Nadiyatus Setia Ningrum (1), Heri Widodo (2)
General Background Stock prices are widely used as indicators of firm value in capital markets and reflect investor assessments of corporate financial performance. Specific Background In Indonesia, food and beverage companies represent a growing manufacturing sector that attracts investors due to stable demand and continuous expansion. Knowledge Gap Previous studies report inconsistent findings regarding the role of earnings per share, debt structure, and equity returns in explaining stock price movements, particularly across different periods and sectors. Aims This study aims to examine the relationship between Earning Per Share, Debt to Equity Ratio, and Return on Equity on stock prices of food and beverage companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2019–2023. Results Using multiple linear regression on secondary data from selected firms, the findings indicate that Earning Per Share shows a significant positive relationship with stock prices, while Debt to Equity Ratio also demonstrates a significant association. Return on Equity displays a positive but not consistently significant relationship. Novelty The study provides updated empirical evidence by focusing on a specific industrial sector and a recent observation period. Implications The results highlight the importance of profitability and capital structure indicators as key considerations for investors and corporate management in evaluating stock price dynamics.
Keywords: Earning Per Share,Debt to Equity Ratio,Return on Equity,Stock Price,Indonesia Stock Exchange
Key Findings Highlights:
Profit per share demonstrates a strong statistical relationship with market valuation.
Leverage structure is closely associated with investor assessment in the observed sector.
Equity return shows varying relevance across firms and periods.
Perkembangan industri mengalami persaingan yang semakin ketat di era globalisasi. Setiap bisnis menghadapi tantangan untuk bersaing di pasar di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompetitif. Salah satu cara mudah untuk meningkatkan nilai perusahaan adalah dengan meningkatkan kemampuan sumber daya dan menerapkan perbaikan yang berkelanjutan di setiap bagian perusahaan. Pengembangan pasar modal merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia saat ini. Pihak yang membutuhkan biaya dan pihak yang memiliki uang cadangan dapat berinvestasi di pasar modal. Saat berinvestasi di pasar modal, mereka harus memiliki banyak informasi tentang pergerakan harga saham sehingga lebih mudah untuk memilih saham mana yang akan mereka investasikan.
Di pasar modal, investor dapat membeli dan menjual saham dan sekuritas lainnya. Harga sekuritas, seperti saham, dapat meningkat atau menurun sesuai dengan penawaran dan permintaan. Semua modal pasar berharap dapat memberikan informasi yang lengkap dan akurat kepada calon emiten yang ingin melihat kinerja dan nilai perusahaan secara menyeluruh. Salah satu contohnya adalah harga saham atau sekuritas lainnya, yang memberi gambaran calon investor tentang masa depan perusahaan. Melakukan penilaian saham dengan tepat dapat memperkecil risiko yang timbul dari investasi serta membantu memperoleh keuntungan yang sesuai.
Peningkatan harga saham menjadi salah satu kriteria dalam menaikkan nilai perusahaan.Namun, hal ini tidak mudah dicapai karena harga saham mengalami kenaikan atau penurunan hampir setiap waktu. Permasalahannya ialah seberapa jauh perusahaan berpengaruh terhadap harga sahamnya di pasar modal dan beberapa variabel yang bisa menjadi indikator yang dikendalikan oleh perusahaan serta tercapainya tujuan dalam peningkatan nilai dari perusahaan. Pasar modal di Indonesia telah mengalami 1 perkembangan yang menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor. Salah satu komoditas yang banyak diperdagangkan dalam pasar modal ialah saham.
Saham perusahaan manufaktur di pasar modal menjadi salah satu saham yang diincar oleh investor. Alasannya ialah perusahaan manufaktur mengalami perkembangan terus menerus di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan jumlah perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun yang terdaftar di BEI. Seperti pada tahun 2017, total perusahaan manufaktur ialah 158 perusahaan dan akhir tahun 2020 telah menjadi 193 perusahaan. Selain itu, perusahaan manufaktur memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi walaupun di tengah pandemi tahun 2020. Terutama perusahaan bidang sektor makanan dan minuman di Indonesia jumlahnya cukup banyak dan memiliki potensi terus berkembang karena, makanan dan minuman menjadi kebutuhan penting bagi setiap orang.
