Login
Section Finance Management

Company Growth, Profitability, and Capital Structure in Food and Beverage Firms

Pertumbuhan Perusahaan, Profitabilitas, dan Struktur Modal di Perusahaan Makanan dan Minuman
Vol. 20 No. 1 (2025): February :

Alliansi Wulan Fafarita (1), Nihlatul Qudus Sukma Nirwana (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Capital structure decisions play a crucial role in maintaining corporate financial stability. Specific Background: Food and beverage companies face dynamic funding needs due to operational expansion and market competition. Knowledge Gap: Empirical evidence on how company growth and profitability relate to capital structure in this sector remains limited for the 2019–2023 period. Aims: This study investigates the relationship between company growth, profitability, and capital structure. Results: Using multiple linear regression on 19 food and beverage companies listed on the Indonesia Stock Exchange, the findings indicate that both company growth and profitability are significantly associated with capital structure. Novelty: This study provides updated empirical evidence using recent financial data in the Indonesian food and beverage sector. Implications: The results offer practical insights for corporate managers in formulating financing strategies based on firm growth and profitability performance.


11545 Other,+Report_JURNAL+Alli…



Highlight & Keyword (Bold, English)

Highlights:




  • Company growth is associated with capital structure




  • Profitability shows a significant relationship with leverage




  • Food and beverage sector financing characteristics




Keywords: Company Growth, Profitability, Capital Structure, Food and Beverage Firms, Financial Structure

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Latar Belakang

Pasar modal ialah pilihan untuk memperoleh dana yang digunakan sebagai sumber pembiayaan kegiatan operasional dan mengembangkan perusahaan. Dalam memperoleh pendanaan perusahaan memiliki berbagai opsi, yakni melalui sumber internal ataupun eksternal. Pendanaan internal biasanya didapat melalui penggunaan laba yang ditahan perusahaan, sedangkan pendanaan eksternal biasanya didapat dari kreditor salah satunya bank dan penanam modal. Keputusan yang diambil oleh manajer perusahaan tidak hanya terkait dengan pembiayaan, tetapi juga terkait dengan struktur kapital. Menurut [1], struktur kapaital merupakan gabungan dari liability, saham preferen, dan ekuitas biasa dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian, dari penelitian diatas diartikan bahwa modal atau dana merupakan hal yang penting bagi perusahaan, karena perusahaan selalu membutuhkan dana untuk menjalankan operasionalnya.

Perusahaan membutuhkan modal atau dana sebagai dasar untuk pertumbuhan dan pengembangan perusahaan. Tanpa modal, perusahaan yang sedang dikembangkan tidak dapat maju. Oleh karena itu, modal dapat dianggap sebagai inti atau kekuatan utama perusahaan. Kebutuhan dana perusahaan umumnya dipenuhi melalui modal internal, pendanaan jangka panjang, dan pendanaan jangka pendek. Pendanaan jangka panjang digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, sedangkan pendanaan jangka pendek dapat diperoleh melalui hutang jangka pendek atau kewajiban lancar. Struktur modal memiliki peran penting dalam perusahaan karena dapat mempengaruhi optimalisasi operasional perusahaan.

Struktur modal memegang peran yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Ketika struktur modal perusahaan optimal, investor akan tertarik untuk berinvestasi di dalamnya. Namun, jika struktur modal tidak optimal, investor mungkin enggan untuk mempertimbangkan perusahaan sebagai tempat untuk berinvestasi. Umumnya, perusahaan akan menggunakan sumber pendanaan internal terlebih dahulu. Namun, jika dana internal tidak mencukupi untuk mendukung operasional perusahaan, perusahaan dapat mengambil pinjaman. Pentingnya investasi ini terkait erat dengan struktur modal, yang merupakan elemen kunci yang mendukung kegiatan investasi. Menurut [2], struktur modal mencerminkan proporsi keuangan perusahaan, yaitu perbandingan antara modal yang berasal dari utang jangka panjang (long-term liabilities) dan modal sendiri (shareholders' equity) yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan. Pertumbuhan perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Dalam penelitian ini, pertumbuhan perusahaan digunakan sebagai indikator untuk mengevaluasi prospek perusahaan di masa depan dengan mengukur perubahan total aset perusahaan. Jika aset perusahaan terus meningkat, ini menandakan bahwa perusahaan sedang mengalami tahap ekspansi. Namun, pertumbuhan yang pesat juga membutuhkan dana yang besar, sehingga terkadang perusahaan perlu mengambil pendanaan eksternal melalui utang.

Profitabilitas adalah salah satu faktor yang memiliki dampak pada struktur modal perusahaan karena persyaratan bagi perusahaan untuk terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki tingkat keuntungan yang tinggi, yang menarik minat investor. Profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Kinerja manajemen dianggap baik jika mereka dapat mengelola tingkat profitabilitas dengan hasil maksimal, yang sering diukur dengan membandingkan laba perusahaan dengan standar keberhasilan yang telah ditetapkan. Profitabilitas juga mempengaruhi keputusan manajemen dalam penggunaan dana operasional.

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan dalam industri Food and Beverages dengan rentang waktu pengamatan antara tahun 2019 hingga 2023. Pemilihan perusahaan Food and Beverages sebagai subjek penelitian didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, perusahaan Food and Beverages merupakan bagian dari sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan memiliki penjualan yang stabil dibandingkan dengan kategori perusahaan manufaktur lainnya. Kedua, perusahaan Food and Beverages dikenal sebagai sektor yang relatif lebih tahan terhadap krisis, karena produk-produk yang dihasilkan tetap dibutuhkan oleh konsumen baik dalam situasi krisis maupun normal. Dalam kondisi krisis, konsumen cenderung memprioritaskan kebutuhan dasar dan mengurangi pengeluaran untuk barang-barang sekunder. Selain itu, bahan baku yang digunakan dalam produksi perusahaan Food and Beverages juga mudah diperoleh. Peneliti juga ingin mengetahui kapasitas perusahaan dalam memaksimalkan struktur kapital melalui pertumbuhan perusahaan dan profitabilitas yang dijalankan oleh perusahaan.

Melihat hasil penelitian sebelumnya yang telah menganalisis pengaruh-pengaruh berbagai faktor terhadap struktur modal, namun belum menunjukkan hasil yang konsisten, peneliti menjadi tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Studi Empiris Pada Perusahaan Food and Beverages Periode 2019-2023).

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Apakah terdapat pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap struktur modal?

Apakah terdapat pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal?

Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya memberikan manfaat dalam menemukan hipotesis atau jawaban sementara dalam penelitian ini, dan dapat digunakan sebagai referensi untuk perbandingan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Berdasarkan penelitian yang terdapat dalam jurnal-jurnal sebelumnya yang memiliki topik serupa, hasilnya diuraikan dalam tabel berikut :

1. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Amalia dan Alfianti dengan judul "Pengaruh Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di BEI periode 2009-2013", menyatakan bahwa profitabilitas (ROA) memiliki pengaruh positif terhadap struktur modal, dan ukuran perusahaan juga memiliki pengaruh positif terhadap struktur modal. Penelitian ini fokus pada perusahaan Food and Beverages, dan sampel yang digunakan terdiri dari 7 perusahaan yang memenuhi kriteria selama lima tahun dari tahun 2009 hingga 2013.

2. Penelitian Kanita dengan judul pengaruh struktur aktiva dan profitabilitas terhadap struktur modal perusahaan makanan dan minuman menyimpulkan bahwa struktur aktiva mempunyai hubungan positif dengan struktur modal namun tidak berpengaruh secara signifikan dan profitabilitas memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman dengan sampel yang digunakan sebanyak 10 perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tiga tahun mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.

3. Penelitian Widyaningrum dengan judul pengaruh profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal perusahaan (Studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2013) menyimpulkan bahwa profitabilitas (ROA) tidak berpengaruh negatif terhadap struktur modal, Struktur Aktiva (SA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan (SIZE) tidak berpengaruh positif terhadap sruktur modal perusahaan. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Busa Efek Indonesia selama empat tahun mulai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2013.

4. Penelitian Setiorini yang berjudul pengaruh ukuran perusahaan, struktur aktiva, dan profitabilitas terhadap struktur modal perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ( studi kasus pada tahun 2013-2015) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal, variabel struktur aktiva tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal dan variabel profitabilitas memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal sedangkan secara simultan ukuran perusahaan, struktur aktiva dan profitabilitas secara bersama-sama berpengaruh terhadap struktur modal.Objek pada penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverage dengan jumlah sampel sebanyak 16 perusahaan selama tiga tahun mulai dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015.

