Pengukuran
Literasi Keuangan (X1) Literasi keuangan merupakan pemahaman individu terkait pengelolaan keuangan secara efektif sesuai dengan kondisi kebutuhan pribadi dengan berbagai aspek seperti menabung, merencanakan keuangan, dan mengelola hutang, untuk mencapai kesejahteraan finansial [23]. 1. Pengetahuan konsep dasar pengelolaan keuangan, dan hutang [23]. 2. Pemahaman keputusan keuangan [5]. 3. Pemahaman perencanaan keuangan [13]. 4. Sikap terhadap keuangan [13]. [23], [5], dan [13]. Skala Likert
Financial Technology (X2) Financial technology (fintech) merupakan suatu kombinasi dari layanan keuangan dan teknologi, dengan mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya tatap muka (face to face) dengan membawa uang tunai, menjadi transaksi pembayaran melalui jarak jauh yang dapat dilakukan dalam hitungan detik [8]. 1. Kemudahan melakukan transaksi melalui fintech [22]. 2. Kemudahan mengakses layanan fintech kapan saja dan dimana saja [22]. 3. Fintech memudahkan pencatatan pengeluaran [19]. 4. Fintech membantu pengelolaan keuangan menjadi lebih efisien [18]. [8], [22], [19], dan [18]. Skala Likert
Perilaku Keuangan (Y) Perilaku keuangan merupakan suatu tindakan nyata individu dalam mengelola keuangan yang dapat diamati melalui kebiasaan dan keputusan finansial sehari-hari seperti kebiasaan menabung, FoMO, dan impulsif buying [10]. 1. Memantau pengeluaran secara rutin [13]. 2. Menyisihkan uang untuk ditabung [13]. 3. Menyediakan dana untuk pengeluaran tidak terduga [24]. 4. Membandingk an harga sebelum melakukan pembelian [12]. [10], [13], [24], dan [12]. Skala Likert
Table 2.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS) dalam hal ini akan menggunakan software SmartPLS 3.0. Partial Least Square (PLS) adalah suatu pendekatn alternatif yang bergeser dari pendekatan Structural Equation Modelling (SEM) berbasis covariance menjadi berbasis variance.

Teknik analisis PLS-SEM terdiri dari dua model yakni model pengukuran (measurement model) atau biasanya disebut outer model dan model struktural (structural model) atau sering disebut inner model [29]. Tahapan analisis dilakukan secara sistematis melalui beberapa langkah yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1.Outer Model (Uji Validitas dan Reabilitas data)

Outer model (measurement model) digunakan untuk menguji hubungan antara variabel laten dengan indikatornya.

a.Convergent Validity

Validitas dan konvergen dalam model pengukuran dengan model reflektif indikator dinilai dari seberapa kuat hubungan (korelasi) antara nilai indikator dengan variabel laten yang diukur atau konstruknya. Ukuran reflektif dapat dikatakan tinggi jika hasil korelasi lebih dari 0,70 dengan variabel laten yang akan diukur. Penelitian pada tahapan awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai 0,60 dikatakan cukup [29].

b.Discriminant Validity

Validitas diskriminan indikator reflektif dimulai dengan melakukan penilaian cross loadings, dan nilai loadings setiap variabel terhadap konstruknya yang diharuskan lebih besar daripada ukuran konstruk yang lain. Metode lainnya adalah dengan membandingkan nilai akar Average Variance Extraxted (AVE) berkorelasi antara konstruk satu dengan lainnya dalam model, dan jika akar Average Variance Extraxted (AVE) hasil konstruknya lebih tinggi dari korelasi dengan konstruk yang lain maka, validitas diskriminan pada variabel tersebut dikatakan baik. Disarankan untuk nilai pengukuran harus lebih besar dari 0,50 [29].

c.Composite Reliability

Kelompok indikator yang mengukur sebuah variabel memiliki suatu reliabilitas komposit yang baik ketika hasil composite reliability ≥ 0,70. Jikai nilai composite reliability diatas 0,70 maka, menunjukkan bahwa termasuk dalam kriteria reliable yang baik [29].

2.Inner Model (Structural Model)

Inner model (structural model) yang menspesifikasi hubungan antar variabel laten berdasarkan pada teori substantive. Model struktural menunjukkan hubungan antara konstruk satu dengan lainnya. Pengevaluasian model struktural dilakukan dengan menggunakan R-Square untuk variabel laten dependen. Sedangkan, pengukuran model

struktural dilakukan dengan menggunakan R-Square untuk variabel laten dependen. Tahapan penggunaan Partial Least Square (PLS) diawali dengan melakukan pengecekan R-Square terlebih dahulu di setiap variabel laten dependen. Hasil interpretasi yang didapat sama dengan yang ada pada interpretasi regresi. Kemudian, perubahan nilai yang ada pada R-Square digunakan untuk menilai apakah terdapat pengaruh substantif atau tidak, yang dihasilkan dari variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen [29].

Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakanm suatu metode regresi dalam path analysis. Path analysis digunakan sebagai metode untuk mengidentifikasi adanya pengaruh langsung dan tidak langsung pada satu atau beberapa variabel terhadap variabel lainnya [30]. Pengujian hipotesis melibatkan perbandingan antara nilai t-statistik dengan nilai t-tabel (t-hitung). Jika nilai t-statistik > nilai t-tabel yaitu 1,96 dan nillai signifikansi dari p-value < 0,05, maka hipotesis akan diterima. Sebaliknya, jika nilai t-statistik < nilai t-tabel yaitu 1,96 dan nillai signifikansi dari p-value > 0,05, maka hipotesis akan ditolak.

