Anis Krismawati Mukharomah (1), Aisha Hanif (2)
General Background: Stock prices are a key indicator for investors in assessing firm value in capital markets. Specific Background: Financial ratios are widely used to evaluate company performance in the automotive and component subsector listed on the Indonesia Stock Exchange. Knowledge Gap: Limited studies examine profitability, liquidity, and leverage ratios simultaneously with earnings per share as a moderating variable in this subsector. Aims: This study examines the relationship between Return on Assets, Current Ratio, and Debt to Equity Ratio on stock prices with Earnings per Share as a moderating variable. Results: The findings show that Return on Assets, Current Ratio, and Debt to Equity Ratio are statistically associated with stock prices, while Earnings per Share moderates these relationships. Novelty: The study integrates earnings per share as a moderating variable within a financial ratio framework in automotive companies. Implications: The results provide insights for investors and researchers in evaluating stock price movements using financial statement information.
Keywords:
Stock Price, Return On Assets, Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Earnings Per Share
Key Findings Highlights:
Profitability indicators show a consistent relationship with market valuation.
Liquidity and leverage ratios are linked to variations in share values.
Earnings per share strengthens the association between financial ratios and stock valuation.
Latar Belakang
Pasar modal di Indonesia awalnya dipandang belum memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pasar modal danrendahnya minat masyarakat dalam berinvestasi di pasar modal. Namun dengan berjalannya waktu mulai meningkatnya pengetahuan masyarakat terhadap investasi, dan munculnya kebijakan pemerintah mengenai investasi. Pasar modal yang sekarang berkembang di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang cukup signifikan, kemajuan itu terlihat dari meningkatnya volume perdagangan, dan jumlah emiten dari waktu ke waktu [1].
Menurut [2] pasar modal kini memiliki peranan penting bagi suatu negara dalam bidang perekonomiannya termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan pasar modal mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Fungsi pasar modal dalam segi ekonomi adalah pasar modal sebagai fasilitas untuk menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dan pihak yang kelebihan dana (investor). Sedangkan fungsi keuangan yaitu memberikan peluang dan kesempatan untuk memperoleh imbalan bagi pemilik dana sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Menurut [3], menjelaskan bahwa investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya pada saat ini untuk memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Salah satu sarana atau tempat untuk melakukan investasi adalah pasar modal. Tempat untuk menghubungkan atau mempertemukannya dilaksanakan berdasarkan suatu lembaga resmi yang disebut dengan bursa efek. Salah satu efek yang diperjualbelikan adalah saham.
Investasi dalam bentuk saham dirasa memiliki resiko yang cukup tinggi. Investor tidak mengetahui secara pasti resiko apa yang akan dialami. Oleh sebab itu investor memerlukan informasi dan juga alat pengukur kinerja perusahaan yang tepat agar dapat memilih saham mana yang harus dipiih. Harga saham peka dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik perubahan dalam negeri maupun luar negeri [4].
Dalam aktivitas pasar modal, harga saham merupakan faktor yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh para investor karena harga saham menunjukkan prestasi emiten. Harga saham juga menunjukkan nilai perusahaan, dengan semakin tinggi harga saham suatu perushaan maka tinggi pula nilai perusahaan tersebut dan sebaliknya [5]. Karena itu untuk penilaian saham investor dapat melihat kondisi keuangan perusahaan.
Salah satu tolak ukur keberhasilan suatu perusahaan adalah kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Kinerja perusahaan yang baik akan memberikan dampak positif bagi perkembangan perusahaan itu sendiri dan tentu akan menarik minat investor. Untuk menilai kinerja perusahaan dapat dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan juga dapat memprediksi harga saham. Harga saham dipengaruhi oleh kinerja perusahaan karena kinerja yang baik akan menaikkan nilai harga saham, dan penilaian ini dapat dilakukan dengan melakukan analisis teknikal dan fundamental.
Analisis teknikal menggunakan data perubahan harga di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Sedangkan analisis fundamental berkaitan dengan penilaian kinerja perusahaan tentang efektivitas dan efisiensi perusahaan dalam mencapai sasaran. Dapat disimpulkan bahwa analisis fundamental memiliki hubungan kausalitas terhadap nilai perusahaan melalui indikator harga saham dan struktur modal perusahaan [6]. Dengan menggunakan analisis fundamental ini dapat membantu investor untuk menilai apakah saham ini layak dibeli atau tidak. Salah satu cara untuk menilai kinerja keuangan perusahaan adalah dengan melihat laporan keuangan perusahaan.
Laporan keuangan perusahaan adalah hasil laporan keuangam selama periode tertentu yang digunakan sebagai informasi bagi calon investor sebelum menanamkan modalnya. Informasi laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan jenis informasi yang paling mudah didapatkan. Laporan keuangan sangat berguna bagi investor untuk menentukan keputusan investasi yang terbaik dan menguntungkan [7].
Untuk menganalisis laporan keuangan biasanya dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan dapat berguna sebagai pedoman investor untuk menyediakan informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu dan masa yang akan datang [8]. Rasio keuangan terdiri dari lima jenis yaitu rasio likuiditas (liquidity ratio),rasio aktivitas (activity ratio), rasio solvabilitas (leverage ratio), rasio pasar, dan rasio rentabilitas (profitabilitas ratio).
Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Adapun rasio likuiditas diantaranya adalah Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Net Working Capital (NWC), dan Defensive Interval Ratio (DIR). Rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya. Rasio aktivitas terdiri dari Receivable Turnover, Total Asset Turn Over (TATO) dan Inventory Turnover [9].
Ratio solvabilitas atau leverage adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya dan rasio ini terdiri dari Debt to Equity Ratio dan Debt Ratio [10]. Rasio pasar menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengukur harga pasar terhadap nilai saham perusahaan, yang termasuk diantaranya Price Earning Ratio dan Price Book Value. Rasio profitabilitas yang merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dari kegiatan operasinya yang sering dibicarakan Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), dan Return On Investnent (ROI).