5. Penelitian Anisa dengan judul pengaruh profitabilitas dan struktur aktiva terhadap struktur modal dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi menyimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal, struktur aktiva berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh profitabilitas dan struktur aktiva terhadap struktur modal. Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor makanan dan minuman yang diambil datanya mulai dari tahun 2012 sampai dengan 2018.

6. Penelitian Putri dengan judul pengaruh struktur aktiva dan profitabilitas terhadap struktur modal (studi pada perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013) menyimpulkan bahwa variabel struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.objek pada penelitian ini adalah perusahaan real estate dan property dan sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 31 perusahaan selama satu tahun yaitu tahun 2013.

7. Penelitian Suryaman dengan judul pengaruh profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2012 menyimpulkan bahwa secara parsial variabel profitabilitas berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap struktur modal, struktur aktiva berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktu rmodal sedangkan secara simultan profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan sampel penelitian 139 perusahaan dan 45 perusahaan terpilih sesuai kriteria sampel selama empat tahun sehingga jumlah observasi sebanyak 180 sampel mulai dari tahun 2009 sampai dengan 2012.

8. Penelitian Nadzirah, dkk dengan judul pengaruh ukuran perusahaan dan profitabilitas terhadap struktur modal menyimpulkan bahwa secara simultan ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal sedangkan secara parsial ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan property and real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

9. Penelitian Batubara, dkk dengan judul pengaruh struktur aktiva, ukuran perusahaan dan profitabilitas terhadap struktur modal (studi pada perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2015) menyimpulkan bahwa secara simultan variabel struktur aktiva, ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh secara bersama sama terhadap struktur modal sedangkan secara parsial struktur aktifa berpengaruh terhadap struktur modal, ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal dan profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman dengan sampel penelitian 14 perusahaan selama empat tahun mulai dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2015.

10. Penelitian Safitri dan Akhmadi dengan judul pengaruh profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan terhadap struktur modal dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderating menyimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal, pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan mampu memoderasi hubungan profitabilitas terhadap struktur modal Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor pertanian dengan sampel penelitian sebanyak 13 perusahaan pertanian selama enam tahun mulai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015.

11. Penelitian Tijow,dkk dengan judul pengaruh struktur aktifa dan profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menyimpulkan bahwa secara parsial struktur aktiva berpengaruh positif terhadap struktu rmodal dan profitabilitas berpengaruh negatif terhadap struktur modal sedangkan secara simultan struktur aktiva dan profitabilitas secara bersama-sama berpengaruh terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan sektor industri barang konsumsi dan sampel yang digunakan sebanyak 39 perusahaan selama tiga tahun mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016.

12. Peneltian Astuty dengan judul pengaruh profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia menyimpulkan bahwa profitabilitas (ROA) berpengaruh signifkan terhadap struktur modal (DER) dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER) sedangkan secara simultan Profitabilitas (ROA) dan ukuran perusahaan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Objek pada penlitian ini adalah perusahaan transpostasi dan sampel yang digunakan sebanyak 9 perusahaan dengan pengamatan yang dilakukan selama empat tahun mulai dari tahun 2008 sampai tahun 2011.

13. Penelitian Rumalutu dengan judul pengaruh profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI menyimpulkan bahwa profitabilitas, strukur aktiva, dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh signifkan terhadap struktur modal perusahaan manufaktur sedangkan secara parsial profitabilitas memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal perusahaan manufaktur, struktur aktiva memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap struktur modal perusahaan manufaktur dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap struktur modal perusahaan manufaktur. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur selama tiga tahun mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016.

14. Penelitian Andika dan Sedana dengan judul pengaruh profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal menyimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpegaruh terhadap struktur modal, struktur aktiva berpengaruh positif terhadap struktur modal, dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal . objek pada penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan sampel yang digunakan sebanyak 14 perusahaan mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017.

15. Penelitian Andari dengan judul pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moerasi pada perusahaan Food and Beverages tahun 2014 - 2017 di BEI menyimpulkan bahwa variabel profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan variabel moderasi ukuran perusahaan terbukti signifikan dalam mempengaruhi profitabilitas terhadap struktur modal. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan sampel yang digunakan sebanyak 12 perusahaan dari 18 perusahaan dengan kriteria sampel selama empat tahun mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017.

Hubungan Antar Variabel

a. Pengaruh pertumbuhan perusahaan terhadap struktur modal.

Pertumbuhan perusahaan merupakan ukuran permintaan dari konsumen dan tingkat daya saing perusahaan di dalam industri bisnis. Selain itu, pertumbuhan perusahaan juga mencerminkan keberhasilan investasi di masa lalu dan dapat digunakan sebagai prediksi pertumbuhan di masa depan. Tingkat pertumbuhan yang meningkat menunjukkan kinerja pendapatan yang baik, yang berdampak pada peningkatan pembayaran dividen. Hal ini dapat menarik minat investor dan calon investor untuk berinvestasi dalam perusahaan tersebut. Selain itu, pertumbuhan perusahaan yang kuat juga memberikan keyakinan kepada pemberi pinjaman modal tentang kinerja perusahaan. [3] menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki penjualan yang stabil cenderung dapat mengambil hutang dalam jumlah yang lebih besar dan menghadapi beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Pertumbuhan perusahaan dapat diukur dengan melihat peningkatan penjualan dari tahun ke tahun. Jika nilai perbandingan tersebut semakin tinggi, maka pertumbuhan perusahaan dianggap semakin baik. Dengan demikian, perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang tinggi memiliki lebih banyak kepercayaan dalam menggunakan hutang, sehingga struktur modalnya menjadi lebih optimal [4]. Sebaliknya, jika pertumbuhan perusahaan rendah, perusahaan menjadi kurang aman dalam menggunakan hutang dan struktur modalnya menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki penjualan yang stabil cenderung memiliki keamanan lebih dalam memperoleh pinjaman yang lebih besar dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki penjualan yang tidak stabil. Secara umum, investor mengasumsikan bahwa jika faktor-faktor lain tetap, perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang lebih cepat harus lebih mengandalkan sumber dana internal daripada pendanaan eksternal. Selain itu, biaya yang terkait dengan emisi saham biasa lebih tinggi daripada biaya yang terjadi saat perusahaan mengeluarkan utang, hal ini mendorong perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat untuk lebih mengandalkan utang sebagai sumber pendanaan.

b. Pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal

Tingkat profitabilitas dapat mencerminkan kemampuan sebuah perusahaan untuk membiayai kegiatan operasionalnya sendiri. Perusahaan yang memperoleh keuntungan yang tinggi dari investasinya cenderung memiliki struktur modal yang lebih rendah karena ketergantungan yang relatif rendah terhadap hutang [5].

Metode penelitian

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan data sekunder sebagai sumber data [6]. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laporan tahunan Pada Perusahaan Food and Beverage Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2019-2023.

Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif serta menggunakan pengujian hipotesis untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel. Sebagai langkah awal peneliti mencari acuan studi literature dari jurnal, artikel, maupun penelitian terdahulu yang berhubungan dengan variabel Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal. Tahap kedua dan selanjutnya peneliti menetapkan rumusan masalah, menentukan hipotesis, dan data-data yang akan diperlukan. Pengumpulan data berasal dari data sekunder berupa data historis yang diperoleh dari berbagai sumber melalui media perantara. Data sekunder tersebut meliputi buku referensi, literature, laporan keuangan dan informasi Struktur Modal.

Lokasi Penelitian

Penelitian ini berfokus pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI yang berada di galeri Bursa Efek Indonesia Universitas Muhammadiyah Sidoarjo kampus 1 yang berada di Jl Mojopahit no 666B

Definisi Operasional, Ide4ntifikasi Variabel dan Indikator Variabel

a. Definisi Operasional

Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara variabel pertumbuhan perusahaan dan profitabilitas terhadap struktur modal dan nilai perusahaan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan Food And Baverage di Bursa Efek Indonesia. Obyek dari penelitian ini adalah variabel yang mempengaruhi struktur modal dan nilai perusahaan yang diantaranya adalah pertumbuhan perusahaan dan profitabilitas pada perusahaan Food And Baverage di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2019-2023. Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah Pertumbuhan Perusahaan (X1) dan Profitabilitas (X2). Variabel intervening dalam penelitian ini adalah Struktur Modal (Y).

