Login
Section Education Accounting

Student Financial Literacy Determinants in Accounting Education

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Literasi Keuangan Mahasiswa dalam Pendidikan Akuntansi
Vol. 20 No. 4 (2025): November:

Ika Supriyaningsih (1), Imelda Dian Rahmawati (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, Indonesia

Abstract:

General Background Financial literacy is an essential competency for individuals in managing personal finances and making informed economic decisions. Specific Background University students, particularly accounting students, are assumed to possess higher financial knowledge due to their academic exposure, yet empirical findings remain inconsistent. Knowledge Gap Previous studies show mixed results regarding the role of demographic factors in shaping student financial literacy, indicating the need for context-specific investigation. Aims This study examines the relationship between gender, parents’ socioeconomic status, and allowance with financial literacy among accounting students at Muhammadiyah University of Sidoarjo. Results Using a quantitative explanatory approach with 62 respondents, the findings reveal that gender, parents’ socioeconomic status, and allowance are not statistically associated with students’ financial literacy, either partially or simultaneously. Novelty This study provides empirical evidence that demographic characteristics do not necessarily differentiate financial literacy levels among accounting students within a local Indonesian university context. Implications The findings suggest that financial literacy development should prioritize experiential learning, behavioral aspects, and structured financial education rather than relying solely on demographic assumptions.


Keywords: Financial Literacy, Accounting Students, Socioeconomic Status, Gender, Allowance


Key Findings Highlights:




  1. Demographic characteristics do not differentiate literacy levels among accounting students.




  2. Parental background variables show no statistical association with financial knowledge.




  3. Financial understanding appears independent of monthly student spending capacity.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Uang memiliki peran penting guna mendukung transaksi serta perdagangan dalam perekonomian. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah keuangan diberikan definisi selaku (1) segala hal yang berhubungan dengan uang, (2) aspek-aspek yang terkait dengan uang, (3) urusan yang berhubungan dengan uang, dan (4) keadaan uang itu sendiri. Sejak usia yang masih kecil, seseorang sudah dikenalkan pada uang selaku alat pembayaran dalam kehidupan sehari-hari. Namun, peran uang tidak hanya sebatas itu, karena uang juga berfungsi sebagai sarana untuk menyimpan nilai. Dengan cara menabung, kita dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan di masa depan [1]

Perkembangan pengetahuan mengenai keuangan makin pesat berbanding lurus bersama berkembangnya kebutuhan manusia yang makin komplek. Kemampuan yang ada pada individu memiliki keterkaitan bersama kecerdasan pribadi guna bersikap efektif dan pengetahuan terhadap literasi keuangan mampu menentukan keputusan jangka pendek ataupun jangka panjang dengan tak langsung untuk terhindar dari kesulitan ekonomi.

Literasi keuangan setiap individu perlu memiliki pemahaman finansial yang baik, termasuk kemampuan membaca dan menulis dalam konteks keuangan [2]. Hal ini sangat penting berkaitan dengan kompleksitas instrument keuangan serta keputusan keuangan yang harus diambil pada kehidupan keseharian. Bahkan, hal berikut pun berlaku bagi generasi muda yang tumbuh dalam masyarakat dengan landscape keuangan yang komplek. Dengan memiliki pengetahuan serta pemahaman yang lebih baik mengenai konsep serta risiko keuangan, kita mempu memberikan peningkatan pada kemampuan kita dalam mengambil keputusan keuangan yang bijaksana baik di kalangan orang dewasa maupun remaja.

Berdasarkan survey yang dilaksanakan oleh Bank Dunia di 2014, ditemukan bahwa pada kisaran 38% ataupun sekitar 2 milyar orang dewasa yang berusia di atas 15 tahun pada seluruh dunia memiliki kemungkinan tak mempunyai akses ke layanan keuangan formal. Mayoritas dari mereka berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut penelitian tersebut, sekitar 6% dari jumlah orang dewasa yang tak mempunyai akses pada jasa keuangan formal berada di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia berada pada peringkat ketiga terbesar di dunia setelah India dengan 21% dan Cina dengan 12% dalam hal jumlah masyarakat yang tak mempunyai akses terhadap layanan keuangan formal. [1]

