Login
Section Marketing Management

Green Accounting and Institutional Ownership Patterns in Healthcare Firm Profitability

Akuntansi Hijau dan Pola Kepemilikan Institusional dalam Kinerja Keuntungan Perusahaan Kesehatan
Vol. 20 No. 3 (2025): August:

Wiwit Hariyanto (1), Ziyadatus Syukriyah (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: The healthcare sector has experienced rapid growth alongside increasing demands for corporate accountability toward environmental and social responsibilities. Specific Background: Companies are encouraged to adopt Green Accounting practices and strengthen institutional ownership as governance mechanisms to maintain legitimacy and transparency. Knowledge Gap: Prior studies mostly focus on banking or general industries, while limited empirical evidence examines how these mechanisms relate to profitability in healthcare firms. Aims: This study analyzes the relationship between Green Accounting and institutional ownership with profitability of healthcare companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2020–2024. Results: Using purposive sampling of 31 firms and multiple linear regression on 109 observations, the findings show that Green Accounting does not show a significant relationship with profitability, while institutional ownership demonstrates a negative association, and both variables explain only 8.4 percent of profitability variation. Novelty: The research concentrates on the healthcare sector and applies environmental cost indicators to represent Green Accounting within this context. Implications: The results indicate that governance and environmental reporting alone are insufficient to explain financial outcomes, suggesting the need for broader managerial and operational factors in improving firm profitability.


Keywords: Green Accounting, Institutional Ownership, Profitability, Healthcare Sector, Financial Performance


Key Findings Highlights:




  1. Environmental cost allocation shows no measurable linkage with earnings ratio




  2. Higher institutional shareholding corresponds to short-term margin decline




  3. Explanatory power of the model remains limited at 8.4 percent



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Di tengah era modernisasi dan globalisasi yang semakin berkembang saat ini, masalah lingkungan menjadi perhatian utama bagi perusahaan dan masyarakat [1]. Setiap perusahaan, termasuk sektor kesehatan, harus menerapkan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab secara sektoral lingkungan untuk memerangi polusi, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia [2]. Saat ini, profitabilitas semakin dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mencakup tanggung jawab sosial dan lingkungan. Profitabilitas menggambarkan seberapa mampu suatu perusahaan menghasilkan keuntungan dengan menggunakan semua kemampuan dan sumbernya, seperti kegiatan penjualan, modal, tenaga kerja, cabang, dll. Penelitian lain menunjukkan bahwa perusahaan yang dapat mengelola sumber dayanya secara efisien dan bertanggung jawab dapat meningkatkan profitabilitasnya dengan mengurangi biaya dan meningkatkan daya saingnya [3].

Perkembangan teknologi dan globalisasi memberikan tantangan baru dalam pengelolaan profitabilitas. perusahaan dituntut untuk lebih responsif terhadap dinamika pasar dan inovatif dalam strategi bisnisnya. Profitabilitas tidak hanya dipandang sebagai hasil akhir keuangan, tetapi juga sebagai indikator keberlanjutan perusahaan. Salah satu pendekatan yang semakin diminati dalam upaya ini adalah konsep "Green Accounting" atau Akuntansi Hijau dan penerapan “Kepemilikan Institusional”. Konsep kedua ini sangat penting untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan, terutama dalam sektor-sektor yang berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat, seperti sektor kesehatan (healthcare) [4]. Perusahaan kesehatan (healthcare) di Indonesia menghadapi kesulitan untuk beradaptasi dengan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan [5]. Dalam konteks sektor kesehatan, Green Accounting berperan penting dalam mengelola sumber daya dengan lebih efisien untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan [6]. Green accounting, yang dikenal juga sebagai akuntansi berkelanjutan atau akuntansi hijau, merupakan metode akuntansi yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan keinginan ke dalam proses pengukuran, pelaporan, serta analisis keuangan suatu organisasi [7]. Pendekatan ini memadukan faktor lingkungan dan ekonomi untuk menyalakan aktivitas ekonomi dan bisnis secara menyeluruh. Sektor kesehatan memiliki tuntutan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, karena aktivitasnya seringkali melibatkan penggunaan sumber daya yang signifikan serta menghasilkan limbah medis yang memerlukan pengelolaan khusus [8]. Disisi lain, Kepemilikan Institusional berperan penting dalam mempengaruhi nilai profitabilitas perusahaan. Proporsi saham yang dimiliki institusi berperan dalam mengawasi manajemen agar dapat meminimalisir potensi konflik kepentingan. Pengawasan tersebut membuat perusahaan lebih berorientasi pada kinerja, menjaga kepercayaan investor, serta berkontribusi pada peningkatan profitabilitas[9] .

Untuk mengatasi masalah lingkungan, kita perlu menerapkan praktek akuntansi hijau (Green Accounting) yang mengintegrasikan data keuangan, sosial, dan lingkungan. Praktek ini bertujuan untuk menyediakan informasi komprehensif dan relevan guna mendukung pengambilan keputusan oleh para pemangku kepentingan serta pengelolaan aspek ekonomi dan non ekonomi [10]. Penerapan Green Accounting memungkinkan perusahaan untuk mengurangi dampak lingkungan dengan mempertimbangkan biaya yang berkaitan serta aktivitas lingkungan (biaya lingkungan). Akuntansi ini bertujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan lingkungan dan dapat menjadi daya tarik bagi konsumen, terutama di era ketika kesadaran akan isu lingkungan semakin meningkat [11]. Akibatnya, perusahaan dapat merasakan manfaat dari tren positif seperti peningkatan penjualan dan laba, meningkatnya minat untuk menerapkan bisnis secara berkelanjutan, serta bertambahnya nilai perusahaan di mata investor [12]. Dalam praktiknya, Green Accounting menuntut perusahaan mengalokasikan biaya untuk mendukung penerapannya. Biaya ini dikenal sebagai biaya lingkungan, yaitu pengeluaran yang timbul dari upaya perusahaan dalam mengelola serta mengatasi tantangan lingkungan. Konsep ini menjadi semakin penting di sektor kesehatan, terutama dalam pengelolaan limbah medis yang dapat membahayakan lingkungan dan masyarakat.