Variabel penelitian ini adalah variabel dependen dan independen. Berikut merupakan definisi operasional variabel dalam penelitian antara lain:

1. Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Struktur modal (capital structure) terkait dengan pendanaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur melalui perbandingan antara utang jangka panjang dan modal sendiri [7]. Dalam penelitian ini, struktur modal merupakan variabel dependen. Menurut [8], rasio DER digunakan untuk menggambarkan perbandingan antara hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan, serta mencerminkan kemampuan modal sendiri untuk memenuhi kewajiban. Secara matematis, diformulasikan sebagai berikut:

Figure 1.

2. Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Pertumbuhan Perusahaan (X1)

Aset merupakan aktiva yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Semakin besar aset, diharapkan bahwa hasil operasional perusahaan juga semakin besar. Peningkatan aset yang diikuti dengan peningkatan hasil operasional akan meningkatkan kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar, seperti kreditor, terhadap perusahaan, proporsi hutang dalam struktur modal akan semakin besar dibandingkan dengan modal sendiri. Hal ini didasarkan pada keyakinan kreditor bahwa dana yang mereka investasikan dalam perusahaan dijamin oleh besarnya aset yang dimiliki perusahaan [9]. Pertumbuhan aset menunjukkan bahwa mereka merupakan aktiva yang digunakan dalam operasional perusahaan. Manajer dalam bisnis perusahaan cenderung lebih suka berinvestasi pada pendapatan setelah pajak dan berharap kinerja yang lebih baik dalam pertumbuhan keseluruhan perusahaan. Untuk mengukur pertumbuhan perusahaan, dapat digunakan rasio pertumbuhan aset (AG) yang dihitung dengan membandingkan total aset pada tahun tertentu (tahun ke-t) dengan total aset pada tahun sebelumnya (tahun ke t-1), kemudian membaginya dengan total aset pada tahun sebelumnya (tahun ke t-1).

Figure 2.

b. Profitabilitas (X2)

Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan [10]. Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan menggunakan Return On Equity (ROE). Menurut [11], ROE adalah sebuah rasio yang mengindikasikan hasil yang diperoleh perusahaan berdasarkan jumlah aset yang digunakan. Dengan kata lain, ROE adalah rasio yang menunjukkan efisiensi penggunaan aset oleh perusahaan. Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan menggunakan ROE.

Figure 3.

b. Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder berupa laporan tahunan dari Perusahaan Food and Beverage Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2019-2023. Dari data-data yang sudah terkumpul akan dapat dibagi menjadi variabel independen dan variabel dependen. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel untuk kemudian dijadikan sebagai tolak ukur pengumpulan data.

Indikator Variabel

Figure 4. Tabel 1. Indikator Variabel

Populasi dan Sampel

a. Populasi

[12] menjelaskan bahwa populasi adalah suatu wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi penelitian merujuk pada keseluruhan (universum) obyek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan lain sebagainya. Dengan demikian, obyek-obyek ini dapat dijadikan fokus penelitian. Berdasarkan definisi di atas, kita dapat memahami bahwa populasi merujuk pada seluruh obyek penelitian yang memiliki karakteristik khusus yang memungkinkan peneliti untuk menyimpulkan hal-hal mengenai obyek tersebut. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah semua perusahaan Food and Beverages yang berjumlah 40 perusahaan, dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama empat tahun dari 2019 hingga 2023.

b. Sampel

Menurut [13], sampel merupakan bagian dari populasi yang mencerminkan jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ini, digunakan teknik pengambilan sampel non-probabilitas dengan metode purposive sampling. Non-probabilitas sampling adalah metode pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih sebagai sampel [14]. Purposive sampling, pada gilirannya, merupakan teknik penentuan sampel yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu [15].

Kriteria dari pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2019 – 2023.

2. Menyajikan laporan keuangan lengkap pada periode tahun 2019 – 2023

3. Perusahaan yang tidak suspend pada tahun penelitian

Ada 19 perusahaan yang digunakan sampel , sebagai berikut :

Figure 5. Tabel 2. Kriteria penelitian

Dari kriteria yang telah ditetapkan diatas, maka ditentukan daftar perusahaan yang memenuhi kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Figure 6. Tabel 3. Daftar Sampel Penelitian

Jenis dan Sumber Data

a. Jenis Data

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif, yang melibatkan penggunaan angka dalam proses pengumpulan data, interpretasi data, dan presentasi hasil penelitian. Sesuai dengan [16], untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kesimpulan penelitian, penting untuk menyajikan data dalam bentuk tabel, grafik, diagram, gambar, atau visualisasi lainnya.

b. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. [17], menjelaskan bahwa data sekunder adalah sumber data yang tidak diperoleh secara langsung oleh peneliti. Data sekunder merupakan data yang mendukung data primer, seperti buku, catatan, dan literatur yang relevan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini, data sekunder yang digunakan berasal dari laporan keuangan perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam rentang waktu 2019-2023.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merujuk pada metode atau cara yang digunakan oleh seorang peneliti untuk menghimpun data [18]. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka pada jurnal-jurnal dan buku-buku akuntansi guna memperoleh dasar teori yang komprehensif terkait dengan variabel penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian tahun 2019-2023, yang diperoleh melalui situs resmi BEI. Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penggunaan data sekunder yang tersedia di situs Bursa Efek Indonesia.

Teknik Analisis

Analisis data penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif merupakan bentuk analisa data yang berupa angka-angka dan dengan menggunakan perhitungan statistik untuk menganalisa suatu hipotesis. Analisa data kuantitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan, kemudian mengolahnya dan menyajikannya dalam bentuk tabel, grafik, dan output analisis lain yang digunakan untuk menarik kesimpulan sebagai dasar pengambilan keputusan. Teknik analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan Regresi Linear Berganda yang menjelaskan pengaruh antara variable terikat dengan beberapa variable bebas. Regresi Linear Berganda adalah regresi yang digunakan untuk menguji apakah profitabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi dengan variabel bebasnya [19]. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan SPSS (Statistical Package for Social Science) Versi 27 sebagai alat untuk menganalisis data. Analisis ini diawali dengan statistik deskriptif, dan Uji Asumsi Klasik. Uji asumsi klasik ini terdiri dari Uji Multikolinearitas, Uji Normalitas, Uji Heterokedasitas, Dan Uji Autokorelasi. Selanjutnya data yang terkumpul dilakukan analisis regresi berganda dan uji hipotesis yang berupa koefisien determinasi (R2 ), Koefisien korelasi (R), dan uji t.

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk dapat menggambarkan berbagai karakteristik data yang berasal dari suatu sampel. Statatistik deskriptif seperti mean, median, modus, presentil, desil, quartile berupa bentuk analisis angka maupun gambar/diagram. Dalam statistik deskriptif ini diolah pervariabel. Dalam penelitian ini, digunakan untuk mengetahui gambaran tentang Pertumbuhan Perusahaan , Profitabilitas , dan Struktur Modal.

2. Uji Asumsi Klasik

Model Regresi Linear Berganda digunakan dalam pengujian hipotesis untuk dapat memenuhi uji asumsi klasik dalam penelitian yang dilakukan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dapat menghindari adanya estimasi yang bias karena tidak semua data dapat menggunakan model regresi.

a . Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian perlu dilakukan karena dalam menguji model regresi berganda apakah dalam penelitian tersebut variabel pengganggu atau nilai residualnya memiliki distribusi normal atau tidak. Uji Kolmogorov Smirnov satu arah juga dapat untuk menguji uji normalitas data. Menilai nilai signifikansi Jika signifikannya > 0,05 maka variabel berdistrubusi normal dan sebaliknya jika signifikannya < 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal [20].

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dimaksudkan jika dalam penelitian dengan model regresi yang dilakukan terjadi korelasi antar variabel bebas (independen). Metode yang digunakan untuk menguji adanya multikoliniearitas ini dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflantion factor (VIF). Batas yang ditentukan untuk menunjukkan adanya multikolinearitas atau tidak dari nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.

c. Uji Heterokedasitas

Heterokedasitas mempunyai tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance antara residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance antara residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka dapat diartikan dengan homokedasitas dan jika berbeda diartikan dengan heterokedasitas. Model regresi yang baik yaitu yang homokedasitas atau yang tidak terjadi heterokedasitas.Untuk mengetahui ada atau tidaknya heterokedasitas pada penelitian ini, maka penelitian ini diuji dengan cara melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dan dengan residualnya (SRESID). Dasar analisis yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya heterokedasitas adalah sebagai berikut:

1. Jika dalam pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu secara teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka menandakan telah terjadinya heterokedasitas.