Menurut [11] rasio umumnya yang dikenal dan popular adalah rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas atau profitabilitas. perusahaandikatakan mempunyai kinerja yang baik atau tidak dapat diukur dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban (utang) yang akan jatuh tempo (liquidity), kemampuan perusahaan untuk menyusun struktur pendanaan, yaitu perbandingan antara utang dan modal (leverage), kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan (profitability).
Selembar saham mempunyai nilai atau harga. Para investor sebelum melakukan penanaman modal biasanya melakukan penelitian dan analisis-analisis terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir terjadinya kesalahan yang dapat merugikan investor dalam menanamkan modal. Bursa efek atau bursa saham adalah sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan efek yang sudah terdaftar di bursa itu. Bursa efek bersama-sama dengan pasar uang merupakan sumber utama permodalan eksternal bagi perusahaan dan pemerintah. Dengan adanya jual beli saham dapat meluaskan usaha dengan memiliki sejumlah modal yang ada di perusahaan.
Ratio return on asset juga sangat penting, dimana rasio ini menunjukkan seberapa banyak perusahaan telah memperoleh laba atas aktiva yang ditanamkan pada perusahaan. Rasio ini dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan yang dimiliki. Rasio ini diperoleh dari laba bersih setelah pajak dibagi total aktiva. Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan juga berupaya untuk memperoleh laba yang tinggi. Semakin tinggi perolehan laba perusahaan maka mencerminkan modal ekuiti yang diinvestasikan sedikit dibandingkan dengan modal pinjaman, hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi investor yang akan menginvestasikan uangnya pada perusahaan [12].
Dalam sebuah bisnis, perusahaan juga memiliki utang. Utang biasanya terjadi baik pada perusahaan yang telah lama berdiri maupun perusahaan baru. Perusahaan baru biasanya memiliki hutang karena untuk membiayai baik pembangunan gedung maupun kegiatan operasi perusahaan yang baru akan dimulai sedangkan bagi perusahaan yang telah lama berdiri biasanya perusahaan berhutang untuk menutupi biaya-biaya yang timbul akibat kegiatan operasi yang dilakukan. Perusahaan dapat menggunakan rasio hutang untuk mengukur berapa aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Semakin tinggi rasio hutang, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan perusahaan [13].
Salah satu cara untuk menghitung besarnya hutang suatu perusahaan dengan menggunakan perhitungan Current Ratio. Dimana perhitungan ini digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Oleh sebab itu, rasio lancar dihitung sebagai hasil bagi antara total aset lancar dengan kewajiban lancar. Perusahaan harus terus-menerus memantau hubungan antara kewajiban lancar dan aset lancar. Hubungan ini sangat penting terutama untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset lancar [14].
Tidak hanya hutang jangka pendek saja yang dapat terjadi dalam kegiatan operasional perusahaan, hutang jangka panjang juga dapat terjadi dalam kegiatan tersebut. Untuk mengetahui seberapa besar jumlah hutang jangka panjangnya, perusahaan dapat menggunakan Debt to Equity dalam perhitungannya. Rasio ini digunakan untuk mengetahui perbandingan jumlah dana yang disediakan kreditor dengan jumlah dana yang berasal dari pemilik perusahaan [15]. Agar perusahaan dapat bertahan lama maka perusahaan harus mampu mengendalikan utangnya agar tidak lebih tinggi dari modal. Karena apabila utang tersebut lebih tinggi dari modalnya maka dapat dikatakan perusahaan tersebut tidak sehat secara finansial dan perusahaan akan terancam bangkrut. Perusahaan harus cermat dalam melakukan pengeluaran dan mengawasi pengeluaran tersebut agar tidak terjadi pengeluaran yang berlebihan. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan ukuran yang dipakai dalam menganalisis laporan keuangan untuk melihat besarnya jaminan yang tersedia untuk kreditor [16].
Industri otomotif dan komponen saat ini memang sangat pesat pertumbuhannya, bisa kita lihat fenomenanya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengguna jalanan baik di ibukota maupun di daerah sudah menggunakan kendaraan baik motor maupun mobil. Dengan melihat keadaan sekarang industri ini dinilai menjanjikan dalam melakukan investasi dan memperoleh keuntungan baik sekarang maupun di masa depan. Berdasarkan data penjualan sepeda motor pada Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) tahun 2020 sebanyak 3.660.616 unit, tahun 2021 sebanyak 5.057.516 unit, tahun 2022 sebanyak 5.221.470 unit, dan tahun 2024 sebanyak 6.236.992 unit, sedangkan data penjualan mobil pada Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) pada tahun 2020 sebanyak 576.762 unit, tahun 2021 sebanyak 863.348 unit, tahun 2022 sebanyak 1.013.582 unit, dan tahun 2023 sebanyak 1.196.026 unit. industri ini sangat bergantung pada suku bunga bank atau inflasi untuk melakukan ekspansi. Semakin tinggi inflasi dan suku bunga maka biaya juga akan meningkat. Hal ini disebabkan sub sektor ini termasuk industri padat modal. Seorang investor dapat mempertimbangkan dua hal sebelum melakukan investasi yaitu keuntungan yang didapatkan dan risiko yang mungkin terjadi [17].
Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting yang harus diperhatikan, karena EPS menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan, dan biasanya investor tertarik dengan menggunakan dasar saham yang dimiliki. Sehingga Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting dalam melakukan analisis perusahaan [18]. Earning atau laba merupakan salah satu tujuan investor dalam melakukan investasi. Untuk itu informasi tentang laba sangatlah menjadi perhatian bagi para investor. Biasanya investor tertarik dengan laba atau profit dengan menggunakan dasar saham yang dimiliki. Menurut [19] rasio yang biasanya digunakan untuk melihat keuntungan dengan dasar saham adalah Earning Per Share (EPS). Earning Per Share (EPS) bisa menggambarkan pengembalian modal untuk setiap satu lembar saham dan kinerja perusahaan. Hubungan antara laba yang diperoleh dari investasi yang ditetapkan pemegang saham diamati secara cermat oleh komunitas keuangan.
