Login
Section Cost Accounting

Informal Cost Planning and Control Realize Micro Retail Operational Cost Efficiency


Perencanaan dan Pengendalian Biaya Informal Mewujudkan Efisiensi Biaya Operasional Ritel Mikro
Vol. 21 No. 3 (2026): Agustus:

Nadia Nurifayza Sufiyanti (1), Hadiah Fitriyah (2)

(1) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:



General Background: Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), especially traditional grocery stores, vitally distribute daily necessities in Indonesia. Specific Background: Facing limited capital, price fluctuations, and modern retail competition, these stores struggle with unstructured management accounting and manual recordkeeping. Knowledge Gap: Prior studies examined isolated methods like FIFO, target costing, or digital bookkeeping rather than comprehensive cost planning and control in micro-retail stores. Aims: This qualitative case study analyzes cost planning and control in achieving operational cost efficiency at Toko Pojok Lor, Gempol. Results: Using triangulated interviews, observations, and documentation analyzed via the Miles and Huberman model, findings show that informal cost planning estimates inventory needs, monitors stock, prioritizes fast-moving goods, and matches purchases to capital without written budgets. Direct supervision over procurement, stock checks, electricity savings, and consolidated transport controls costs, reduces waste, maintains cash flow, and achieves operational cost efficiency despite lacking systematic records. Novelty: This study reveals informal, experience-based, low-cost cost management in a peripheral grocery store. Implications: Findings enrich management accounting literature and guide simple MSME bookkeeping training.


Highlights:




  • Purchasing decisions rely on owner experience, daily stock monitoring, capital availability, alongside prioritizing fast-moving staple goods without written budgets.




  • Direct owner supervision over inventory procurement, electricity usage, plus consolidated supplier trips prevents resource waste.




  • Routine shelf inspections by employees combined with selective restocking maintain smooth cash flow alongside rapid working capital turnover.




Keywords: Cost Planning, Cost Control, Operational Cost Efficiency, Management Accounting, Micro Retail MSMEs



Downloads

Download data is not yet available.

I. Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki posisi strategis sebagai fondasi utama perekonomian nasional Indonesia. Sektor ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yakni sekitar 61%, serta menyerap kurang lebih 97% dari total tenaga kerja aktif di Indonesia [1][2]. Keberadaan sektor UMKM tidak hanya berfungsi sebagai penggerak penciptaan lapangan kerja dalam skala luas, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menekan tingkat kemiskinan, serta mendorong pemerataan pembangunan ekonomi, khususnya di wilayah pedesaan dan kawasan pinggiran perkotaan yang relatif kurang terjangkau oleh jaringan ritel modern berskala besar [3]. Salah satu bentuk UMKM yang paling banyak dijumpai dan memiliki peran vital dalam aktivitas ekonomi masyarakat adalah toko kelontong atau warung sembako. Jenis usaha ritel tradisional ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok sehari-hari, antara lain beras, minyak goreng, gula, telur, sabun, rokok, serta minuman dalam kemasan. Dengan sistem operasional yang relatif sederhana dan lokasi usaha yang umumnya berada di sekitar permukiman penduduk, toko kelontong berfungsi sebagai sarana utama distribusi barang konsumsi harian pada tingkat lokal dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat [4][5].

Objek penelitian ini fokus pada toko kelontong yang menjadi contoh dari UMKM di sektor ritel mikro, dengan memperhatikan ciri khas dalam cara operasionalnya. Usaha ini umumnya dikelola dengan modal yang terbatas, berkisar antara Rp5 juta hingga Rp20 juta, serta sangat bergantung pada strategi memperoleh barang, baik melalui pembelian tunai maupun kredit jangka pendek dari grosir lokal. Penjualan harian merupakan sumber utama arus kas yang menjamin keberlangsungan usaha. Namun, toko kelontong memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap berbagai faktor eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas kebutuhan pokok akibat tekanan inflasi, kenaikan harga bahan bakar minyak, maupun gangguan pada rantai pasok global. Kondisi tersebut kerap memicu peningkatan biaya perolehan persediaan secara signifikan dalam periode yang relatif singkat [6][7][8].

Di sisi lain, praktik pengelolaan persediaan yang belum optimal sering menimbulkan permasalahan yang tidak ringan, antara lain penumpukan barang tertentu yang bersifat musiman sehingga berisiko mengalami kerusakan atau kedaluwarsa, seperti produk susu dan makanan ringan. Sebaliknya, kekurangan persediaan untuk barang dengan tingkat perputaran tinggi (fast moving goods) dapat menyebabkan hilangnya potensi penjualan sekaligus menurunkan tingkat kepuasan dan loyalitas [9][10]. Meskipun demikian, toko kelontong tetap memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat di tingkat lokal serta menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga pelaku usaha mikro. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks seiring meningkatnya persaingan dengan ritel modern, khususnya minimarket berjaringan, yang memiliki kemampuan menawarkan harga lebih kompetitif melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan skala ekonomi yang lebih besar [11][12].

Dalam pelaksanaan kegiatan operasional sehari-hari, banyak pemilik toko kelontong menghadapi hambatan yang cukup berarti dalam melakukan perencanaan dan pengendalian biaya. Kendala tersebut mencakup penyusunan anggaran pengadaan persediaan, pengawasan terhadap biaya overhead tetap seperti penggunaan listrik untuk pendingin dan biaya sewa tempat usaha, serta upaya mengidentifikasi dan meminimalkan pemborosan pada biaya variabel, misalnya biaya transportasi dalam proses pengambilan barang dari pedagang grosir [13][14]. Permasalahan ini sebagian besar dipicu oleh belum diterapkannya praktik akuntansi manajemen secara terstruktur, di mana pelaku usaha pada umumnya hanya melakukan pencatatan sederhana atas arus kas masuk dan keluar tanpa disertai analisis yang komprehensif terhadap komposisi dan perilaku biaya operasional secara menyeluruh [15][16].

Pada dasarnya, akuntansi manajemen berperan sebagai instrumen penting dalam penyediaan informasi biaya yang relevan dan andal, yang dapat digunakan untuk menyusun perencanaan anggaran secara periodik serta melakukan evaluasi kinerja usaha. Melalui informasi tersebut, pemilik toko kelontong dapat mengambil keputusan manajerial yang lebih rasional, seperti menetapkan harga jual yang kompetitif maupun mengelola tingkat persediaan secara lebih efisien [17][18]. Tanpa dukungan sistem akuntansi manajemen yang memadai, biaya variabel yang cenderung mendominasi struktur pengeluaran operasional sering kali tidak terkelola dengan baik. Kondisi ini berdampak pada penurunan margin laba bersih secara signifikan, yang dalam banyak kasus relatif rendah, sering kali di bawah 10%, terutama ketika biaya-biaya tersembunyi, seperti penyusutan peralatan display atau kerugian akibat persediaan rusak, tidak diperhitungkan secara tepat [19][20].