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta terdapat titik yang menyebar di atas dan di bawah angka 0 yang ada pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedasitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi memiliki tujuan untuk menguji apakah model regresi berganda dalam penelitian yang dilakukan terdapat korelasi antara residual pada periode t dengan residual pada periode t-1 atau sebelumnya. Apabila telah terjadi korelasi, maka dapat dinyatakan dengan adanya problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena disebabkan adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Dalam penelitian model regresi yang bebas dari autokorelasi, merupakan model regresi yang baik. Salah satu cara untuk dapat mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dengan Uji Durbin – Watson. Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi:

a. Nilai DW < 1,10 : ada autokorelasi

b. Nilai DW antara 1,10 s.d 1,54 : tanpa kesimpulan

c. Nilai DW antara 1,55 s.d 2,46 : tidak ada autokorelasi

d. Nilai DW antara 2,46 s.d 2,90 : tanpa kesimpulan

e. Nilai DW > 2,91 : ada autokorelasi

3. Pengujian Hipotesis

1. Uji Koefisien Korelasi

Dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi yang menjadi perhatian adalah besarnya nilai R hasil dari SPSS 27. Jika besarnya nilai R mendekati angak 1 berarti variabel independen memiliki pengaruh yang kuat terhadap variabel dependen. Begitu pula sebaliknya, jika besarnya nilai R jauh dari angka 1 berarti pengaruh variabel independennya masih lemah terhadap variabel dependen.

2. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) yaitu koefisien yang menunjukkan presentase pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Presentase tersebut menunjukkan tentang seberapa besar variabel independen yang dapat menjelaskan variabel dependennya. Semakin tinggi koefisien determinasinya atau nilai R2 semakin mendekati 100% maka semakin baik variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya. Hal ini, persamaan regresi yang dihasilkan baik untuk mengestimasikan nilai variabel dependennya.

3. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis Regresi Linear Berganda merupakan sebuah pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan hubungan linear antara 2 (dua) atau lebih variabel prediktor (independen) dan satu variabel respon (dependen). Hasil dari analisis korelasi hanya untuk mengetahui seberapa besar tingkat keeratan atau kekuatan hubungan linear berganda antar variabel saja, sedangkan analisis yang digunakan untuk mengetahui kuatnya hubungan linear seberapa (pengaruh) antara variabel adalah analisis regresi. Dimana terdapat 3 variabel independen dan 1 variabel dependen. Yaitu: Pertumbuhan Perusahaan (X1), dan Profitabilitas (X2) sebagai variabel independen, serta satu variabel dependen yaitu Struktur Modal (Y1). Dimana model yang akan digunakan yaitu sebagai berikut:

Y = α + β₁X₁ + β_2 X_2 + e

Dimana :

Y: Struktur Modal (Y1)

α : Konstanta

β : Koefisien regresi dari variabel independen X₁, X₂

X1 : Pertumbuhan Perusahaan

X₂: Profitabilitas

e: Variabel Pengganggu Atau Error

4. Uji t (Uji parsial)

Uji statistik t pada dasarnya memperlihatkan seberapa jauh pengaruh satu variabel atau independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen [21]. Adapun dasar pengambilan kesimpulan pada uji t ialah sebagai berikut:

Apabila nilai probabilitas (signifikasi) > 0,05 (α), maka Hipotesis ditolak, artinya variable independen secara parsial (individual) tidak mempengaruhi variable dependen secara signifikan.

Apabila nilai probabilitas (signifikasi) <0, 05(α), maka Hipotesis diterima, artinya variable independen secara parsial (individual) mempengaruhi variable dependen secara signifikan

Hasil dan Pembahasan

Gambaran Umum Objek Penelitian

1. PT. Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO)

PT Tri Banyan Tirta didirikan pada tahun 1997. Perusahaan berambisi menjadi salah satu perusahaan minuman yang berpengaruh di Indonesia yang akan dicapai melalui investasi berkesinambungan pada produk-produk yang dihasilkan, sumber daya manusia maupun penyediaan fasilitas produksi terbaik. Strategi perusahaan adalah berkomitmen pada keberhasilan peningkatan dan pertumbuhan produk-produk utama, peningkatan kualitas produk, inovasi secara terus menerus, serta senantiasa memenuhi keinginan pelanggan dalam hal pelayanan. Pabrik PT Tri Banyan Tirta berlokasi di desa Babakan Pari, Sukabumi yang dikenal dengan sumber mata airnya yang alami, teruji kemurniannya dan kaya akan kandungan mineral alaminya. PT Tri Banyan Tirta juga didukung oleh ahli-ahli profesional dari berba gai latar belakang yang berbeda untuk mewujudkan tujuan perusahaan dalam menghasilkan produk-produk bermutu tinggi.

2. PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP)

Perusahaan ini didirikan oleh Darmo Hadipranoto pada tanggal 22 Juli 1972 dengan nama "CV Pranoto" dan merek dagang "Campina". Perusahaan ini awalnya berkantor pusat di rumah pribadi Darmo Hadipranoto, yakni di Jl. Gembong Sawah, Surabaya. Pada tahun 1982, perusahaan ini membuka pabrik baru di kawasan Surabaya Industrial Estate Rungkut. Pada tahun 1994, keluarga Prawirawidjaja (pemilik PT Ultrajaya Milk Industry) mengambil alih mayoritas saham perusahaan ini. Badan hukum dan nama perusahaan ini pun diubah menjadi seperti sekarang. Pada tahun 2017, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.[5] Perusahaan ini kemudian menjadi salah satu sponsor Asian Para Games 2018 yang digelar di Jakarta.

3. PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA)

Perusahaan ini memulai sejarahnya di Pontianak pada tahun 1968 dengan nama CV Tjahaja Kalbar dengan bisnis di bidang pengolahan kopra menjadi minyak kelapa. Pada tahun 1972, perusahaan ini mulai mengolah minyak kelapa menjadi minyak goreng. Pada tahun 1982, perusahaan ini membuka pabrik pengolahan kelapa sawit pertamanya di Jawa, tepatnya di Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, untuk mengolah minyak kelapa sawit menjadi minyak goreng, margarin, dan shortening. Pada tahun 1988, perusahaan ini mengubah nama dan badan hukumnya menjadi PT Cahaya Kalbar. Pada tahun 2005, mayoritas saham perusahaan ini resmi dipegang oleh Tradesound Investments Ltd. asal British Virgin Islands. Pada tahun 2007, perusahaan ini memindahkan kantor pusatnya dari Jakarta ke Bekasi. Pada tahun 2009, perusahaan ini menjual mayoritas saham PT Wilmar Benih Indonesia (d/h PT Inticocoa Abadi Industri) ke PT Wilmar Nabati Indonesia dan PT Natura Wahana Gemilang. Pada tahun 2017, mayoritas saham perusahaan ini resmi dipegang oleh PT Sentratama Niaga Indonesia.

4. PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)

Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) didirikan tanggal 10 Maret 1988 dengan nama PT Sari Guna dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2003. Kantor pusat Sariguna Primatirta Tbk berlokasi di Jln. Raya A. Yani 41-43, Kompleks Central Square Blok C-1 Gedangan, Sidoarjo 61254 – Indonesia. Telp: (62-31) 854-4400 (Hunting), Fax: (62-31) 854-4574. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan CLEO adalah bergerak di bidang industri air minum dalam kemasan. Air Minum Dalam Kemasan Demineralisasi (AMDK-DM) Sariguna Primatirta Tbk menggunakan merek dagang ”Cleo” yang diolah dari mata air Pegunungan Arjuna di Pandaan – Jawa Timur. Saat ini, Perseroan telah memiliki 27 Pabrik dan 200 Depo Logistik di bawah PT Sentralsari Prima Sentosa (perusahaan afiliasi) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pada tanggal 21 April 2017, CLEO memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham CLEO (IPO) kepada masyarakat sebanyak 450.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp115,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 05 Mei 2017.