Melihat dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan hasil yang bervariasi, maka pada penelitian ini penulis menggunakan variabel moderasi untuk mengetahui apakah variabel moderasi dapat memperkuat atau memperlemah variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap harga saham pada perusahaan otomotif yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia tahun 2020-2023. Adanya variabel moderating adalah untuk memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Dalam penelitian ini variabel moderasi yang digunakan adalah Earning Per Share (EPS), merupakan laba bersih dari setiap lembar saham. Sebab investor akan melihat keuntungan yang dihasilkan dari tiap lembar saham sebelum akhirnya investor memutuskan untuk membelinya atau tidak [20].
Berdasarkan data diatas, dapat diketahui informasi fluktuasi harga saham sebagai pertimbangan investor dalam menanmkan modalnya pada perusahaan-perusahaan industri otomotif dan komponen guna mempertimbangkan keputusan dalam berinvestasi salah satunya menggunakan data laporan keuangan. Harga saham mencerminkan nilai dari suatu perusahaan, apabila perusahaan tersebut memiliki prestasi yang baik maka harga saham tersebut akan banyak diminati oleh para inveastor. Sebaliknya jika perusahaan tersebut memiliki prestasi yang buruk maka investorpun tidak akan tertarik.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian diatas, maka masalah yang akan dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Pengaruh Return On Assets (ROA) Terhadap Harga Saham yang dimoderasi oleh Earning Per Share (EPS)
Return On Asset (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Rasio ini penting bagi pihak manajemen perusahaan (ROA dalam mengelola seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar Return On Asset) berarti semakin efisien penggunaan aktiva perusahaan atau dengan kata lain dengan jumlah aktiva yang sama bisa dihasilkan laba yang lebih besar lagi dan sebaliknya.
2. Pengaruh Current Ratio (CR) Terhadap Harga Saham yang dimoderasi oleh Earning Per Share (EPS)
Current Ratio (CR) adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. Kemampuan likuiditas keuangan antar perusahaan cenderung berbeda antara satu industri dengan industry lainnya. Kriteria perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan kepada pihak luar secara aman. Semakin tinggi resiko rasio likuiditas suatu perusahaan maka semakin baik karena semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek dan semakin diminati para investor untuk menanamkan saham di perusahaan tersebut [21].
Earning Per Share (EPS) merupakan komponen terpenting yang sangat diperhatikan oleh para investor. Karena EPS adalah laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada pemegang saham. Dengan CR yang tinggi maka keuntungan perusahaan semakin besar, maka EPS akan tinggi karena keuntungan perusahaan yang semakin besar maka akan meningkat pula laba yang diterima kepada para pemegang saham. Hal ini akan berdampak positif terhadap harga saham dengan meningkatnya harga saham [22].
Dengan begitu hal tersebut sesuai dengan Signaling Theory (Teori Sinyal) menurut [23] teori sinyal menjelaskan alasan perusahaan menyajikan informasi. Teori sinyal mengemukakan bagaimana seharusnya perusahaan memberikan sinyal-sinyal pada pengguna laporan keuangan. Jadi dengan adanya teori sinyal memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil keputusan ekonomi. Dengan semakin tinggi Current Ratio (CR) perusahaan maka memberikan sinyal yang baik agar investor berminat untuk menanamkan modalnya. Current Ratio (CR) menandakan bahwa kewajiban jangka pendeknya dapat terpenuhi sehingga kegiatan operasionalnya tidak terganggu sehingga memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Investor menyukai perusahaan yang memiliki Current Ratio (CR) yang tinggi sehingga perusahaan dapat menjalankan kegiatan operasionalnya secara maksimal dan tidak terganggu oleh hutang sehingga dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap harga saham.
Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham yang dimoderasi oleh Earning Per Share (EPS)
Ratio Leverage menggambarkan hubungan antara utang perusahaan terhadao modal aset. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara total hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri (ekuitas). Debt to Equity Ratio (DER) digunakan perusahaan untuk mengukur seberapa besar modal yang dimiliki untuk menjamin hutangnya. Semakin besar Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan semakin besar biaya hutang yang harus dibayar perusahaan sehingga profitabilitas berkurang. Karena dengan tingginya DER maka EPS akan turun dikarenakan berkurangnya keuntungan yang diterima oleh pemegang saham.
Hal tersebut telah sesuai dengan Signaling Theory (Teori Sinyal), dengan memberikan sinyal yang diberikan kepada investor dari perusahaan yang berupa informasi keuangan maka investor dapat megetahui seberapa besar hutang yang dimiliki perusahaan tersebut sebelum investor menanamkan modalnya. Hutang yang tinggi pada perusahaan dapat memberikan risiko yang besar dan perusahaan bisa saja mengalami kebangkrutan karena memiliki hutang yang tinggi, dan berdampak harga saham akan turun. Maka dari itu diperkirakan Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap harga saham [24].
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan data sekunder sebagai sumber data [25]. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laporan tahunan Pada perusahaan manufaktur aneka industri dengan sub sektor otomotif dan komponen di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2020-2023. Penelitian ini menganalisa dan menjelaskan Pengaruh Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio terhadap Harga Saham dengan Earning Per Share Sebagai Variabel Moderasi.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukanpada perusahaan yang tergabung dalam perusahaan manufaktur ane ka industri dengan sub sektor otomotif dan komponen di Indonesia yang telah Go Public di Bursa Efek Indonesia yang terdapat situs resminya.
Definisi Operasional, Identifikasi Variabel dan Indikator Variabel
Operasionalisasi variabel sangat diperlukan untuk menentukan jenis, indikator serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar dan sesuai dengan judul penelitian Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio terhadap harga saham dengan Earning Per Share Sebagai Variabel Moderasi Pada Perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2023. Maka variabel yang terkait dalam penelitian ini yaitu :
1. Variabel Dependen (Y)
Menurut [26] variabel tergantung (dependent variable) adalah variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas. Variabel dependen yang digunakan adalah harga saham pada perusahaan otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2020-2023. Harga saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham penutupan (closing price) dari tiap perusahaan yang diperoleh dari harga saham periode akhir tahun.