Praktik pencatatan keuangan yang masih bersifat tradisional, seperti penggunaan buku tulis manual atau aplikasi lembar kerja sederhana, menyebabkan pemahaman pelaku usaha terhadap perhitungan harga pokok penjualan (HPP) menjadi kurang memadai. Dalam kondisi tersebut, penetapan harga jual produk sering kali didasarkan pada pertimbangan subjektif atau sekadar mengikuti harga pesaing, bukan pada informasi biaya aktual yang diperoleh secara sistematis [21][22]. Hal ini berpotensi menimbulkan risiko penetapan harga yang terlalu rendah (underpricing) yang memicu kerugian secara berkelanjutan pada produk kebutuhan pokok, atau penumpukan persediaan (overstocking) yang berujung pada kerugian akibat barang rusak atau kedaluwarsa dengan nilai yang tidak sedikit [23].

Selain itu, lemahnya pengendalian biaya menjadikan toko kelontong rentan terhadap berbagai bentuk inefisiensi yang bersifat musiman. Salah satu contohnya adalah pembelian persediaan secara berlebihan pada periode permintaan tinggi, seperti bulan Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, tanpa didukung oleh peramalan permintaan yang akurat. Kondisi tersebut dapat menurunkan tingkat efisiensi operasional secara signifikan [24]. Lebih lanjut, ketiadaan perencanaan biaya yang terstruktur juga berdampak pada terbatasnya akses pelaku usaha terhadap sumber pembiayaan eksternal, khususnya kredit perbankan, karena laporan keuangan yang dihasilkan belum memenuhi prinsip keandalan dan transparansi yang dipersyaratkan oleh lembaga keuangan [25].

Berbagai studi terdahulu mengindikasikan bahwa penerapan teknik akuntansi manajemen yang relatif sederhana mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan efisiensi biaya operasional pada UMKM sektor ritel. Salah satu contohnya adalah penerapan metode First In First Out (FIFO) dalam pengelolaan persediaan, yang terbukti efektif dalam menekan kerugian akibat barang kedaluwarsa hingga 25% dengan memastikan bahwa persediaan yang lebih lama masuk terlebih dahulu dikeluarkan untuk penjualan [15]. Selain itu, pendekatan target costing, yang diawali dengan penetapan harga jual berdasarkan kondisi pasar kemudian diikuti dengan pengendalian biaya produksi atau pengadaan, juga terbukti mampu menurunkan tingkat pemborosan biaya hingga kisaran 18-20% pada UMKM dengan karakteristik serupa. Efektivitas metode ini antara lain dicapai melalui strategi negosiasi harga dengan pemasok grosir serta penyesuaian ukuran dan kemasan produk yang lebih efisien [26][27].

Seiring dengan perkembangan digitalisasi, pengintegrasian praktik akuntansi manajemen dengan pemanfaatan teknologi sederhana, seperti aplikasi pembukuan mobile, berpotensi semakin meningkatkan kinerja operasional UMKM. Penggunaan teknologi tersebut dilaporkan mampu meningkatkan akurasi pencatatan data hingga 30-35% sekaligus mempercepat proses analisis biaya dan pengambilan keputusan manajerial [16][22]. Meskipun demikian, tingkat adopsi teknologi akuntansi digital pada toko kelontong tradisional masih tergolong rendah. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang yang cukup besar untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha melalui penerapan perencanaan dan pengendalian biaya yang lebih terstruktur dan berbasis informasi yang andal.

Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji penerapan teknik akuntansi manajemen pada UMKM, sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada penggunaan metode tertentu, seperti metode FIFO, target costing, serta digitalisasi dalam pencatatan keuangan [15][16][22][26][27]. Penelitian yang secara khusus menelaah proses perencanaan biaya dan pengendalian biaya secara komprehensif dalam kegiatan operasional UMKM ritel mikro, terutama pada usaha toko kelontong, masih tergolong terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap), yang memberikan peluang untuk dilakukan kajian yang lebih mendalam mengenai bagaimana praktik perencanaan biaya dan pengendalian biaya diterapkan secara nyata oleh pelaku usaha mikro dalam menjalankan aktivitas operasional sehari-hari.

Penelitian ini merupakan pengembangan dari berbagai penelitian sebelumnya dengan menempatkan aspek perencanaan biaya dan pengendalian biaya sebagai fokus utama analisis dalam konteks operasional UMKM ritel mikro. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan akuntansi manajemen pada UMKM masih menghadapi berbagai keterbatasan, yang umumnya dipengaruhi oleh rendahnya tingkat literasi keuangan pelaku usaha serta terbatasnya akses terhadap teknologi pencatatan keuangan [4]. Selain itu, beberapa studi juga mengungkapkan bahwa penerapan pendekatan target costing dapat membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan efisiensi biaya operasional melalui pengendalian biaya yang dilakukan sejak tahap perencanaan [6][8]. Di sisi lain, penelitian lain menegaskan bahwa digitalisasi pencatatan keuangan berperan penting dalam meningkatkan akurasi informasi biaya serta mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam pengelolaan usaha [11][16]. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan kajian sebelumnya dengan mengintegrasikan perencanaan biaya dan pengendalian biaya secara simultan dan komprehensif. Kajian ini juga mempertimbangkan berbagai kerentanan eksternal yang dihadapi UMKM, seperti fluktuasi harga komoditas dan meningkatnya persaingan dengan ritel modern, serta menggali praktik-praktik informal yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan operasional sehari-hari [15][26][27].

