Login
Section Finance Management

Determinants of Profitability in Food and Beverage Companies

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keuntungan dalam Perusahaan Makanan dan Minuman
Vol. 20 No. 3 (2025): August:

Nindy Ellyn (1), Eny Maryanti (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia

Abstract:

General Background Profitability is a key indicator of corporate performance and sustainability, particularly in manufacturing industries. Specific Background Food and beverage companies face dynamic operational and financial conditions that require effective financial management to maintain profitability. Knowledge Gap Previous studies report inconsistent findings regarding financial ratios and growth variables associated with profitability in this sector. Aims This study aims to examine the relationship between company growth, sales growth, inventory turnover, and profitability in food and beverage companies listed on the Indonesia Stock Exchange. Results The findings show that selected financial and growth variables exhibit varying relationships with profitability as measured by return on assets. Novelty This research provides contextual evidence by focusing on a specific industrial sector and observation period using updated financial data. Implications The results offer empirical insights for management in evaluating financial performance and serve as a reference for future research on profitability determinants in manufacturing companies.


Keywords: Profitability, Return on Assets, Company Growth, Sales Growth, Inventory Turnover


Key Findings Highlights:




  1. Financial growth indicators show differentiated relationships with corporate returns




  2. Inventory management remains a relevant aspect of financial performance




  3. Sector specific analysis reveals contextual profitability patterns



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Tingkat persaingan dalam dunia bisnis akan terus meningkat. Oleh sebab itu, perusahaan harus mampu berkembang dan menciptakan inovasi-inovasi baru agar tetap eksis dalam persaingan. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan nilai melalui perbaikan proses bisnis. Perusahaan juga dituntut untuk memiliki keunggulan atau ciri khas yang membedakannya dari para pesaing [1]. Setiap perusahaan berfokus pada tujuan utamanya, yaitu memperoleh laba maksimal guna mendukung kelangsungan operasional. Salah satu upaya yang umum dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham adalah menyediakan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan guna memenuhi kebutuhan konsumen [2].

Analisis laporan keuangan merupakan proses mengolah data numerik dari laporan keuangan suatu entitas untuk menilai kinerja, stabilitas, dan posisi keuangan perusahaan. Tujuan dari analisis ini adalah memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi keuangan perusahaan, memprediksi kinerja di masa mendatang, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan informatif. Profitabilitas perusahaan mengacu pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktivitas operasionalnya. Tingkat profitabilitas yang tinggi menunjukkan efisiensi perusahaan dalam memperoleh pendapatan serta mengendalikan biaya, sedangkan profitabilitas rendah bisa mengindikasikan adanya masalah dalam operasional atau manajemen. Profitabilitas yang tinggi sering menjadi faktor utama bagi investor, karena mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola aset dan modal secara efektif, sehingga mampu meningkatkan laba secara signifikan.

Tingkat profitabilitas yang tinggi sering dianggap sebagai indikator kinerja dan efisiensi perusahaan. Investor biasanya tertarik pada perusahaan yang mampu mengelola aset serta modal dengan efektif, mengontrol biaya, dan menghasilkan laba optimal dari aktivitas operasionalnya[3]. Profitabilitas perusahaan dapat diukur melalui rasio Return On Asset (ROA), yang menunjukkan tingkat pengembalian atas penggunaan aset. Semakin tinggi nilai rasio ROA, semakin efisien perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan laba besar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas diproyeksikan pada perputaran piutang, pertumbuhan perusahaan, pertumbuhan penjualan, perputaran persediaan, dan likuiditas. Sesuai faktor di atas dapat dideskripsikan sebagai berikut: pertama, Perputaran piutang menjadi rasio yang dapat digunakan untuk mengukur seberapa efisien perusahaan dalam mengumpulkan piutang perusahaannya. Menurut Pratiwi (2019) menyatakan bahwa jika perputaran piutang rendah, artinya perusahaan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan piutang, yang dapat mempengaruhi aliran kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan [3]

Kedua, Pertumbuhan aset perusahaan dapat memberikan petunjuk tentang potensi pertumbuhan di masa depan. Jika perusahaan secara konsisten meningkatkan asetnya, ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang dalam proses ekspansi atau diversifikasi bisnis. Pertumbuhan perusahaan memiliki potensi untuk menciptakan tingkat pengembalian yang tinggi karena pertumbuhan perusahaan memiliki potensi yang cukup tinggi dalam meningkatkan profitabilitas pada masa depan[4]. Menurut Ginting (2019) pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas[1].