Perubahan harga saham salah satu contoh risiko yang dihadapi saat berinvestasi di pasar modal. Dikarenakan investasi dalam bentuk saham memberikan suatu keuntungan yang sangat menjanjikan tapi menyediakan berbagai risiko yang akan dihadapi. Ada metode yang digunakan untuk analisis saham yakni metode dasar dan praktis. Metode dasar ialah melakukan pengamatan terlebih dahulu terkait keadaan makro ekonomi dan keadaan perusahaan hingga keuangan serta manajemen.Dan metode praktis merupakan salah satu metode menilai saham dengan mengevaluasi saham berdasarkan data statistik seperti harga saham dan volume perdagangan.
Harga saham merupakan harga satu saham yang dapat dijual oleh perusahaan. Salah satu alasan memilih industri makanan dan minuman adalah karena sahamnya paling tahan terhadap krisis ekonomi dan moneter [1]. Ini berbeda dengan industri lain karena beberapa produk tetap dibutuhkan meskipun ada krisis. Harga saham akan mencerminkan sebuah kekayaan dan kekuatan perusahaan yang berlangsung di galeri bursa efek. Harga saham menunjukkan kekayaan perusahaan yang mengeluarkannya, dan perubahannya dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan di pasar Bursa Efek Indonesia. Menurut [2], jika banyak investor tertarik untuk membeli saham, harga saham cenderung meningkat,tetapi semakin banyak investor yang melepas atau menjual kepemilikan sahamnya.
Hampir semua investasi memiliki beberapa tingkat risiko atau ketidakpastian .atau ketidakpastian Dalam keadaan itu, investor menghadapi melakukan sesuatu dari 3 risiko. Diperkirakan investor bisa mengharapkan lakukan. keuntungan dari apa yang dik. Investor perlu melakukan berbagai analisis untuk bahan pertimbangan menentukan perusahaan yang akan ia pilih dengan salah satunya menganalisis laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan memuat berbagai informasi terkait kekayaan, nilai dan kinerja dari perusahaan yang bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan investor. Informasi yang ada di laporan keuangan sebagai dasar dalam melakukan perkiraan harga 2 suatu saham dapat diketahui dengan melakukan analisis rasio keuangan. Rasio-rasio di laporan keuangan menggambarkan kinerja perusahaan dan hal tersebut dapat berdampak terhadap harga saham perusahaan. Bisnis yang telah sudah dibuatmenghasilkan laba di pasar modal dapat disebut sebagai bisnis .keuntungandi pasar modal dapat disebut sebagai bisnis . Beberapa faktor yang memengaruhi harga saham adalah laba atas ekuitas, rasio utang terhadap ekuitas , dan laba per saham (EPS) merupakan faktor pertama yang mempengruhi Harga Saham.
Earning per share (EPS) merupakan suatu indikator penting yang menerangkan presentase dari laba saham. EPS yang berubah setiap tahunnya merupakan salah satu paramater penting untuk mengetahui pekerjaan dari pemegang saham perusahaan. EPS yang tinggi berarti perusahaan dapat memperoleh keuntungan bagi pemegang sahamnya tapi apabila EPS rendah berarti pemegang sahamnya mempunyai laba yang rendah. EPS menunjukkan bahwa jumlah rupiah yang didapatkan dari per saham biasa dan prospek keuntungan perusahaan di masa depan. Peningkatan EPS memicu investor guna memperbanyak jumlah modal yang ditanam di dalam perusahaan. Maka akan mengakibatkan naiknya harga saham akibat meningginya permintaan terhadap saham. Penelitian terkait EPS atau dikenal dengan Earning Per Share telah dilakukan peneliti beberapa tahun sebelumnya. Penelitian oleh Watung dan [3] memperoleh hasil EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil sama juga diungkapkan [4] dan penelitian oleh [5]. Namun, hasil ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh [6] yang menunjukkan earning per share (EPS) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Faktor kedua yang dipengaruhi harga saham ialah debt to equity ratio DER ialah suatu rasio keuangan yang menunjukkan perusahaan dalam menggunakan pinjamannya.Pengertian dari DER ialah ratio yang membandingkan utang jamgka panjang dengan ekuitas pemegang saham perusahaan.Ratio ini menjelaskan jumlah hutang atau kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan. Sehingga, DER menjadi salah satu pertimbangan bagi investor menentukan perusahaan yang akan diinvestasikan. Penelitian terkait debt to equity ratio (DER) juga telah dilakukan oleh peneliti beberapa tahun sebelumnya.Penelitian yang dilakukan [7] menunjukkan bahwa DER memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham.Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Fitrianingsih dan [8].Namun, hasil ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh [9] menunjukkan debt to equity ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Faktor ketiga yang diuji di harga saham adalah (ROE). ROE merupakan ukuran rasio laba bersih terhadap ekuitas pemegang saham. ROE mencerminkan apakah suatu perusahaan mampu menghasilkan laba bagi pemegang saham [10]. Semakin tinggi nilai ROE, maka semakin menguntungkan perusahaan tersebut; semakin rendah nilai ROE, maka semakin rendah laba yang diterima pemegang saham. Adanya perbedaan hasil penelitian terdahulu membuat peneliti tertarik untuk meneliti kembali faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.Alasan peneliti menggunakan perusahaan sektor makanan dan minuman yakni perusahaan di sektor tersebut di Indonesia terus mengalami perkembangan di setiap tahunnya. Dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada indikator Earning Per Share (EPS).
Peneliti memakai pentunjuk penelitian Harga Saham tidak hanya penekanan dalam mengungkapan kewajiban masyarakat namun pula dalam mengungkapan hal kaitannya dengan perdagangan, kemasyarakatan, dan lingkungan.Perusahaan manufaktur mamin yang tercatat di (BEI) pada tahun 2017-2022 digunakan dalam objek penelitian ini.Pengunaan jumlah sampel relatif diperlukan guna memahami hubungan setiap faktor dan menciptakan susuna penyamarataan pada penelitian terdahulu. Menggunakan perusahaan manufaktur Food And Beverage karena perusahaan Food And Beverage merupakan satu perusahaan yang stabil melalui keadaan perekonomian [11].
Berdasarkan riwayat penelitian terdahulu, hingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian, maka kumpulan artikel ini difokuskan pada analisis tiga variabel independen yang mempengaruhi pengungkapan harga saham dengan judul “Dampak Earnings Per Share, Debt-Equity Ratio, dan Return on Equity terhadap Harga Saham (Studi pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2019-2023)”. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak earnings per share terhadap harga saham, dampak debt-equity ratio terhadap harga saham, dan dampak return on equity terhadap harga saham. Alasan peneliti memilih perusahaan makanan dan minuman adalah karena meskipun terjadi krisis ekonomi, konsumsi makanan dan minuman tetap menjadi kebutuhan dasar manusia. Karena adanya fenomena yang terjadi pada perusahaan makanan dan minuman serta adanya fenomena tersebut maka peneliti akan memilih perusahaan mamin yang terdaftar di B.E.I.
Teori sinyal atau Signaling Theory menjelaskan terkait pihak eksekutif perusahaan yang mempunyai informasi perusahaan lebih baik berupa kinerja dan kondisi keuangan serta prospek perusahaan di masa mendatang sehingga, seharusnya dapat menyampaikan signal tersebut (informasi) kepada calon investor.Hal ini dapat mencegah terjadinya asimetri informasi antara pihak perusahaan dengan penggguna laporan keuangan yakni pihak eksternal.Informasi terkait dengan laporan keuangan, kebijakan perusahaan dan berbagai informasi perusahaan lainnya yang dibutuhkan oleh pihak-pihak tertentu seperti investor [12]. Informasi-informasi inilah yang mampu mempengaruhi keputusan seorang investor.
Pengaruh EPS terhadap Harga Saham
Laba per saham (EPS) adalah laba bersih setelah pajak dibagi dengan jumlah saham yang beredar dalam satu tahun fiskal. Laba per saham (EPS) merupakan laba per saham yang dibayarkan kepada pemegang saham. Secara empiris, pengaruh EPS juga didukung oleh penelitian [13] yang menunjukkan bagaimana variabel EPS mempengaruhi return saham.