Di tahun 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaksanakan survei Nasional Literasi Keuangan di 35 Provinsi pada negara Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwasanya indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia hanyalah mencapai 29,7%. Walaupun terjadi peningkatan dari tahun 2013 yang sebesar 21,8%, angka tersebut menunjukkan bahwa hanyalah kisaran 30 dari 100 penduduk Indonesia mempunyai pemahaman serta keyakinan yang memadai terkait dengan lembaga serta produk jasa keuangan. Rendahnya tingkat literasi keuangan ini mengakibatkan masih banyak masyarakat Indonesia yang menjadi korban investasi ilegal. Ketua Dewan Komisaris OJK juga mencatat bahwasanya pada kurun waktu 10 tahun terakhir, kerugian yang dikarenakan oleh investasi ilegal itu sendiri mencapai lebih dari Rp 100 triliun [3]

Persoalan berikut menjadi motivasi untuk individu guna memberikan peningkatan pada literasi keuangan, yaitu kemampuan untuk memahami dan mengelola informasi keuangan guna menciptakan suatu keputusan yang cerdas pada hal keuangan pribadi. Literasi keuangan melibatkan pemahaman tentang cara memberikan peningkatan pada aset, merancang rencana pensiun, kredit secara bijaksana, serta memberikan peningkatan pada tabungan melalui kesadaran serta perencanaan perorangan Tujuan dari literasi keuangan adalah untuk memberikan manfaat jangka panjang untuk semua lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Dengan memberikan peningkatan pada literasi keuangan, seorang individu yang dahulunya memiliki pemahaman yang terbatas atau bahkan tidak memiliki pemahaman sama sekali (not literate) dapat mencapai tingkat pemahaman yang baik (well literate).

Mahasiswa yakni individu yang membutuhkan pengetahuan serta keterampilan tentang pengelolaan keuangan pribadi dengan bijak yang akan mempengaruhi roda perekonomian negara. Secara umum, mahasiswa mulai memberjalani masa peralihan yang mulanya pengelolaan keuangan dilakukan pengaturannya oleh orang tuanya kemudian terdapat peralihan guna melakukan pengolalaan sendiri pada keuangan pribadi mereka [4]

Fakta di lapangan menunjukkan bahwasanya mahasiswa yang telah mengambil mata pelajaran terkait keuangan, ekonomi, dan bisnis di perguruan tinggi condong mempunyai tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi jika dilakukan perbandingan pada mahasiswa yang belum mengikuti mata pelajaran tersebut [4] Khususnya, mahasiswa Program Studi Akuntansi memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai keuangan dilakukan perbandingan pada mahasiswa yang berasal dari fakultas lainnya [5]

Fenomena berikut disebabkan oleh konten perkuliahan yang ada pada Program Studi Akuntansi yang mencakup akuntansi keuangan, analisis keuangan, dan pengelolaan keuangan. Muatan materi ini memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang literasi keuangan selaku dasar untuk melakukan pengelolaan serta pengambilan keputusan keuangan [6]. Hal ini membuat mahasiswa mempunyai sebuah skill melakukan pengelolaan pada keuangan pribadi mereka, yang kemudian berdampak pada kesejahteraan serta kesuksesan mereka pada masa mendatang. Akan tetapi demikian, tak seluruh mahasiswa Program Studi Akuntansi memiliki keterampilan yang baik dalam mengelola keuangan mereka sendiri. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa mengalami pengelolaan keuangan mereka yang mandiri untuk pertama kalinya selama masa kuliah, tanpa pengawasan orang tua [7]

Terdapat beberapa faktor yang terkait pada literasi keuangan, antara lain tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jenis kelamin, usia, dan status pekerjaan [7] Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi literasi keuangan, seperti jenis kelamin, usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, kelas di perguruan tinggi, fakultas, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, tempat tinggal, serta pengalaman kerja [8]

Ada perbedaan karakteristik antara jenis kelamin dapat berdampak pada perilaku keuangan individu [9] Studi menunjukkan bahwasanya laki-laki mempunyai tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Persoalan berikut memberikan indikasi bahwasanya laki-laki cenderung mempunyai tingkat kepercayaan yang lebih tinggi untuk menciptakan keputusan keuangan, sementara perempuan cenderung lebih hati-hati dalam menghadapi risiko dan memiliki kecenderungan untuk menghindari risiko. Selain itu, perempuan juga mungkin menghadapi tantangan dalam mengelola masalah keuangan secara efektif dilakukan perbandingannya pada laki-laki. Perbedaan berikut menunjukkan bahwasanya laki-laki dan perempuan mempunyai sebuah motivasi yang tidak serupa pada bidang keuangan.