Kebaruan (novelty) dalam penelitian ini terletak pada pendekatan analisis yang mengkaji secara komprehensif praktik perencanaan biaya dan pengendalian biaya dalam aktivitas operasional usaha toko kelontong sebagai bentuk UMKM ritel mikro di wilayah pinggiran [4][9][10]. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung menitikberatkan pada penerapan metode akuntansi tertentu secara terpisah, penelitian ini berupaya menggali secara lebih mendalam proses nyata, strategi, serta berbagai pertimbangan yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam mengelola biaya operasional sehari-hari. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti praktik-praktik pengelolaan biaya yang bersifat sederhana, berbiaya rendah, dan informal, yang disesuaikan dengan kondisi serta karakteristik UMKM tradisional di Indonesia.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian dalam bidang akuntansi manajemen melalui penyajian bukti empiris yang lebih mendalam mengenai penerapan perencanaan biaya dan pengendalian biaya pada UMKM sektor ritel mikro, yang hingga saat ini masih relatif jarang dikaji secara komprehensif [4][5][15][16]. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan sekaligus panduan bagi pelaku UMKM, khususnya pemilik usaha toko kelontong, mengenai pentingnya pengelolaan biaya operasional yang dilakukan secara terencana dan terkendali untuk meningkatkan efisiensi usaha, meminimalkan pemborosan, serta menjaga keberlanjutan margin keuntungan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat. Selain itu, temuan penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah, dinas koperasi dan UMKM, serta lembaga pendamping usaha dalam merancang program pelatihan akuntansi manajemen yang sederhana, aplikatif, dan berbiaya rendah sehingga lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan UMKM ritel mikro. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi empiris bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan studi serupa, baik dalam bentuk penelitian komparatif maupun penelitian lanjutan pada konteks UMKM tradisional lainnya [3][11][12][25].

II. Metode

Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif. Pendekatan tersebut dipilih dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai proses perencanaan biaya dan pengendalian biaya yang diterapkan pada UMKM ritel mikro, khususnya pada usaha toko kelontong, serta untuk menelaah sejauh mana kedua proses tersebut berperan dalam meningkatkan efisiensi biaya operasional. Penelitian kualitatif berfokus pada pengungkapan fenomena secara natural dan kontekstual, sehingga pendekatan ini dinilai tepat untuk mengkaji pengalaman, strategi, dan praktik akuntansi manajemen yang dijalankan oleh pemilik usaha dalam aktivitas operasional sehari-hari [28].

Subjek dalam penelitian ini adalah UMKM Toko Pojok Lor yang berlokasi di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Toko Pojok Lor dipilih sebagai subjek penelitian karena merupakan usaha mikro yang bergerak di bidang perdagangan eceran (toko kelontong) dan telah menjalankan kegiatan usahanya selama beberapa tahun. Dalam kegiatan operasionalnya, Toko Pojok Lor telah menerapkan praktik perencanaan biaya dan pengendalian biaya, meskipun masih dilakukan secara sederhana dan belum menggunakan sistem akuntansi manajemen yang formal. Karakteristik tersebut sesuai dengan fokus penelitian, yaitu menganalisis perencanaan biaya dan pengendalian biaya dalam meningkatkan efisiensi biaya operasional pada UMKM. Selain itu, pemilik usaha bersedia memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga data yang dibutuhkan dapat diperoleh secara lengkap.

Penelitian ini melibatkan tiga informan yang dipilih berdasarkan peran dan keterlibatannya dalam kegiatan operasional Toko Pojok Lor. Informan pertama adalah S.S selaku pemilik usaha karena bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan operasional, mulai dari perencanaan pembelian barang, pengelolaan modal, pengendalian biaya operasional, hingga pengambilan keputusan usaha. Informan kedua adalah D.R selaku karyawan yang terlibat secara langsung dalam kegiatan operasional sehari-hari, seperti melayani pelanggan, memantau persediaan barang, serta menyampaikan informasi mengenai kondisi stok kepada pemilik. Informan ketiga adalah I.S.D sebagai informan ahli yang memiliki pengetahuan di bidang akuntansi dan memahami konsep perencanaan biaya, pengendalian biaya, serta efisiensi biaya operasional. Keterlibatan ketiga informan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian serta mendukung keakuratan data yang diperoleh. Adapun informan dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut.:

Tabel 1. Data Informan

Sumber: Dibuat oleh Peneliti

Fokus dan batasan penelitian ini terletak pada analisis praktik perencanaan biaya dan pengendalian biaya dalam kegiatan operasional usaha toko kelontong. Penelitian ini hanya mengkaji biaya operasional yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas usaha, seperti biaya pengadaan persediaan, biaya transportasi untuk pengambilan barang, biaya listrik operasional, serta strategi pengendalian persediaan. Penelitian ini tidak membahas secara mendalam mengenai penyusunan laporan keuangan formal, aspek perpajakan, maupun analisis keuangan yang bersifat kuantitatif. Sebaliknya, penelitian ini lebih menekankan pada pemahaman terhadap proses, strategi, serta praktik nyata yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam mengelola biaya operasional sehari-hari.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga teknik utama, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilaksanakan secara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang dibuat khusus berdasarkan fokus penelitian. Teknik ini memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengumpulkan informasi yang mendalam dan adaptif, namun tetap terarah. Observasi dilakukan dengan cara menyaksikan langsung aktivitas operasional toko, termasuk proses pengadaan barang dari supplier, penataan barang di rak, penanganan produk yang tidak layak atau kedaluwarsa, sampai proses penjualan setiap hari. Selain itu, dokumentasi digunakan sebagai data pendukung untuk memperkuat dan melengkapi informasi yang diperoleh melalui wawancara dan observasi.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis data kualitatif, yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi [29]. Reduksi data dilakukan dengan memilah, merangkum, dan memfokuskan data penting dari hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi menjadi tema-tema utama seperti perencanaan biaya, pengendalian biaya, dan efisiensi operasional. Hasil penelitian ini dipaparkan dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis, serta diperkuat dengan kutipan langsung dari informan yang sesuai dengan tema penelitian. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian hingga diperoleh temuan yang sesuai dengan fokus penelitian. Analisis ini berlangsung secara siklus, sehingga peneliti terus melakukan peninjauan kembali terhadap data sampai tidak ditemukan informasi baru.

Keabsahan dan keandalan data dalam penelitian ini dipertahankan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari informan untuk memastikan konsistensi data mengenai perencanaan biaya, pengendalian biaya, dan efisiensi biaya operasional. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga informasi yang diperoleh dapat saling mendukung dan memperkuat temuan penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan member check dengan mengonfirmasi hasil wawancara kepada informan serta menyusun audit trail sebagai dokumentasi seluruh proses penelitian.

III. Hasil dan Pembahasan

Profil UMKM

Toko Pojok Lor adalah salah satu usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bergerak di bidang ritel mikro dengan jenis usaha toko kelontong tradisional. Toko ini terletak di Kecamatan Gempol, Jawa Timur, dan didirikan oleh Ibu S pada tahun 2019. Hingga saat penelitian ini dilakukan, usaha tersebut telah beroperasi selama kurang lebih tujuh tahun. Dengan ukuran bangunan hanya sekitar 4 x 6 meter, toko ini menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat, di antaranya seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur, mie instan, rokok, sabun mandi, serta minuman kemasan. Keberadaan toko ini sangat penting bagi warga setempat karena lokasinya yang strategis di lingkungan permukiman, sehingga memudahkan akses terhadap barang-barang kebutuhan rutin.