Penerapan kepemilikan institusional saat ini menjadi salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan perusahaan. Menurut penelitian lain, kepemilikan institusional berperan sebagai mekanisme pengawasan eksternal yang efektif, karena proporsi saham yang dimiliki oleh institusi dapat memperkuat kontrol terhadap manajemen. Dengan pengawasan yang lebih ketat, perusahaan mampu mengelola risiko secara lebih baik, menjaga transparansi, serta meminimalkan potensi penyimpangan [13]. Dengan demikian, kepemilikan institusional memiliki peran strategis dalam menjaga kepentingan pemegang saham melalui peningkatan fungsi pengawasan terhadap manajemen, sehingga dapat meminimalisir tindakan yang tidak etis maupun tidak transparan. Semakin besar proporsi kepemilikan institusional, semakin tinggi pula tekanan bagi manajemen untuk bertindak hati-hati dalam pengambilan keputusan. Hal ini membantu perusahaan agar tetap bertahan dan kompetitif di tengah persaingan. Selain itu, kepemilikan institusional turut mendorong terwujudnya transparansi dalam pengelolaan perusahaan, khususnya bagi pihak pengguna laporan keuangan [14]. Jika konsep ini diterapkan secara optimal, kepercayaan investor akan meningkat, yang pada akhirnya memberikan keuntungan bagi berbagai pihak.

Salah satu sektor perusahaan yang mendapat perhatian besar di era modernisasi dan globalisasi yaitu sektor kesehatan. Seiring dengan kemajuan dalam teknologi dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya kesehatan, terjadi pertumbuhan yang signifikan dalam sektor ini. Penelitian lain menunjukkan bahwa meskipun pendapatan dan laba perusahaan di sektor kesehatan pada tahun 2022 tidak setinggi yang di capai tahun 2020-2021, kinerja perusahaan di sektor ini masih menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tahun 2019 [15]. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan berkelanjutan dalam sektor kesehatan. Selain itu, sektor ini kini memainkan peranan penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya dalam hal obat – obatan dan multivitamin, yang semakin dianggap esensial. Karena permintaan konsumen yang tinggi, persaingan di sektor kesehatan juga semakin ketat dalam dunia bisnis modern. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada teori legitimasi. Berdasarkan penelitian lain, teori ini menekankan pentingnya perusahaan untuk meyakinkan masyarakat bahwa setiap aktivitas yang dijalankan memiliki dampak positif dan dapat diterima. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah melalui laporan tahunan yang memaparkan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan [16].

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Green Accounting dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan di sektor kesehatan dalam era globalisasi dan modernisasi. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi secara teoritis dalam memperkaya literatur mengenai keberlanjutan di sektor kesehatan, sekaligus menjadi panduan praktis bagi perusahaan untuk meningkatkan profitabilitas tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada literatur mengenai keberlanjutan dalam sektor kesehatan di indonesia serta dapat membantu membuat kebijakan dalam merumuskan regulasi yang mendukung implementasi Green Accounting dan kepemilikan institusional, serta mendorong kesadaran perusahaan terhadap pentingnya pengelolaan limbah medis dan isu lingkungan.

Mengingat adanya keterbatasan pada penelitian sebelumnya, penelitian ini mengembangkan keragaman variabel yang digunakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada variabel independen dan variabel dependen. Variabel independennya pada penelitian ini memfokuskan pada variabel Green Accounting dengan indikator yaitu biaya lingkungan, pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih detail dan spesifik, serta kepemilikan institusional yang berperan sebagai mekanisme pengawasan eksternal untuk memastikan manajemen bertindak sesuai kepentingan pemegang saham. Pendekatan ini sangat relawan dalam sektor kesehatan untuk menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi. Sebagian besar penelitian sebelumnya tentang Green Accounting dan kepemilikan institusional cenderung berfokus pada sektor perbankan atau industri secara umum. Namun, penelitian ini memilih fokus pada sektor kesehatan yang memiliki karakteristik khusus, terutama dalam pengelolaan limbah medis dan kebutuhan akan inovasi yang berkelanjutan. Sedangkan perbedaan variabel dependen penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah pada penelitian sebelumnya memfokuskan pada kinerja keuangan tetapi pada penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada profitabilitas[17].