H1 : (EPS) berpengaruh terhadap Harga Saham
Pengaruh DER terhadap Harga Saham
(DER) merupakan rasio yang memperkirakan kemampuan instanssi untuk melunasi utang jangka pendek maupun jangka panjang. Semakin tinggi rasio tersebut, maka semakin besar pula risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang dapat mempengaruhi harga saham karena laba yang diperoleh akan digunakan untuk membayar utang sehingga mengakibatkan laba yang diperoleh berkurang..
H2 : (DER) berpengaruh terhadap Harga Saham
Pengaruh ROE terhadap Harga Saham
(ROE) merupakan cara menghitunf laba bersih setelah pajak (termasuk modal ). Rasio ini mencerminkan efisiensi penggunaan ekuitas pemegang saham. Semakin tinggi rasionya, semakin tinggi pula status pemilik perusahaan [14]. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian [15] yang menunjukkan bahwa return on equity (ROE) mempengaruhi harga saham.
H2 : (ROE) berpengaruh terhadap Harga Saham
Kerangka Konseptual
Figure 1.
Gambar 1.
Kerangka Konsep Penelitian
Jenis Penelitian dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Data kuantitatif dihitung dan disajikan dalam bentuk angka atau grafik. Data yang dipakai adalah data sekunder, yang diperoleh dari lk perusahaan di industri mamin. Data tersebut berasal dari laporan tahunan yang dipublikasikan di situs (B.E.I).
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan sumber dokumenter untuk mengumpulkan data. Peneliti mencari sumber dan objek penelitian dari dokumen dan catatan kejadian masa lalu, yang dapat berupa tulisan pribadi, gambar, atau karya kenangan [16]. Penelitian ini mengumpulkan laporan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan manufaktur industri mamin terdaftar di B.E.I dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2023.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur mamin terdaftar di BEI periode 2019-2023 yang berjumlah 47 perusahaan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah::
Figure 2. Tabel 1. Kreteria dan Jumlah Sampel Penelitian
Figure 3. Tabel 2. Nama Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan Dan Minuman Yang
Figure 4. Tabel 3. Definisi Variabel, Identifikasi Variabel Dan Indicator Variabel
Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, dan metode analisis regresi berganda MRA. Akibatnya, program statistik SPSS versi 26 digunakan. Peneliti melihat bagaimana variabel independen seperti EPS, DER, dan ROE memengaruhi harga saham. Variabel penelitian ini dijelaskan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Uji hipotesis klasik digunakan untuk mengetahui apakah sebaran data yang diterapkan normal dan apakah model tidak menunjukkan tanda-tanda heteroskedastisitas, multikolinearitas, atau autokorelasi. Goodness of fit diukur dengan koefisien determinasi dan uji F. Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen diukur dengan uji t (parsial).
Uji Statistik Deskriptif
Hasil uji statistik deskriptif untuk meringkas dan menggambarkan data yang dipakai dalam penelitian ini angka minimum, maksimum, mean dan standar deviasi. Pada tabel 3 sebagai berikut:
Figure 5. Tabel 3 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Hasil output SPSS ada 95 variabel. Berikut penjelasan tiap beberapa variabel :
Rata-rata Earning Per Share (EPS) perusahaan dalam sampel ini adalah 2.72 dengan deviasi standar sebesar 1.24, dengan nilai tertinggi pada 4.99 dan terendah pada 0.51. Debt to Equity Ratio (DER) memiliki rata-rata 1.53 dan deviasi standar 0.92, menunjukkan variasi yang cukup besar antar perusahaan, dengan nilai tertinggi 2.98 dan terendah 0.10. Return on Equity (ROE) memiliki rata-rata 17.58 dan deviasi standar 7.21, yang menunjukkan variasi kinerja profitabilitas antar perusahaan, dengan ROE tertinggi 29.78 dan terendah 5.01. Sementara itu, harga saham perusahaan dalam sampel ini memiliki rata-rata 167.42 dan deviasi standar 73.12, dengan harga tertinggi tercatat pada 365.12 dan terendah pada 31.45.
