Ridha Tuahta Maharany Munthe (1), Heri Widodo (2)
General Background: Micro, Small, and Medium Enterprises play a central role in Indonesia’s economy and require reliable financial reporting to support sustainability. Specific Background: Many MSMEs, including online-based businesses, still apply simple cash-based records that do not follow accounting standards. Knowledge Gap: Empirical evidence on SAK EMKM-based financial recordkeeping in small online manufacturing businesses remains limited. Aims: This study examines accounting practices at Elmeera Hijab Online Shop and evaluates financial records aligned with SAK EMKM. Results: The findings show that existing records were limited to cash inflows and outflows and lacked structured financial statements; after adjustment, statements of financial position, income statements, and notes were prepared. Novelty: This study presents a contextual case of SAK EMKM application in an online shop with manufacturing activities. Implications: The results provide practical guidance for MSMEs to improve financial reporting quality and decision-making through structured SAK EMKM implementation.
Keywords:
SAK EMKM, Financial Recordkeeping, MSMEs, Online Shop Accounting, Financial Statements
Key Findings Highlights:
Financial records were initially limited to basic cash transactions.
Structured statements were prepared following SAK EMKM guidelines.
Human resource limitations constrained formal accounting practices.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Mereka hadir dalam berbagai sektor seperti jasa, ritel, dan manufaktur, memberikan layanan dan produk yang diminati oleh masyarakat. Keunggulan UMKM yang mudah diakses dan dipahami membuatnya menjadi pilihan utama di kalangan konsumen. Pemerintah memahami pentingnya peran UMKM dalam pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 diterbitkan untuk memberikan landasan hukum yang mengatur dan mendukung perkembangan UMKM. Pasal V dari Undang-Undang ini menegaskan komitmen untuk meningkatkan peran UMKM dalam berbagai aspek pembangunan, seperti menciptakan lapangan kerja, meratakan pendapatan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi tingkat kemiskinan. Dengan demikian, UMKM bukan hanya menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia[1] . Dukungan terus menerus dari pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM di masa depan. UMKM hal yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia karena mereka dapat menyumbang hingga 97% dari angkatan kerja dan antara 57 dan 60% dari PDB negara. UMKM telah melampaui perusahaan besar dalam jumlah dan tumbuh setiap tahun. Selama krisis moneter Indonesia 1997-1998, UMKM dipuji sebagai pahlawan karena mereka mampu mengelola situasi. Menurut Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2008, "Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bermaksud untuk memperluas dan menumbuhkan perusahaannya untuk menciptakan ekonomi yang adil dan demokratis di tingkat nasional”[2].
Laporan keuangan sangat krusial dalam menilai kinerja sistem UMKM. Pada saat yang sama, meskipun UMKM memiliki struktur manajemen yang relatif sederhana, mereka sering menghadapi sejumlah kekurangan yang menuntut pengembangan sistem yang lebih efektif. Pengembangan sistem yang tepat dapat membantu UMKM mengatasi kelemahan-kelemahan ini dengan menyediakan kerangka kerja yang lebih terstruktur, efisien, dan dapat diandalkan untuk mengelola operasi bisnis mereka. Fokus utama terletak pada laporan keuangan saat mengevaluasi kinerja UMKM dalam pengembangan bisnis. Di sini, laporan keuangan memiliki peran kunci dalam memberikan informasi yang diperlukan untuk mengukur pencapaian tujuan bisnis dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan atau peningkatan dan laporan keuangan berperan sangat penting dalam mengevaluasi kinerja UMKM dalam pengembangan bisnis dan membantu mereka membuat keputusan yang terinformasi dan strategis. Bila ada keterbatasan dalam proses pembuatan laporan keuangan untuk UMKM maka dapat menyebabkan kurangnya efektivitas dalam proses tersebut [3]. Akibatnya, kurangnya efektivitas dalam proses pembuatan dan pelaporan laporan keuangan ini sehingga mengganggu kemampuan UMKM untuk mengelola bisnis mereka dengan baik dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi keuangan yang akurat Standar Akuntansi Keuangan, 2019. Di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam menerapkan standar akuntansi yang ditegakkan oleh manajemen dan menjaga akuntabilitas dalam penggunaan sumber daya. Hal ini dapat menyebabkan penyusunan laporan keuangan yang tidak akurat. Dengan memperbaiki beberapa faktor permasalahan pada penerapan standar akuntansi yang tepat dan menjaga akuntabilitas dalam penggunaan sumber daya maka dapat mencegah terhambatnya kemampuan UMKM untuk menyusun laporan keuangan yang akurat dan relevan untuk pengambilan keputusan bisnis yang efektif [4].