5. PT Delta Djakarta Tbk (DLTA)

Delta Djakarta Tbk (DLTA) didirikan tanggal 15 Juni 1970 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1933. Kantor pusat Delta Djakarta Tbk dan pabriknya berlokasi di Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur, Jawa Barat 17510 – Indonesia. Pabrik “Anker Bir” didirikan pada tahun 1932 dengan nama Archipel Brouwerij. Dalam perkembangannya, kepemilikan dari pabrik ini telah mengalami beberapa kali perubahan hingga berbentuk PT Delta Djakarta pada tahun 1970. Telp: (62-21) 882-2520, 880-0511 (Hunting), Fax: (62-21) 881-9423, 880-0513. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Delta Djakarta Tbk (31-Mei-2022), yaitu: San Miguel Malaysia (L) Pte. Ltd (pengendali) (58,33%) dan Pemda DKI Jakarta (26,25%).

6. PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD)

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk adalah salah satu perusahaan makanan dan minuman yang terbesar di Indonesia. Berdiri pada 1990, kegiatan bisnis Garudafood telah dirintis sejak 1979 oleh pendiri perusahaan melalui PT Tudung Putra Jaya (TPJ), sebuah perusahaan di Pati, Jawa Tengah, yang memasarkan produk kacang yang kemudian dikenal sebagai Kacang Garuda (Garuda Peanut). Saat ini, Garudafood memproduksi dan memasarkan produk-produk makanan dan minuman dengan enam merek terkemuka, yakni Garuda, Gery, Chocolatos, Clevo, Prochiz dan TopChiz. Sejumlah produknya mencakup biskuit, kacang, pilus, pellet snack, "confectionery", minuman susu, bubuk cokelat, keju dan salad dressing. Garudafood mengekspor produk-produknya ke lebih dari 20 negara, berfokus di negara-negara ASEAN, Tiongkok dan India.

7. PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI)

Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) didirikan pada tanggal 16 September 2003 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2003. Kantor pusat HOKI berlokasi di Pasar Induk Cipinang Blok K No. 17, Jakarta Timur 13230 – Indonesia. Telp: (62-21) 5435-3110 (Hunting), Fax: (62-21) 5435-3120. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan HOKI adalah bergerak di bidang perdagangan, pembangunan, perindustrian, pengangkutan darat, perbengkelan, percetakan, pertanian, pertambangan dan jasa. Pada tanggal 14 Juni 2017, HOKI memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham HOKI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 700.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp310,- per saham disertai dengan Waran Seri I sebanyak 70.000.000 dengan harga pelaksanaan Rp355,- per saham. Saham dan waran tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 22 Juni 2017.

8. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) didirikan 02 September 2009 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1 Oktober 2009. ICBP merupakan hasil pengalihan kegiatan usaha Divisi Mi Instan dan Divisi Penyedap Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), pemegang saham pengendali. Kantor pusat Indofood CBP berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 23, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 76-78, Jakarta 12910 – Indonesia. Pabrik Perusahaan, Entitas Anak dan Entitas Asosiasi berlokasi di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi; dan di luar negeri antara lain: Malaysia, Arab Saudi, Mesir, Turki, Kenya, Maroko, Serbia, Nigeria dan Ghana. Telp: (62-21) 5793-7500 (Hunting), Fax: (62-21) 5793-7557. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (28-Feb-2022), yaitu: Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dengan persentase kepemilikan sebesar 80,53%. Pada tanggal 24 September 2010, ICBP memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ICBP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.166.191.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham saham dengan harga penawaran Rp5.395,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 07 Oktober 2010.

9. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) didirikan tanggal 14 Agustus 1990 dengan nama PT Panganjaya Intikusuma dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1990. Kantor pusat Indofood berlokasi di Sudirman Plaza, Indofood Tower, Lantai 21, Jl. Jend. Sudirman Kav. 76 – 78, Jakarta 12910 – Indonesia. Telp: (62-21) 5795-8822 (Hunting), Fax : (62-21) 5793-5960. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Indofood Sukses Makmur Tbk (28-Feb-2022) adalah First Pacific Investment Management Limited, dengan persentase kepemilikan sebesar 50,07%. First Pacific Investment Management Limited merupakan entitas anak tidak langsung dari First Pacific Company Limited, suatu perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Hong Kong. Bapak Anthoni Salim memiliki kepentingan dan memegang kendali secara tidak langsung di First Pacific Company Limited.

10. PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)

Sejarah panjang perusahaan dimulai dengan didirikannya N.V Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Medan pada tahun 1927. Brewery pertama berada di Surabaya dan secara Resmi beroperasi secara komersial pada 21 November 1931. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan, brewery kedua dibangun di Tangerang. Pada tahun yang sama, perusahaan berganti nama menjadi PT Perusahaan Bir Indonesia. Brewery kedua ini kemudian mulai beroperasi pada tahun 1973. Pada 1 Januari 1981, Perusahaan mengambil alih PT Brasseries de l'Indonesia yang memproduksi bir dan minuman ringan di Medan. Untuk mencerminkan peningkatan usaha dan aktivitas akuisisi ini, sejak tanggal 2 September 1981, nama perusahaan menjadi PT Multi Bintang Indonesia dan tempat kedudukan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Perusahaan juga mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saat ini, dengan didukung kuatnya aktivitas Brewery perusahaan di Sampang Agung dan Tangerang, Multi Bintang telah memantapkan pijakannya lewat anak perusahaan, PT Multi Bintang Indonesia Niaga, dalam memasarkan dan menjual produk-produk perusahaan di seluruh kota besar di Indonesia dan luar negeri. Anak perusahaan ini beroperasi sebagai distributor utama dan memulai operasi komersial pertama pada January 2005. Perusahaan mempunyai saham di PT Multi Bintang Indonesia Niaga sebesar 99%.

11. PT Mayora Indah Tbk (MYOR)

PT. Mayora Indah Tbk. (Perseroan) didirikan pada tahun 1977 dengan pabrik pertama berlokasi di Tangerang dengan target market wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setelah mampu memenuhi pasar Indonesia, Perseroan melakukan Penawaran Umum Perdana dan menjadi perusahaan publik pada tahun 1990 dengan target market; konsumen Asean. Kemudian melebarkan pangsa pasarnya ke negara negara di Asia. Saat ini produk Perseroan telah tersebar di 5 benua di dunia. Sebagai salah satu Fast Moving Consumer Goods Companies, PT. Mayora Indah Tbk telah membuktikan dirinya sebagai salah satu produsen makanan berkualitas tinggi dan telah mendapatkan banyak penghargaan, diantaranya adalah “Top Five Best Managed Companies in Indonesia” dari Asia Money, “Top 100 Exporter Companies in Indonesia” dari majalah Swa, “Top 100 public listed companies” dari majalah Investor Indonesia, “Best Manufacturer of Halal Products” dari Majelis Ulama Indonesia, Best Listed Company dari Berita Satu, “Indonesia’s Corporate Secretary Award, Top 5 Good Corporate Governance Issues in Consumer Goods Sector, dari Warta Ekonomi dan banyak lagi penghargaan lainnya.

12. PT. Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI)

Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) didirikan pada tanggal 08 September 2000. Kantor pusat Pratama Abadi Nusa Industri Tbk berlokasi di Jl. Aria Jaya Santika No. 33, Pasir Bolang, Tigaraksa, Tangerang 15720 – Indonesia. Telp: (62-21) 2941-7685 (Hunting), Fax: (62-21) 2941-7685. Pada tanggal 06 September 2018, PANI memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham PANI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 150.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp108,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 18 September 2018.

13. PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI)

Nippon Indosari Corpindo Tbk merupakan salah satu perusahaan roti dengan merek dagang Sari Roti terbesar di Indonesia. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1995 sebagai sebuah perusahaan penanaman modal asing dengan nama PT Nippon Indosari Corporation. Sejak tanggal 28 Juni 2010 perseroan telah melakukan Penawaran Umum Perdana dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bisnis roti yang dijalani perusahaan ini semakin berkembang, dengan ini perusahaan semakin giat melakukan pembangunan pabrik baru di beberapa tempat, seperti pembangunan tiga pabrik sekaligus di Semarang (Jawa Tengah), Medan (Sumatera Utara), dan Cikarang (Jawa Barat) pada tahun 2011 serta pembangunan dua pabrik di Palembang (Sumatera Selatan) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Pada tahun 2006, perseroan ini telah berhasil mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang merupakan sertifikat jaminan keamanan pangan sebagai bukti komitmen Perseroan dalam mengedepankan prinsip 3H (Halal, Healthy, Hygienic) pada setiap produk Sari Roti. Produk Sari Roti juga telah terdaftar melalui Badan BPOM Indonesia dam memperoleh sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak hanya itu PT Nippon Indosari Corporindo Tbk. juga telah berhasil memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya Top Brands sejak tahun 2009 hingga 2011, Top Brand for Kids sejak tahun 2009 hingga 2012 Marketing Awards 2010, Indonesia Original Brands 2010, Investor Award 2012, penghargaan dari Forbes Asia dan beberapa penghargaan lainnya.