Ketiga, Pertumbuhan penjualan merupakan salah satu indikator yang penting dari penerima pasar dan juga dari produk/jasa yang diproduksi, dimana pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan penjualan produk/jasa tersebut. Jika perusahaan berhasil meningkatkan penjualannya dari waktu ke waktu, ini bisa menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil memperluas operasinya atau mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. Skala bisnis yang lebih besar dapat memberikan keuntungan dalam pengendalian biaya, negosiasi dengan pemasok, dan efisiensi lainnya yang dapat berkontribusi pada profitabilitas yang lebih tinggi[5].

Keempat, Perputaran persediaan dengan tingkat perputaran tinggi maka akan menciptakan laba yang tinggi pula. Pada prinsipnya, perputaran persediaan digunakan perusahaan untuk mempermudah dan memperlancar jalannya operasi perusahaan secara berturut-turut yang dilakukan untuk memproduksi barang yang kemudian mendistribusikannya kepada pelanggan. Perputaran persediaan dapat mempengaruhi profitabilitas apabila laba perusahaan meningkat. Besarnya nilai perputaran persediaan dapat menunjukkan tingkat konversi persediaan yang dimiliki perusahaan menjadi bentuk hutang atau ekuitas.

Kelima, likuiditas yaitu kemampuan perusahaan untuk mengubah asetnya menjadi uang tunai dengan cepat tanpa menimbulkan kerugian signifikan. Likuiditas adalah ukuran kecukupan kas dan aset lancar dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Jika perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang rendah, ini bisa menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi kendala dalam mengelola arus kas atau memiliki aset yang tidak produktif [6].

Sesuai dengan pemaparan faktor yang mempengaruhi profitabilitas suatu perusahaan dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidak konsistenan diantara penelitian-penelitian diatas, perbedaan tersebut ditunjukkan oleh adanya perbedaan hasil penelitian yang mengenai faktor yang mempengaruhi profitabilitas sehingga perlu dilakukan pengujian lebih lanjut apakah perputaran piutang, pertumbuhan perusahaan, pertumbuhan penjualan, perputaran persediaan dan likuiditas berpengaruh terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sub sector food and beverage yang terdaftar dibursa efek indonesia.

Metode

Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dalam menganalisis profitabilitas perusahaan berdasarkan laporan keuangan tahunan melibatkan penggunaan berbagai rasio keuangan dan perhitungan statistik untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan secara objektif. Metode kuantitatif adalah pendekatan yang menggunakan teknik statistik dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data numerik untuk mengambil keputusan. Metode ini menekankan pada pengukuran kuantitatif, pengujian hipotesis, dan analisis statistik untuk mendapatkan pemahaman objektif dan terukur tentang fenomena yang diteliti[7].

Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Kampus 1 dengan memanfaatkan akses Galeri BEI di universitas tersebut serta menggunakan data dari situs resmi BEI (www.idx.co.id). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas yang diukur menggunakan Return On Asset (ROA), yang dipengaruhi oleh variabel independen [8]. Adapun variabel independen yang digunakan meliputi perputaran piutang, pertumbuhan perusahaan, pertumbuhan penjualan, perputaran persediaan, dan likuiditas.

Populasi dalam penelitian ini terdiri dari perusahaan manufaktur sub sektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pemilihan perusahaan tersebut dilakukan karena profitabilitas yang tinggi pada perusahaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu salah satu metode non-random sampling dengan menetapkan kriteria khusus dalam memilih sampel. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 perusahaan. Adapun kriteria pemilihan sampel antara lain:

  1. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangannya secara rutin
  2. Perusahaan yang menyajikan data keuangan secara lengkap sesuai kebutuhan penelitian

Melalui teknik purposive sampling, diperoleh 8 perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2018-2020. Data tersebut dapat diakses melalui situs resmi BEI di www.idx.co.id. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan laporan keuangan dari perusahaan manufaktur sub sektor food and beverage yang terdaftar di BEI.

Analisis data merupakan proses pengolahan data yang telah dikumpulkan untuk menghasilkan temuan baru atau membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Metode analisis yang diterapkan adalah regresi linier berganda. Dalam analisis regresi linier berganda, model penelitian harus memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam uji asumsi klasik. Setelah model tersebut dinyatakan lolos uji asumsi klasik, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis[9]. Pengujian hipotesis bertujuan untuk memastikan kebenaran hasil analisis regresi yang dilakukan oleh peneliti. Dalam proses ini, dilakukan beberapa jenis pengujian, yaitu Uji T, Uji koefisien determinasi, dan Uji korelasi.