Toko Pojok Lor dikelola secara kekeluargaan oleh Ibu S sebagai pemilik sekaligus penanggung jawab utama. Dalam menjalankan operasional sehari-hari, Ibu S dibantu oleh satu orang karyawan tetap yang mengurus hampir seluruh aktivitas toko, mulai dari pembukaan hingga penutupan. Sistem pengelolaan masih bersifat konvensional dengan pencatatan keuangan yang dilakukan secara manual menggunakan buku catatan sederhana. Meskipun beroperasi dalam skala mikro dengan modal terbatas, toko ini mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat dengan ritel modern seperti minimarket. Fleksibilitas pelayanan, kedekatan dengan pelanggan, serta kemampuan beradaptasi menjadi kekuatan utama usaha ini.

Sebagai bentuk UMKM ritel mikro, Toko Pojok Lor berperan penting dalam mendistribusikan barang kebutuhan pokok di tingkat lokal serta menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarga pemilik. Karakteristik pengelolaan yang masih sederhana, mengandalkan pengalaman, serta melibatkan partisipasi karyawan mencerminkan kondisi umum toko kelontong tradisional di Indonesia. Dengan semangat kekeluargaan dan kedekatan dengan masyarakat sekitar, Toko Pojok Lor tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi lokal di wilayah Kecamatan Gempol.

Analisis Data dan Hasil Penelitian

Perencanaan Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Penelitian mengenai perencanaan biaya operasional dilakukan untuk mengetahui bagaimana Toko Pojok Lor merencanakan penggunaan biaya dalam menjalankan kegiatan operasional sehari-hari. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan pemilik usaha, karyawan, dan informan ahli, serta didukung oleh hasil observasi dan dokumentasi. Dari proses pengumpulan data tersebut diketahui bahwa perencanaan biaya operasional di Toko Pojok Lor masih dilakukan secara sederhana dengan mengandalkan pengalaman pemilik dalam mengelola usaha.

Perencanaan biaya di Toko Pojok Lor lebih difokuskan pada kegiatan pembelian barang dagangan karena pengadaan persediaan merupakan pengeluaran terbesar dalam operasional usaha. Sebelum melakukan pembelian, pemilik terlebih dahulu memperhatikan kondisi stok barang yang tersedia, jenis barang yang paling banyak dibutuhkan pelanggan, serta kemampuan modal yang dimiliki. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh pemilik:

“Biasanya saya beli setiap 3–4 hari sekali ke grosir. Jumlah dan jenisnya dari pengalaman saja, lihat barang yang hampir habis. Kalau menjelang Lebaran atau Ramadan kami tambah stok lebih banyak supaya tidak kehabisan.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Berdasarkan keterangan tersebut, diketahui bahwa pembelian barang dilakukan secara berkala sesuai dengan kondisi persediaan. Penambahan jumlah pembelian dilakukan ketika diperkirakan terjadi peningkatan permintaan, seperti menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian disesuaikan dengan kondisi operasional yang dihadapi oleh toko.

Selama menjalankan usahanya, pemilik juga pernah mengalami kesalahan dalam memperkirakan jumlah pembelian barang. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi dalam menentukan pembelian berikutnya. Pemilik menjelaskan:

“Pernah. Waktu awal buka toko atau saat permintaan pelanggan berubah tiba-tiba. Saya pernah membeli minuman kemasan terlalu banyak karena mengira akan cepat habis, ternyata penjualannya lambat sehingga beberapa mendekati kedaluwarsa. Dari situ saya belajar untuk membeli sesuai kebutuhan dan melihat penjualan sebelumnya.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman selama menjalankan usaha menjadi salah satu dasar dalam menyusun rencana pembelian barang. Setelah mengalami penumpukan persediaan, pemilik lebih berhati-hati dalam menentukan jumlah barang yang akan dibeli agar sesuai dengan kebutuhan penjualan.

Selain pernah mengalami kelebihan persediaan, pemilik juga pernah menghadapi kondisi kekurangan stok pada beberapa barang yang memiliki tingkat permintaan tinggi. Kondisi tersebut mendorong pemilik untuk lebih rutin melakukan pengecekan persediaan agar kebutuhan pelanggan tetap dapat dipenuhi. Hal tersebut diungkapkan oleh pemilik sebagai berikut:

“Pernah beberapa kali, terutama minyak goreng atau telur saat permintaannya tinggi. Biasanya pelanggan bilang nanti beli di toko sebelah dulu. Sejak itu saya lebih sering mengecek stok supaya tidak terlalu sering kehabisan.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman menghadapi kekurangan stok menjadi pertimbangan bagi pemilik untuk meningkatkan pengawasan terhadap persediaan. Sehingga waktu pembelian dapat ditentukan dengan lebih tepat.

Dalam kondisi modal terbatas, pemilik juga menetapkan skala prioritas pembelian terhadap barang-barang yang memiliki tingkat penjualan lebih tinggi. Langkah tersebut dilakukan agar modal usaha dapat kembali berputar dalam waktu yang relatif singkat. Sebagaimana disampaikan oleh pemilik:

“Kalau modal terbatas saya lebih mengutamakan barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, mie instan, dan rokok karena barang-barang itu paling sering dicari pelanggan. Barang yang kurang laku saya tunda dulu pembeliannya sampai modal kembali berputar.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Selain melibatkan pemilik, proses perencanaan biaya juga melibatkan karyawan yang setiap harinya melakukan pemantauan persediaan barang. Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pemilik sebelum melakukan pembelian kembali. Karyawan menyampaikan:

“Saya yang lihat stok barang yang hampir habis setiap hari. Kalau barang seperti beras, minyak goreng, mie instan, dan telur sudah tinggal sedikit, saya kasih tahu Ibu. Kadang Ibu yang memutuskan jumlahnya, tapi sering saya yang usulkan berdasarkan penjualan hari-hari sebelumnya.” (Wawancara Tanggal 26 Mei 2026)

Karyawan juga menjelaskan bahwa pengecekan persediaan dilakukan secara rutin setiap hari agar barang yang mulai menipis dapat segera dilakukan.