14. PT Sekar Bumi Tbk (SKBM)

Sekar Bumi Tbk (SKBM) didirikan 12 April 1973 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1974. Kantor pusat SKBM berlokasi di Plaza Asia, Lantai 2, Jl. Jend. Sudirman Kav. 59, Jakarta 12190 – Indonesia dan pabrik berlokasi di Jalan Jenggolo 2 No. 17 Waru, Sidoarjo serta tambak di Bone dan Mare, Sulawesi. Telp: (62-21) 5140-1122 (Hunting), Fax: (62-21) 5140-1212. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SKBM adalah dalam bidang usaha pengolahan hasil perikanan laut dan darat, hasil bumi dan peternakan. Sekar Bumi memiliki 2 divisi usaha, yaitu hasil laut beku nilai tambah (udang, ikan, cumi-cumi, dan banyak lainnya) dan makanan olahan beku (dim sum, udang berlapis tepung roti, bakso seafood, sosis, dan banyak lainnya). Selain itu, melalui anak usahanya, Sekar Bumi memproduksi pakan ikan, pakan udang, mete dan produk kacang lainnya. Produk-produk Sekar Bumi dipasarkan dengan berbagai merek, diantaranya SKB, Bumifood dan Mitraku.

15. PT Sekar Laut Tbk (SKLT)

Sekar Laut Tbk (SKLT) didirikan 19 Juli 1976 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1976. Kantor pusat SKLT berlokasi di Wisma Nugra Santana, Lt. 7, Suite 707, Jln. Jend. Sudirman Kav. 7-8, Jakarta 10220 dan Kantor cabang berlokasi di Jalan Raya Darmo No. 23-25, Surabaya, serta Pabrik berlokasi di Jalan Jenggolo II/17 Sidoarjo. Pada tahun 1993, SKLT memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SKLT (IPO) kepada masyarakat sebanyak 6.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp4.300,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 08 September 1993.

16. PT Siantar Top Tbk (STTP)

PT Siantar Top Tbk (IDX: STTP) adalah salah satu kelompok bisnis produk konsumen di Indonesia. Perusahaan mulai dirintis tahun 1972 dengan skala industri kecil. Pada tahun 1987, perusahaan didaftarkan dengan nama PT Siantar Top Industri berdasarkan akta No. 45 tanggal 12 Mei 1987 dari Ny. Endang Widjajanti, S.H., notaris di Sidoarjo. Pada 1991, perusahaan mulai memproduksi varian permen. Perusahaan memperluas usahanya dengan membuka pabrik baru di Medan (tahun 1998), Bekasi (tahun 2002), dan Makassar (tahun 2011). Selain itu, perusahaan juga mengembangkan pabrik kopi tahun 2014. Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack noodle), kerupuk (crackers) dan kembang gula (candy). Perusahaan ini telah tercatat di Bursa Efek Jakarta sejak 16 Desember 1996. Pendiri perusahaan ini adalah Bapak Shindo Sumidomo, putra daerah asli asal Pematang Siantar.

17. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Co Tbk (ULTJ)

PT. Ultrajaya Milk Industry and Trading Company, Tbk merupakan salah satu perusahaan yang bisnis utamanya yakni sebagai produsen minuman terkemuka di Indonesia. Pada awal berdirinya, perusahaan ini merupakan sebuah industri rumah tangga sederhana yang dimulai pada tahun 1958 di Bandung, Jawa Barat. Dalam perkembangannya, Ultrajaya Milk berperan sebagai pemain utama dalam industri susu cair di Tanah Air. Hal ini dibuktikan dengan pencatatan kapasiitas produksi yang mencapai 1 juta liter tiap harinya. Dengan hal ini, total produksi perusahaan telah menyerap setidaknya lebih dari 90% di pasar domestik. Produk-produk Ultrajaya Milk nyatanya tidak hanya mampu memenuhi permintaan pasaran domestik saja, melainkan telah merambah hingga pasaran internasional seperti negara-negara ASEAN termasuk Singapura, Vietnam, dan Filipina serta negara lain di Afrika seperti Nigeria. Rencana Ultrajaya Milk dalam jangka panjang akan memperluas jaringan distribusi sebanyak 125.000 toko ritel melalui 50 distributor yang tersebar di seluruh Indonesia. Memasuki tahun 2013, Ultrajaya Milk akan menargetkan laba bersih perusahaan yang mencapai Rp 261,1 miliar atau naik sebesar 34% pada tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan kenaikan yang diperoleh dari sektor penjualan yang menunjukkan perkembangan sebesar Rp 3,24 triliun atau 19,8%. Hal ini juga didukung dengan beroperasinya pabrik baru yang terletak di Jakarta yang mampu memberikan tambahan kapasitas produksi sebesar 20%-30% atau mencapai lebih dari 360 juta liter-390 juta liter susu cair per tahun.

18. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA)

Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) didirikan tanggal 22 Desember 1973. Kantor pusat Tunas Baru Lampung Tbk terletak di Wisma Budi, Lantai 8- 9, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-6, Jakarta 12940 – Indonesia. Sedangkan Pabrik berlokasi di Lampung, Sidoarjo, Tangerang dan Palembang, dengan perkebunan yang terletak di Terbanggi Besar – Lampung Tengah dan Banyuasin – Sumatera Selatan, adapun perkebunan dan pabrik entitas anak terletak di Lampung Tengah, Lampung Utara, Kalimantan Barat dan Ogan Komering Ilir. Telp: (62-21) 521-3383, 522-5868 (Hunting), Fax: (62-21) 521-3282, 521-3392, 520-5829. Pada tanggal 31 Desember 1999, TBLA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham TBLA sebanyak 140.385.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp2.200 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 04 Februari 2000. Pada tahun 2006, TBLA melaksanakan Penawaran Umum Terbatas I (PUT I / Right Issue I) kepada Pemegang Saham dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk membeli saham baru dengan ratio setiap pemegang 3 saham lama berhak atas 6 HMETD untuk membeli 6 saham baru, dimana pada setiap 6 Saham baru melekat 1 Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma dengan nilai nominal sebesar Rp 125 per saham yang akan ditawarkan dengan Harga Pelaksanaan Rp 125 per saham. Waran Seri I yang diterbitkan sebagai insentif bagi para pemegang saham tersebut mempunyai jangka waktu 5 tahun dengan masa pelaksanaan yaitu mulai tanggal 15 Januari 2007 sampai dengan 13 Juli 2011.

19. PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK)

Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) didirikan 06 Juni 2001 dan mulai melakukan kegiatan komersialnya pada bulan Juni 2001. Kantor pusat Bumi Teknokultura Unggul Tbk beralamat di Gedung Metaepsi Jl. D.I. Panjaitan Kavling 2, RT 05 / RW 09, Rawa Bunga, Jatinegara Jakarta Timur 13350 – Indonesia. Telp: (62-21) 819-2989 (Hunting), Fax: (62-21) 856-7711. Pabrik pengolahan biji kakao Bumi Teknokultura Unggul Tbk berlokasi di Jl. Raya Serang Km. 68 Desa Julang, Cikande, Serang Banten – Indonesia. Pada tanggal 29 April 2004, BTEK memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BTEK (IPO) kepada masyarakat sebanyak 120.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp125,- per saham dan disertai 276.000.000 Waran seri I dan periode pelaksanaan mulai dari 14 Nopember 2004 sampai dengan 13 Mei 2007 dengan harga pelaksanaan sebesar Rp125,- per saham. Saham dan Waran Seri I tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Mei 2004.