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) yang dikembangkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) memberikan kerangka kerja yang lebih sederhana dan mudah dipahami bagi UMKM dan usaha kecil lainnya untuk menyusun laporan keuangan tanpa harus menggunakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) generik yang lebih kompleks. SAK EMKM dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik UMKM, mengurangi beban administrasi, dan meningkatkan kualitas laporan keuangan mereka. Berbeda dengan SAK generik, SAK EMKM lebih ramah bagi UMKM dengan persyaratan pelaporan yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Hal ini membuat UMKM merasa lebih mudah untuk menyusun laporan keuangan menggunakan SAK EMKM daripada menggunakan SAK biasa. SAK EMKM ditujukan untuk digunakan oleh organisasi yang tidak memiliki kewajiban untuk menyediakan laporan keuangan untuk publik secara umum. Ini membantu UMKM dan usaha kecil lainnya untuk memenuhi kewajiban akuntabilitas mereka tanpa harus mematuhi persyaratan yang terlalu rumit. SAK EMKM memerlukan UMKM untuk menyusun beberapa laporan keuangan seperti laporan laba rugi, laporan kondisi keuangan, dan catatan atas laporan keuangan.
Dasar penyusunan laporan keuangan mengacu pada standar akuntansi yang berfungsi sebagai pedoman untuk pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, pendapatan, dan beban dalam SAK EMKM. Entitas yang menyusun laporan keuangan dengan menggunakan SAK EMKM harus mengikuti pedoman dalam menyusun pencatatan laporan keuangan sesuai dengan standar tersebut. Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kemampuan UMKM dalam menyusun laporan keuangan berbasis SAK EMKM, Dinas Koperasi dan UKM memberikan pelatihan khusus. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sistem pencatatan keuangan yang masih belum sempurna di banyak UMKM di Indonesia, yang umumnya hanya mencatat penerimaan dan pengeluaran kas. Secara keseluruhan, SAK EMKM memberikan kerangka kerja yang lebih sesuai untuk UMKM dalam menyusun laporan keuangan mereka, sementara upaya pelatihan dan peningkatan kesadaran terus dilakukan untuk memperbaiki praktik akuntansi di kalangan UMKM di Indonesia. Menurut berbagai penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Egi Ramadhani 2017, ditemukan bahwa banyak UMKM belum mampu menggunakan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) dalam menyusun laporan keuangan mereka. Sebaliknya, mereka cenderung hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran kas, tanpa menerapkan prinsip-prinsip akuntansi yang lebih formal seperti yang diatur dalam SAK EMKM. Hal ini dapat menunjukkan bahwa ada perbedaan antara apa yang diharapkan dalam praktik akuntansi dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Kendala lain yang diungkapkan adalah kurangnya kesadaran pelaku usaha UMKM terhadap regulasi SAK EMKM yang berlaku [5].
Banyak pelaku usaha UMKM mungkin tidak sepenuhnya memahami kebutuhan akan penggunaan SAK EMKM atau tidak menyadari pentingnya menerapkannya dalam penyusunan laporan keuangan mereka. Kurangnya pemahaman ini dapat menghambat upaya untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan di kalangan UMKM. Lebih lanjut, menurut (Riadi 2017), UMKM juga menghadapi tantangan dalam menerapkan ketentuan SAK EMKM karena kurangnya sumber daya manusia dalam usaha mereka. Kurangnya keterampilan dan pengetahuan dalam bidang akuntansi serta kurangnya pengenalan pada beberapa proses penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM yang berlaku menjadi faktor penghambat dalam implementasi SAK tersebut. Secara keseluruhan, temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih ada gap antara harapan penerapan SAK EMKM dalam praktik akuntansi UMKM dengan realitas yang dihadapi di lapangan. Upaya yang lebih besar dalam meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan keterampilan dalam menerapkan SAK EMKM perlu dilakukan untuk memastikan bahwa UMKM dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat dan relevan bagi pengambilan keputusan bisnis yang lebih 13 baik. Masalah yang sering muncul di kalangan UMKM termasuk kurangnya keahlian dalam bidang akuntansi atau kurangnya sumber daya manusia yang mampu membukukan akuntansi secara lengkap. Akibatnya, banyak perusahaan kecil dan menengah cenderung menggunakan sistem akuntansi yang disederhanakan, yang hanya mencatat arus kas masuk dan keluar [6].