Hasil dan Pembahasan

A. Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Profitabilitas

Perputaran perusahaan merupakan aset perusahaan yang tercipta akibat kegiatan operasional penjualan kredit. Salah satu kriteria penilaian keberhasilan kegiatan operasional penjualan secara kredit yang dilakukan oleh perusahaan adalah menganalisis perputaran piutang. Perputaran piutang adalah rasio aktivitas yang merupakan pengukuran kapasitas perusahaan untuk menciptakan piutang dari hasil penjualan yang telah dilakukan. Semakin cepat perputaran piutang menandakan bahwa modal dapat digunakan secara efisien[10]. Rumus perputaran piutang sebagai berikut :

Figure 1.

Berdasarkan rumus di atas menunjukkan bahwa profitabilitas merujuk pada kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari aktivitas operasionalnya. Tingkat profitabilitas ditentukan oleh seberapa baik manajemen perusahaan dalam mengelola sumber daya, mengoptimalkan proses operasional, serta menciptakan nilai bagi pemegang saham. Profitabilitas juga menjadi indikator efisiensi dan produktivitas perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap unit penjualan atau aktivitas bisnis yang dijalankan.

Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis pertama terbukti bahwa variabel Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2020. Hasil uji parsial (uji t) pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa variabel Perputaran Piutang (X1) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,115 > 0,05, dengan nilai t hitung lebih kecil dari t tabel (1,618 < 2,032). Hal ini mengindikasikan bahwa Perputaran Piutang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.

Kondisi tersebut terjadi karena tingkat perputaran piutang yang terlalu rendah, sehingga proses penagihan menjadi lebih lama untuk diubah menjadi uang tunai. Selain itu, syarat kredit yang diterapkan perusahaan cenderung terlalu ketat, di mana perusahaan lebih mengutamakan keamanan kredit daripada mengejar profitabilitas. Syarat kredit tersebut meliputi jangka waktu pembayaran yang singkat dan beban bunga tinggi bagi pembayaran piutang yang terlambat. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi Butar (2020), yang juga menyimpulkan bahwa Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas.[11].

B. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan terhadap Profitabilitas

Pertumbuhan perusahaan adalah kapasitas perusahaan untuk meningkatkan nilai asetnya dari tahun ke tahun secara berkesinambungan . Hal ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi perusahaan yang diukur melalui peningkatan nilai aset atau investasi yang dimiliki perusahaan dari waktu ke waktu.

Figure 2.

Hasil penelitian mendukung hipotesis kedua, yang menyatakan bahwa variabel Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap Profitabilitas pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2022. Berdasarkan uji parsial (uji t) pada tabel 4.6, diketahui bahwa variabel Pertumbuhan Perusahaan (X2) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, dengan t hitung lebih kecil dari t tabel (-4,309 < 2,034). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.

Pertumbuhan perusahaan memengaruhi profitabilitas melalui aktiva yang dimiliki, karena aktiva tersebut berperan dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan, yang pada akhirnya berdampak pada profitabilitas. Pertumbuhan penjualan menjadi faktor penting bagi perusahaan untuk mencapai profitabilitas. Ketika penjualan meningkat, pendapatan perusahaan juga bertambah. Jika perusahaan dapat memanfaatkan asetnya secara efisien dan mengoptimalkan sumber daya yang ada, peningkatan pendapatan akan diikuti oleh penurunan biaya rata-rata per unit produk, yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas.

Dengan demikian, pertumbuhan aktiva yang diiringi oleh peningkatan laba dapat mendorong peningkatan profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi Ginting (2019), yang menyatakan bahwa Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas[1].

C . Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Profitabilitas

Pertumbuhan penjualan adalah kapasitas perusahaan dalam meningkatkan nilai penjualannya dari tahun ke tahun secara konsisten[12]. Hal ini mencerminkan peningkatan volume penjualan atau pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan dari kegiatan bisnisnya. Pertumbuhan penjualan yang kuat menunjukkan bahwa perusahaan mampu meningkatkan minat konsumen, memperoleh pangsa pasar yang lebih besar, atau mengeksploitasi peluang pasar baru.

Figure 3.

Hasil penelitian ini mendukung hipotesis ketiga, yaitu bahwa variabel Pertumbuhan Penjualan berpengaruh terhadap Profitabilitas pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2022. Berdasarkan uji parsial (uji t) pada tabel 4.6, diketahui bahwa variabel Pertumbuhan Penjualan (X3) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05, dengan t hitung lebih besar dari t tabel (3,647 > 2,034). Hal ini menunjukkan bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Pertumbuhan penjualan merupakan indikator penting yang menunjukkan sejauh mana produk dan jasa perusahaan diterima oleh pasar. Pendapatan yang dihasilkan dari penjualan digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan penjualan, yang pada akhirnya akan mencerminkan kinerja keuangan perusahaan. [13].