Hasil dan Pembahasan

1.Evaluasi hasil pengukuran (outer loading)

Model struktural dibuat dengan membuat desain hubungan antara variabel-variabel laten. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas konstruk dijelaskan pada tahap outer model berikut ini:

Figure 4.

Gambar 2. Model Structural (Outer Loading) Uji Validitas Konvergen (Convergent Validity)

Syarat yang harus diperhatikan adalah jika hasil perolehan tinggi akan berkorelasi pada nilai loading factor yang bernilai lebih dari 0,70 [29].

Tabel 3. Hasil Uji Validitas Konvergen

Indikator Nilai Outer Loading Average Variance Extracted (AVE) Keterangan
Literasi Keuangan
X1.1 0.877 Valid
X1.2 0.877 Valid
X1.3 0.908 0.805 Valid
X1.4 0.853 Valid
X1.5 0.912 Valid
X1.6 0.902 Valid
X1.7 0.914 Valid
X1.8 0.903 Valid
X1.9 0.925 Valid
Financial Technology
X2.1 0.882 Valid
X2.2 0.875 Valid
X2.3 0.870 0.800 Valid
X2.4 0.911 Valid
X2.5 0.883 Valid
X2.6 0.910 Valid
X2.7 0.904 Valid
X2.8 0.891 Valid
X2.9 0.920 Valid
Teman Sebaya
Z1 0.844 Valid
Z2 0.860 0.743 Valid
Z3 0.859 Valid
Z4 0.823 Valid
Z5 0.896 Valid
Z6 0.860 Valid
Z7 0.882 Valid
Z8 0.867 Valid
Z9 0.865 Valid
Perilaku Keuangan
Y1 0.897 Valid
Y2 0.911 Valid
Y3 0.899 0.828 Valid
Y4 0.933 Valid
Y5 0.876 Valid
Y6 0.914 Valid
Y7 0.923 Valid
Y8 0.923 Valid
Y9 0.913 Valid
Table 3.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Berdasarkan pada tabel diatas, dapat dilihat nilai pada setiap indikator atau outer loading bernilai lebih dari 0,7, serta berdasarkan pada tabel di atas nilai AVE dari seluruh variabel memiliki nilai >0,5. Hasil ini dapat dinyatakan pada setiap variabel memiliki nilai pada discriminant validity yang baik. Sehingga seluruh item indikator dapat dikatakan valid karena sudah memenuhi syarat validitas konvergen dan dapat dilakukan analisis selanjutnya.

a.Reliability

Dalam analisis SEM-PLS, suatu konstruk dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai composite reliability >0,6 serta diperkuat oleh nilai Cronbach’s Alpha >0,7. Hasil pengujian composite reliability dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4. Outer Loading

Cronbach's alpha Composite reliability (rho_a) Composite reliability (rho_c)
X1.Literasi_Keuangan 0.970 0.970 0.974
X2.Financial_Technology 0.969 0.969 0.973
Y.Perilaku_Keuangan 0.974 0.974 0.977
Z.Teman Sebaya 0.957 0.959 0.963
Table 4.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Berdasarkan pada tabel di atas, nilai Composite Reliability semua variabel sudah melebihi 0,6 dan pada nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,7 yang berarti sudah memenuhi asumsi reliabilitas.

b.Uji Validitas Diskriminan

Untuk menilai discriminant validity, digunakan heterotrait-monotrait ratio (HTMT) dengan nilai batas yang diterima adalah <0,9 [31].

Tabel 5. heterotrait-monotrait ratio (HTMT)

X1.Literasi_ Keuangan X2.Financial_ Technology Y.Perilaku_ Keuangan Z.Teman Sebaya Z.Teman Sebaya x X1.Literasi_ Keuangan Z.Teman Sebaya x X2.Financial_ Technology
X1.Literasi_Keuangan
X2.Financial_Technology 0.804
Y.Perilaku_Keuangan 0.826 0.889
Z.Teman Sebaya 0.703 0.740 0.768
Z.Teman Sebaya x X1.Literasi_Keuangan 0.611 0.680 0.674 0.599
Z.Teman Sebaya x X2. Financial_Technology 0.578 0.693 0.638 0.616 0.893
Table 5.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Hasil pengukuran discriminant validity dengan heterotrait-monotrait ratio (HTMT) dapat dilihat pada tabel di atas. Seluruh nilai HTMT menunjukkan angka <0,9, maka seluruh variabel dapat dikatakan valid.

Fornell-larcker

Fornell-larcker criterion dimaknai sebagai suatu ukuran yang membandingkan square root dari nilai AVE dengan hubungan variabel laten. Dengan demikian, nilai square root dari setiap konstruk AVE harus lebih besar dari nilai korelasinya dengan konstruk lainnya. Di bawah ini merupakan nilai fornell-larcker criterion:

Tabel. 6 Nilai Fornell-Larcker Criterion

X1.Literasi_ Keuangan X2.Financial_ Technology Y.Perilaku_ Keuangan Z.Teman Sebaya
X1.Literasi_Keuangan 0.897
X2.Financial_Technology 0.780 0.894
Y.Perilaku_Keuangan 0.804 0.865 0.910
Z.Teman Sebaya 0.680 0.716 0.746 0.862
Table 6.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Berdasarkan hasil uji fornell-larcker criterion menunjukkan bahwa nilai square root dari setiap konstruk AVE lebih besar dari nilai korelasinya dengan konstruk lainnya. Hal tersebut menunjukan persyaratan nilai discriminant validity sudah terpenuhi dan dapat diterima.