Walaupun sederhana, sistem ini tidak memberikan gambaran yang lengkap tentang kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan, di sisi lain, menjadi alat penting dalam menilai kinerja organisasi di UMKM. Dengan tersedianya laporan keuangan yaang selaras dengan ketentuan SAK EMKM, perusahaan UMKM dapat mengevaluasi kinerja keuangan mereka dengan lebih baik. Ini memungkinkan pelaku UMKM untuk merencanakan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengembangkan bisnis mereka, seperti mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki atau peluang pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, laporan keuangan juga menjadi sumber penting dalam mendapatkan pendanaan dari lembaga keuangan seperti bank. Ketika UMKM mengajukan permohonan modal tambahan, laporan keuangan mereka menjadi dasar penilaian bagi bank untuk menentukan seberapa besar modal yang dapat diberikan kepada mereka. Oleh karena itu, akuntansi keuangan memainkan peran kunci dalam mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis UMKM dengan memfasilitasi akses terhadap sumber pendanaan eksternal [7].
A.Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk memahami fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Fokus utamanya adalah pemahaman yang mendalam terhadap peristiwa dalam konteks alami, dengan menekankan makna, pengalaman, dan pandangan individu atau kelompok. Metode ini dipilih untuk mengumpulkan data mengenai transaksi penjualan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan sesuai SAK EMKM, serta untuk menggambarkan aktivitas transaksi di Online Shop Elmeera Hijab.
B.Populasi dan Sampel
Subjek penelitian adalah individu-individu yang menjadi fokus observasi dan sumber data utama. Dalam hal ini, subjeknya mencakup pemilik Online Shop Elmeera Hijab serta konsumen yang terlibat dalam transaksi pembelian, dengan tujuan mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai aktivitas transaksi yang terjadi di toko tersebut.
C.Sumber Data
Data Data yang digunakan adalah data kualitatif berupa kata-kata, gambar, atau benda yang tidak dapat dihitung secara numerik. Data ini menggambarkan fenomena seperti persepsi, pengalaman, dan kondisi sosial, diperoleh melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen.
D.Teknik Pengumpulan Data
Metode penelitian kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data yang mengkaji teori, pendapat, dan gagasan pokok yang terkandung dalam berbagai media [8]. Metode dokumentasi merupakan yang digunakan dalam penelitian ini yang diperoleh dari informasi laporan keuangan perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2019-2021 melalui situs Bursa Efek Indonesia ataupun jurnal-jurnal dan buku guna lebih menunjang penelitian [9].
Data diperoleh langsung dari wawancara, observasi di Online Shop Elmeera Hijab, mencakup informasi transaksi penjualan, pembelian, dan penyusunan laporan keuangan. Data yang diperoleh dari sumber langsung seperti akun media sosial Elmeera Hijab, berisi informasi mengenai profil, latar belakang, dan perkembangan usaha [10].
E.Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis
Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari subjek, sedangkan observasi dilakukan untuk melihat fenomena secara langsung di lapangan. Dokumentasi mendukung keabsahan data dengan menyediakan bukti tertulis atau visual dari hasil wawancara dan observasi.
Data dianalisis dengan metode deskriptif, yaitu pendekatan yang menggambarkan dan menginterpretasikan objek penelitian apa adanya tanpa manipulasi. Hasil analisis menyajikan gambaran faktual dan sistematis mengenai keadaan objek atau subjek, sehingga menghasilkan pemahaman yang jelas terhadap situasi yang diteliti [11].
Penelitian ini bertujuan untuk membantu UMKM Elmeera Hijab dalam menyusun laporan keuangan yang sederhana namun tetap sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan penting.
A.Pengumpulan Data
Langkah awal adalah mengumpulkan data yang relevan. Data tersebut terdiri dari data primer yang diperoleh secara langsung melalui wawancara dan observasi, serta data sekunder yang diambil dari transaksi yang telah tercatat dalam sistem online shop Elmeera Hijab.