Di samping hal itu, latar belakang orang tua, pekerjaan orang tua, dan jabatan sosial orang tua mampu memberikan pengaruh pada sikap seseorang pada berbagai aktivitas keuangan, seperti belanja, menabung, investasi, kredit, penganggaran, serta pengelolaan keuangan secara umum. Berdasar dari pernyataan oleh Ahmadi, status sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh terhadap perilaku serta pengalaman anak-anak mereka. Perbedaan tingkat status

sosial ekonomi mampu memberikan dampak terhadap persepsi terhadap objek fisik ataupun perilaku tertentu, yang kemudian mewujudkan sikap yang memiliki perbedaan pula. Jika seseorang memiliki persepsi positif pada karakteristik ataupun sifat objek tersebut, maka akan terbentuk sikap yang positif pula terhadap objek tersebut [10]

Adapun hal lain yang memberikan pengaruh pada literasi keuangan ialah uang saku yang diberi oleh orangtua kepada mahasiswa. Uang saku tersebut diberi berdasarkan pendapatan orang tua. Tingkat pendapatan orang tua bisa dinilai selaku tingkat penghasilan yang didapatkan orang tua responden selama sebulan baik dari penerimaan gaji, upah, maupun penerimaan dari hasil usaha [11]. Ada korelasi antara pendapatan orang tua dan pengetahuan keuangan (literasi keuangan). Tingkat pendapatan orang tua akan mempengaruhi sikap keuangan individu. Mahasiswa dengan orang tua yang mempunyai pendapatan tinggi akan mempunyai lebih banyak kesempatan guna mengembangkan keterampilan dalam mengelola keuangan mereka. Di sisi lain, mahasiswa dengan orang tua yang berpendapatan rendah akan menghadapi keterbatasan dalam uang saku yang diberi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu sanggup melakukan pengelolaan keuangan mereka secara bijaksana. Jika mahasiswa berasal dari keluarga dengan pengelolaan keuangan yang baik, mereka condong mengikuti sikap keuangan yang baik juga. Sikap keuangan yang baik mampu menciptakan literasi keuangan yang baik pula [12].

Studi dalam literatur juga mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan keuangan memiliki dampak signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa, termasuk dalam hal penganggaran, menabung, atau melakukan pembayaran tepat waktu [13]. Terdapatnya literasi keuangan yang memadai akan berpengaruh positif pada perilaku keuangan seorang individu, misalnya kemampuan untuk melakukan pengaturan serta pengalokasian keuangan secara tepat. Umumnya, alokasi dana dilakukan dalam sejumlah bidang, seperti investasi, tabungan, dsertaan konsumsi. Namun, pengalokasian yang paling bermanfaat untuk masa depan ialah investasi [11].

Program studi Akuntansi ialah satu di antara beberapa program studi yang mempunyai jumlah mahasiswa yang cukup besar di antara program studi lainnya yang terdapat pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Pada masa perkuliahan mahasiswa program studi akuntansi diberikan bekal pada materi-materi tentang akuntansi keuangan, manajemen keuangan serta yan lain dalam rangka memperluas pemahaman tentang keuangan dan ekonomi, serta meningkatkan pengetahuan keuangan ataupun literasi keuangan selaku bekal untuk melakukan pengelolaan serta menentukan keputusan keuangan yang mampu berdampak pada kesejahteraan serta kesuksesan pada masa mendatang, penting bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan mereka. Namun, tidak semua mahasiswa sanggup melakukan pengelolaan keuangan mereka secara baik sebab pada masa kuliah sering kali menjadi waktu pertama untuk mereka dalam melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri dengan tidak adanya pengawasan orang tua. Berdasar dari uraian yang sudah ditemui terdahulu, sehingga peneliti memiliki minat mengambil ataupun melakukan analisis lebih dalam tentang faktor-faktor literasi keuangan yang dituangkan dalam bentuk penelitian dengan judul” Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Literasi Keuangan (Studi pada Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)”.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksplanatori untuk menjelaskan pengaruh faktor jenis kelamin, status sosial ekonomi orang tua, dan uang saku terhadap literasi keuangan mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebar kepada 62 responden, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling berdasarkan populasi sebanyak 165 mahasiswa. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin (X1), status sosial ekonomi orang tua (X2), uang saku (X3) sebagai variabel bebas, serta literasi keuangan (Y) sebagai variabel terikat.