Cross Loading

Validitas diskriminan juga dapat diketahui berdasarkan nilai Cross Loading, yaitu perolehan score loading pada satu blok indikator yang sama harus lebih besar dari pada nilai korelasi antar variabel laten. Nilai Cross Loading dari hipotesis penelitian ini ditunjukkan sebagai berikut:

Tabel 7. Nilai Cross Loading

X1.Literasi_ Keuangan X2.Financial_ Technology Y.Perilaku_ Keuangan Z.Teman Sebaya Z.Teman Sebaya x X1.Literasi_ Keuangan Z.Teman Sebaya x X2.Financial_ Technology
X1.1 0.877 0.682 0.705 0.598 -0.507 -0.478
X1.2 0.877 0.679 0.723 0.604 -0.506 -0.468
X1.3 0.908 0.749 0.773 0.620 -0.559 -0.565
X1.4 0.853 0.626 0.649 0.575 -0.570 -0.518
X1.5 0.912 0.714 0.728 0.622 -0.573 -0.532
X1.6 0.902 0.684 0.699 0.590 -0.527 -0.492
X1.7 0.914 0.713 0.732 0.643 -0.543 -0.509
X1.8 0.903 0.719 0.734 0.640 -0.509 -0.489
X1.9 0.925 0.723 0.738 0.599 -0.565 -0.542
X2.1 0.721 0.882 0.768 0.641 -0.660 -0.639
X2.2 0.705 0.875 0.739 0.664 -0.651 -0.651
X2.3 0.630 0.870 0.740 0.610 -0.554 -0.616
X2.4 0.711 0.911 0.807 0.639 -0.574 -0.597
X2.5 0.725 0.883 0.775 0.584 -0.556 -0.563
X2.6 0.749 0.910 0.799 0.677 -0.643 -0.635
X2.7 0.672 0.904 0.762 0.695 -0.615 -0.636
X2.8 0.647 0.891 0.764 0.576 -0.571 -0.559
X2.9 0.715 0.920 0.802 0.675 -0.562 -0.592
Y.1 0.799 0.792 0.897 0.685 -0.670 -0.616
Y.2 0.718 0.816 0.911 0.684 -0.583 -0.554
Y.3 0.720 0.747 0.899 0.686 -0.583 -0.580
Y.4 0.738 0.810 0.933 0.668 -0.576 -0.556
Y.5 0.723 0.753 0.876 0.685 -0.656 -0.573
Y.6 0.700 0.802 0.914 0.672 -0.590 -0.587
Y.7 0.746 0.794 0.923 0.681 -0.642 -0.576
Y.8 0.749 0.789 0.923 0.675 -0.561 -0.558
Y.9 0.689 0.775 0.913 0.671 -0.589 -0.554
Z.1 0.618 0.563 0.609 0.844 -0.519 -0.492
Z.2 0.631 0.684 0.682 0.860 -0.555 -0.543
Z.3 0.571 0.595 0.618 0.859 -0.502 -0.515
Z.4 0.514 0.565 0.582 0.823 -0.437 -0.500
Z.5 0.630 0.691 0.734 0.896 -0.570 -0.581
Z.6 0.577 0.575 0.594 0.860 -0.468 -0.492
Z.7 0.565 0.596 0.644 0.882 -0.496 -0.495
Z.8 0.642 0.664 0.709 0.867 -0.516 -0.551
Z.9 0.507 0.591 0.575 0.865 -0.482 -0.503
Z.Teman Sebaya x X1.Literasi_ Keuangan -0.601 -0.669 -0.666 -0.588 1.000 0.893
Z.Teman Sebaya x X2.Financial_ Technology -0.569 -0.681 -0.630 -0.604 0.893 1.000
Table 7.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Berdasarkan hasil nilai Cross Loading diatas menunjukkan nilai loading factor pada setiap variabel adalah lebih besar dari pada nilai Cross Loading. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa seluruh indikator dari semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan valid.

3.Evaluasi Model Struktural (Analisis Inner Model)

a.Uji Koefisien Determinasi (R Square)

Ada tiga kategori dalam pengelompokan nilai R-square. Jika nilai R-square itu > 0,75 termasuk kategori kuat; untuk nilai R-square 0,50 – 0,75 termasuk kategori moderat dan 0,25 termasuk kategori lemah [32]. Nilai R-square dari variabel dependen yang didapat pada model penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8. Nilai R Square ( Inner Model)

R-square
Y.Perilaku_Keuangan 0.81
Table 8.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Pengolahan data melalui SmartPLS dihasilkan nilai R Square variable Perilaku Keuangan sebesar 0,815. Nilai ini menjelaskan bahwa kekuatan Literasi Keuangan, Financial Technology, dalam memprediksi Perilaku Keuangan adalah sebesar 0,815 atau 81,5% pada kriteria kuat.

b.Uji Hipotesis (Path Coefficient Bootstrapping)

Figure 5.

Gambar 3. Hasil Bootstrapping (inner model)

Tabel 9. Hasil Uji Hipotesis (Pengaruh Langsung dan Efek Moderasi)

Original sample (O) Standard deviation (STDEV) T statistics (|O/STDEV|) P values
X1.Literasi_Keuangan -> Y.Perilaku_Keuangan 0.245 0.058 4.211 0.000
X2.Financial_Technology -> Y.Perilaku_Keuangan 0.504 0.065 7.817 0.000
Z.Teman Sebaya -> Y.Perilaku_Keuangan 0.188 0.054 3.480 0.001
Z.Teman Sebaya x X1.Literasi_Keuangan -> Y.Perilaku_Keuangan -0.168 0.065 2.575 0.010
Z.Teman Sebaya x X2.Financial_Technology -> Y.Perilaku_Keuangan 0.105 0.049 2.164 0.031
Table 9.