2. Variabel Independen (X)
Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan dengan notasi X. Pada penelitian ini terdapat 3 variabel yaitu return on asset (ROA), current ratio (CR), dan debt to equity ratio (DER).
3. Variabel Moderasi (Z)
Menurut [27] variabel moderating merupakan variabel baru yang dikonstruksi sendiri oleh peneliti dengan cara mengambil satu variabel dan mengalikannya dengan variabel lain untuk mengetahui dampak keduanya. Variabel moderasi adalah untuk memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Dalam penelitian ini variabel moderasi yang digunakan adalah earning per share (EPS).
Populasi dan Sampel
a. Populasi
Menurut [28] populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan penulis adalah perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan dan laporan saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Populasi yang akan menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjumlah 14 perusahaan.
b. Sampel
Pemilihan sampel dilakukan pada semua populasi yang memenuhi kelengkapan data. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan sampel adalah purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan atau kriteria tertentu [29]. Adapun kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Berdasarkan kriteria penentuan sampel yang tersaji pada tabel tersebut dapat diketahui bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 40 (empat puluh) perusahaan dengan periode 4 (empat) tahun pengamatan.
Dari kriteria yang telah ditetapkan diatas, maka ditentukan daftar perusahaan yang memenuhi kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakam dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data tersebut merupakan data perusahaan yang tergabung dalam perusahaan manufaktur aneka industri dengan sub sektor otomotif dan komponen di Indonesia yang telah Go Public di Bursa Efek Indonesia yang terdapat situs resminya.
Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data menjelaskan mengenai bagaimana pengambilan data penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
Teknik Analisis
Analisis data penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif merupakan bentuk analisa data yang berupa angka-angka dan dengan menggunakan perhitungan statistik untuk menganalisa suatu hipotesis. Analisa data kuantitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan, kemudian mengolahnya dan menyajikannya dalam bentuk tabel, grafik, dan output analisis lain yang digunakan untuk menarik kesimpulan sebagai dasar pengambilan keputusan [30]. Teknik analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Moderated Regression Analysis melibatkan variabel moderasi dalam membangun hubungan dapat memperkuat atau memperlemah variabel dependen. Moderated Regression Analysis berbeda dengan analisis sub-kelompok, karena dapat menggunakan pendekatan analitik yang mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar untuk mengontrol pengaruh variabel moderasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan SPSS (Statistical Package for Social Science) Versi 27 sebagai alat untuk menganalisis data. Analisis ini diawali dengan statistik deskriptif, dan Uji Asumsi Klasik. Uji asumsi klasik ini terdiri dari Uji Multikolinearitas, Uji Normalitas, Uji Heterokedasitas, Dan Uji Autokorelasi. Selanjutnya data yang terkumpul dilakukan Moderated Regression Analysis (MRA) dan uji hipotesis yang berupa koefisien determinasi (R2), Koefisien korelasi (R), dan uji t.
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk dapat menggambarkan berbagai karakteristik data yang berasal dari suatu sampel. Statatistik deskriptif seperti mean, median, modus, presentil, desil, quartile berupa bentuk analisis angka maupun gambar/diagram. Dalam statistik deskriptif ini diolah pervariabel. Dalam penelitian ini, digunakan untuk mengetahui gambaran tentang Return On Assets, Current Ratio , Debt To Equity Ratio , harga saham dan Earning Per Share.
2. Uji Asumsi Klasik
Model Moderated Regression Analysis (MRA) digunakan dalam pengujian hipotesis untuk dapat memenuhi uji asumsi klasik dalam penelitian yang dilakukan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dapat menghindari adanya estimasi yang bias karena tidak semua data dapat menggunakan model regresi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian perlu dilakukan karena dalam menguji model regresi berganda apakah dalam penelitian tersebut variabel pengganggu atau nilai residualnya memiliki distribusi normal atau tidak. Seperti yang telah diketahui bahwa uji f dan t mengasumsikan bahwa nilai residualnya mengikuti distribusi normal atau tidak, apabila dalam penelitian yang dilakukan melanggar asumsi tersebut, maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel yang rendah. Uji Kolmogorov Smirnov satu arah juga dapat untuk menguji uji normalitas data. Menilai nilai signifikansi dalam penelitian harus dapat mengambil kesimpulan untuk menentukan apakah suatu data telah mengikuti distribusi normal atau tidak. Jika signifikannya > 0,05 maka variabel berdistrubusi normal dan sebaliknya jika signifikannya < 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal.
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dimaksudkan jika dalam penelitian dengan model regresi yang dilakukan terjadi korelasi antar variabel bebas (independen). Dalam penelitian tidak terjadi korelasi di antara variabel independen merupakan model regresi yang baik. Karena jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel tersebut tidak ortogonal. Variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol disebut dengan varaibel orthogonal [31]. Metode yang digunakan untuk menguji adanya multikoliniearitas ini dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflantion factor (VIF). Batas yang ditentukan untuk menunjukkan adanya multikolinearitas atau tidak dari nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.
c. Uji Heterokedasitas
Heterokedasitas mempunyai tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance antara residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance antara residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka dapat diartikan dengan homokedasitas dan jika berbeda diartikan dengan heterokedasitas. Model regresi yang baik yaitu yang homokedasitas atau yang tidak terjadi heterokedasitas [32].