B.Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, peneliti kemudian melakukan analisis terhadap data yang diperoleh. Analisis mencakup data primer hasil wawancara dan observasi, serta data sekunder berupa catatan transaksi. Tujuannya adalah untuk memahami struktur dan pola transaksi yang terjadi dalam operasional Elmeera Hijab [12].
C.Penyusunan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil analisis, peneliti mengidentifikasi jenis entitas usaha Elmeera Hijab dan menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip SAK EMKM. Setiap transaksi disusun dan diurutkan dengan sistematis, sehingga menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Tahapan-tahapan tersebut menjadi landasan dalam perancangan laporan keuangan untuk Elmeera Hijab, agar usaha tersebut dapat memiliki pencatatan keuangan yang rapi, terstruktur, dan memenuhi ketentuan akuntansi formal [13].
D.Transaksi Usaha Online Shop Elmeera Hijab
Elmeera Hijab bergerak di bidang manufaktur, dengan kegiatan utama berupa produksi barang dan penjualan langsung kepada konsumen. Transaksi yang dilakukan mencakup pembelian bahan baku, proses produksi (penjahitan), serta penjualan produk jadi baik secara offline maupun online.
Proses produksi menyebabkan perubahan dalam akun persediaan, dari bahan baku menjadi barang dalam proses, hingga menjadi barang jadi. Penjualan dilakukan secara tunai, dan pencatatannya dilakukan sesuai metode akuntansi yang digunakan. Jika menggunakan metode periodik, maka hanya kas dicatat di sisi debet dan penjualan di sisi kredit. Namun jika menggunakan metode perpetual, maka ada dua pencatatan: kas dan penjualan, serta harga pokok penjualan dan pengurangan persediaan. Sistem perpetual mencatat persediaan secara rinci sejak pembelian hingga penjualan terjadi[14].
E.Deskripsi Data Laporan Keuangan
Secara umum, pencatatan transaksi di Elmeera Hijab dilakukan secara sederhana, yaitu dengan memisahkan antara pemasukan dan pengeluaran. Tujuan dari pencatatan ini adalah untuk memantau aliran kas dan memastikan setiap transaksi tercatat dengan baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun laporan keuangan.
Format pencatatan kas memuat pemisahan yang jelas antara pemasukan dan pengeluaran, yang terjadi dalam kegiatan operasional sehari-hari. Sistem ini tidak hanya membantu dalam mengelola aliran kas, tetapi juga memudahkan proses perencanaan serta pengawasan keuangan agar sesuai dengan standar yang berlaku [15].
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap Online Shop Elmeera Hijab mengenai penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM), dapat disimpulkan bahwa pencatatan transaksi hanya mencakup pemasukan dan pengeluaran tanpa adanya penyusunan laporan keuangan yang sistematis. Beberapa kelemahan dalam sistem pencatatan keuangan yang ditemukan meliputi:
1.Pendapatan hanya dicatat berdasarkan total penjualan harian tanpa klasifikasi akun.
2.Pengeluaran tidak dikelompokkan berdasarkan kategori beban operasional, administrasi, atau lainnya.
3.Tidak adanya laporan posisi keuangan yang mencatat aset, kewajiban, dan ekuitas.
4.Tidak adanya catatan atas laporan keuangan yang memberikan informasi tambahan terkait kebijakan akuntansi.
Kendala utama yang dihadapi dalam penyusunan laporan keuangan adalah kurangnya pemahaman pemilik usaha terhadap standar akuntansi serta tidak adanya tenaga kerja yang memiliki kompetensi dalam bidang keuangan. Selain itu, pencatatan masih difokuskan pada kebutuhan operasional sehari-hari tanpa adanya sistem yang lebih terstruktur. Sehingga kami merekomendasikan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan dan menyesuaikannya dengan SAK EMKM, beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh Elmeera Hijab antara lain:
1.Mengimplementasikan sistem pencatatan yang lebih terstruktur dengan mengelompokkan akun sesuai standar akuntansi.
2.Menyusun laporan keuangan yang terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan.