Pertumbuhan penjualan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menerapkan strategi bisnis secara konsisten dari waktu ke waktu. Penjualan yang tinggi dapat menjadi indikator keberhasilan perusahaan dalam mencapai targetnya. Dengan mengetahui tingkat pertumbuhan penjualan, perusahaan dapat memperkirakan potensi profit yang akan diperoleh. Penjualan harus mampu menutupi biaya operasional agar dapat meningkatkan laba (Brigham dan Houston, 2011: 168).

Pertumbuhan penjualan memiliki peran strategis bagi perusahaan, karena peningkatan penjualan sering kali diiringi dengan pertumbuhan pangsa pasar (market share), yang pada akhirnya akan berdampak positif pada profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Sukadana & Triaryati (2018), yang menunjukkan bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.[5].

D . Pengaruh Perputaran Persediaan terhadap Profitabilitas

Persediaan adalah komponen penting dalam modal kerja yang berbentuk aset dan bersifat dinamis, karena jumlahnya terus berubah seiring dengan aktivitas pembelian dan penjualan. Perputaran persediaan diukur melalui rasio yang membandingkan antara total harga pokok penjualan (HPP) dengan rata-rata nilai persediaan yang dimiliki perusahaan [14]. Rumus perputaran persediaan sebagai berikut :

Figure 4.

Hasil penelitian ini mendukung hipotesis keempat, yaitu bahwa variabel Perputaran Persediaan tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2022. Berdasarkan uji parsial (uji t) pada tabel 4.6, diketahui bahwa variabel Perputaran Persediaan (X4) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,679 > 0,05 dan t hitung lebih kecil dari t tabel (-0,418 < 2,034). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan Perputaran Persediaan tidak secara signifikan memengaruhi Return On Asset (ROA), begitu pula sebaliknya.

Meskipun Perputaran Persediaan yang tinggi menandakan efisiensi perusahaan dalam mengelola persediaan dan meningkatkan likuiditas, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada persediaan. Dalam beberapa kasus, penjualan terjadi sebelum barang yang diminta konsumen diproduksi, atau perusahaan menjual barang mentah, sehingga penjualan tetap berlangsung meskipun persediaan belum tersedia.

Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari, Anggriyah, & Komariyah (2020), yang juga menyimpulkan bahwa Perputaran Persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas [15].

E. Pengaruh Likuiditas terhadap Profitabilitas

Likuiditas mengacu pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya menggunakan sumber daya yang tersedia dengan cepat, tanpa perlu bantuan dari pihak eksternal. Likuiditas juga menunjukkan seberapa efektif perusahaan dapat mengubah asetnya menjadi uang tunai untuk memenuhi kebutuhan pembayaran mendesak atau kewajiban yang jatuh tempo.

Likuiditas yang diukur melalui Current Ratio (CR) merupakan rasio yang membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar, serta menjadi salah satu ukuran yang paling umum digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current Ratio (CR) berfungsi sebagai indikator sejauh mana aset lancar dapat menutupi kewajiban lancar. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya [16].

Figure 5.

Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis kelima yang menyatakan bahwa variabel Likuiditas berpengaruh terhadap Profitabilitas pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2022 dinyatakan benar. Hasil uji parsial (uji t) pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa variabel Likuiditas (X5) memiliki nilai signifikansi 0,012 < 0,05 dan t hitung lebih kecil dari t tabel (-2,653 < 2,034), yang berarti Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Likuiditas mencerminkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya menggunakan sumber daya yang tersedia secara cepat tanpa bantuan pihak eksternal.

Likuiditas memegang peran penting sebagai indikator kesehatan keuangan perusahaan. Dalam jangka pendek, perusahaan harus mampu memenuhi kewajiban seperti pembayaran tagihan, gaji, dan utang yang jatuh tempo. Dengan likuiditas yang cukup, perusahaan dapat menghindari kesulitan keuangan atau potensi risiko kebangkrutan serta dapat mengelola arus kas secara lebih efektif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin besar current ratio perusahaan, maka semakin tinggi pula return on assets yang diperoleh. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sembiring (2020) yang menunjukkan bahwa Likuiditas berpengaruh terhadap Profitabilitas[17].