Untuk mengetahui ada atau tidaknya heterokedasitas pada penelitian ini, maka penelitian ini diuji dengan cara melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dan dengan residualnya (SRESID). Dasar analisis yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya heterokedasitas adalah sebagai berikut:
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi memiliki tujuan untuk menguji apakah model regresi berganda dalam penelitian yang dilakukan terdapat korelasi antara residual pada periode t dengan residual pada periode t-1 atau sebelumnya. Apabila telah terjadi korelasi, maka dapat dinyatakan dengan adanya problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena disebabkan adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Masalah ini timbul dikarenakan residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas antara satu observasi dengan observasi yang lainnya. Hal ini juga sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena adanya “gangguan” pada seseorang individu/kelompok yang cenderung mempengaruhi “gangguan” pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya. Dalam penelitian model regresi yang bebas dari autokorelasi, merupakan model regresi yang baik. Salah satu cara untuk dapat mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dengan Uji Durbin – Watson. Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi:
3. Pengujian Hipotesis
1. Uji Koefisien Korelasi
Dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi yang menjadi perhatian adalah besarnya nilai R hasil dari SPSS 27. Jika besarnya nilai R mendekati angak 1 berarti variabel independen memiliki pengaruh yang kuat terhadap variabel dependen. Begitu pula sebaliknya, jika besarnya nilai R jauh dari angka 1 berarti pengaruh variabel independennya masih lemah terhadap variabel dependen.
2. Koefisien Determinasi (R 2 )
Koefisien determinasi (R2) yaitu koefisien yang menunjukkan presentase pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Presentase tersebut menunjukkan tentang seberapa besar variabel independen yang dapat menjelaskan variabel dependennya. Semakin tinggi koefisien determinasinya atau nilai R2 semakin mendekati 100% maka semakin baik variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya. Hal ini, persamaan regresi yang dihasilkan baik untuk mengestimasikan nilai variabel dependennya.
3. Moderated Regression Analysis (MRA)
Uji interaksi atau sering disebut Moderated Regression Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih independen) yang bertujuan untuk mengetahui apakah variabel moderating akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. variabel moderator berdasarkan hubungannya dengan variabel kriteria (tergantung) dan bedasarkan interaksi dengan variabel prediktor (bebas). Pola hubungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Dimana model yang akan digunakan yaitu sebagai berikut:
Y = α + β₁ X ₁ + + + e
Y = α + β 4 X ₁Z + + Z+ e
Dimana :
Y: Harga Saham (Y1)
α: Konstanta
β: Koefisien regresi dari variabel independen X₁, X₂, X3
X1: Return On Assets
X₂: Current Ratio
X3: Debt to Equity Ratio
Z: Earning per Share
e: Variabel Pengganggu Atau Error
4. Uji t (Uji parsial)
Uji statistik t pada dasarnya memperlihatkan seberapa jauh pengaruh satu variabel atau independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Adapun dasar pengambilan kesimpulan pada uji t ialah sebagai berikut:
Analisis Data dan Hasil
Analisis Statistik Deskriptif
Uji statistic deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi dari masing-masing variabel penelitian. Adapun hasil olahan statistic deskriptif data yang menjadi variabel penelitian dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science ) versi 27 ditunjukkan dalam tabel berikut:
Berdasarkan hasil perhitungan pada table tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengamatan dalam penelitian ini ada 10 perusahaan otomotif dan komponen yang menjadi sample dimana 10 perusahaan tersebut dikalikan periode tahun pengamatan (4 tahun), sehingga observasi dalam penelitian ini sebanyak 40 observasi (10 x 4 = 40). Berdasarkan perolehan data diketahui hasil sebagai berikut :
1. Harga Saham (Y)
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Harga Saham memiliki nilai terkecil(minimum)sebesar 1.03. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 6425.00. Rata-rata Harga Saham menunjukkan hasil yang positif sebesar 1135.9642. artinya secara umum Harga Saham yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Harga Saham adalah sebesar 12.17162 (diatas rata-rata) artinya Harga Saham memiliki tingkat variasi data yang tinggi.
2. Return On Assets (X1)
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Return On Assets memiliki nilai terkecil(minimum)sebesar -5.00. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 9.79. Rata-rata Return On Assets menunjukkan hasil yang positif sebesar 2.1672. artinya secara umum Return On Assets yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Return On Assets adalah sebesar 1.75424 (diatas rata-rata) artinya Return On Assets memiliki tingkat variasi data yang tinggi.
3. Current Ratio (X2)
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Current Ratio memiliki nilai terkecil(minimum)sebesar 0.11. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 10.47. Rata-rata Current Ratio menunjukkan hasil yang positif sebesar 12.6230. artinya secara umum Current Ratio yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Current Ratio adalah sebesar 2.31178 (diatas rata-rata) artinya Current Ratio memiliki tingkat variasi data yang tinggi.
4. Debt To Equity Ratio (X3)
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Debt To Equity Ratio memiliki nilai terkecil(minimum)sebesar 0.07. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 7.82. Rata-rata Debt To Equity Ratio menunjukkan hasil yang positif sebesar 11.2565. artinya secara umum Debt To Equity Ratio yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Debt To Equity Ratio adalah sebesar 11.66752 (diatas rata-rata) artinya Debt To Equity Ratio memiliki tingkat variasi data yang tinggi.
5. Earning Per Share (Z)
Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Earning Per Share memiliki nilai terkecil(minimum)sebesar -169.16. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 1099.22. Rata-rata Earning Per Share menunjukkan hasil yang positif sebesar 1168.3670. artinya secara umum Earning Per Share yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Earning Per Share adalah sebesar 258.65945 (diatas rata-rata) artinya Earning Per Share memiliki tingkat variasi data yang tinggi.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan tahapan pertama sebelum dilakukan perhitungan regresi untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap dependen.
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat variabel dependen dan variabel independen berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Untuk menguji normalitas data, pada penelitian ini menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov. Jika signifikannya > 0,05 maka variabel berdistrubusi normal dan sebaliknya jika signifikannya < 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal.
Figure 1.
Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diketahui bahwa angka signifikan setiap variabel menunjukkan angka lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas dan dapat di lanjutkan ke pengujian selanjutnya.
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Cara melihat ada atau tidaknya multikolinieritas didalam suatu model yaitu dapat dilihat pada nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Tolerance mengukur tingat variabilitas variabel independen yang dipilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cutoff tolerance yang umum digunakan adalah > 10 dan VIP < 10. Jika terjadi hal demikian, berarti tidak terjadi multikolinieritas pada model regresi.