Analisis data dilakukan menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan kualitas instrumen, serta uji statistik non-parametrik (Mann-Whitney U dan Kruskal-Wallis) untuk menganalisis perbedaan median antar kelompok. Selain itu, regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, baik secara parsial maupun simultan. Koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur kontribusi variabel bebas terhadap literasi keuangan.

Hasil dan Pembahasan

Pengolahan Data

1.Pengujian Normalitas

Figure 1. Tabel 1 Hasil One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Sumber: Data Olahan Peneliti, 2024

Berdasarkan pengujian One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test yang dapat dilihat dari Tabel 4.14 memperlihatkan bahwasanya nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sejumlah 0,200 > alpha 0,05. Berdasarkan hal tersebut, terdapat kesimpulan jika nilai residual mempunyai distribusi normal.

2.Pengujian Multikolinearitas

Figure 2. Tabel 2. Hasil Pengujian Multikolinearitas

Sumber: Data Olahan Peneliti, 2024

Berdasar dari uji multikolinearitas yang dapat dilihat dari Tabel 4.15 menunjukkan bahwa nilai tolerance jenis kelamin sebesar 0,976 > alpha 0,05, pendidikan sebesar 0,539 > alpha 0,05, pekerjaan sebesar 0,765> alpha 0,05, dan penghasilan orang tua sebesar 0,156 > alpha 0,05, serta uang saku sebesar 0,176 > alpha 0,05 dan nilai VIF jenis kelamin sebesar 1,025 < 10,00, pendidikan sebesar 1,885 < 10,00, pekerjaan sebesar 1,308 < 10,00, dan penghasilan orang tua sebesar 6,410 < 10,00, serta uang saku sebesar 5,673 < 10,00. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas pada variabel bebas.

3.Pengujian Heteroskedastisitas

Figure 3. Gambar 1. Grafik Scatterplot Dependen Variabel (Penelitian, 2024)

Dari uji heteroskedastisitas yang dapat dilihat dari Gambar4.1 menunjukkan bahwa nilai-nilai sebaran data tidak ada yang jelas serta titik- titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 dan Y, maka dapat disimpulkan bahwa tak terjadi heterokedastisitas.

4.Uji T (Parsial)

Figure 4. Tabel 3. Uji Parsial Varaibel

Sumber: Data Olahan Peneliti, 2024

Berdasarkan pengujian parsial variabel yang bisa diamati berdasarkan Tabel 4.16 menunjukkan bahwa pengaruh jenis kelamin terhadap literasi keuangan sebesar -0.975 < 2,003, pendidikan sebesar -0,733 < 2,003, pekerjaan sebesar 1,917 < 2,003, dan penghasilan orang tua sebesar 1,471 < 2,003, serta uang saku sebesar -1,734

< 2,003 dan nilai P value jenis kelamin sebesar 0,334 > 0,05, pendidikan sebesar 0,467 > 0,05, pekerjaan sebesar 0,060 > 0,05, dan penghasilan orang tua sebesar 0,147 > 0,05, serta uang saku sebesar 0,088 > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel bebas (X) tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (Y).

5.Koefisien Determinasi

Figure 5.

Sumber: Data Olahan Peneliti, 2024

Koefisien determinasi menunjukkan tingkat ketetapan garis regresi yang digunakan untuk mengetahui berapa besar pengaruh suatu ariabel bebas (X1,X2,X3) secara bersama-sama terhadap variabel terikat (Y). Berdasarkan analisis pada Tabel 4.18 diketahui bahwa koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,113 (11,3%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kontribusi pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas (X1,X2,X3) secara bersama-sama terhadap variabel terikat (Y) adalah 11,3%.

Pembahasan

1.Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Literasi Keuangan

Berdasarkan analisis parsial yang terdapat dalam Tabel 4.16, ditemukan bahwa nilai thitung (-0,975) lebih kecil dari ttabel (2,003), dan nilai P-value (0,334) lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap literasi keuangan (Y). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam hal tingkat literasi keuangan. Kedua kelompok mahasiswa dianggap memiliki pengetahuan umum yang baik tentang pengelolaan keuangan dan produk keuangan, serta memiliki kepedulian terhadap keuangan pribadi.

Penemuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara mahasiswa laki- laki dan perempuan dalam pemahaman pengetahuan tentang pengelolaan keuangan [14]. Penelitian yang juga mendukung hal yang sama, yaitu tidak ada pengaruh dari variabel jenis kelamin terhadap literasi keuangan [15]. Kesetaraan hak dalam pendidikan dan akses informasi yang sama membuat mahasiswa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pengetahuan tentang produk keuangan.

Mahasiswa laki-laki dan perempuan di Fakultas Ekonomi mendapatkan pengetahuan keuangan yang sama selama perkuliahan, sehingga tidak ada perbedaan dalam tingkat literasi keuangan antara keduanya [16]. Kedua kelompok mahasiswa mendapatkan perlakuan dan pengetahuan yang sama dalam materi perkuliahan, sehingga baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang berbagai istilah keuangan, pengelolaan keuangan, dan produk keuangan [16]. Keterampilan mengelola keuangan yang baik harus dilatih sejak dini, seperti menabung, melakukan pembayaran secara mandiri, mengelola uang saku sendiri, atau bahkan melakukan pekerjaan tambahan untuk mendapatkan uang saku tambahan [17].

2.Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Literasi Keuangan

Berdasar uji parsial variabel yang bisa diamati berdasarkan Tabel 4.16 memperlihatkan bahwasanya nilai thitung < ttabel yaitu pendidikan sebesar -0,733 < 2,003, pekerjaan sebesar 1,917 < 2,003, dan penghasilan orang tua sebesar 1,471 < 2,003 dan nilai P value pendidikan sejumlah 0,467 > 0,05, pekerjaan sebesar 0,060 > 0,05, dan penghasilan orang tua sejumlah 0,147 > 0,05. Persoalan ini memperlihatkan bahwasanya status sosial ekonomi orang tua (X2) tak mempengaruhi secara parsial terhadap literasi keuangan (Y). Hal tersebut, sejalan dengan Widayati (2014) menunjukkan bahwa status sosial ekonomi keluarga tidak berpengaruh terhadap literasi keuangan.

Pendidikan orang tua tidak mempengaruhi cara dan kebiasaan pada anak dalam hal mengelola keuangan. Ketika anak telah menapaki jenjang yang lebih tinggi seperti ketika duduk di masa perkuliahan S-1 seharusnya sudah lebih siap mengelola keuangannya sendiri berdasarkan pengetahuan keuangan yang dimiliki [17]. Pendidikan orang tua tidak memberikan dampak yang begitu besar terhadap pengelolaan keuangan hal ini didasarkan pada gaya hidup, yang mana jika gaya hidup mewah yang diterapkan oleh anak tersebut maka tentunya pengetahuan yang diberikan sebelumnya oleh orang tua akan sia-sia. Gaya hidup mewah seringkali membuat individu kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka, karena mereka lebih fokus untuk memenuhi keinginan yang seringkali dipengaruhi oleh tren dan kebutuhan untuk tetap terlihat update [18]. Gaya hidup yang tidak sehat ini dapat diatasi melalui peran yang dimainkan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka, serta kemampuan untuk mengelola keuangan dengan efektif dan bijaksana.

Perilaku konsumtif yang dipicu oleh keinginan untuk mengikuti tren dan tidak tertinggal dari perkembangan zaman dapat mengarah pada ketidakseimbangan keuangan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Namun, dengan melibatkan orang tua dalam proses pengajaran dan pembentukan nilai-nilai yang baik terkait keuangan, individu dapat belajar untuk mengontrol pengeluaran mereka secara efektif dan melakukan perencanaan keuangan yang bijaksana. Melalui pendekatan yang efektif dan penuh perhitungan, individu dapat membangun kesadaran tentang pentingnya memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu sebelum memenuhi keinginan yang lebih luks. Orang tua dapat berperan sebagai mentor dan memberikan pemahaman tentang nilai- nilai keuangan yang sehat, membantu anak-anak untuk mengembangkan kebiasaan menabung, membuat anggaran, dan membuat keputusan pembelian yang cerdas.

Dengan cara ini, individu dapat mengatasi gaya hidup yang kurang baik yang didorong oleh kebutuhan untuk mengikuti tren dan mencapai kepuasan instant. Mereka akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan finansial yang sehat dan kemampuan untuk mengontrol pengeluaran mereka sesuai dengan prioritas dan kebutuhan yang sebenarnya.