Sumber: Data Diolah Oleh Smart PLS 3.0

Berdasarkan tabel di atas, hubungan antar variable penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.Hipotesis pertama (H1) diterima, yaitu Literasi Keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Keuangan dengan path coefficient (0,245) dan p-value (0,000 < 0,05). Hasil ini menegaskan bahwa setiap kenaikkan pada Literasi Keuangan maka, akan meningkat pula Perilaku Keuangannya.

2.Hipotesis kedua (H2) diterima, yaitu Financial Technology berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Keuangan dengan path coefficient (0,504) dan p-value (0,000 < 0,05). Setiap kenaikkan pada Financial Technology maka, akan meningkat pula Perilaku Keuangan nya.

3.Hipotesis ketiga (H3) diterima, yaitu Teman Sebaya mampu memoderasi pengaruh Literasi Keuangan terhadap Perilaku Keuangan dengan path coefficient (-0,168) dan p-value (0,010 < 0,05).

4.Hipotesis keempat (H4) diterima, yaitu Teman Sebaya mampu memoderasi pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Keuangan dengan path coefficient (0,105) dan p-value (0,031 < 0,05).

Pembahasan

Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Perilaku Keuangan

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 8, menunjukkan bahwa variabel Literasi Keuangan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Keuangan (Y), ditunjukkan dengan nilai path coefficient sebesar 0,245 dan memiliki tingkat signifikansi p-value 0,000 < 0,05 sehingga dinyatakan bahwa hipotesis H1 diterima. Dalam perspektif akuntansi keperilakuan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika tingkat Literasi Keuangan Mahasiswa Prodi Akuntansi Generasi Z pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo semakin tinggi, maka semakin baik pula perilaku keuangannya begitupun sebaliknya. Hal ini tentunya tidak luput karena kemampuan Literasi Keuangan individu yang baik dalam memutuskan keuangannya secara rasional, menabung dari sebagian uang ataupun pendapatan yang telah disisihkan, melakukan perencanaan pengeluaran yang tidak terduga, sehingga keuangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang lebih terkelola, kondisi ini mengindikasikan bahwa tingkat literasi keuangan mahasiswa akan diikuti dengan tingkat perilaku keuangannya dalam kehidupan sehari-hari [33]. Jika dikaitkan dengan indikator, pemahaman tentang literasi keuangan dalam mengelola keuangan, literasi keuangan tercermin dari pemahaman dan pengetahuan inidividu mengenai konsep dasar pengelolaan uang, sikap keuangan yang positif, pengambilan keputusan keuangan, dan kemampuan dalam perencanaan keuangan yang baik. kondisi ini menjadikan mahasiswa Generasi Z mampu dalam memanage keuangannya dan juga mempertimbangkan keputusan keuangannya secara rasional [34]. Dalam konteks Theory of Planned Behavior (TPB), kemampuan ini berkaitan dengan preceived control, tingkat literasi keuangan yang tinggi mampu membentuk sikap positif terhadap pengelolaan keuangan dan meningkatkan niat individu untuk berperilaku finansial secara bijak [20]. Temuan ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa jika mahasiswa memiliki tingkat literasi keuangan yang baik, maka akan mampu dalam merencanaan keuangan dengan bijak, lebih terencana, dan disiplin dalam pengeluaran sehari-hari [5], dan [13]. Adapun penelitian yang menyatakan bahwasannya Literasi Keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Keuangan [15].

Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku keuangan

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 8, menunjukkan bahwa variabel financial technology (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Periaku Keuangan (Y), ditunjukkan dengan nilai path coefficient sebesar 0,504 dan memiliki tingkat signifikansi p-value 0,000 < 0,05 sehingga dinyatakan bahwa hipotesis H2 diterima. Dalam perspektif Akuntansi Keperilakuan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin optimal Mahasiswa Generasi Z Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam pemanfaatan financial technology, maka semakin baik juga perilaku keuangannya dalam sehari-hari maupun di masa yang akan datang. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya financial technology mahasiswa mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangannya. Semakin bijak pemanfaatan layanan fintech, maka semakin optimal pula perilaku keuangan mahasiswa dalam mengelola keuangan pribadinya, kondisi ini tidak hanya memperkuat kesadaran keuangan saja, tetapi juga mendorong kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih bijak di kalangan mahasiswa, dan membangun dasar finansial yang kokoh untuk masa yang akan datang [35]. Jika dikaitkan dengan indikator, pemanfaatan financial technology tercermin dari adanya kemudahan dalam bertransaksi melalui aplikasi fintech, kemudahan dalam mengakses layanan fintech yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, kemudahan melakukan pencatatan pengeluaran, serta pengelolan keuangan menjadi lebih efisien dan praktis. Kondisi ini membuat mahasiswa menjadi lebih mudah dalam melakukan transaksi, dan memantau pengeluaran secara tepat waktu sehingga membentuk perilaku keuangan yang lebih baik [36]. Dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM), penerimaan dan penggunaan financial technology dipengaruhi oleh persepsi kemudahan (perceived ease of use) dan kegunaan (perceived usefulness) yang dirasakan oleh pengguna [22]. Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa financial technology memberikan alat yang praktis untuk melakukakan pencatatan anggaran, melacak pengeluaran, bahkan dapat lebih mudah dalam berinvestasi

[17], dan [19]. Adapun penelitian yang menyatakan bahwa financial technology berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perilaku Keuangan [37].