Figure 2. Tabel 6. Hasil Uji M ultikolinieritas
Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa hasil uji multikolinieritas, nilai tolerance masing-masing variable-variabel independen >0,10 sedangkan nilai VIF < 10. Dengan demikian, hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas dalam model regresi.
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi, jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Deteksi adanya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan melihat nilai dari statistic Durbin Watson (dW). Dengan ketentuan sebagai: Nilai DW antara 1,55 s/d 2,46; tidakadaautokorelasi
Hasil uji autokorelasi dapat dilihat dalam table berikut:
Berdasarkan hasil uji autokorelasi, nilai Durbin-Watson sebesar 1,944. Sehingga nilai DW antara 1,55 s/d 2,46. Hal ini menunjukkan tidak terjadi autokorelasi.
d. Uji Heterokedastisitas
Untuk menguji ada atau tidaknya heteroskedasitas ini dilakukan dengan melihat pada Scatter Plot apakah menyebar atau membentuk pola tertentu pada residualnya. Jika titik tidak menyebar dan bentuk suatu pola maka terjadi heteroskedatisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedasitas atau terjadi homoskedasitas. Dari gambar 4.1 scatter plot terlihat titik-titik menyebar secara acak dan tidak ada kecenderungan untuk membentuk pola tertentu, maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.
Analisis Regresi Linear Berganda
Dalam rangka menguji Pengaruh Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio terhadap Harga Saham, maka digunakan analisis regresi berganda. Perhitungan dilaksanakan dengan program SPSS versi 27 dan diperoleh hasil sebagai berikut:
Figure 3. Tabel 8. Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda
Pada tabel tersebut mengenai hasil pengolahan SPSS, maka dapat dibuat persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Y = 1788.378 + 24.392 + 130.899 + 246.559
Persamaan regresi linier berganda diatas dapat diartikan bahwa :
Pengujian Hipotesis
a. Uji Koefisien Determinasi (R²)
Uji (R²) digunakan untuk menghitung tingkat keeratan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Adapun analisis determinasi berganda adalah alat analisis untuk mengetahui besarnya sumbangan variabel bebas secara simultan (serempak) terhadap naik turunnya variabel terikat. Hasil penghitungan SPSS mengenai analisisnya ditujukan oleh tabel di bawah ini :
Pada tabel diatas diketahui bahwa nilai koefisien korelasi R adalah 0.923atau mendekati 1. Artinya terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara variabel bebas yang meliputi Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio terhadap Harga Saham.
Adapun analisis determinasi berganda, dari tabel diatas diketahui presentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditujukan oleh nilai R square adalah 0.950 maka koefisien determinasi berganda 0,950 x 100%= 95% dan sisanya 100%-95%= 5%. Hal ini berarti naik turunnya variabel terikat yaitu Harga Saham dipengaruhi oleh veriabel bebas yaitu Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio sebesar 95%. Sedangkan sisanya sebesar 5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Pada uji hipotesis ini menggunakan uji t dipergunakan untuk mengukur tingkat pengaruh signifikansi secara parsial antara variabel independen yang meliputi Return On Assets, Current Ratio Dan Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-2023. Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (a=5%). Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
b. Uji t (Uji parsial)
Hasil perhitungan SPSS versi 27 mengenai analisis uji t (uji parsial) ditunjukkan oleh tabel dibawah ini :
Figure 4. Tabel 10. Hasil Uji Parsial (Uji t)
Dari tabel hasil pengujian diatas, maka hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :
c. Moderated Regression Analysis (MRA)
Menurut [33] membagi variabel moderator berdasarkan hubungannya dengan variabel kriteria (tergantung) dan bedasarkan interaksi dengan variabel prediktor (bebas). Pola hubungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Berikut hasil pengujian Moderated Regression Analysis adalah sebagai berikut :
Figure 5. Tabel 11. Hasil uji Moderated Regression Analysis
Y = 284.278 + 3.158 X₁Z + + Z
1. Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap harga saham
Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa Return On Assets memiliki nilai signifikansi sebesar 0,008 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa Return On Assets berpengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan nilai koefisien beta yang bernilai positif menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki nilai Return On Assets yang besar cenderung akan meningkatkan harga saham. Artinya, nilai Return On Assets meningkat berarti perusahaan mampu menggunakan aset secara produktif sehingga dapat menghasilkan laba yang besar. Semakin besar Return On Assets, maka menunjukkan kinerja didalam perusahaan akan semakin baik karena tingkat pengembalian yang semakin besar sehingga investor tertarik untuk membeli saham yang akan mempengaruhi harga saham.
2. Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap harga saham
Hasil pengujian Current Ratio (CR) yang diperoleh dari hasil penelitian adalah 0,002 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Current Ratioberpengaruh terhadap harga saham , sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 diterima. Artinya secara parsial mempengaruhi harga saham. Rasio ini menunjukkan derajat pertanggungan aktiva lancar terhadap kewajiban lancar. Semakin besar rasio aktiva lancar terhadap kewajiban lancar, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menutupi kewajiban jangka pendek. Jika perusahaan dianggap mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya, maka perusahaan dalam kondisi baik dan harga saham dapat meningkat karena investor tertarik dengan kesehatan keuangan perusahaan. Current ratio yang terlalu tinggi menunjukkan adanya manajemen likuiditas yang buruk karena kelebihan dana yang dimiliki perusahaan tidak digunakan oleh perusahaan tersebut untuk membayar deviden, utang jangka pendek dan investasi lainnya. Hal ini dapat mencerminkan bahwa perusahaan tidak melakukan manajemen arus kas dan investasi yang baik. Akibatnya, investor menjadi kurang tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut, sehingga jumlah permintaan saham akan mengalami penurunan.
3. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap harga saham
Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa Debt to Equity Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0,009 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H3 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan nilai koefisien beta yang bernilai positif menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki nilai Debt to Equity Ratio yang besar cenderung akan menurunkan harga saham. Artinya, menandakan bahwa total hutang dari modal sendiri lebih besar dan perusahaan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melaksanakan kewajibannya kepada kreditur. Jika DER memiliki nilai rendah maka akan menambah tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan, yang dapat berakibat meningkatnya minat investor untuk berinvestasi di pasar modal. Semakin tinggi nilai DER, maka semakin rendah harga sahamnya. Semakin tinggi debt equity ratio suatu perusahaan, maka semakin tinggi pula tingkat modal perusahaan yang dibiayai oleh utang, sehingga semakin tinggi risiko gagal bayar yang dihadapi oleh perusahaan tersebut. Hal ini akan mengakibatkan kurangnya kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut, sehingga permintaan saham perusahaan tersebut akan mengalami penurunan. Akibatnya, harga saham perusahaan tersebut juga akan menurun seiring dengan menurunya permintaan pasar terhadap saham tersebut.
4. Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Return On Asset (ROA) dengan harga saham
Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa EPS memperkuat berpengaruh positif ROA terhadap Harga Saham. Hal ini karena, ROA dan EPS merupakan metrik keuangan yang sering digunakan oleh investor untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. ROA yang tinggi pada umumnya akan diikuti dengan peningkatan EPS, karena efisiensi dalam penggunaan aset akan mengarah pada peningkatan laba bersih, yang akhirnya tercermin dalam EPS. Jika ROA menunjukkan kinerja operasional yang baik dan EPS mendukung, maka investor lebih yakin akan prospek masa depan perusahaan, yang pada gilirannya dapat memperkuat pengaruh positif ROA terhadap harga saham. Ketika investor melihat bahwa perusahaan tidak hanya efisien dalam mengelola asetnya (ditunjukkan oleh ROA yang tinggi) tetapi juga mampu menghasilkan laba yang signifikan bagi pemegang saham (ditunjukkan oleh EPS yang tinggi), mereka lebih mungkin untuk membeli saham perusahaan tersebut, yang pada akhirnya meningkatkan harga saham.
5. Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Current Ratio (CR) dengan harga saham
Berdasarkan ringkasan hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan bahwa earning per share mampu memoderasi pengaruh current ratio terhadap harga saham. Nilai CR yang tinggi menunjukkan perusahaan dalam kondisi likuid dan perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya sehingga kegiatan operasional perusahaan tidak terganggu dengan utang. Hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Jika CR yang tinggi dikarenakan besarnya keuntungan yang diperoleh, maka akan meningkat pula laba per saham yang diterima oleh para pemegang saham. Hal tersebut akan memberikan sinyal positif bagi para investor untuk membeli saham perusahaan tersebut yang mengakibatkan naiknya harga saham.
6. Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Debt to Equity Ratio (DER) dengan harga saham
Berdasarkan ringkasan hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan bahwa earning per share mampu memoderasi pengaruh debt to equity ratio terhadap harga saham. Nilai DER yang tinggi menunjukan semakin besar hutang yang harus dibayar perusahaan sehingga dapat menurunkan profitabilitas perusahaan. Dengan begitu maka nilai EPS akan turun karena berkurangnya keuntungan yang diterima oleh pemegang saham. Hal ini dapat menjadi sinyal negatif yang membuat minat para investor menurun sehingga harga saham menurun. Namun DER yang tinggi juga dapat mengindikasikan bahwa perusahaan sedang melakukan ekspansi bisnis sehingga dapat meningkatkan pencapaian laba perusahaan. Dengan begitu laba per saham juga akan meningkat. Hal tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi investor sehingga harga saham ikut meningkat.
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan pada bagian sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap harga saham, Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap harga saham, Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap harga saham, Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Return On Asset (ROA) dengan harga saham, Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Current Ratio (CR) dengan harga saham, Earning Per Share (EPS) mampu memoderasi pengaruh antara Debt to Equity Ratio (DER) dengan harga saham.
Keterbatasan penelitian dalam penelitian ini adalah Penelitian ini hanya menggunakan 3 variabel Independen , 1 variabel dependen dan 1 variabel moderasi, Penelitian ini hanya mengambil 4 periode saja dari tahun 2020-2023, Penelitian ini hanya menggunakan objek 1 negara yaitu Indonesia dan Hanya menggunakan Perusahaan Otomotif dan Komponen.
Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti untuk penelitian dimasa yang akan dating adalah sebagai berikut : Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan menggunakan variabel independen lain yang mungkin mempengaruhi Harga Saham, misalkan: return on equity, net Profit margin, Deviden Price Ratio, Good Corporate Governance, Nilai Perusahaan, dan lain sebagainya. Memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan yang terjadi dalam jangka panjang sehingga menggambarkan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan objek lebih dari 1 negara. Dapat menggunakan Perusahaan lain agar sampel lebih besar.
Ucapan Terima Kasih
Selain proses yang cukup menguras waktu dan pikiran, penyelesaian dalam penelitian ini tidak lepas dari segala usaha, doa serta dukungan dari banyak pihak. Terima kasih ini ditujukan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Fakultas Bisnis Hukum dan Ilmu Sosial, Program Studi Manajemen sebagai tempat peneliti menimba ilmu sehingga sebagai modal dalam melakukan penelitian ini. Tidak lupa juga terima kasih pada pihak-pihak yang memberikan dukungan hingga terselesaikannya penelitian ini dengan baik.
[1] A. P. Ribowo, “Profitability and Leverage on Stock Prices with Firm Size as Control Variable,” Undergraduate Thesis, 2021.
[2] C. S. Pegasus and S. Wage, “Return on Asset, Earnings per Share, and Current Ratio on Stock Prices,” Indonesia Stock Exchange, 2023.
[3] D. I. Yuniarti, “Current Ratio, Debt Equity Ratio, and Return on Equity on Stock Prices,” Journal of Economics, Business, and Management, vol. 1, no. 3, pp. 70–82, 2022.