Pekerjaan orang tua merupakan faktor yang tidak mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan terkait pengelolaan keuangan yang dilakukan. Terkadang pengelolaan keuangan yang tidak baik dipengaruhi oleh perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif adalah sikap seseorang dalam melakukan konsumsi dengan tujuan memenuhi keinginan mereka dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya terkait perkembangan

zaman dan tren mode. Faktor ekonomi keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya perilaku konsumtif, terutama pada mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan status sosial dan ekonomi yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa tingkat kecenderungan perilaku konsumtif dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan motivasi [19].

Keadaan ekonomi keluarga yang baik dan motivasi untuk membeli akan mendorong individu untuk memiliki perilaku konsumtif yang tinggi. Sebaliknya, keadaan ekonomi yang rendah dan motivasi untuk tidak berbelanja akan mendukung individu dalam mengurangi kecenderungan perilaku konsumtif.

Dalam konteks ini, faktor-faktor ekonomi dan motivasi memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumtif individu. Tingkat kecenderungan perilaku konsumtif akan bervariasi tergantung pada kondisi keuangan individu dan motivasi mereka terkait pembelian. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita dapat lebih memahami mengapa individu cenderung memiliki perilaku konsumtif yang tinggi atau rendah.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh [2], [11], dan [15], yang menyimpulkan bahwa pendapatan orang tua tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap literasi keuangan. Penelitian-penelitian tersebut menyatakan bahwa tingginya pendapatan orang tua bukanlah indikator langsung dari tingkat literasi keuangan mahasiswa.

Kurangnya peran keluarga dalam memberikan pengetahuan tentang keuangan kepada anak dapat mempengaruhi bagaimana anak tersebut mengelola keuangannya [2]. Pendapatan yang rendah tidak membuat seseorang menjadi buruk dalam mengelola keuangan, begitu pula pendapatan yang tinggi tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi baik dalam mengelola keuangan. Setiap individu memiliki pengelolaan keuangan yang unik sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman mereka. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan pengalaman mereka mengenai krisis keuangan, pendapatan yang diperoleh, dan penggunaan dana yang efektif sangat penting. Hal ini akan membantu individu dalam mencapai tujuan keuangan yang mereka inginkan [20].

3.Pengaruh Uang Saku Terhadap Literasi Keuangan

Berdasarkan pengujian parsial variabel yang bisa diamati berdasarkan Tabel 4.16 yang memperlihatkan bahwasanya nilai thitung < ttabel yaitu uang saku sebesar -1,734 < 2,003 dan nilai P value uang saku sebesar uang saku sebesar 0,088 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa uang saku (X3) tidak berpengaruh secara parsial terhadap literasi keuangan (Y).

Jumlah uang saku yang mahasiswa dapatkan baik dalam jumlah yang banyak mau pun sedikit tidak berpengaruh terhadap cara mereka mengontrol atau pun mengatur keuangan. Mahasiswa seringkali diberikan uang saku yang tidak sesuai dengan tujuannya. Beberapa mahasiswa bahkan merasa uang jajan yang diberikan kepada mereka setiap bulan tidak cukup, sehingga mereka meminta uang jajan untuk memenuhi konsumsi sendiri [21]. Mengklarifikasi jika uang saku memiliki hubungan yang negatif dan dampak yang kritis negatif dengan literasi keuangan [22]. Klarifikasi ini diperjelas dengan uang saku yang lebih rendah atau lebih merugikan, litersi keuangan akan lebih banyak. Kebalikannya, jika uang saku makin positif, literasi keuangan akan berkurang.

Jika tidak memiliki perbedaan financial behavior menurut tingkat literasi keuangan mahasiswa atau financial literacy tidak mempunyai pengaruh terhadap perilaku keuangan [23]. Perilaku keuangan yang baik belum tentu menandakan mahasiswa memiliki tingkat literasi keruangan yang baik pula meskipun dengan uang saku yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat terjadi jika mahasiswa tidak menerapkan literasi keuangan yang dimiliki untuk mengelola uang sakunya dengan bijak. Bahkan banyak mahasiswa yang mengerti mengenai literasi keuangan tetapi menggunakan uang sakunya secara tidak bertanggung jawab demi memenuhi keinginan dan bukan berdasarkan kebutuhan sehingga literasi keuangan tidak dipengaruhi oleh pengiriman uang saku perbulan [1].