Analisis Data dan Hasil

Analisis Statistik Deskriptif

Uji statistic deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi dari masing-masing variabel penelitian. Adapun hasil olahan statistic deskriptif data yang menjadi variabel penelitian dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science ) versi 27 ditunjukkan dalam tabel berikut:

Figure 7. Tabel 4. Descriptive Statistics

Berdasarkan hasil perhitungan pada table tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengamatan dalam penelitian ini ada 19 perusahaan Food and Beverage yang menjadi sample dimana 19 perusahaan tersebut dikalikan periode tahun pengamatan (5 tahun), sehingga observasi dalam penelitian ini sebanyak 95 observasi (19 x 5 = 95). Berdasarkan perolehan data diketahui hasil sebagai berikut :

1. Pertumbuhan Perusahaan

Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Pertumbuhan Perusahaan memiliki nilai terkecil (minimum) sebesar -0.90. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 170.43. Rata-rata Pertumbuhan Perusahaan menunjukkan hasil yang positif sebesar 11.8858. artinya secara umum Pertumbuhan Perusahaan yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Pertumbuhan Perusahaan adalah sebesar 1.47828 (dibawah rata-rata) artinya Pertumbuhan Perusahaan memiliki tingkat variasi data yang rendah.

2. Profitabilitas

Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Profitabilitas memiliki nilai terkecil (minimum) sebesar -0.30. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 0.86. Rata-rata Profitabilitas menunjukkan hasil yang positif sebesar 1.1208. artinya secara umum Profitabilitas yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Profitabilitas adalah sebesar 0.15014 (dibawah rata-rata) artinya Profitabilitas memiliki tingkat variasi data yang rendah.

3. Struktur Modal

Hasil analisis deskriptif diatas menunjukkan variabel Struktur Modal memiliki nilai terkecil (minimum) sebesar 0.04. Nilai terbesar (maksimum) sebesar 2.90. Rata-rata Struktur Modal yang dimiliki 8 perusahaan menunjukkan hasil yang positif sebesar 2.8818. artinya secara umum Struktur Modal yang diterima positif (mengalami kenaikan). Nilai standar deviasi Struktur Modal adalah sebesar 0.72651 (dibawah rata-rata) artinya Struktur Modal memiliki tingkat variasi data yang rendah.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik merupakan tahapan pertama sebelum dilakukan perhitungan regresi untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap dependen.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat variabel dependen dan variabel independen berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Untuk menguji normalitas data, pada penelitian ini menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov. Menilai nilai signifikansi dalam penelitian Jika signifikannya > 0,05 maka variabel berdistrubusi normal dan sebaliknya jika signifikannya < 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal [22].

Figure 8. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diketahui bahwa angka signifikan setiap variabel menunjukkan angka lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas dan dapat di lanjutkan ke pengujian selanjutnya.

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Cara melihat ada atau tidaknya multikolinieritas didalam suatu model [23] yaitu dapat dilihat pada nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Nilai cutoff tolerance yang umum digunakan adalah > 10 dan VIP < 10. Jika terjadi hal demikian, berarti tidak terjadi multikolinieritas pada model regresi.

Figure 9. Tabel 6. Hasil Uji Multikolinieritas

Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa hasil uji multikolinieritas, nilai tolerance masing-masing variable-variabel independen >0,10 sedangkan nilai VIF < 10. Dengan demikian, hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas dalam model regresi.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi, jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Deteksi adanya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan melihat nilai dari statistic Durbin Watson (dW). Dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Nilai DW < 1,10; ada autokorelasi

2. Nilai DW antara 1,10 s/d 1,54; tanpa kesimpulan

3. Nilai DW antara 1,55 s/d 2,46; tidak ada autokorelasi

4. Nilai DW antara 2,47 s/d 2,90 ; tanpa kesimpulan

5. Nilai DW > 2,91 ; ada autokorelasi

Hasil uji autokorelasi dapat dilihat dalam table berikut:

Figure 10. Tabel 7. Hasil Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil uji autokorelasi, nilai Durbin-Watson sebesar 1,635. Sehingga nilai DW antara 1,55 s/d 2,46. Hal ini menunjukkan tidak terjadi autokorelasi.

Analisis Regresi Linear Berganda

Dalam rangka menguji Pengaruh Pertumbuhan perusahaan dan Profitabilitas terhadap struktur modal, maka digunakan analisis regresi berganda. Perhitungan dilaksanakan dengan program SPSS versi 27 dan diperoleh hasil sebagai berikut:

Figure 11. Tabel 8. Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda

Pada table tersebut mengenai hasil pengolahan SPSS, maka dapat dibuat persamaan regresi berganda sebagai berikut:

Y = 0.936+ 0.106X_1 + 0.612X_2

Persamaan regresi linier berganda diatas dapat diartikan bahwa :

1. Konstanta adalah sebesar 0.936. Hal ini berarti jika tidak dipengaruhi Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas maka besarnya Struktur Modal sebesar 0.936

2. Koefisien variabel Pertumbuhan Perusahaan sebesar 0.106. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Pertumbuhan Perusahaan sebesar satu satuan maka Struktur Modal juga mengalami peningkatan sebesar 0.106 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.

3. Koefisien variabel Profitabilitas sebesar 0.612. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Profitabilitas sebesar satu satuan maka Struktur Modal juga mengalami peningkatan sebesar 0.612 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.

Pengujian Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (R²)

Uji (R²) digunakan untuk menghitung tingkat keeratan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat Hasil penghitungan SPSS mengenai analisisnya ditujukan oleh tabel di bawah ini :

Figure 12. Tabel 9. Hasil Uji R Square

Pada table diatas diketahui bahwa nilai koefisien korelasi R adalah 0.924 atau mendekati 1. Artinya terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara variabel bebas yang meliputi Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal.

Adapun analisis determinasi berganda, dari tabel diatas diketahui presentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditujukan oleh nilai R square adalah 0.855 maka koefisien determinasi berganda 0,855 x 100%= 85,5% dan sisanya 100%-85,5%= 14,5%. Hal ini berarti naik turunnya variabel terikat yaitu Struktur Modal dipengaruhi oleh veriabel bebas yaitu Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas sebesar 85,5%. Sedangkan sisanya sebesar 14,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Nilai R square lebih kecil dari nilai R akibat adanya penyesuaian namun demikian sebagai catatan nilai tersebut tidak selalu lebih kecil dari R namun juga kadang lebih besar (Ghozali, 2016). R square (koefisien determinasi) dan R (koefisien korelasi) adalah dua metrik yang berbeda. R square adalah kuadrat dari R, sehingga R square selalu lebih kecil atau sama dengan R. Jika R positif, maka R square juga positif. Jika R negatif, maka R square juga positif karena dikuadratkan.

b. Uji t (Uji parsial)

Pada uji hipotesis ini menggunakan uji t dipergunakan untuk mengukur tingkat pengaruh signifikansi secara parsial antara variabel independen yang meliputi Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal. Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :

a.. Jika nilai signifikan > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel independent tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

b. Jika nilai signifikan < 0,05 maka hipotesis diterima (koefisien regresi signifikan). Ini berarti secara parsial variabel independent tersebut mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Hasil perhitungan SPSS versi 27 mengenai analisis uji t (uji parsial) ditunjukkan oleh table dibawah ini :

Figure 13. Tabel 10. Hasil Uji Parsial (Uji t)

Pengujian pada hipotesa Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.012, lebih kecil dari 0,05. Karena tingkat signifikan 0.012 < 0,05, sehingga H1 yang menyatakan bahwa variabel Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal diterima

Pengujian pada hipotesa Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.009, lebih kecil dari 0,05. Karena tingkat signifikan 0.009 < 0,05, sehingga H2 yang menyatakan bahwa variabel Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal diterima.

Figure 14. Table 11. Hasil Pengujian Hipotesis

Pembahasan

1. Pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Berdasarkan hasil dari pengujian dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi jumlah Pertumbuhan perusahaan maka semakin tinggi struktur modal pada perusahaan Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia. Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Artinya peningkatan asset didukung dengan meningkatnya hutang. Tingkat pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah aktiva yang dibutuhkan sehingga memerlukan dana yang lebih banyak untuk memenuhi aktiva tersebut.

Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, memerlukan dana yang lebih besar untuk membiayai modalnya. Sumber pendanaan internal kemungkinan tidak mencukupi, maka dari itu perusahaan juga membutuhkan dana eksternal untuk dapat membantu operasional perusahaan. Melalui tingkat pertumbuhan penjualan yang tinggi menunjukan kemampuan perusahaan menghasilan laba yang stabil. Peningkatan pertumbuhan penjualan perusahaan akan berpengaruh pada peningkatan struktur modal, bagi perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, kecenderungan penggunaan hutang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan rendah.

2. Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal

Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal. Dengan demikian H2 diterima, bahwa Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal. Semakin tinggi nilai dari Profitabilitas maka semakin tinggi struktur modal yang ada diperusahaan. Hubungan antara profitabilitas dan struktur modal dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keputusan pembiayaan perusahaan. Profitabilitas yang tinggi dapat memberikan keleluasaan lebih dalam pemilihan struktur modal yang optimal, sementara profitabilitas yang rendah dapat membatasi pilihan tersebut.

Faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keputusan pembiayaan perusahaan diantaranya Tingkat Profitabilitas. Profitabilitas yang lebih tinggi cenderung mendorong perusahaan untuk lebih mengandalkan sumber daya internal (ekuitas) daripada utang. Perusahaan yang sangat menguntungkan biasanya memiliki lebih banyak dana yang dapat digunakan untuk pembiayaan internal dan mungkin tidak perlu mengambil utang yang besar. Hal ini sering kali terlihat pada perusahaan dengan rasio laba tinggi yang baik. Tingkat Risiko, Profitabilitas dapat mempengaruhi keputusan perusahaan terkait dengan tingkat risiko utang. Perusahaan yang sangat menguntungkan biasanya memiliki lebih banyak kemampuan untuk menanggung utang, karena pendapatan mereka yang stabil mengurangi risiko kebangkrutan. Sebaliknya, perusahaan dengan profitabilitas rendah mungkin akan lebih berhati-hati dalam mengambil utang untuk menghindari risiko keuangan yang lebih besar. Stabilitas Pendapatan, Perusahaan dengan pendapatan yang stabil dan profitabilitas yang konsisten lebih cenderung untuk mengambil utang, karena mereka dapat mengelola kewajiban utang dengan lebih baik. Sebaliknya, perusahaan dengan pendapatan yang fluktuatif mungkin lebih cenderung untuk menghindari utang agar tidak menambah beban keuangan.

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki. Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi atas aktiva yang dikelolanya menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi. Stabilnya tingkat profitabilitas yang dimiliki perusahaan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan manajer didalam pemilihan struktur modal. Semakin stabil profitabilitas berarti semakin kecil pinjaman yang dilakukan perusahaan. Berdasarkan trade off theory perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi lebih memilih menggunakan hutang dalam pemenuhan pendanaan perusahaannya karena adanya manfaat dari penggunaan hutang yang disebabkan oleh biaya bunga nantinya akan dapat dikurangkan dengan pajak perusahaan.

Penutup

Simpulan

Penelitian ini meneliti tentang Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Food And Beverage Pada Periode 2019 – 2023. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS 27. Data sampel penelitian ini sebanyak 19 perusahaan Food And Beverage yang terdaftar Di BEI Periode 2019 – 2023. Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan pada bagian sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal.

Peningkatan pertumbuhan penjualan perusahaan akan berpengaruh pada peningkatan struktur modal, bagi perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, kecenderungan penggunaan hutang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan rendah. Pertumbuhan perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait diantaranya : Permintaan Pasar dan Tren Konsumen, Inovasi dan Pengembangan Produk, Ketersediaan Sumber Daya, Manajemen yang Efektif, Ekspansi Pasar dan Diversifikasi, Keunggulan Kompetitif, Kemampuan Beradaptasi dengan Perubahan Lingkungan Eksternal, Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Pemasaran dan Brand Awareness, Kondisi Ekonomi dan Faktor Eksternal, Strategi Keuangan dan Investasi, Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan.

2. Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal.

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva yang dimiliki. Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi atas aktiva yang dikelolanya menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi. Profitabilitas sebuah perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal diantaranya : Pendapatan dan Penjualan, Biaya dan Pengeluaran, Harga Jual Produk atau Layanan, Manajemen Keuangan, Persaingan dan Kondisi Pasar, Inovasi dan Diferensiasi Produk, Faktor Ekonomi Makro, Sumber Daya Manusia, Kebijakan dan Strategi Perusahaan, dan Risiko dan Ketidakpastian.

Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian dalam penelitian ini adalah

1. Penelitian ini hanya menggunakan 2 variabel Independen dan 1 variabel dependen

2. Penelitian ini hanya mengambil 5 periode saja dari tahun 2019-2023, dan

Saran

Adapun saran yang dapat di berikan oleh peneliti :

Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan menggunakan variabel independen lain yang mungkin mempengaruhi Struktur Modal, misalkan: Kinerja Keuangan, Gender Diversity, Nilai Perusahaan, Kepemilikan Publik, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Price Book Value, Price Earning Ratio dan lain-lain.

Memperpanjang periode penelitian sehingga dapat melihat kecenderungan yang terjadi dalam jangka panjang sehingga menggambarkan kondisi yang sesungguhnya terjadi.

Penelitian selanjutnya dapat Menambahkan variabel moderasi maupun mediasi

Ucapan Terima Kasih

Selain proses yang cukup menguras waktu dan pikiran, penyelesaian dalam penelitian ini tidak lepas dari segala usaha, doa serta dukungan dari banyak pihak. Terima kasih ini ditujukan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Fakultas Bisnis Hukum dan Ilmu Sosial, Program Studi Manajemen sebagai tempat peneliti menimba ilmu sehingga sebagai modal dalam melakukan penelitian ini. Tidak lupa juga terima kasih pada pihak-pihak yang memberikan dukungan hingga terselesaikannya penelitian ini dengan baik.

References

[1] E. F. Brigham and J. F. Houston, Fundamentals of Financial Management, 10th ed. Jakarta: Salemba Empat, 2018.

[2] D. Anggita, S. Dewi, and A. Safitri, “Cash Turnover, Capital Structure, Profit Growth, and Firm Size on Profitability,” Permana Journal of Taxation, Management, and Accounting, vol. 16, no. 1, pp. 197–209, 2024.

[3] E. F. Brigham and J. F. Houston, Fundamentals of Financial Management, 8th ed., Book 2. Jakarta: Salemba Empat, 2001.

[4] I. Ghozali, “Research Methodology,” Journal of Chemical Information and Modeling, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2018.

[5] I. Ghozali, Multivariate Analysis Application with IBM SPSS 25. Semarang: Diponegoro University Press, 2018.

[6] I. Ghozali, Multivariate Analysis with IBM SPSS 21 Update PLS Regression. Semarang: Diponegoro University Press, 2013.

[7] I. Ghozali, Multivariate Analysis with IBM SPSS. Yogyakarta: Diponegoro University, 2012.

[8] I. Ghozali, Multivariate Analysis with IBM SPSS 23. Semarang: Diponegoro University Press, 2016.

[9] I. Ghozali, Multivariate Analysis Program IBM SPSS 19, 5th ed. Semarang: Diponegoro University Press, 2011.

[10] Kasmir, Financial Statement Analysis. Jakarta: Rajawali Pers, 2019.

[11] I. H. Zakaria, F. R. Muhammad, and T. H. Jamain, “Cash Turnover, Capital Structure, Profit Growth, and Firm Size on Profitability,” Minfo Polgan Journal, vol. 16, no. 1, pp. 197–209, 2024.

[12] I. P. Dhani and A. G. S. Utama, “Firm Growth, Capital Structure, and Profitability on Firm Value,” Journal of Accounting and Business Airlangga, vol. 2, no. 1, pp. 135–148, 2017.

[13] Jonnardi and M. Yuliani, “Capital Structure, Profitability, Liquidity, and Firm Size on Firm Value,” Paradigma Akuntansi Journal, vol. 3, no. 2, p. 739, 2021.

[14] J. F. Weston and E. F. Brigham, Fundamentals of Financial Management. Jakarta: Erlangga, 2005.

[15] M. Ghozali, Multivariate Analysis with IBM SPSS 19. Semarang: Diponegoro University Press, 2011.

[16] Kasmir, Banking Management. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2014.

[17] S. Arikunto, Research Procedure: A Practical Approach. Jakarta: Rineka Cipta, 2015.

[18] Sugiyono, Quantitative, Qualitative, and R&D Research Methods. Bandung: Alfabeta, 2015.

[19] Sugiyono, Educational Research Methods: Quantitative, Qualitative, and R&D. Bandung: Alfabeta, 2018.

[20] Sugiyono, Business Research Methods. Bandung: Alfabeta, 2017.

[21] Sugiyono, Educational Research Methods: Quantitative, Qualitative, and R&D. Bandung: Alfabeta, 2021.

[22] Sugiyono, Quantitative, Qualitative, and R&D Research Methods. Bandung: Alfabeta, 2019.

[23] Y. Moruk, Capital Structure, Firm Size, and Profitability on Firm Value of Manufacturing Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange 2020–2022. Undergraduate Thesis, 2024.