“Saya lihat langsung di rak setiap pagi dan sore. Kalau stok tinggal sedikit saya langsung memberi tahu Ibu supaya segera dibeli lagi.” (Wawancara Tanggal 26 Mei 2026)

Selain merencanakan pembelian persediaan, penelitian juga menemukan bahwa Toko Pojok Lor belum memiliki anggaran biaya operasional yang disusun secara tertulis. Perencanaan biaya masih dilakukan berdasarkan perkiraan yang diperoleh dari pengalaman menjalankan usaha. Sebagaimana disampaikan pemilik:

“Tidak ada anggaran tertulis bulanan. Cuma perkiraan kasar saja. Biaya listrik sekitar Rp150.000–Rp200.000 per bulan, transportasi ambil barang Rp50.000–Rp70.000 per minggu. Gaji karyawan juga ada, tapi tidak dicatat secara detail.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Ketika ditanyakan mengenai alasan belum adanya penyusunan anggaran secara tertulis, pemilik menjelaskan bahwa kegiatan operasional yang cukup padat membuat pengelolaan biaya masih dilakukan secara sederhana.

“Karena usaha saya masih tergolong kecil, jadi selama ini lebih mengandalkan pengalaman dan perkiraan saja. Selain itu, kegiatan di toko cukup padat sehingga belum sempat membuat anggaran secara tertulis.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pemilik melakukan pengecekan stok barang sebelum melakukan pembelian ke pemasok. Peneliti juga menemukan adanya nota pembelian sebagai bukti transaksi, namun belum ditemukan dokumen anggaran biaya operasional maupun pencatatan biaya yang disusun secara sistematis.

Temuan penelitian tersebut diperkuat oleh pendapat informan ahli yang menyatakan bahwa praktik yang dilakukan Toko Pojok Lor telah menunjukkan adanya proses perencanaan biaya meskipun masih dilakukan secara informal.

“Menurut saya sudah dapat dikatakan sebagai perencanaan biaya, hanya saja bentuknya masih informal. Pemilik sudah memperkirakan kebutuhan barang dan biaya sebelum melakukan pembelian meskipun belum membuat anggaran secara tertulis.” (Wawancara Tanggal 10 Juli 2026)

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan biaya operasional pada Toko Pojok Lor dilakukan melalui kegiatan memperkirakan kebutuhan persediaan, menyesuaikan jumlah pembelian dengan kondisi stok dan permintaan pelanggan, menentukan prioritas pembelian berdasarkan kemampuan modal, serta melibatkan karyawan dalam pemantauan persediaan. Meskipun demikian, proses tersebut masih dilakukan secara sederhana dan belum didukung oleh penyusunan anggaran biaya operasional maupun pencatatan biaya yang sistematis.

Pengendalian Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Pengendalian biaya operasional merupakan upaya yang dilakukan Toko Pojok Lor untuk mengawasi penggunaan biaya agar kegiatan usaha tetap berjalan secara efektif. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, diketahui bahwa pengendalian biaya dilakukan secara langsung oleh pemilik melalui pengawasan terhadap pembelian barang, persediaan, serta pengeluaran operasional sehari-hari. Meskipun belum menggunakan sistem pengendalian yang formal, pemilik berupaya mengendalikan setiap pengeluaran agar sesuai dengan kebutuhan usaha.

Pengendalian biaya yang paling utama dilakukan pada kegiatan pembelian barang dagangan. Sebelum melakukan pembelian, pemilik terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi stok yang tersedia sehingga tidak terjadi pembelian secara berlebihan. Pemilik Toko Pojok Lor menyampaikan:

“Kalau belanja barang saya usahakan sesuai kebutuhan saja. Tidak berani terlalu banyak karena takut barang lama habis atau modal berhenti di stok. Biasanya saya lihat dulu barang apa yang cepat habis baru saya tambah.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pemilik berusaha mengendalikan penggunaan modal dengan membatasi pembelian barang sesuai kebutuhan. Barang yang memiliki tingkat penjualan tinggi menjadi prioritas untuk dibeli kembali, sedangkan barang yang masih tersedia dalam jumlah banyak tidak langsung ditambah.

Selain mengendalikan pembelian barang, pemilik juga melakukan pengawasan terhadap biaya operasional rutin seperti listrik dan transportasi. Pengeluaran tersebut dikendalikan dengan cara mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak diperlukan dan mengatur kegiatan operasional agar lebih efisien.

“Kalau listrik saya perhatikan juga, misalnya lampu yang tidak perlu dinyalakan ya dimatikan. Untuk transportasi ambil barang juga saya usahakan sekalian kalau belanja supaya tidak bolak-balik.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa pengendalian biaya tidak hanya diterapkan pada pembelian barang dagangan, tetapi juga diterapkan pada biaya operasional lainnya yang dikeluarkan selama kegiatan usaha berlangsung.

Pengelolaan persediaan juga menjadi bagian dari pengendalian biaya yang dilakukan oleh pemilik. Pengecekan kondisi barang yang dilakukan secara rutin untuk mengetahui barang yang mulai habis maupun barang yang perputarannya lambat. Pemilik menjelaskan:

“Setiap hari biasanya saya lihat barang yang ada di rak, mana yang mulai habis dan mana yang masih banyak. Kalau ada barang yang lama tidak bergerak biasanya saya tidak tambah dulu pembeliannya.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemilik melakukan pemantauan terhadap pergerakan persediaan sebelum mengambil keputusan pembelian. Dengan cara tersebut, barang yang kurang diminati pelanggan tidak dibeli kembali dalam jumlah besar sehingga modal tidak tertahan terlalu lama dalam bentuk persediaan.

Dalam pelaksanaan pengendalian biaya, karyawan juga memiliki peran melalui kegiatan pengecekan stok barang setiap hari. Informasi mengenai kondisi persediaan kemudian disampaikan kepada pemilik sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pembelian berikutnya.

“Saya biasanya mengecek barang setiap hari, terutama barang yang cepat habis seperti telur, minyak, beras, dan minuman. Kalau sudah sedikit saya langsung bilang ke Ibu supaya bisa disiapkan untuk belanja berikutnya.” (Wawancara Tanggal 26 Mei 2026)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diketahui bahwa komunikasi antara pemilik dan karyawan menjadi bagian dari pelaksanaan pengendalian biaya operasional. Informasi mengenai kondisi stok membantu pemilik mengambil keputusan pembelian yang lebih sesuai dengan kebutuhan toko.