Moderasi Teman Sebaya terhadap Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Perilaku Keuangan

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 8, menunjukkan bahwa variabel teman sebaya (Z) mampu memoderasi pengaruh Literasi Keuangan (X1) terhadap Perilaku Keuangan (Y), ditunjukkan dengan nilai path coefficient sebesar

-0,168 dan memiliki tingkat signifikansi p-value 0,010 < 0,05 sehingga dinyatakan bahwa hipotesis H3 diterima. Nilai path coeficient negatif tersebut mengindikasikan bahwa teman sebaya mampu memoderasi, namun dengan arah yang memperlemah hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan. Dengan demikian, meskipun mahasiswa mempunyai tingkat literasi keuangan yang baik, pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku keuangan mahasiswa dapat menjadi lemah dan pengaruh positif literasi keuangan terhadap perilaku keuangan menjadi berkurang ketika dipengaruhi oleh lingkungan sosial teman sebaya yang kurang baik dalam pengelolaan keuangannya seperti melakukan perilaku konsumtif, FoMO (fear of missing out), dan Impulsife Buying, serta mahasiswa cenderung meniru pola pengeluaran yang tidak sehat, begitupun sebaliknya [38]. Dalam perspektif Akuntansi Keperilakuan, hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan Mahasiswa Generasi Z Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiah Sidoarjo tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki suatu individu terkait pemahaman dan pengelolaan keuangan saja, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang ada di sekitarnya, terutama pengaruh dari teman sebaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku keuangan mahasiswa juga ikut serta dipengaruhi dari adanya komunikasi, tren fesyen, maupun dorongan dari teman sebaya yang dapat mempengaruhi perilaku keuangan, kebiasaan, dan cara pengambilan keputusan keuanganya, sehingga tidak selalu bersifat rasional [13]. Jika dikaitkan dengan indikator, teman sebaya mencakup intensitas dalam berdiskusi terkait keuangan yang seringkali menjadi acuan dalam pembentukan sikap, konformitas perilaku keuangan dalam lingkungan teman sebaya, dan adanya interaksi saling bertukar informasi, serta rekomendasi penggunaan aplikasi layanan fintech di kalangan mahasiswa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa lingkungan teman sebaya dapat mempengaruhi cara mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan dan pemahaman keuanan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari [25]. Dalam konteks Social Learning Theory, lingkungan sosial mempengaruhi individu melalui proses peniruan, observasi, dan interaksi dengan teman sebaya terkait keuangan. Sementara itu, Theory Planned of Behavior (TPB) berperan dalam membentuk norma subjektif (subjective norms), yaitu persepsi individu terhadap adanya suatu dukungan sosial dari lingkungan teman sebaya, yang pada akhirnya dapat memperkuat atau memperlemah kecenderungan mahasiswa dalam mengambil keputusan keuangannya. Hasil dari penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap literasi keuangan mahasiswa [12]. Selain itu, hasil serupa juga ditemukan oleh [13], dan [24] yang membuktikan bahwa teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, dimana mahasiswa cenderung mengikuti perilaku keuangan dan pengambilan keputusan keuangan teman sebayanya. Jika teman sebaya memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi, pandai dalam mengatur, dan mengelola keuangannya dengan bijak, maka kondisi tersebut akan memberikan pengaruh positif dalam perilaku keuangan, begitupun sebaliknya. Dengan demikian, meskipun belum ditemukan penelitian terdahulu yang secara khusus menguji teman sebaya sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan mahasiswa, hasil penelitian ini mampu memberikan bukti empiris yang menyatakan bahwa teman sebaya merupakan faktor konstektual yang tidak hanya berpengaruh secara langsung tetapi juga mampu memperkuat ataupun memperlemah pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku keuangan [39]. Oleh karena itu, temuan ini memperluas hasil penelitian terdahulu yang mengindikasikan bahwa pengaruh keduanya tidak senantiasa bersifat konsisten, dan dengan adanya pengaruh dari kondisi lingkungan sosial khususnya teman sebaya, maka literasi keuangan dengan lingkungan sosial yang posistif perlu diseimbangkan agar perilaku keuangan mahasiswa dapat diterapkan secara optimal dan sustainable seiring berkembangnya zaman [40].

Moderasi Teman Sebaya terhadap Pengaruh Financial Technology terhadap Perilaku Keuangan

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 8, menunjukkan bahwa variabel teman sebaya (Z) mampu memoderasi pengaruh Financial Technology (X2) terhadap Perilaku Keuangan (Y), ditunjukkan dengan nilai path coefficient sebesar 0,105 dan memiliki tingkat signifikansi p-value 0,031 < 0,05 sehingga dinyatakan bahwa hipotesis H4 diterima. Nilai path coeficient pada penelitian ini bernilai positif, menunjukkan bahwa teman sebaya mampu