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Figure 6. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas One-Sampel Kolmogorov-Smirnov Test
Berdasarkan Tabel 4. Berdasarkan hasil uji normalitas dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan bahwa hasil Asymp. Sig. (2-tailed) diatas 0,05 X1 0,470 , X2 0,315 , X3 0,141 dan Y 0,466 hal tersebut menunjukkan bahwa data tersebut lolos uji normalitas.
Uji Multikolinieritas
Figure 7. Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas
Berdasarkan hasil analisis uji multikolinearitas, dapat dilihat bahwa beberapa variabel independen memiliki nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dalam model regresi. Nilai Tolerance untuk variabel Earnings Per Share (EPS) adalah 0,234 dengan nilai VIF sebesar 4,278, sedangkan untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER), nilai Tolerance adalah 0,897 dengan VIF sebesar 1,115. Sementara itu, variabel Return on Equity (ROE) memiliki nilai Tolerance sebesar 0,232 dengan VIF sebesar 4,311.
Nilai Tolerance yang > 0,10 dan nilai VIF yang < 10 menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas yang serius di antara variabel independen dalam model. Namun, variabel Earnings Per Share (EPS) dan Return on Equity (ROE) memiliki nilai VIF yang mendekati 5, yang mengindikasikan adanya hubungan yang cukup tinggi antara keduanya. Meski demikian, nilai tersebut masih berada dalam batas toleransi dan tidak mempengaruhi model secara signifikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengalami masalah multikolinearitas, sehingga variabel- variabel independen dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.
Uji Heteroskedastisitas
Figure 8. Tabel 6. Hasil Uji Heteroskedastisitas Scatterplot
Pada uji heterosikedatisitas titik titik menyebar kearah grafik ada yang dibawahnya nol ada yang diatasnya nol sehingga hasil uji tersebut menyatakan bahwa lolos uji heterosikedatisitas.
Uji Autokorelasi
Figure 9. Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb
Berdasarkan hasil analisis uji autokorelasi menggunakan Durbin-Watson, diperoleh nilai sebesar 0,434. Nilai ini jauh di bawah angka 2, yang menunjukkan adanya autokorelasi positif dalam residual model regresi. Dengan demikian, asumsi independensi residual dalam regresi linear tidak terpenuhi. Autokorelasi positif menunjukkan bahwa kesalahan pada satu pengamatan memiliki hubungan positif dengan kesalahan pada pengamatan lainnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan, seperti transformasi data, penggunaan model regresi lain yang lebih sesuai, atau menambahkan variabel yang relevan untuk meningkatkan akurasi model.
Uji R2
Figure 10.
Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien determinasi (R²) yang diperoleh adalah 0,837, yang menunjukkan bahwa 83,7% variasi dalam harga saham perusahaan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen dalam model, yaitu Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan Earnings Per Share (EPS). Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi yang dibangun memiliki kekuatan penjelasan yang sangat baik terhadap perubahan harga saham. Sementara itu, nilai Adjusted R² sebesar 0,833 menunjukkan bahwa setelah disesuaikan dengan jumlah variabel independen, model tetap dapat menjelaskan sekitar 83,3% variasi harga saham, yang mengindikasikan kualitas model yang stabil meskipun ada penyesuaian terhadap jumlah variabel.
Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa model regresi yang menggunakan ROE, DER, dan EPS sebagai prediktor dapat menjelaskan sebagian besar variabilitas harga saham perusahaan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini cukup baik dalam menjelaskan hubungan antara variabel independen dan harga saham. Hanya sekitar 16,3% variasi harga saham yang tidak dapat dijelaskan oleh model ini, yang mungkin disebabkan oleh faktor lain di luar variabel yang telah diteliti.
Uji Analisis Rehresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda dapat dilakukan setelah melalui proses uji asumsi klasik yang telah diselesaikan
Figure 11. Tabel 9. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi Linier Berganda
Return on Equity (ROE) tidak berdampak signifikan pada harga saham perusahaan. Sebaliknya, variabel Earnings Per Share (EPS) dan Debt to Equity Ratio (DER) berdampak signifikan pada harga saham perusahaan, menurut hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji t).
Earnings Per Share (EPS) memiliki nilai t sebesar 3,449 dengan p-value sebesar 0,001, yang < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan.