Penelitian juga menemukan bahwa pencatatan biaya operasional di Toko Pojok Lor masih dilakukan secara sederhana. Pemilik belum mencatat seluruh pengeluaran operasional secara rinci dan masih mengandalkan nota pembelian serta ingatan dalam mengawasi biaya yang dikeluarkan. Pemilik menyampaikan:

“Kalau pemasukan dan pengeluaran besar masih saya ingat-ingat. Untuk belanja barang biasanya ada nota dari grosir, tapi kalau biaya kecil seperti bensin atau kebutuhan kecil lainnya kadang tidak selalu dicatat.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap biaya lebih banyak dilakukan secara langsung dibandingkan melalui pencatatan yang sistematis. Meskipun demikian, pemilik tetap berusaha mempertimbangkan setiap pengeluaran sebelum biaya tersebut dikeluarkan.

Hasil observasi menunjukkan bahwa pemilik secara rutin memeriksa kondisi persediaan, mengawasi aktivitas pembelian barang, serta menyimpan nota pembelian sebagai bukti transaksi. Namun, peneliti tidak menemukan laporan biaya operasional maupun dokumen evaluasi biaya yang disusun secara berkala.

Temuan penelitian tersebut diperkuat oleh pendapat informan ahli yang menyatakan bahwa pengendalian biaya pada UMKM tidak selalu dilakukan melalui sistem yang kompleks, tetapi dapat diterapkan melalui pengawasan langsung terhadap aktivitas usaha.

“Pengendalian biaya tidak selalu harus menggunakan sistem yang rumit. Pada UMKM, pengawasan langsung terhadap pengeluaran, stok barang, dan penggunaan modal sudah termasuk bentuk pengendalian biaya, meskipun akan lebih baik apabila didukung dengan pencatatan yang lebih teratur.” (Wawancara Tanggal 10 Juli 2026)

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian biaya operasional di Toko Pojok Lor dilakukan melalui pengawasan terhadap pembelian barang, pemantauan persediaan, pengendalian pengeluaran operasional, serta keterlibatan karyawan dalam memberikan informasi mengenai kondisi stok. Meskipun telah diterapkan dalam kegiatan operasional sehari-hari, pengendalian biaya tersebut masih dilakukan secara sederhana dan belum didukung oleh sistem pencatatan biaya yang lengkap dan terstruktur.

Efisiensi Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Penelitian mengenai efisiensi biaya operasional dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan perencanaan biaya dan pengendalian biaya berkontribusi terhadap penggunaan sumber daya secara lebih optimal pada Toko Pojok Lor. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, diketahui bahwa pemilik berupaya mengelola biaya operasional dengan menyesuaikan pembelian barang sesuai kebutuhan, mengendalikan pengeluaran operasional, serta mengelola persediaan agar modal usaha dapat berputar dengan baik.

Salah satu upaya yang dilakukan pemilik untuk mencapai efisiensi biaya operasional adalah menentukan prioritas pembelian terhadap barang yang memiliki tingkat penjualan tinggi. Pemilik menjelaskan bahwa pembelian dilakukan berdasarkan kebutuhan sehingga modal tidak terlalu lama tertahan pada persediaan yang kurang diminati pelanggan.

“Kalau pembelian barang saya sesuaikan dengan kebutuhan saja, supaya modal tidak terlalu lama berhenti di barang. Barang yang cepat laku lebih saya dahulukan daripada barang yang jarang dicari.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemilik berusaha memanfaatkan modal usaha secara lebih efektif dengan mengutamakan pembelian barang yang memiliki perputaran lebih cepat. Cara tersebut dilakukan agar modal dapat segera kembali melalui hasil penjualan dan digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan persediaan berikutnya.

Selain melakukan pengelolaan terhadap pembelian barang, pemilik juga berupaya mengurangi pengeluaran operasional yang dianggap tidak diperlukan. Penghematan dilakukan pada penggunaan listrik serta biaya transportasi ketika melakukan pembelian barang ke pemasok. Pemilik menjelaskan:

“Untuk ambil barang biasanya sekalian kalau belanja supaya tidak bolak-balik. Kalau listrik juga diperhatikan supaya tidak terlalu boros.” (Wawancara Tanggal 24 Mei 2026)

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemilik berupaya menggunakan sumber daya yang tersedia secara lebih hemat tanpa mengurangi kelancaran kegiatan operasional toko.

Efisiensi biaya operasional juga didukung oleh pengelolaan persediaan yang dilakukan secara rutin. Pemilik bersama karyawan melakukan pengecekan stok setiap hari sehingga keputusan pembelian dapat disesuaikan dengan kondisi barang yang tersedia. Karyawan menyampaikan:

“Kalau barang masih banyak biasanya tidak langsung dibeli lagi. Dilihat dulu barangnya masih jalan atau tidak.” (Wawancara Tanggal 26 Mei 2026)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelian barang tidak dilakukan secara terus-menerus, tetapi disesuaikan dengan kondisi persediaan dan tingkat penjualan masing-masing produk. Dengan demikian, risiko penumpukan barang dapat dikurangi dan penggunaan modal menjadi lebih optimal.

Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pemilik secara rutin melakukan pengecekan kondisi persediaan sebelum melakukan pembelian kembali. Peneliti juga menemukan bahwa pembelian barang lebih banyak difokuskan pada produk yang memiliki tingkat permintaan tinggi sehingga persediaan dapat berputar lebih cepat. Namun demikian, peneliti belum menemukan adanya indikator atau ukuran efisiensi biaya yang digunakan secara khusus oleh pemilik dalam mengevaluasi kegiatan operasional usahanya.

Pendapat informan ahli turut memperkuat hasil penelitian mengenai efisiensi biaya operasional pada Toko Pojok Lor. Informan ahli menyampaikan bahwa efisiensi biaya pada UMKM dapat dilihat dari kemampuan pemilik dalam memanfaatkan modal dan mengelola pengeluaran sesuai dengan kebutuhan usaha.

"Efisiensi biaya pada UMKM dapat dilihat dari bagaimana pemilik mengelola modal, mengatur pembelian barang sesuai kebutuhan, serta mengendalikan pengeluaran operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pelanggan. Meskipun masih sederhana, praktik tersebut sudah menunjukkan adanya upaya untuk mencapai efisiensi biaya." (Wawancara Tanggal 10 Juli 2026).

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi biaya operasional pada Toko Pojok Lor diwujudkan melalui penyesuaian pembelian barang dengan kebutuhan usaha, pengelolaan persediaan secara rutin, serta pengendalian pengeluaran operasional. Meskipun belum menggunakan ukuran efisiensi secara kuantitatif maupun pencatatan biaya yang sistematis, praktik tersebut menunjukkan adanya upaya pemilik dalam memanfaatkan sumber daya secara lebih optimal untuk mendukung kelangsungan usaha.