memoderasi hubungan antara financial technology dan perilaku keuangan dengan arah yang memperkuat. Dengan demikian, lingkungan sosial teman sebaya yang semakin baik, dan bijak dalam memanfaatkan financial technology, maka semakin kuat pula pengaruh financial technology terhadap perilaku keuangannya, begitupun sebaliknya [14], dan [5]. Dalam perspektif Akuntansi Keperilakuan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa hubungan antara financial technology dan perilaku keuangan pada Mahasiswa Generasi Z dipengaruhi oleh aspek kemudahan dan manfaat penggunaan fintech, serta lingkungan sosial teman sebaya yang positif melalui interaksi sosial, saling bertukar informasi terkait keuangan, dan rekomendasi penggunaan aplikasi fintech. Kondisi ini membuat mahasiswa merasa terdorong untuk memanfaatkan layanan fintech dengan bijaksana dalam pengelolaan keuangannya, sehingga mampu mengambil keputusan keuangan secara efektif, rasional, dan bertanggung jawab [41]. Jika dikaitkan dengan indikator, teman sebaya mencakup kegiatan diskusi secara intens terkait keuangan dan pemanfaatan layanan fintech yang seringkali menjadi acuan dalam pembentukan sikap, konformitas perilaku keuangan teman sebaya, dan adanya interaksi sosial, serta rekomendasi penggunaan aplikasi layanan fintech di kalangan mahasiswa Generasi Z. Sementara itu, financial technology tercermin dari adanya berbagai kemudahan ketika bertransaksi melalui aplikasi dompet digital seperti GoPay, DANA, OVO, ShopeePay, dan LinkAja yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja, serta kemudahan dalam mencatat pengeluaran, serta kemudahan mengelola keuangan sehingga menjadi efisien dan praktis [12], [25], [24], dan [14]. Kondisi ini menunjukkan bahwa dengan adanya lingkungan sosial yang baik dan adanya berbagai kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan, financial technology mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan layanan fintech secara lebih optimal, sehingga berdampak positif pada peningkatan perilaku keuangan yang lebih baik [42]. Dalam konteks Technology Acceptance Model (TAM), penerimaan dan penggunaan pada financial technology dipengaruhi oleh berbagai persepsi yakni persepsi kemudahan (perceveid ease of use) dan persepsi kegunaan (perceveid usefulness) yang dirasakan oleh pengguna. Sementara itu, Social Learning Theory menjelaskan bahwa perilaku individu dapat terbentuk melalui interaksi sosial dan proses peniruan terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya peran teman sebaya dalam membentuk perilaku keuangan mahasiswa. Selain itu, Theory of Planned Behavior (TPB) menjelaskan bahwa penggunaan financial technology mempengaruhi persepsi kontrol perilaku (perceveid behavioral control), yakni keyakinan mahasiswa dalam mengelola dan mengendalikan keputusan keuangannya. Kombinasi ketiga teori ini dinilai relevan dalam bidang ilmu akuntansi dan keuangan perilaku karena mampu menjelaskan perilaku keuangan mahasiswa secara seimbang dari aspek kognitif, sosial, dan teknologi [22], [21], dan [18]. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa teman sebaya memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan [13], dan [24]. Selain itu, hasil serupa juga ditemukan oleh [19] yang menyatakan bahwa financial technology memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan. hal ini terlihat dari kebiasaan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menggunakan layanan keuangan digital, semakin baik penggunaan financial technology di pertemanan maka semakin positif pula perilaku keuangan mahasiswa, begitupun sebaliknya [14], dan [5]. Dengan demikian, meskipun penelitian terdahulu masih terbatas yang secara khusus menguji teman sebaya sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara financial technology dan perilaku keuangan, hasil penelitian ini memberikan bukti empiris yang mengindikasikan bahwa teman sebaya tidak hanya berpengaruh secara langsung terhadap perilaku keuangan, tetapi juga memperkuat pengaruh financial technology terhadap perilaku keuangan. Oleh karena itu, temuan ini diharapkan mampu memperluas hasil penelitian terdahulu yang mengindikasikan bahwa semakin baik lingkungan sosial teman sebaya, maka semakin optimal pula penggunaan financial technology, dengan aktif berbagi informasi terkait layanan fintech, dan memanfaatkan fintech secara bijak [38].

Simpulan

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan, dan financial technology berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan, sementara itu teman sebaya mampu memoderasi hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan namun, dengan arah yang negatif atau memperlemah, sebaliknya teman sebaya mampu memoderasi hubungan antara financial technology dan perilaku keuangan dengan arah positif atau memperkuat. Literasi keuangan menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pemahaman dan pengetahuan dalam mengelola keuangan, maka semakin baik pula perilaku keuangannya dalam

mengelola dan mengatur pengeluaran, serta mampu mempertimbangkan keuangan dengan bijak dan rasional. Financial technology menunjukkan bahwa semakin optimal pemanfaatan fintech dari adanya berbagai kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan layanan fintech, maka semakin baik pula perilaku keuangannya dalam kehidupan sehari-hari dan di masa mendatang. Sementara itu, teman sebaya yang memoderasi hubungan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan dengan arah negatif (memperlemah) menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki tingkat literasi keuangan yang baik, pengaruhnya terhadap perilaku keuangan dapat berkurang jika lingkungan sosial teman sebayanya kurang mendukung dalam penerapan pengelolaan keuangan yang bijak dan bertanggung jawab. Sebaliknya, teman sebaya yang memoderasi hubungan financial technology dan perilaku keuangan dengan arah positif (memperkuat) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan lingkungan sosial yang positif dan mampu memanfaatkan berbagai kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan layanan fintech secara optimal, maka perilaku keuangannya semakin baik dan meningkat. Keterbatasan dari penelitian ini adalah hanya menggunakan 2 variabel independen yang terdiri dari literasi keuangan, dan perilaku keuangan, serta terdapat satu variabel moderasi yaitu teman sebaya, dan hanya menggunakan responden Mahasiswa Generasi Z Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain yang berkaitan seperti locus of control, financial attitude, self-control, serta menambahkan variabel moderasi atau mediasi agar hubungan antar variabel dapat dianalisis secara mendalam. Selain itu, memperluas jumlah responden dan objek penelitian agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan dan menjadi lebih maksimal. Saran bagi mahasiswa generasi z diharapkan dapat senantiasa meningkatkan literasi keuangan dan memanfaatkan berbagai layanan financial technology dengan bijak sesuai dengan yang dibutuhkan dan kemampuan finansial. Selain itu, mahasiswa generasi z juga diharapkan untuk membangun lingkungan sosial teman sebaya dengan positif, berbagi informasi dan berdiskusi terkait keuangan, serta saling memberikan rekomendasi fintech secara bertanggung jawab, agar perilaku keuangan semakin baik seiring berkembangnya zaman.