Debt to Equity Ratio (DER) memiliki nilai t sebesar 11,010 dengan p-value sebesar 0,001, yang juga < 0,05, mengindikasikan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan.
Return on Equity (ROE) memiliki nilai t sebesar -0,858 dengan p-value sebesar 0,392, yang > 0,05. Ini menunjukkan bahwa ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan pada tingkat signifikansi 5%.
Dengan demikian, berdasarkan hasil uji t, dapat disimpulkan bahwa EPS dan DER memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan, sementara ROE tidak menunjukkan pengaruh signifikan.
Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham
Hasil uji T menunjukkan (EPS) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan-perusahaan di sektor FNB yang terdaftar di BEI. Koefisien regresi yang diperoleh sebesar 28,935 dengan nilai t-statistik sebesar 12,576 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 unit pada EPS akan meningkatkan harga saham perusahaan sebesar 28,935 poin, dengan variabel lainnya tetap konstan. Hal ini mengindikasikan bahwa investor memperhatikan EPS sebagai indikator kinerja keuangan yang penting. EPS yang lebih tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang lebih besar, yang sering kali dianggap sebagai tanda kesehatan finansial perusahaan dan potensi keuntungan jangka panjang [17]. Hal ini sejalan dengan teory sinyal yang diberikan oleh perusahaan yang mempunyai informasi perusahaan lebih baik berupa kinerja dan kondisi keuangan serta prospek perusahaan di masa mendatang, seharusnya dapat menyampaikan signal tersebut (informasi) kepada calon investor. Oleh karena itu, perusahaan dengan EPS yang tinggi akan lebih menarik bagi investor, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan harga saham [18].
Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham
Hasil uji T menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) juga memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Koefisien regresi untuk DER adalah 62,861, dengan nilai t-statistik sebesar 7,988, yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 unit dalam DER akan meningkatkan harga saham perusahaan sebesar 62,861 poin, dengan asumsi variabel lainnya tetap konstan. Pengaruh DER yang signifikan ini mengindikasikan bahwa tingkat leverage perusahaan sangat diperhatikan oleh investor. DER yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki utang yang lebih besar dibandingkan dengan ekuitasnya, yang dapat mencerminkan strategi pembiayaan ekspansi yang lebih agresif. Hal tersebut sejalan dengan teory sinyal yang diberikan oleh perusahaan yang mempunyai informasi perusahaan lebih baik berupa kondisi keuangan serta prospek perusahaan di masa mendatang, seharusnya dapat menyampaikan signal tersebut (informasi) kepada investor. Investor yang lebih berisiko mungkin akan tertarik pada perusahaan dengan DER tinggi [19].
Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Harga Saham
Hasil uji T menunjukkan bahwa Return on Equity (ROE) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham pada tingkat signifikansi 5% (p > 0,05). Koefisien regresi untuk ROE adalah -95,250, dengan nilai t-statistik sebesar - 1,881, yang menunjukkan bahwa meskipun ada hubungan negatif antara ROE dan harga saham, pengaruhnya tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi harga saham secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ROE merupakan indikator penting dalam teori keuangan untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari ekuitas, faktor ini tidak dianggap sebagai faktor utama yang mempengaruhi keputusan investasi di sektor Food and Beverage [20]. Mungkin ada faktor eksternal lainnya yang lebih memengaruhi keputusan investor, seperti fluktuasi biaya bahan baku atau tren konsumsi yang berubah-ubah [21].