Konsumsi erat kaitannya dengan uang saku, artinya semakin banyak uang jajan yang dimiliki mahasiswa maka akan semakin banyak pula yang dibelanjakan, terlepas dari prioritasnya. Karena merasa memiliki uang jajan yang cukup untuk membeli barang dan jasa, mereka menghabiskan seluruh uang jajannya. permintaan, tetapi dalam kategori rendah berperilaku berbeda dan ada juga beberapa pola konsumsi yang rasional. Dalam kondisi ini mungkin mereka sering merasa tidak cukup dana demi mencukupi kebutuhannya, jadi mereka bertindak menyimpan uang ekstra demi hal yang mendesak [21].

4.Pengaruh Jenis Kelamin, Status Sosial Ekonomi Orang Tua, dan Uang Saku secara Bersama-Sama Terhadap Literasi Keuangan

Berdasarkan pengujian F (pengujian serentak) variabel yang dapat dilihat dari Tabel 4.17 menunjukkan bahwa nilai Fhitung < Ftabel yaitu sebesar 1,420 < 2,377 dan 0,231 > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh variabel bebas (X) secara simultan terhadap variabel terikat (Y).

Jenis kelamin, status sosial ekonomi orang tua, dan uang saku tidak berpengaruh secara simultan terhadap literasi keuangan. Berbagai macam faktor untuk bisa mempengaruhi cara seseorang untuk memiliki kemampuan literasi keuangan yang baik, yaitu faktor intrinsik meliputi sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motivasi dan persepsi. Pengetahuan ekonomi berperan penting dalam membentuk perilaku konsumsi seseorang [21]

Dalam hal ini individu percaya jika kesuksesan atau ketidakberhasilan bergantung pada perilaku, tanggungan terhadap diri sendiri dan kemampuan untuk mencapai suatu tujuan . Hubungan financial literature, intern locus of control memiliki peran yang penting. Intern Locus of control merupakan sebuah metode individu melihat peristiwa yang mungkin bisa ditebak, perilaku pribadi berpengaruh di dalamnya [24]. Sehingga beberapa orang mengira bahwa kesuksesan atau kegagalan terjadi itu tergantung dari sikap, tanggung jawab, apa adanya sesuai usaha yang dilakukannya sendiri.

Literasi keuangan disebut pengetahuan dalam hal keuangan sebagai salah satu tindakan ekonomi pembangunan sosial, yang telah berjalan lama dan turun- temurun. Pengetahuan keuangan sangat penting bagi dasar setiap orang untuk menghindari masalah keuangan, serta satu hal yang sangat penting dari waktu ke waktu. Literasi keuangan adalah pemahaman tentang pengetahuan konsep keuangan yang kreatif sehingga mampu untuk mengambil keputusan yang efektif tentang uang [25]. Dalam masa perkuliahan mahasiswa yang mendapatkan materi tentang keuangan maupun ekonomi di kelas, seharusnya dapat memperkaya pengetahuan tentang keuangan ataupun literasi keuangan. Namun, sebagian mahasiswa masih tidak bisa memahami cara mengelola keuangan pribadi dengan baik dan benar [16].

Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan dan dengan mengacu pada tujuan penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:Jenis kelamin (X1) tidak berpengaruh secara parsial terhadap literasi keuangan (Y) pada mahasiswa Prodi Akuntasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Status sosial ekonomi orang tua (X2) tidak berpengaruh secara parsial terhadap literasi keuangan (Y) pada mahasiswa Prodi Akuntasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Uang saku (X3) tidak berpengaruh secara parsial terhadap literasi keuangan (Y) pada mahasiswa Prodi Akuntasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jenis kelamin, status sosial ekonomi orang tua, dan uang saku tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap literasi keuangan pada mahasiswa Prodi Akuntasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dan jurnal ini dengan baik. Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Orang tua dan keluarga tercinta, atas doa, dukungan, dan motivasi tiada henti selama proses pendidikan hingga selesainya karya ini, serta seluruh dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan dukungan selama masa studi. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan semangat, kerja sama, dan bantuan dalam berbagai bentuk selama proses penyusunan skripsi dan jurnal ini.Dan juga semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

References

[1] F. Soraya, Money and Financial Literacy in Daily Life. Bandung, Indonesia: University Press, 2020.

[2] A. Lusardi, “Financial Literacy: An Essential Tool for Informed Consumer Choice,” National Bureau of Economic Research Working Paper, no. 14084, 2008.