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh Perputaran Piutang, Pertumbuhan Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan, Perputaran Persediaan, dan Likuiditas terhadap Profitabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018–2020, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas. Perusahaan disarankan untuk lebih memaksimalkan penjualan kredit, karena piutang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang muncul ketika penjualan tunai sulit dilakukan. Dengan adanya piutang, perusahaan memiliki alternatif untuk mempercepat perputaran persediaan hingga berubah menjadi kas.
  2. Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh positif terhadap Profitabilitas. Peningkatan penjualan akan meningkatkan pendapatan perusahaan, terutama jika perusahaan mampu mengelola aset secara efisien dan memanfaatkan sumber daya secara optimal.
  3. Pertumbuhan Penjualan berpengaruh terhadap Profitabilitas. Semakin tinggi pertumbuhan penjualan, semakin besar potensi peningkatan pendapatan perusahaan. Jika perusahaan dapat menjaga kenaikan pendapatan lebih tinggi dibandingkan beban yang timbul dari peningkatan penjualan, profitabilitas akan semakin meningkat.
  4. Perputaran Persediaan tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan perusahaan yang rendah terhadap persediaan. Penjualan terjadi sebelum barang diproduksi, karena perusahaan cenderung menjual barang mentah. Dengan demikian, meskipun persediaan belum tersedia, penjualan tetap bisa berlangsung.
  5. Likuiditas berpengaruh terhadap Profitabilitas. Semakin tinggi likuiditas perusahaan, semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap profitabilitas. Peningkatan likuiditas secara umum akan sejalan dengan peningkatan profitabilitas.

Ucapan Terima Kasih

Bagian ini menyatakan ucapan terima kasih kepada pihak yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian, misalnya laboratorium tempat penelitian. Peran donor atau yang mendukung penelitian disebutkan perannya secara ringkas. Dosen yang menjadi penulis tidak perlu dicantumkan di sini.

References

[1] G. Ginting, “Company Size, Growth, Investment Decisions, and Capital Structure on Profitability,” Journal of TEDC, vol. 13, no. 2, pp. 119–126, 2019.

[2] S. Nurwati and J. Siae, “Liquidity, Solvency, and Activity on Profitability of Pharmaceutical Companies,” Journal of Management Science and Organization, vol. 3, no. 3, pp. 193–201, 2022.

[3] A. E. Pratiwi and L. Ardini, “Working Capital Turnover, Firm Size, Leverage, and Receivable Turnover on Profitability,” Journal of Accounting Research, vol. 8, no. 3, 2019.

[4] D. Durado, M. Mahdalena, and S. Naholo, “Intellectual Capital and Profitability Mediated by Company Growth,” Journal of Economics, vol. 2, no. 1, pp. 343–358, 2023.

[5] I. K. A. Sukadana and N. Triaryati, Sales Growth, Firm Size, and Leverage, Udayana University, 2018.

[6] N. Dwiyanthi and G. M. Sudiartha, “Liquidity and Working Capital Turnover on Profitability,” E-Journal of Management Udayana University, vol. 6, no. 9, pp. 4829–4856, 2017.

[7] V. W. Sujarweni, Financial Statement Analysis Theory and Application, Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2017.

[8] Sugiyono, Statistics for Research, Bandung: Alfabeta, 2016.

[9] G. Chandrarin, Accounting Research Methods Quantitative Approach, Jakarta: Salemba Empat, 2017.

[10] B. Pratiwi, “Factors Affecting Early Financial Performance,” Working Paper, 2019.

[11] J. M. B. Butar and S. Saryadi, “Cash, Receivable, and Inventory Turnover on Profitability,” Journal of Business Administration, vol. 9, no. 4, pp. 420–430, 2020.

[12] S. N. Saragih and S. Hariani, “Liquidity, Firm Size, and Sales Growth on Capital Structure,” Journal of Economics, vol. 2, no. 1, pp. 28–39, 2023.

[13] A. N. Aprilya, D. D. Astuti, and L. Rachmawati, “Determinants of Profitability in Manufacturing Firms,” Jakuma Journal, vol. 1, no. 2, pp. 100–116, 2020.

[14] D. Pratiwi, “Working Capital Turnover and Profitability,” Journal of Management Science, vol. 7, no. 1, pp. 77–89, 2018.

[15] E. P. Sari, D. Anggriyani, and N. Komariah, “Inventory and Receivable Turnover on Profitability,” Accumulated Journal, vol. 2, no. 1, pp. 35–46, 2020.

[16] M. Darmawan, Understanding Financial Ratios and Statements, Yogyakarta: UNY Press, 2020.

[17] M. Sembiring, “Sales Growth and Liquidity on Trading Company Profitability,” Liabilities Journal, vol. 3, no. 1, pp. 59–68, 2020.