References

E. Novianta, A. Andani, F., and S. G. Pane, “Financial Technology Dan Literasi Keuangan Terhadap Generasi Z,” J. Ekon. Dan Bisnis, vol. 4, no. 1, pp. 1–8, 2024, doi: 10.47233/jebs.v4i1.1423.

R. Widyanti, Amaliatulwalidain, Dwiki, and A. Putra, “Transformasi Religiusitas Generasi Z Dari Transisi Tradisional Ke Teknologi,” J. Ilm. Pemerintah., vol. 12, p. 2023, 2025. [Online]. Available: http://e-theses.iaincurup.ac.id/8444/

M. Y. Fitriyadi et al., “Pengaruh Dunia IT Terhadap Perilaku Remaja Generasi Z,” J. Relig. J. Agama, Sos. dan Budaya, vol. 1, pp. 21–24, 2023. [Online]. Available: https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/index

N. Dzulfiani, “Meningkatkan Literasi Keuangan Mahasiswa Di Indonesia: Kajian Literatur,” vol. 56, pp. 579–585, 2025.

P. P. Sari and S. C. Rajagukguk, “Pengaruh Literasi Keuangan, Gaya Hidup Dan Teman Sebaya Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,” Reslaj Relig. Educ. Soc. Laa Roiba J., vol. 4, no. 3, pp. 816–826, 2022, doi: 10.47476/reslaj.v4i3.956.

F. Arifatullaily, Pengaruh Literasi Keuangan dan Gaya Hidup terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi Mahasiswa Jurusan PIPS Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang, Indonesia: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2022.

D. Mutiara, “Kinerja Pegadaian Syariah dalam Penguatan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Bagi Keberlangsungan Pelaku UMKM di Kota Jambi,” vol. 5, no. 2, pp. 1520–1531, 2025.

E. N. Siskawati and M. N. Ningtyas, “Literasi Keuangan, Financial Technology dan Perilaku Keuangan Mahasiswa,” Dialekt. J. Ekon. dan Ilmu Sos., vol. 7, no. 2, pp. 102–113, 2022.

R. Basalamah, N. Nurdin, A. Haekal, J. Abdul, and N. Noval, “Risiko Terhadap Minat Menggunakan Financial Technology (Fintech) Gopay,” J. Ilmu Ekon. dan Bisnis Islam, vol. 4, no. 1, pp. 57–71, 2022.

R. Hariyani, “Pengaruh Financial Technology, Locus of Control, dan Literasi Keuangan Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa,” J. Perspekt., vol. 22, no. 1, pp. 16–21, 2024, doi: 10.31294/jp.v22i1.20297.

S. Amaroh, Husnurrosyidah, and E. Masykuroh, “Financial Attitude, Trust, and ROSCAs’ Member Commitment: Social Relations as Mediating Factor,” Glob. Bus. Financ. Rev., vol. 28, no. 3, pp. 35–49, 2023, doi: 10.17549/gbfr.2023.28.3.35.

N. N. Aida and Rochmawati, “Pengaruh Literasi Keuangan dan Sikap Keuangan Terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan dengan Locus of Control sebagai Variabel Intervening,” Fair Value J. Ilm. Akunt. dan Keuang., vol. 10, no. 3, pp. 5827–5836, 2022.

S. F. Ecci Resamala Sari, Yusron Toto, and Yuniarti, “Fakultas Ekonomi, Institut Bisnis dan Ekonomi Indonesia,” vol. 8, pp. 73–89, 2025.

M. P. Dyansyah and M. Y. R. Pandin, “Pengaruh Literasi Keuangan, Pendidikan Keuangan Keluarga, Sikap Keuangan, dan Teman Sebaya Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa,” J. Ris. Akunt., vol. 2, no. 1, pp. 68–75, 2024, doi: 10.54066/jura-itb.v2i1.1519.

R. K. Mufariqoh and F. Y. Fitriyani, “Pengaruh Pembelajaran Akuntansi Keuangan, Literasi Keuangan, Kontrol Diri, Gaya Hidup, dan Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa,” vol. 4, pp. 14–25, 2024.

D. Febrianti and A. P. Prima, “Pengaruh Literasi Keuangan, Financial Technology, dan Lingkungan Sosial Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa di Kota Batam,” eCo-Buss, vol. 6, pp. 1194–1207, 2024.

E. C. Putri and Susanti, “Pengaruh Literasi Keuangan, Inklusi Keuangan dan Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan,” vol. 12, no. 2, pp. 75–87, 2024.