Pembahasan

Perencanaan Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Perencanaan biaya operasional yang diterapkan pada Toko Pojok Lor menunjukkan bahwa pemilik telah menerapkan fungsi perencanaan dalam pengelolaan usaha meskipun belum menggunakan anggaran biaya secara tertulis. Perencanaan dilakukan melalui perkiraan kebutuhan barang, penentuan prioritas pembelian, serta penyesuaian penggunaan modal berdasarkan kondisi persediaan dan permintaan pelanggan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses perencanaan biaya pada usaha mikro lebih menekankan pada pengalaman dan pertimbangan praktis dibantingkan penyusunan anggaran yang bersifat formal.

Menurut peneliti, praktik tersebut dipengaruhi oleh karakteristik Toko Pojok Lor sebagai usaha mikro yang masih dikelola secara langsung oleh pemilik. Keterlibatan pemilik dalam seluruh aktivitas operasional membuat proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat sesuai kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu, meskipun belum memiliki anggaran biaya secara tertulis, pemilik tetap mampu memperkirakan kebutuhan operasional berdasarkan pengalaman usaha yang dimiliki.

Praktik perencanaan biaya yang dilakukan Toko Pojok Lor telah mencerminkan fungsi dasar perencanaan dalam akuntansi manajemen, yaitu memperkirakan kebutuhan sumber daya sebelum kegiatan operasional dilaksanakan. Meskipun belum diwujudkan dalam bentuk anggaran yang terdokumentasi, proses memperkirakan kebutuhan barang sebelum pembelian merupakan bentuk perencanaan yang bertujuan mengoptimalkan penggunaan modal dan menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan. Dengan demikian, keberadaan anggaran tertulis bukan satu-satunya indikator bahwa suatu usaha telah menerapkan perencanaan biaya, terutama pada UMKM yang masih berskala mikro.

Salah satu bentuk perencanaan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah penentuan jumlah pembelian berdasarkan kondisi persediaan dan tingkat permintaan pelanggan. Pemilik tidak melakukan pembelian dalam jumlah tetap, melainkan menyesuaikan jumlah barang yang dibeli dengan kebutuhan yang diperkirakan akan terjadi. Strategi tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan penggunaan modal sehingga risiko penumpukan persediaan maupun kekurangan stok dapat diminimalkan.

Selain mempertimbangkan kondisi persediaan, pengalaman selama menjalankan usaha juga menjadi dasar dalam proses perencanaan biaya. Pengalaman ketika terjadi penumpukan barang maupun kekurangan persediaan dijadikan bahan evaluasi dalam menentukan keputusan pembelian berikutnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses perencanaan biaya pada UMKM berkembang melalui pembelajaran dari pengalaman operasional sehari-hari. Meskipun belum menggunakan metode peramalan yang formal, pengalaman usaha mampu membantu pemilik dalam memperkirakan kebutuhan barang secara lebih tepat.

Perencanaan biaya pada Toko Pojok Lor juga dipengaruhi oleh kemampuan modal yang tersedia. Ketika modal usaha terbatas, pemilik memprioritaskan pembelian barang yang memiliki tingkat perputaran tinggi, seperti beras, minyak goreng, gula, telur, mie instan, dan rokok. Keputusan tersebut menunjukkan adanya pertimbangan efisiensi penggunaan modal dengan mengalokasikan dana pada produk yang lebih cepat menghasilkan penerimaan sehingga perputaran modal usaha tetap terjaga.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa praktik akuntansi manajemen pada UMKM masih banyak dilakukan secara sederhana dan dipengaruhi oleh pengalaman pemilik dalam menjalankan usaha [4]. Pada usaha berskala mikro, perencanaan biaya belum selalu dilakukan melalui penyusunan anggaran yang sistematis, tetapi lebih sering diterapkan melalui pertimbangan langsung terhadap kondisi operasional. Hal tersebut juga terlihat pada Toko Pojok Lor, di mana keputusan pembelian dipengaruhi oleh kondisi stok, pengalaman usaha, dan kemampuan modal.

Selain itu, hasil penelitian ini juga mendukung penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa akuntansi manajemen berperan sebagai dasar dalam mendukung pengambilan keputusan operasional usaha [5]. Walaupun penerapannya masih sederhana, keputusan pemilik Toko Pojok Lor dalam menentukan jumlah pembelian, memilih prioritas barang, dan mengatur penggunaan modal menunjukkan adanya penerapan fungsi akuntansi manajemen dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Namun, penelitian ini juga menemukan adanya keterbatasan dalam proses perencanaan biaya, yaitu belum tersedianya anggaran biaya operasional secara tertulis. Kondisi tersebut menyebabkan pemilik belum dapat melakukan perbandingan antara biaya yang direncanakan dengan biaya yang benar-benar dikeluarkan. Akibatnya, proses evaluasi penggunaan biaya masih bergantung pada ingatan dan pengalaman pemilik sehingga informasi biaya yang tersedia belum sepenuhnya dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan jangka panjang.

Meskipun demikian, karakteristik usaha yang masih berskala mikro menyebabkan pendekatan tersebut masih dapat diterapkan dalam menjalankan kegiatan operasional sehari-hari. Keterlibatan langsung pemilik dalam seluruh aktivitas usaha memungkinkan proses perencanaan dilakukan secara cepat sesuai dengan perubahan kondisi yang terjadi di lapangan. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu keunggulan bagi UMKM dalam menyesuaikan keputusan operasional dengan kebutuhan usaha yang bersifat dinamis.

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perencanaan biaya operasional pada Toko Pojok Lor telah diterapkan melalui kegiatan memperkirakan kebutuhan barang, menentukan prioritas pembelian, serta menyesuaikan penggunaan modal dengan kondisi usaha. Meskipun belum dilakukan melalui penyusunan anggaran biaya secara formal, praktik tersebut telah membantu pemilik dalam mengelola biaya operasional agar tetap sesuai dengan kebutuhan usaha. Namun, penyusunan anggaran biaya sederhana tetap diperlukan agar proses perencanaan dapat dilakukan secara lebih terarah serta mempermudah evaluasi penggunaan biaya pada periode berikutnya.

Pengendalian Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Pengendalian biaya operasional merupakan salah satu upaya yang dilakukan Toko Pojok Lor untuk memastikan bahwa setiap pengeluaran yang terjadi sesuai dengan kebutuhan usaha. Berdasarkan temuan penelitian, pengendalian biaya dilakukan secara langsung oleh pemilik melalui pengawasan terhadap pembelian barang, pengelolaan persediaan, serta pengawasan terhadap berbagai biaya operasional. Meskipun belum menggunakan sistem pengendalian yang formal, praktik tersebut menunjukkan bahwa pemilik telah berupaya menjaga agar penggunaan biaya tetap terkendali sehingga kegiatan operasional dapat berjalan secara efektif.