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Green Accounting Terhadap Profitabilitas

Green Accounting adalah pendekatan akuntansi yang memasukkan pertimbangan dampak lingkungan ke dalam laporan keuangan perusahaan. Metode ini dirancang untuk menghitung serta melaporkan biaya dan manfaat terkait lingkungan, seperti pengelolaan limbah, efisiensi penggunaan energi, dan pelaksanaan tanggung jawab sosial [1]. Di sektor kesehatan, Penerapan Green Accounting berkontribusi dalam mewujudkan tujuan ini dengan menunjukkan komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab lingkungan [2]. Dalam penelitian ini menggunakan indikator biaya lingkungan yang dihitung dengan membagi biaya Corporate Social Responsibility (CSR) dengan laba bersih setelah pajak. Biaya CSR dipilih karena lebih konsisten diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan dan dianggap mewakili kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Biaya lingkungan yan dimaksud meliputi pengelolaan limbah medis, konservasi energi, audit lingkungan, serta program CSR berbasis lingkungan seperti penghijauan dan edukasi kesehatan lingkungan. Semakin besar proporsi biaya CSR terhadap laba, semakin tinggi tingkat penerapan Green Accounting dalam perusahaan. Green Accounting berfungsi tidak hanya untuk mengukur dan mengelola biaya lingkungan tetapi juga untuk menyajikan informasi terkait tanggung jawab lingkungan dalam laporan keuangan. Implementasi Green Accounting dipercaya mampu meningkatkan profitabilitas jangka panjang, karena perusahaan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan cenderung mendapat kepercayaan lebih besar dari konsumen dan investor. Berdasarkan penelitian lain, menunjukkan bahwa Green Accounting berkontribusi positif terhadap Return on Assets (ROA) dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, sehingga membantu mengurangi biaya operasional [3]. Sementara itu, pendapat penelitian lain menyatakan bahwa perusahaan yang konsisten menerapkan prinsip Green Accounting memiliki keunggulan kompetitif yang dapat mendorong peningkatan laba. Oleh karena itu, Green Accounting tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga berfungsi sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan performa keuangan perusahaan [4].

H1 : Green Accounting berpengaruh terhadap profitabilitas

Kepemilikan Institusional Terhadap Profitabilitas

Kepemilikan institusional merupakan salah satu mekanisme pengelolaan perusahaan yang dapat meningkatkan efektivitas monitoring terhadap manajemen. Semakin besar proporsi saham yang dimiliki institusi, maka semakin kuat tekanan bagi manajemen untuk menjalankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab dalam setiap keputusan bisnisnya. Dengan demikian, kepemilikan institusional berperan penting dalam menjaga efisiensi operasional perusahaan sekaligus mendukung peningkatan profitabilitas [5]. Kepemilikan institusional diukur dari persentase jumlah saham yang dimiliki institusi (seperti bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan lembaga investasi lainnya) dibagi total saham yang beredar. Penelitian lain mengungkapkan bahwa pengaruh kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA) [6]. Kepemilikan institusional adalah persentase jumlah saham perusahaan yang dimiliki investor institusi. Institusi investor memiliki kepentingan jangka panjang, sehingga cenderung lebih ketat dalam menuntut transparansi, akuntabilitas, serta praktik tata kelola yang baik. kepemilikan institusional membantu menjaga akuntabilitas manajemen dan mendorong manajer untuk membuat keputusan yang efektif dan efisien serta melakukan pengawasan yang lebih baik terhadap operasi perusahaan [7]. Dengan adanya pengawasan yang lebih ketat dapat mengurangi kemungkinan pelanggaran yang merugikan perusahaan. Pada akhirnya, hal ini dapat menghasilkan keuntungan peningkatan profitabilitas dalam jangka panjang.

H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap profitabilitas

Legitimate Theory

Teori legitimasi merupakan teori dalam kerangka teori ekonomi politik yang memiliki pengaruh signifikan terhadap penentuan alokasi sumber daya keuangan dan ekonomi oleh masyarakat. Perusahaan seringkali mengendalikan kinerja berbasis legitimasi karena memegang peranan penting dalam pengembangan perusahaan dimasa mendatang. Teori legitimasi mengungkapkan bahwa perusahaan harus memastikan aktivitasnya sesuai dengan nilai, norma, dan harapan sosial agar mendapatkan dukungan masyarakat [8]. Prinsip dasar teori ini adalah bahwa keberlanjutan suatu perusahaan sangat bergantung pada penerimaan publik yang percaya bahwa perusahaan berkontribusi positif terhadap sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Dengan kata lain, perusahaan perlu membangun citra positif dan meyakinkan publik bahwa aktivitas operasional mereka dapat diterima dan bermanfaat bagi kalangan masyarakat [9]. Dalam praktiknya, perusahaan sering menggunakan tanggung jawab sosial atau laporan keberlanjutan untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap isu lingkungan dan sosial. Penerapan teori ini dalam Green Accounting yaitu bahwa mempertahankan kredibilitas lingkungan sangat penting bagi bisnis perusahaan agar dapat diterima oleh masyarakat di mana mereka beroperasi dan menjalankan bisnisnya [10]. Sedangkan penerapan teori ini pada kepemilikan institusionalmenegaskan bahwa pentingnya transparansi dan akuntabilitas untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, memperbaiki citra perusahaan, dan menjaga keberlanjutan perusahaan. Melalui kedua penerapan tersebut diharapkan perusahaan dapat mengurangi kesenjangan legitimasi (legitimacy gap), meningkatkan reputasi mereka, dan memperkuat hubungan dengan masyarakat.