3.Menggunakan alat bantu akuntansi seperti software atau aplikasi pembukuan untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan keuangan
4.Mengikuti pelatihan atau workshop akuntansi bagi pemilik usaha untuk meningkatkan pemahaman mengenai SAK EMKM. Dengan adanya perancangan sistem laporan keuangan yang sesuai dengan SAK EMKM, diharapkan Elmeera Hijab dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan, mempermudah pengambilan keputusan bisnis, serta meningkatkan daya saing usaha dalam jangka Panjang.
Saran
Bagi Pemilik Usaha Elmeera Hijab
Sebaiknya mulai menerapkan pencatatan keuangan yang lebih sistematis dengan membagi akun ke dalam kategori yang sesuai. Menggunakan aplikasi atau sistem pembukuan sederhana untuk membantu pencatatan transaksi secara real-time. Mengikuti pelatihan atau bimbingan terkait akuntansi UMKM agar lebih memahami standar SAK EMKM.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan SAK EMKM pada UMKM di sektor fashion lainnya. Mengembangkan model pembukuan yang lebih spesifik dan mudah diterapkan bagi pelaku UMKM seperti Elmeera Hijab. Dengan adanya upaya peningkatan pemahaman dan implementasi sistem akuntansi yang lebih baik, diharapkan Elmeera Hijab dapat berkembang menjadi usaha yang lebih profesional dan berdaya saing tinggi di industri fashion.
Ucapan Terima Kasih
Dengan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih terutama kepada Tuhan YME karena atas Ridho-Nya peneliti mampu menyelesaikan artikel ilmiah ini. Kepada pihak terkait yang sudah membantu dalam pembuatan penulisan artikel penelitian ini. Kepada dosen pembimbing Bapak Heri Widodo, M.Si. Ak yang telah membimbing dan memberikan motivasi selama penyusunan artikel ini. Kepada teman-temanku dan terutama kepada kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan dan do’a serta teman-teman yang telah membantu dan mendukung proses penelitian yang telah dilakukan. Semoga artikel ilmiah ini dapat memberikan manfaat dan dapat dijadikan sumber informasi sebagai bahan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti lain.
[1] I. R. Afif, “Design of Financial Statement Preparation Based on SAK EMKM Using Microsoft Excel at Almira Handmade MSME,” Undergraduate Thesis, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia, 2019.
[2] A. Nafrizal, “Preparation of Financial Statements Based on SAK EMKM at Kopi Rejeki MSME,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia, 2020.
[3] N. Imamah, “Implementation of SAK EMKM at Nungpastel MSME,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia, 2019.
[4] Mulyadi, Accounting Systems. Jakarta, Indonesia: Salemba Empat, 2016.
[5] N. Q. Pramisti, “The 1997/1998 Monetary Crisis as Indonesia’s Darkest Economic Period,” Tirto.id, 2017.
[6] Indonesian Institute of Accountants, Statement of Financial Accounting Standards No. 1. Jakarta, Indonesia: IAI, 2019.
[7] E. Ramadhani, “Analysis of SAK EMKM Application in Abang Apple Store Financial Statements,” Journal of Accounting Studies, 2017.
[8] D. Rejeki and H. J. Dewi, “Analysis of Financial Statement Presentation Based on SAK EMKM at PT Bintang Wijaya Abadi,” Journal of Accounting and Business Krisnadwipayana, vol. 6, no. 1, 2019, doi:10.35137/jabk.v6i1.260.
[9] M. Z. I. Riadi, “SAK EMKM-Based Financial Application in Wooft Convection MSME,” Journal of Accounting Studies, 2017.
[10] Soewardjono, Accounting Theory: Engineering and Financial Reporting, 3rd ed. Yogyakarta, Indonesia: BPFE, 2015.
[11] Sugiyono, Interview Research Methods. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2005.
[12] Sugiyono, Validity of Qualitative Data in Observation. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2005.
[13] D. E. Kieso, J. J. Weygandt, and T. D. Warfield, Intermediate Accounting IFRS Edition, Vol. 2. Hoboken, NJ, USA: Wiley, 2014.
[14] D. E. Kieso, J. J. Weygandt, and T. D. Warfield, Intermediate Accounting IFRS Edition, Vol. 2, 3rd ed. Hoboken, NJ, USA: Wiley, 2014.
[15] R. Umar, S. Noholo, and Usman, “SAK EMKM-Based Accounting Application at Kedhaton Shop Gorontalo,” SEIKO Journal of Management and Business, vol. 6, no. 2, pp. 512–520, 2023.