[4] D. D. Fernando, J. Zain, and O. Syaputra, “Earnings Per Share, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin, and Current Ratio on Stock Prices,” Management Studies and Entrepreneurship Journal, vol. 4, no. 5, pp. 6727–6743, 2023.
[5] D. Maulani and D. Riani, “Inflation, Interest Rates, and Financial Ratios on Stock Prices,” Oikonomia Journal of Management, vol. 17, no. 2, p. 84, 2021, doi: 10.47313/oikonomia.v17i2.1244.
[6] I. Ghozali, Research Methods: Quantitative and Qualitative Approaches. Semarang, Indonesia: Universitas Diponegoro Press, 2018.
[7] I. S. D. Lestari and N. P. S. Suryantini, “CR, DER, ROA, and PER on Stock Prices in Pharmaceutical Companies,” E-Journal of Management, vol. 8, no. 3, pp. 1844–1871, 2019.
[8] I. S. Machfiroh, A. N. Pyadini, and A. Riyani, “Liquidity, Solvability, and Profitability on Agricultural Sector Stock Prices,” Journal of Business and Economics, vol. 4, no. 1, pp. 22–34, 2020.
[9] I. Wahyuni, A. Susanto, and S. Asakdiyah, “Financial Ratios on Price Earning Ratio in Plantation Companies,” MBIA Journal, vol. 19, no. 1, pp. 75–86, 2020.
[10] J. Hartono, Portfolio Theory and Investment Analysis, 10th ed. Yogyakarta, Indonesia: BPFE, 2019.
[11] L. Permatasari and S. Dasman, “NPL, EPS, and PER on BBRI Stock Prices,” Journal of Accounting and Finance, vol. 2, pp. 98–109, 2024.
[12] L. Ariyani, R. Andini, and E. B. Santoso, “EPS, CR, DER, and PBV on Stock Prices with Dividend Policy as Intervening Variable,” Undergraduate Thesis, 2019.
[13] L. M. Handayani, I. Indarti, and L. Listiyowati, “Financial Performance and Firm Size on Stock Prices with Dividend Policy,” Journal of Asset Accounting, vol. 21, no. 2, pp. 93–105, 2020, doi: 10.37470/1.21.2.150.
[14] M. Rinto, D. Susilowati, and N. H. Moorcy, “ROE, EPS, and DER on Sharia Stock Prices,” Journal of Integrated Accounting, vol. 6, no. 1, pp. 25–39, 2024, doi: 10.29080/jai.v6i01.241.
[15] M. Andrean and T. Herawati, “Liquidity, Leverage, and Profitability on Property Sector Stock Prices,” Journal of Economics and Business, Universitas Brawijaya, 2019.
[16] M. Junaidi, H. Sulistyo, and S. Harjanto, “Debt Policy and Profitability on Stock Prices with Dividend Policy Mediation,” Open Science Framework, 2017, doi: 10.31227/osf.io/6us5g.
[17] Nurlia and Juwari, “ROA, ROE, EPS, and CR on Automotive Sector Stock Prices,” Journal of Economics and Business, pp. 73–90, 2016.
[18] N. S. Dewi and A. E. Suwarno, “ROA, ROE, EPS, and DER on LQ45 Stock Prices,” National Seminar on Entrepreneurship and Business, pp. 472–482, 2022, doi: 10.36441/snpk.vol1.2022.77.
[19] N. F. Husna and N. Sunandar, “CR, DER, and NPM on Food and Beverage Stock Prices,” National Seminar on Economics and Accounting, vol. 1, no. 1, pp. 65–75, 2022.
[20] N. Halim et al., “Inflation, SBI, DER, and CR on Food and Beverage Stock Prices,” Journal of Management, Economics, and Accounting, vol. 7, no. 2, pp. 796–806, 2023, doi: 10.31955/mea.v7i2.3062.
[21] R. Ristiya et al., “CR, DER, EPS, and PER on Stock Prices,” Journal of Economics, Business, Management, and Accounting, vol. 4, no. 1, pp. 278–290, 2024.
[22] S. Dan and A. Hermawan, Business Research Methods: Quantitative and Qualitative Approaches. Malang, Indonesia: Media Nusa Creative, 2016.
[23] Sugiyono, Quantitative, Qualitative, and R&D Research Methods. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2017.
[24] Sugiyono, Educational Research Methods, Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2021.
[25] Sugiyono, Educational Research Methods, Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2018.
[26] Sugiyono, Quantitative, Qualitative, and R&D Research Methods, Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2015.
[27] S. Sharma, R. M. Durand, and O. Gur-Arie, “Identification and Analysis of Moderator Variables,” Journal of Marketing Research, vol. 18, no. 3, pp. 291–300, 1981, doi: 10.2307/3150970.
[28] S. D. Andriani, R. Kusumastuti, and R. Hernando, “ROE, EPS, and DER on Food Industry Stock Prices,” Owner Journal, vol. 7, no. 1, pp. 333–345, 2022, doi: 10.33395/owner.v7i1.1268.
[29] U. Sekaran and R. Bougie, Research Methods for Business. Jakarta, Indonesia: Salemba Empat, 2017.
[30] V. C. O. Manoppo, B. Tewal, and A. B. Hasan, “CR, DER, ROA, and NPM on Food and Beverage Stock Prices,” Journal of EMBA, vol. 5, no. 2, pp. 1813–1822, 2017.
[31] Wahidmurni, “Quantitative Research Methodology,” Research Methodology Module, pp. 1–16, 2017.
[32] W. A. Simanjuntak, D. Pasaribu, and P. M. H. Tobing, “Debt, Dividend, and Capital Policy on Profitability,” Methodist Journal of Accounting and Finance, vol. 5, no. 1, pp. 71–86, 2021, doi: 10.46880/jsika.vol5no1.pp71-86.
[33] Y. Lapian and S. K. S. Dewi, “Dividend Policy as Mediation Between Profitability and Leverage on Stock Prices,” E-Journal of Management Udayana University, vol. 7, no. 2, p. 816, 2018, doi: 10.24843/ejmunud.2018.v7.i02.p10.