Kerangka Konseptual

Figure 1. Gambar 1. Kerangka Konseptual

Metode

Judul artikel, nama penulis (tanpa gelar akademis), afiliasi dan alamat afiliasi penulis ditulis rata tengah pada halaman pertama di bawah judul artikel. Jarak antar baris antara judul dan nama penulis adalah 2 spasi, sedangkan jarak antara alamat afiliasi penulis dan judul abstrak adalah 1 spasi. Kata kunci harus dituliskan di bawah teks abstrak untuk masing-masing bahasa, disusun urut abjad dan dipisahkan oleh tanda titik koma dengan jumlah kata 3-5 kata. Untuk artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia, terjemahan judul dalam bahasa Inggris dituliskan di bagian awal teks abstrak berbahasa Inggris (lihat contoh di atas).

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder sebagai sumbernya. Data dikumpulkan untuk menguji pengaruh variabel independen (Green Accounting dan Kepemilikan institusional) terhadap variabel dependen (Profitabilitas) melalui studi pustaka dengan mengumpulkan informasi yang relevan dan berkaitan dengan topik penelitian [11]. Data sekunder yang dipakai berupa laporan tahunan perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2020-2024.

Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari populasi tersebut, peneliti memilih sampel berdasarkan metode purposive sampling. kriteria sampel yang digunakan yaitu perusahaan yang memiliki data keuangan lengkap periode 2020-2024 dan mengungkapkan informasi terkait Green Accounting dan Kepemilikan institusional. Faktor – faktor berikut ini dijadikan pertimbangan dalam pemilihan sampel untuk penelitian ini, antara lain :

Keterangan Jumlah
Perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2020 – 2024 37
Perusahaan sektor kesehatan yang tidak menerbitkan laporan keuangan secara berkala tahunan di Bursa Efek Indonesia tahun 2020 – 2024 (6)
Jumlah sampel yang digunakan 31
Total observasi ( 31 x 5 tahun ) 155
Total observasi yang terkena outlier (46)
Total observasi yang terbebas outlier 109
Table 1. Tabel 1. Kriteria Pemilihan Sampel

Variabel Penelitian:

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen penelitian ini adalah Green Accounting dan Kepemilikan institusional sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Berikut ini tabel indikator dari variabel :

Figure 2. Tabel 2. Formula Indikator Variabel

Metode Analisis Data

Metode analisis data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan SPSS. Peneliti menerapkan teknik analisis regresi linier berganda untuk mengetahui sejauh mana variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Metode ini dipilih karena mampu memprediksi perubahan pada variabel dependen berdasarkan variasi dua atau lebih variabel independen yang bertindak sebagai preditor [12]. Untuk memastikan validitas data, peneliti terlebih dahulu melakukan analisis statistik deskriptif serta pengujian asumsi klasik, uji parsial (uji T), dan uji koefisien determinasi.

1. Uji Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah metode analisis yang menjelaskan dan menyajikan data penelitian dalam bentuk yang mudah dipahami, baik secara numerik maupun grafik. Melalui perhitungan seperti mean, median, modus, standar deviasi, serta nilai maksimum dan minimum, metode ini memberikan gambaran mengenai karakteristik dan distribusi variabel yang diteliti, sehingga memudahkan peneliti dalam memahami data dan mendukung analisis lebih lanjut [13].

2. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik yang digunakan yaitu :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas ini menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dengan pengambilan keputusan uji normalitas yaitu : 1) Jika Nilai sig < 0,05, distribusi adalah tidak normal. 2) Jika Nilai sig > 0,05, distribusi adalah normal.

Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis grafik, yaitu melalui grafik histogram dan normal probability plot. Dasar pengambilan keputusan adalah, apabila data tersebar di sekitar di sekitar garis diagonal yang menyerupai distribusi normal, maka model regresi dapat dinyatakan memenuhi asumsi normalitas. Sebaliknya, apabila penyebaran data menjauhi garis diagonal dan tidak mengikuti polanya, atau histogram tidak membentuk pola distribusi normal, maka model regresi dianggap tidak memenuhi pola normalitas [1] .

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya pelanggaran terhadap asumsi klasik. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan menggunakan metode scatterplot dengan mengamati penyebaran titik pada grafik. Jika titik tersebut secara acak di sekitar 0 pada sumbu Y dan tidak membentuk pola tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas [14].

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas merupakan salah satu uji dalam regresi linier berganda untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang kuat antar variabel independen. Adanya korelasi tinggi antara variabel bebas dapat menyebabkan hasil estimasi regresi menjadi tidak akurat dan sulit untuk dipahami. Untuk menguji hal ini, biasanya digunakan indikator nilai VIF (harus < 10) dan Tolerance (harus > 0,10) untuk memastikan model regresi bebas dari masalah multikolinearitas [14].

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menemukan hubungan yang sistematik antara kesalahan estimasi di satu periode dan kesalahan pada periode sebelumnya dalam regresi linier [15]. Autokorelasi sering terjadi karena adanya hubungan waktu antar data yang diamati. Model regresi yang efektif seharusnya tidak memperhatikan pola hubungan tersebut. Dalam penelitian ini uji Durbin-Watson dipakai untuk memeriksa autokorelasi, yang bertujuan untuk mendeteksi hubungan antara kesalahan estimasi dalam data yang sedang dianalisis [15].

3. Uji Regresi Linier Berganda (Uji T)

Uji regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui pengaruh hubungan variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, variabel independennya adalah Green Accounting (X1)dan Kepemilikan Institusional (X2), sedangkan variabel dependennya adalah Profitabilitas (Y). Persamaan regresi linier berganda dirumuskan sebagai berikut :

Figure 3.