Berdasarkan hasil uji hipotesis, dapat disimpulkan bahwa Earning Per Share (EPS) dan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan di sektor FNB, sementara Return on Equity (ROE) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan [22]. Pengaruh EPS yang signifikan menunjukkan bahwa investor cenderung lebih memperhatikan laba yang dihasilkan perusahaan per saham, karena hal ini mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang konsisten. EPS yang tinggi dapat menambah daya tarik perusahaan di mata investor, karena dianggap sebagai tanda kinerja keuangan yang baik dan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi [23]. Hal ini menunjukkan bahwa EPS menjadi salah satu indikator penting yang digunakan oleh pasar saham untuk menilai perusahaan. Selain itu, pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) juga menunjukkan bahwa tingkat leverage perusahaan memegang peranan penting dalam keputusan investasi [24]. DER yang lebih tinggi menggambarkan penggunaan utang yang lebih besar dalam pembiayaan perusahaan, yang dapat meningkatkan potensi keuntungan tetapi juga meningkatkan risiko [25]. Investor akan mempertimbangkan faktor ini dengan cermat dalam membuat keputusan investasi, karena DER yang tinggi dapat menunjukkan ekspansi agresif yang diiringi dengan risiko yang lebih tinggi [26], [27]. Sebaliknya, meskipun Return on Equity (ROE) merupakan indikator yang penting dalam teori keuangan untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari ekuitas, dalam sektor Food and Beverage, pengaruh ROE terhadap harga saham tampaknya kurang signifikan [28], [29]. Oleh karena itu, perusahaan dan investor perlu lebih memfokuskan perhatian pada EPS dan DER sebagai faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga saham di pasar modal [30], [31].
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana variabel Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Equity (ROE) memengaruhi harga saham perusahaan dalam industri makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2019-2023. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, yang menunjukkan bahwa laba per saham yang tinggi meningkatkan daya tarik perusahaan bagi investor. Variabel DER juga memberikan pengaruh signifikan, mencerminkan bahwa struktur modal yang lebih stabil dan manajemen utang yang efektif dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan. Sementara itu, ROE menunjukkan hubungan positif dengan harga saham, meskipun pada beberapa kasus pengaruhnya tidak signifikan. Hal ini tetap menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari ekuitas adalah faktor penting bagi keputusan investasi.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa ketiga variabel keuangan tersebut memiliki peran yang signifikan dalam memengaruhi fluktuasi harga saham perusahaan sektor makanan dan minuman. Temuan ini menggambarkan bahwa EPS, DER, dan ROE bukan hanya indikator penting dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga merupakan komponen utama yang memengaruhi persepsi dan keputusan investor di pasar modal. Dengan demikian, perusahaan di sektor ini disarankan untuk terus meningkatkan kinerja keuangan mereka pada indikator-indikator tersebut untuk mempertahankan daya saing dan menarik lebih banyak minat investasi.
Saran
Bagi perusahaan Perusahaan disarankan untuk terus meningkatkan rasio Earning Per Share (EPS) melalui optimalisasi manajemen operasional dan pengelolaan aset yang efisien. Peningkatan EPS dapat menarik minat investor karena mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bagi setiap lembar sahamnya. Selain itu, perusahaan perlu menyeimbangkan Debt to Equity Ratio (DER) dengan mengelola utang secara efektif dan memaksimalkan ekuitas. Struktur keuangan yang sehat tidak hanya akan meningkatkan stabilitas perusahaan tetapi juga memperkuat kepercayaan investor terhadap kinerja jangka panjang perusahaan. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga daya saing perusahaan di pasar modal dan meningkatkan stabilitas harga saham.
Bagi investor Investor dianjurkan untuk melakukan analisis keuangan yang menyeluruh terhadap variabel seperti EPS, DER, dan Return on Equity (ROE) sebelum membuat keputusan investasi. EPS yang tinggi mencerminkan potensi laba yang lebih besar, sedangkan DER yang terlalu tinggi bisa menjadi indikasi risiko keuangan yang lebih besar. Di sisi lain, ROE dapat digunakan untuk menilai efisiensi perusahaan dalam menggunakan ekuitas untuk menghasilkan keuntungan. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap indikator-indikator ini, investor dapat meminimalkan risiko investasi dan memaksimalkan potensi keuntungan. Selain itu, menggunakan data historis dan tren dari laporan keuangan dapat membantu investor membuat prediksi yang lebih akurat tentang kinerja perusahaan di masa depan.