D. N. Arinta and N. Amalia, “Pengaruh Financial Technology, Social Environment, Financial Literacy dan Lifestyle Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Slamet Riyadi Surakarta,” J. Ekon. dan Manaj., vol. 2, no. 1, pp. 68–81, 2024.

W. P. Sari and Nikmah, “Pengaruh Literasi Keuangan, Financial Technology, Pendidikan Keuangan Di Keluarga Dan Pengendalian Diri Terhadap Perilaku Keuangan,” Jimea, vol. 7, no. 3, pp. 1592–1608, 2023.

Bandura, “Social Cognitive Theory of Self-Regulation,” Organ. Behav. Hum. Decis. Process., vol. 50, no. 2, pp. 248–287, 1991, doi: 10.1016/0749-5978(91)90022-L.

K. Ardianto and N. Azizah, “Analisis Minat Penggunaan Dompet Digital Dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) Pada Pengguna di Kota Surabaya,” J. Pengemb. Wiraswasta, vol. 23, no. 1, p. 13, 2021, doi: 10.33370/jpw.v23i1.511.

S. R. Wicaksono, Teori Dasar Technology Acceptance Model. CV. Seribu Bintang, 2022, doi: 10.1007/978-3-030-10576-1_300657.

M. Mulyati, M. S. Ramadhan, and D. R. Amelya, “Pengaruh Literasi Keuangan dan Sikap Keuangan Terhadap Pengelolaan Keuangan UMKM,” Lensa Ilm. J. Manaj. dan Sumberd., vol. 3, no. 2, pp. 62–66, 2024, doi: 10.54371/jms.v3i2.447.

S. Maulinda and A. Muslihat, “Pengaruh Uang Saku dan Teman Sebaya Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Singaperbangsa Karawang Angkatan 2021–2023),” Innov. J. Soc. Sci., vol. 4, pp. 536–547, 2024.

Z. Soraya, S. Aisyah, F. Dwiyanti, and A. Sultan, “Pengaruh Literasi Keuangan, Efek Teman Sebaya, dan Sumber Informasi terhadap Perilaku Siswa dalam Penggunaan Aplikasi Fintech,” vol. 8, no. April, pp. 4925–4934, 2024.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2023.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.

M. S. Dadang Supriyatna and A. Sylvana, Lingkungan Organisasi (Modul 2), vol. 8, no. 1. 2014. [Online]. Available: http://money.cnn.com/magazines/fortune/fortune500/index.html

Ghozali, Partial Least Square Smart PLS 4.0. 2023. [Online]. Available: http://repository.stei.ac.id/6706/

A. Saadah, D. Fakhriyana, and H. Hersugondo, “Identifikasi Pola Perilaku Remaja Dengan Path Analysis,” J. Gaussian, vol. 12, no. 4, pp. 499–508, 2024, doi: 10.14710/j.gauss.12.4.499-508.

M. Hair Jr., J. F. Hult, G. T. M. Ringle, and C. M. Sarstedt, A Primer on Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), 3rd ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2022.

R. E. Hair, J. F. Black, W. C. Babin, and B. J. Anderson, Multivariate Data Analysis. Upper Saddle River, NJ, USA, 2010.

Luni, A. Sari, and S. Widoatmodjo, “Pengaruh Literasi Keuangan, Gaya Hidup, dan Locus of Control Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa,” vol. 05, no. 02, pp. 549–558, 2023.

T. Gultom, S. R. Hs, and L. Siagian, “Dampak Literasi Keuangan Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa (Studi Kasus di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar),” vol. 14, no. 1, 2022.

N. R. Alfiah and J. Kadang, “Pengaruh Financial Technology dan Perilaku Konsumtif Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa Prodi Manajemen PSDKU UNTAD Morowali,” vol. 8, no. 11, pp. 6950–6957, 2025, doi: 10.56338/jks.v8i11.9186.

S. Javanis, R. D. Nawanti, S. Purnomo, and D. Fuadi, “Analisis Pengaruh Financial Literacy dan Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta,” vol. 7, no. April, pp. 3829–3836, 2024.

T. Laili, A. Maulida, and P. P. Sari, “Pengaruh Literasi Keuangan, Pendapatan dan Penggunaan Financial Technology (Fintech) Payment Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa,” vol. 14, no. 02, pp. 871–879, 2025.

N. Rowiya and H. Indrawati, “Peers, Perspectives, and Financial Choices: A Study on Financial Behavior Among Economics Students,” vol. 8, no. 2, pp. 291–310, 2024, doi: 10.32851/ijebp.v8n2.p291-310.

W. Setiawan, R. F. Akbar, and U. N. Surabaya, “Spending Behavior Under Budget Constraint: An Integrated Model of Cognitive, Regulatory, and Social Determinants Among Need-Based Scholarship Students in Indonesia,” J. Ilmu Manaj., vol. 14, pp. 179–199, 2025.

S. Noor, “Financial Management of UNISKA MAB Banjarmasin Students Influenced by Friends, Financial Education, and Financial Literacy,” vol. 6, no. 2, pp. 1569–1575, 2025.

M. F. Ardiansyah, A. Marina, and M. Surabaya, “Journal of Accounting and Financial Issue,” vol. 6, 2025.

S. Eliana, I. Lakoni, and M. Yansi, “Literasi Keuangan Digital, Kemudahan Transaksi, dan Financial Technology Terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa (Studi Kasus pada Mahasiswa Perguruan Tinggi di Kota Bengkulu),” vol. 5, no. 2, pp. 6287–6293, 2026.