Keterangan :

Y = Profitabilitas (ROA)
X1 = Green Accounting
X2 = Kepemilikan Institusional
α = Konstanta
b1,b2 = Koefisien regresi
е = Error
Table 2.

Untuk mengetahui pengaruh signifikan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial, maka digunakan uji t. Uji ini bertujuan untuk menentukan apakah setiap variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen [14]. Dasar dalam melakukan uji t dapat didasarkan pada 2 acuan sebagai berikut : 1) Apabila nilai sig. < 0,05, maka variabel independen tersebut dianggap berpengaruh terhadap variabel dependen. 2) Apabila nilai sig. > 0,05, maka variabel independen tersebut dianggap tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

4. Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)

Uji koefisien determinasi (Uji R2) berfungsi untuk mengukur sejauh mana variabel independen mampu menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen [15]. Nilai R2 berada diantara kisaran 0 hingga 1. Jika nilai R2 semakin tinggi (mendekati 1), maka semakin besar pengaruh variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai R2 rendah (mendekati 0), maka hal ini menunjukkan bahwa variabel independen memiliki kemampuan yang terbatas dalam menjelaskan variabel dependen.

Hasil dan Pembahasan

HASIL

A. Uji Statistik Deskriptif

Tabel 3. Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Green Accounting 109 -,02 ,08 ,0088 ,01527
Kepemilikan Institusional 109 ,31 1,00 ,7860 ,18368
Profitabilitas 109 -13,59 27,07 7,4027 7,34976
Valid N (listwise) 109
Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti
Table 3.

Berdasarkan tabel diatas hasil uji analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap 109 data observasi, dapat diketahui bahwa penerapan Green Accounting dalam perusahaan masih tergolong rendah. Hal ini ditunjukkan oleh rata – rata nilai yang hanya mencapai sebesar 0,0088. Nilai terendah yang tercatat adalah -0,02 dan yang tertinggi hanya 0,08, menunjukkan bahwa banyak perusahaan belum memperhatikan biaya lingkungan dalam laporan laba bersih mereka. Dengan standar deviasi sebesar 0,01527, terlihat bahwa data menunjukkan variasi yang kecil. Ini berarti bahwa kegiatan Green Accounting pada perusahaan-perusahaan tersebut cenderung seragam, meskipun masih dibawah tingkat yang diharapkan. Disisi lain, variabel Kepemilikan Institusional menunjukkan hasil yang lebih positif. Rata-ratanya yang tercatat adalah 0,7860, dengan nilai terendah 0,31 dan tertinggi 1,00, yang menandakan bahwa sebagian besar perusahaan telah menerapkan prinsip-prinsip yang baik. Tingkat penyebaran data dengan standar deviasi sebesar 0,18368 berada dalam kategori sedang, yang menunjukkan variasi dalam penerapannya di berbagai perusahaan. Tetapi umumnya, tingkat penerapannya masih cukup tinggi.

Untuk variabel Profitabilitas, rata-rata yang diperoleh adalah 7,4027, yang menunjukkan bahwa perusahaan secara umum memiliki kinerja keuangan yang baik. Namun, nilai minimum yang tercatat sebesar -13,59 menunjukkan bahwa beberapa perusahaan mengalami kerugian yang signifikan. Sebaliknya, nilai maksimum mencapai 27,07, mencerminkan adanya perusahaan yang sangat menguntungkan. Dengan standar deviasi sebesar 7,34976, ini menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas bervariasi secara signifikan antar perusahaan. Secara keseluruhan, hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa meskipun penerapan Kepemilikan Institusional tergolong positif dan profitabilitas perusahaan yang cukup tinggi, praktik Green Accounting masih kurang mendapat perhatian utama dan perlu lebih didorong sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.

B. Uji Asumsi Klasik

1) Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 109
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 7,03260839
Most Extreme Differences Absolute ,051
Positive ,051
Negative -,046
Test Statistic ,051
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
Table 4. Tabel 4. Uji Normalitas

Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti

Berdasarkan tabel data diatas diketahui bahwa uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov terhadap residual model regresi menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200. Karena nilai tersebut melebihi batas signifikansi 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data residual dalam penelitian ini adalah normal. Dengan demikian, asumsi normalitas dalam model regresi ini telah terpenuhi.

2) Uji Heteroskedastisitas

Figure 4.

Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti

Pada gambar diatas menunjukkan scatterplot antara Regression Standardized Predicted Value dan Studentized Residual yang digunakan untuk menguji keberadaan heteroskedastisitas dalam model regresi. Diketahui penyebaran titik-titik residual yang secara acak dan tidak membentuk pola yang jelas, Ini menunjukkan bahwa tidak adanya indikasi heteroskedastisitas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi homoskedastisitas.

3) Uji Multikolinearitas

Coefficients a
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Green Accounting 1,000 1,000
Kepemilikan Institusional 1,000 1,000
Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti
Table 5. Tabel 5. Uji Multikolinearitas

Berdasarkan tabel diatas diketahui hasil uji multikolinearitas berdasarkan nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) untuk variabel independen Green Accounting dan Kepemilikan Institusional. Masing-masing variabel memiliki nilai Tolerance dan VIF sebesar 1,000. Nilai tersebut berada dalam batas normal (Tolerance > 0,10 dan VIF < 10). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengindikasikan adanya masalah multikolinearitas, sehingga tidak terdapat hubungan linear yang tinggi antar variabel independen dalam model.