[3] R. Alenda, Financial Literacy Report in Indonesia: Case Studies and Developments. Jakarta, Indonesia: Financial Services Authority, 2021.

[4] R. Koto, The Role of Financial Education on Accounting Students’ Financial Literacy. Medan, Indonesia: Universitas Negeri Medan, 2021.

[5] T. Widayati, Determinants of Financial Literacy Among Accounting Students. Yogyakarta, Indonesia: Universitas Gadjah Mada, 2012.

[6] R. Yunita, The Role of Financial Education in Shaping Student Financial Literacy. Jakarta, Indonesia: PT Gramedia, 2020.

[7] T. Gu and A. Koto, Factors Affecting Financial Literacy. Jakarta, Indonesia: Academic Publisher, 2019.

[8] E. N. F. Bestari, Analysis of Demographic Factors and Financial Literacy. Surabaya, Indonesia: Economic Publisher, 2012.

[9] N. Syuiswati, “Differences in Financial Behavior Based on Gender,” Journal of Psychology and Economics, vol. 7, no. 1, pp. 34–44, 2019.

[10] P. Suciana, “Parents’ Socioeconomic Status and Student Financial Literacy,” Journal of Social Sciences, vol. 8, no. 3, pp. 89–101, 2020.

[11] M. Herawati, “The Relationship Between Parents’ Income and Student Financial Literacy,” Journal of Educational Economics, vol. 12, no. 1, pp. 67–78, 2020.

[12] E. S. R. Andrayanti, “Parents’ Income and Financial Literacy Among University Students,” Journal of Economic Education, vol. 15, no. 2, pp. 45–56, 2024.

[13] A. A. H. K. S. Ozdemir, “Financial Literacy and Students’ Financial Behavior,” Journal of Financial Education, vol. 45, no. 2, pp. 56–68, 2019.

[14] T. Apriyanti, A. Suherman, and M. Sari, “Determinants of Student Financial Literacy: Evidence from UPN Veteran Yogyakarta,” Behavioral Accounting Journal, vol. 4, no. 1, pp. 1–10, 2021.

[15] G. Sakinah and B. Mudakir, “Financial Literacy of Undergraduate Students at Diponegoro University,” Journal of Development Economics, vol. 1, no. 2, pp. 54–67, 2018.

[16] I. Ahmad and F. Fadrul, “Gender, GPA, and Work Experience as Determinants of Financial Literacy,” Journal of Economics, Business, and Accounting, vol. 2, no. 1, pp. 41–55, 2018.

[17] E. D. A. Dewi, Comparative Study of Financial Literacy Among University Students. Malang, Indonesia: Universitas Negeri Malang, 2018.

[18] R. D. A. P. Z. Alwi, “Spiritual Intelligence, Hedonistic Lifestyle, and Personal Financial Management,” Minds Journal of Management and Inspiration, vol. 5, no. 1, pp. 149–162, 2018.

[19] V. A. Aningsih and A. Soejoto, “Parents’ Socioeconomic Status and Student Economic Literacy,” Journal of Economic Education, Management, and Finance, vol. 2, no. 1, pp. 11–21, 2018.

[20] A. B. Pratama and D. A. Wulandari, “The Role of Parents in Improving Early Childhood Financial Literacy,” Journal of Early Childhood Education, vol. 6, no. 1, pp. 45–55, 2022.

[21] D. Indraswari, Financial Literacy, Gender, Allowance, and Student Consumptive Behavior. Yogyakarta, Indonesia: Universitas Islam Indonesia, 2022.

[22] I. R. Megasari, “Parents’ Financial Management Learning and Student Financial Literacy,” Journal of Economics Education and Entrepreneurship, vol. 2, no. 1, pp. 58–66, 2014.

[23] N. Rizkiana, Allowance, Gender, Academic Ability, and Personal Financial Management Behavior. Yogyakarta, Indonesia: Universitas Negeri Yogyakarta, 2016.

[24] A. Nugroho and V. Rochmawati, “Internal Locus of Control and Student Financial Behavior,” Journal of Economics and Business, vol. 10, no. 1, pp. 45–56, 2021.

[25] A. Capuano and I. Ramsay, “Financial Literacy and Financial Behaviour: An Australian Perspective,” University of Melbourne Legal Studies Research Paper, no. 540, 2012.