Bagi peneliti selanjutnya, Penelitian ini memberikan dasar yang baik untuk studi lebih lanjut, namun ruang untuk pengembangan masih terbuka lebar. Peneliti berikutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain seperti Net Profit Margin (NPM), Operating Cash Flow (OCF), atau variabel makroekonomi seperti inflasi dan suku bunga untuk memberikan wawasan yang lebih komprehensif. Selain itu, memperluas cakupan penelitian ke sektor lain atau menggunakan metode analisis yang berbeda, seperti analisis data panel, dapat memperkaya hasil penelitian. Peneliti juga dapat mempertimbangkan dampak faktor eksternal, seperti perubahan regulasi atau kondisi ekonomi global, untuk memahami pengaruhnya terhadap harga saham di sektor tertentu.
Bagi Akademisi, Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi berharga dalam bidang akuntansi dan manajemen keuangan, khususnya dalam konteks pasar modal. Akademisi dapat memanfaatkan temuan ini untuk mengembangkan teori baru atau menyempurnakan teori yang sudah ada mengenai hubungan antara indikator keuangan dan harga saham. Selain itu, temuan ini juga relevan untuk menjadi bahan ajar dalam pendidikan tinggi, terutama di program studi akuntansi, ekonomi, dan manajemen. Dengan begitu, para mahasiswa dapat lebih memahami pentingnya analisis keuangan dan kaitannya dengan keputusan investasi, yang akan mempersiapkan mereka untuk terjun ke dunia profesional di masa depan.
[1] G. Ginting, “Firm Size, Growth, Investment Decisions, Capital Structure and Profitability of Property and Construction Companies,” Jurnal TEDC, vol. 13, no. 2, pp. 119–126, 2019.
[2] S. Nurwati and J. Siae, “Liquidity, Solvency, Activity and Profitability of Pharmaceutical Firms,” Jurnal Manajemen Sains dan Organisasi, vol. 3, no. 3, pp. 193–201, 2022.
[3] A. E. Pratiwi and L. Ardini, “Working Capital Turnover, Firm Size, Leverage and Receivables Turnover,” Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, vol. 8, no. 3, 2019.
[4] D. Durado, M. Mahdalena, and S. Naholo, “Intellectual Capital and Profitability with Firm Growth Mediation,” Journal of Economics, vol. 2, no. 1, pp. 343–358, 2023.
[5] I. K. A. Sukadana and N. Triaryati, “Sales Growth, Firm Size and Leverage on Profitability,” Udayana University, 2018.
[6] N. Dwiyanthi and G. M. Sudiartha, “Liquidity, Working Capital Turnover and Profitability,” E-Jurnal Manajemen Unud, vol. 6, no. 9, pp. 4829–4856, 2017.
[7] V. W. Sujarweni, Financial Statement Analysis Theory and Application, Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017.
[8] Sugiyono, Statistics for Health Research, Bandung: Alfabeta, 2016.
[9] G. Chandrarin, Accounting Research Methods Quantitative Approach, Jakarta: Salemba Empat, 2017.
[10] B. Pratiwi, “Factors Affecting Early Financial Conditions,” 2019.
[11] J. M. B. Butar and S. Saryadi, “Cash, Receivables, and Inventory Turnover on Profitability,” Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, vol. 9, no. 4, pp. 420–430, 2020.
[12] S. N. Saragih and S. Hariani, “Liquidity, Firm Size, Sales Growth and Capital Structure,” Journal of Economics, vol. 2, no. 1, pp. 28–39, 2023.
[13] A. N. Aprilya, D. D. Astuti, and L. Rachmawati, “Determinants of Profitability in Manufacturing Firms,” Jakuma Journal of Accounting and Financial Management, vol. 1, no. 2, pp. 100–116, 2020.
[14] D. Pratiwi, “Working Capital, Receivables and Inventory Turnover on Profitability,” Jurnal Ilmu Manajemen, vol. 7, no. 1, pp. 77–89, 2018.
[15] E. P. Sari, D. Anggriyani, and N. Komariah, “Inventory and Receivable Turnover on Profitability,” Accumulated Journal, vol. 2, no. 1, pp. 35–46, 2020.
[16] M. Darmawan, Fundamentals of Financial Ratios and Statements, Yogyakarta: UNY Press, 2020.
[17] M. Sembiring, “Sales Growth, Liquidity and Profitability of Trading Firms,” Liabilities Journal of Accounting Education, vol. 3, no. 1, pp. 59–68, 2020.