4. Uji Autokorelasi

Model Summary b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 ,291a ,084 ,067 7,09864 1,131
Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti
Table 6. Tabel 6. Uji Autokorelasi

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1,131. Karena nilainya berada dibawah 1,5, hal ini mengindikasikan adanya autokorelasi positif dalam model regresi. Dengan kata lain, residual pada model ini belum sepenuhnya independen dan masih menunjukkan keterkaitan antar error dari satu observasi ke observasi lainnya.

C. Uji Regresi Linear Berganda (Uji T)

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 15,743 3,024 5,206 ,000
Green Accounting 42,912 44,724 ,089 ,959 ,339
Kepemilikan Institusional -11,091 3,719 -,277 -2,982 ,004
Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti
Table 7. Tabel 7. Uji Regresi Linear Berganda (Uji T)

Berdasarkan tabel diatas, diketahui hasil pengujian regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel Green Accounting tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai sig. yang mencapai sebesar 0,339 (> 0,05) dan nilai t yang dihitung adalah 0,959. Disisi lain, variabel Kepemilikan Institusional menunjukkan hasil berpengaruh secara negatif terhadap profitabilitas, hal ini ditunjukkan oleh nilai sig. yang sebesar 0,004 (< 0,05), nilai t yang dihitung sebesar -2,982, dan koefisien regresi yang bernilai -11,091. Ini menjelaskan bahwa penerapan Kepemilikan Institusional meningkat, profitabilitas akan menurun.

D. Uji Koefisien Determinasi (Uji R 2 )

Model Summary b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,291a ,084 ,067 7,09864
Sumber : Output SPSS 23 oleh Peneliti
Table 8. Tabel 8. Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)

Berdasarkan tabel diatas, koefisien determinasi (Uji R2) menunjukkan bahwa nilai R Square adalah 0,084 yang menunjukkan bahwa variabel Green Accounting dan Kepemilikan Institusional hanya mampu menjelaskan 8,4% variasi profitabilitas, sedangkan 91,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,067 mengonfirmasi bahwa setelah penyesuaian kemampuan model tetap rendah. Sementara itu, Standard Error of the Estimate sebesar 7,09864 menunjukkan tingkat kesalahan pada estimasi model regresi.

PEMBAHASAN

Pengaruh Green Accounting terhadap Profitabilitas

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Green Accounting tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan di sektor kesehatan, hal ini ditunjukkan oleh nilai sig. sebesar 0,339. Rata-rata penerapan biaya lingkungan yang tercatat rendah, yaitu 0,0088, menunjukkan bahwa perusahaan belum sepenuhnya mengimplementasikan Green Accounting. Sebagian besar perusahaan masih menekankan pada laporan keuangan konvensional dan tidak mencakup aspek lingkungan secara jelas. Hasil ini sejalan dengan pendapat [1] dan [2] yang berpendapat bahwa pengaruh Green Accounting baru dapat dirasakan jika diterapkan secara komprehensif dan didukung oleh manajemen. Selain itu, penelitian oleh [16] mengenai perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI juga menemukan bahwa Green Accounting tidak berpengaruh terhadap profitabilitas ketika diukur dengan ROA, meskipun terkadang menunjukkan efek negatif jika dinilai melalui Tobin’s Q. Hal ini memperkuat indikasi bahwa pengaruh Green Accounting terhadap profitabilitas belum optimal, terutama karena biaya implementasinya dipandang tinggi sementara hasil jangka pendek belum terlihat jelas. Berdasarkan teori legitimasi, banyak perusahaan yang belum sepenuhnya memanfaatkan Green Accounting untuk meningkatkan citra dan kepercayaan dari publik. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen yang lebih kuat untuk mengintegrasikan aspek lingkungan dalam laporan keuangan.

Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Profitabilitas

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap profitabilitas, namun dengan arah negatif (sig. 0,004; koefisien regresi -11,091; t = -2,982). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persentase kepemilikan institusional, justru diikuti oleh penurunan profitabilitas. Penurunan ini dapat dijelaskan oleh adanya peningkatan biaya operasional jangka pendek yang timbul dari penerapan prinsip-prinsip penguatan kepemilikan institusional, seperti pembentukan komite pengawasan internal, serta pengungkapan laporan yang transparan dan akuntabel. Pada tahap awal, kepemilikan institusional yang kuat seringkali disertai dengan peningkatan tuntutan terhadap transparansi, pengendalian internal, dan memberikan standar tata kelola yang ketat [17]. Hal ini bisa mengurangi ketidaknyamanan manajerial dan meningkatkan beban administratif serta biaya untuk memenuhi standar. Menurut penelitian lain, pada tahap awal penerapan prinsip Kepemilikan institusional dapat menghambat pengambilan keputusan strategis jangka pendek karena adanya kontrol yang sangat ketat dari pemilik saham institusi [18]. Meskipun demikian, kepemilikan institusional tetap penting dalam jangka panjang untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, serta legitimasi perusahaan di depan publik dan para investor.

Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Green Accounting dan Kepemilikan Institusional terhadap profitabilitas perusahaan kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020 – 2024. Berdasarkan hasil analisis data yang menggunakan SPSS dengan menerapkan teknik analisis regresi linier berganda, penelitian ini membuktikan bahwa Green Accounting tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, yang disebabkan oleh rendahnya rata-rata alokasi biaya lingkungan serta belum optimalnya penerapan prinsip Green Accounting dalam laporan keuangan perusahaan. Sementara itu, Kepemilikan Institusionalterbukti berpengaruh negatif terhadap profitabilitas, yang kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya beban operasional jangka pendek sebagai konsekuensi dari adanya pengawasan ketat dan tuntutan transparansi dari para investor institusi. Secara keseluruhan, kedua variabel ini hanya dapat menjelaskan 8,4% variasi dalam profitabilitas, yang menunjukkan adanya faktor lain di luar model penelitian yang lebih berpengaruh pada profitabilitas perusahaan di sektor kesehatan. Temuan ini memperlihatkan bahwa penerapan Green Accounting dan Kepemilikan Institusionaldi sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum mampu memberikan pengaruh langsung terhadap profitabilitas perusahaan.

Dalam era modernisasi dan globalisasi, perusahaan seharusnya menjadikan praktik keberlanjutan seperti Green Accounting dan Kepemilikan Institusionalsebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing serta legitimasi di hadapan publik dan investor. Meskipun hasil penelitian ini belum menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap profitabilitas, namun dalam jangka panjang, upaya ini memiliki potensi untuk memperkuat reputasi perusahaan, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta mendukung keberlangsungan operasional di pasar yang semakin peduli terhadap isu lingkungan serta transparansi.

Namun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Di antaranya adalah keterbatasan dalam ketersediaan dan kelengkapan data yang diperlukan, terutama terkait dengan pengungkapan biaya lingkungan serta informasi mengenai kepemilikan institusional yang tidak sepenuhnya tersedia dalam laporan tahunan. Beberapa informasi penting hanya ditemukan dalam laporan keberlanjutan atau tidak disajikan dalam bentuk kuantitatif, yang membuat proses standarisasi dan analisis menjadi sulit. Selain itu, jumlah observasi berkurang karena pemilihan data dan penghapusan data outlier, yang dapat mempengaruhi kekuatan generalisasi hasil penelitian.

Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas ruang lingkup variabel, sektor, dan periode analisis. Peneliti juga disarankan mempertimbangkan penggunaan metode kuantitatif atau pendekatan triangulasi data untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif, serta mampu menangkap hubungan antara praktik keberlanjutan dan profitabilitas secara lebih mendalam dalam konteks dinamika ekonomi global saat ini.

Ucapan Terimakasih

Puji syukur penulis panjatkan kepada allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan artikel jurnal ini dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi selama proses penyusunan artikel skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh dosen dan staf Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas ilmu dan dukungan yang telah diberikan selama masa studi. Penulis juga berterima kasih kepada keluarga tercinta atas doa, semangat dan dukungan moral maupun material yang tidak pernah berhenti mengalir, serta kepada teman-teman seperjuangan yang telah memberikan kebersamaan, kerja sama, dan semangat sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. Semoga artikel skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menjadi kontribusi positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang akuntansi.

References

[1] Y. Audina and U. P. Lestari, “Penerapan Activity Based Costing Untuk Meningkatkan Profitabilitas Perusahaan,” Jurnal Riset dan Aplikasi Akuntansi dan Manajemen, vol. 5, no. 1, pp. 67–82, 2021, doi: 10.33795/jraam.v5i1.007.

[2] E. R. Wirawan and A. Angela, “Pengaruh Green Accounting, Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Kesehatan di Indonesia,” Jurnal Eksplorasi Akuntansi, vol. 6, no. 3, pp. 1050–1065, 2024.

[3] E. S. Nurulhuda and S. Novianti, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas,” Kinerja, vol. 5, no. 1, pp. 189–201, 2023, doi: 10.34005/kinerja.v5i01.2436.

[4] H. Titania and S. Taqwa, “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan,” Jurnal Eksplorasi Akuntansi, vol. 5, no. 3, pp. 1224–1238, 2023, doi: 10.24036/jea.v5i3.795.

[5] W. D. Astuti, L. J. Jaya, and R. Wasir, “Strategi dan Tantangan SDM Kesehatan di Masa Depan Menghadapi Perubahan Global dan Lokal,” Indonesian Journal of Health Sciences, vol. 4, no. 6, pp. 822–830, 2024.

[6] L. Yuliyanti, “Pengaruh Good Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan,” Jurnal Dinamika Akuntansi, vol. 6, no. 2, 2020.

[7] M. Y. R. Pandin, R. A. Trihastuti, C. B. Ramadhan, and N. Rahmawati, “Penerapan Green Accounting dalam Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan Limbah Produksi Krupuk Pati,” Al Kharaj Journal of Ekonomi Keuangan Bisnis Syariah, vol. 6, no. 4, pp. 4919–4929, 2024, doi: 10.47467/alkharaj.v6i4.1067.

[8] Y. N. R. Kana, Ekonomi Kesehatan. Carenang: PT Sada Kurnia Pustaka, 2024.

[9] I. F. Purwaningrum and T. Haryati, “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan,” Al Kharaj Journal of Ekonomi Keuangan Bisnis Syariah, vol. 4, no. 6, pp. 1914–1925, 2022, doi: 10.47467/alkharaj.v4i6.1451.

[10] A. Lako, Akuntansi Hijau: Isu Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Empat, 2018.

[11] S. R. Dewi, “Pemahaman dan Kepedulian Penerapan Green Accounting Studi Kasus UKM Tahu di Sidoarjo,” Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis, pp. 497–511, 2021.

[12] H. Zulhaimi, “Pengaruh Penerapan Green Accounting Terhadap Kinerja Perusahaan,” Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, vol. 3, no. 1, pp. 603–616, 2019.

[13] B. Setyawan, “Pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Profitabilitas Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan,” Jurnal Mitra Manajemen, vol. 3, no. 12, pp. 1195–1212, 2019, doi: 10.52160/ejmm.v3i12.313.

[14] C. V. Situmorang and A. Simanjuntak, “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan,” Jurnal Akuntansi dan Bisnis, vol. 5, no. 2, p. 160, 2019, doi: 10.31289/jab.v5i2.2694.

[15] E. Nurmutia, “Sektor Saham Kesehatan Terus Bertumbuh,” Liputan 6, 2022.

[16] M. F. M. Saputra, “Pengaruh Kinerja Lingkungan dan Biaya Lingkungan Terhadap Kinerja Keuangan Dengan Pengungkapan Lingkungan Sebagai Variabel Intervening,” Jurnal Riset Akuntansi Tirtayasa, vol. 5, no. 2, pp. 123–138, 2020, doi: 10.48181/jratirtayasa.v5i2.8956.

[17] N. W. C. Harianja and S. Riyadi, “Pengaruh Green Accounting dan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sub Sektor Industri Kimia,” Jurnal Ekonomi Bisnis Manajemen dan Akuntansi, vol. 2, no. 1, pp. 1–18, 2023.

[18] E. Pasaribu, “Pengaruh Penerapan Green Accounting Terhadap Profitabilitas Perusahaan Makanan Minuman,” Skripsi, Universitas Medan Area, 2022.

[19] B. A. Ramdhani and B. Prijanto, “Green Accounting dan Nilai Perusahaan Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Moderating,” Sanskara Akuntansi dan Keuangan, vol. 3, no. 1, pp. 33–43, 2024, doi: 10.58812/sak.v3i01.262.

[20] C. B. Ramadhan, K. S. Rachmadanti, R. A. Larasati, and M. Y. Pandin, “Green Accounting dan Profitabilitas Perusahaan Indofood,” Jurnal Penelitian Ekonomi Manajemen dan Bisnis, vol. 2, no. 3, pp. 229–246, 2023.

[21] T. Chasbiandani, N. Rizal, and I. I. Satria, “Penerapan Green Accounting Terhadap Profitabilitas Perusahaan di Indonesia,” Accounting and Financial Review, vol. 2, no. 2, pp. 126–132, 2019, doi: 10.26905/afr.v2i2.3722.

[22] H. Rimardhani, R. R. Hidayat, and Dwiatmanto, “Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Profitabilitas Perusahaan BUMN,” Jurnal Administrasi Bisnis, vol. 31, no. 1, pp. 167–175, 2019.

[23] S. Nuridah, Merliyana, E. Sagitarius, and S. N. Surachman, “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Profitabilitas,” Jurnal Ekonomi Bisnis dan Manajemen, vol. 2, no. 2, pp. 1–10, 2023, doi: 10.58192/ebismen.v2i2.773.

[24] V. S. E. Janros and J. Lim, “Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba Pada Perbankan,” Owner Riset dan Jurnal Akuntansi, vol. 3, no. 2, pp. 226–238, 2019, doi: 10.33395/owner.v3i2.144.

[25] Hamidi, “Analisis Penerapan Green Accounting Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan,” Equilibria Jurnal Fakultas Ekonomi, vol. 6, no. 2, pp. 23–36, 2019.

[26] H. Hasanah and A. Rudyanto, “Determinan Pengungkapan Corporate Social Responsibility Perusahaan di Bursa Efek Indonesia,” Equity, vol. 22, no. 2, pp. 215–238, 2020, doi: 10.34209/equ.v22i2.932.

[27] T. W. J. Rospani and L. Handajani, “Analisis Penerapan Green Accounting Pada RSUD Kota Mataram,” Jurnal Penelitian Teori dan Terapan Akuntansi, vol. 9, no. 2, pp. 131–146, 2024, doi: 10.47467/peta.v9i2.829.

[28] P. M. Abdullah, Metodologi Penelitian Kuantitatif. Sleman: Aswaja Pressindo, 2020.

[29] A. Rachman and H. Purnomo, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Yogyakarta: Deepublish, 2024.

[30] M. Wahyuni, Statistik Deskriptif Untuk Penelitian Manual dan SPSS. Jakarta: Andi, 2020.

[31] I. Susanti and F. Saumi, “Analisis Regresi Linear Berganda Untuk Mengatasi Multikolinearitas,” Gamma Pi Jurnal Matematika Terapan, vol. 4, no. 2, pp. 10–17, 2022.

[32] R. S. Anggriani and D. Widyawati, “Pengaruh Ukuran Perusahaan dan Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan,” Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, vol. 13, no. 4, pp. 1–22, 2024, doi: 10.32493/inovasi.v10i2.36304.

[33] A. F. Ramdani, A. D. Buchdadi, and T. F. Mahfirah, “Corporate Governance, Green Accounting, dan Environmental Management System Terhadap Profitabilitas Perusahaan Pertambangan,” Jurnal Masharif Al Syariah, vol. 9, no. 3, pp. 1863–1874, 2024, doi: 10.30651/jms.v9i3.23129.

[34] Y. K. Lukna, E. N. Septika, C. A. Parsi, and R. Maisyarah, “Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Sektor Industrial,” Jurnal Riset Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan, vol. 3, no. 2, pp. 77–89, 2025, doi: 10.59581/jap-widyakarya.v1i4.1930.