Menurut peneliti, penerapan pengendalian biaya pada Toko Pojok Lor dipengaruhi oleh karakteristik usaha yang masih berskala mikro. Pada usaha dengan skala seperti ini, pemilik memiliki keterlibatan langsung dalam seluruh aktivitas operasional sehingga dapat mengetahui setiap pengeluaran yang terjadi. Kondisi tersebut memungkinkan pemilik mengambil keputusan dengan cepat apabila terdapat biaya yang dianggap tidak diperlukan atau ketika diperlukan penyesuaian terhadap pembelian barang. Dengan demikian, pengawasan secara langsung menjadi bentuk pengendalian biaya yang sesuai dengan kondisi usaha mikro.

Pengendalian biaya pada Toko Pojok Lor lebih banyak dilakukan terhadap pembelian barang dagangan karena komponen tersebut menjadi bagian terbesar dalam penggunaan modal usaha. Pemilik menentukan jumlah pembelian berdasarkan kondisi persediaan dan tingkat permintaan pelanggan sehingga dana yang tersedia dapat dialokasikan pada barang yang benar-benar dibutuhkan. Menurut peneliti, keputusan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menjaga efisiensi penggunaan modal karena pemilik tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan barang, tetapi juga memperhatikan perputaran modal agar tetap berjalan dengan baik.

Selain pengendalian terhadap pembelian barang, pemilik juga melakukan pengawasan terhadap biaya operasional lainnya, seperti biaya listrik dan transportasi. Walaupun jumlah biaya tersebut relatif lebih kecil dibandingkan biaya persediaan, pengawasan tetap dilakukan untuk menghindari penggunaan biaya yang tidak diperlukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengendalian biaya pada Toko Pojok Lor tidak hanya berfokus pada pengeluaran utama, tetapi juga mencakup seluruh biaya yang berhubungan dengan aktivitas operasional usaha.

Pengelolaan persediaan yang dilakukan melalui pengecekan stok secara rutin juga menjadi bagian dari pengendalian biaya operasional. Kegiatan tersebut membantu pemilik mengetahui barang yang perlu segera dibeli maupun barang yang masih tersedia dalam jumlah cukup. Menurut peneliti, pengawasan terhadap persediaan memberikan manfaat dalam mengurangi risiko kehabisan stok maupun penumpukan barang sehingga penggunaan modal menjadi lebih efisien.

Penerapan pengendalian biaya pada Toko Pojok Lor sesuai dengan konsep pengendalian dalam akuntansi manajemen, yaitu proses memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan rencana serta melakukan tindakan perbaikan apabila terdapat penyimpangan. Pada Toko Pojok Lor, proses pengendalian tersebut belum dilakukan melalui prosedur tertulis, tetapi diterapkan melalui pengawasan langsung terhadap aktivitas operasional sehari-hari. Meskipun masih sederhana, praktik tersebut tetap menunjukkan adanya fungsi pengendalian dalam membantu pemilik mengelola penggunaan biaya usaha.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa pengendalian biaya pada UMKM umumnya dilakukan melalui keterlibatan langsung pemilik dalam mengawasi penggunaan modal, pengeluaran operasional, dan aktivitas usaha [8]. Kesamaan tersebut terlihat pada Toko Pojok Lor, di mana keputusan terkait pembelian barang dan penggunaan biaya masih berada dalam pengawasan langsung pemilik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik usaha mikro cenderung menerapkan pengendalian biaya melalui pengawasan personal dibandingkan penggunaan sistem administrasi yang kompleks.

Namun, penelitian ini juga menemukan adanya keterbatasan dalam penerapan pengendalian biaya, yaitu belum tersedianya pencatatan biaya operasional secara lengkap dan sistematis. Kondisi tersebut menyebabkan pemilik belum dapat melakukan evaluasi biaya secara lebih rinci maupun membandingkan perubahan pengeluaran antarperiode. Menurut peneliti, penyusunan pencatatan biaya sederhana dapat menjadi langkah awal bagi pemilik untuk mengetahui pola pengeluaran usaha, mengidentifikasi biaya yang masih dapat dikurangi, serta meningkatkan efektivitas pengendalian biaya.

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengendalian biaya operasional pada Toko Pojok Lor telah diterapkan melalui pengawasan langsung terhadap pembelian barang, pengelolaan persediaan, serta pemantauan berbagai pengeluaran operasional. Meskipun masih dilakukan secara sederhana, pengendalian tersebut telah membantu pemilik dalam menjaga penggunaan biaya agar tetap sesuai dengan kebutuhan usaha. Namun, pencatatan biaya operasional yang lebih sistematis masih diperlukan agar proses pengendalian dapat dilakukan secara lebih optimal serta mendukung pengambilan keputusan usaha.

Efisiensi Biaya Operasional pada Toko Pojok Lor

Efisiensi biaya operasional pada Toko Pojok Lor merupakan hasil dari penerapan perencanaan biaya dan pengendalian biaya yang dilakukan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian, pemilik berupaya memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara optimal melalui penyesuaian pembelian barang, pengelolaan persediaan, serta pengendalian berbagai pengeluaran operasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efisiensi biaya tidak hanya berkaitan dengan mengurangi jumlah pengeluaran, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan usaha dalam menggunakan biaya secara tepat sesuai dengan kebutuhan operasional.

Menurut peneliti, efisiensi biaya operasional yang diterapkan pada Toko Pojok Lor dipengaruhi oleh kemampuan pemilik dalam mengambil keputusan yang tepat mengenai penggunaan modal. Pemilik tidak melakukan pembelian barang dalam jumlah yang berlebihan, tetapi menyesuaikannya dengan kondisi persediaan dan tingkat permintaan pelanggan. Keputusan tersebut membantu menjaga kelancaran perputaran modal sehingga dana usaha dapat digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan operasional berikutnya.

Pengelolaan persediaan juga memberikan kontribusi terhadap tercapainya efisiensi biaya operasional. Pengecekan stok yang dilakukan secara rutin membantu pemilik mengetahui barang yang perlu segera dibeli maupun barang yang masih tersedia dalam jumlah cukup. Menurut peneliti, langkah tersebut mampu mengurangi risiko kelebihan persediaan yang dapat menyebabkan modal tertahan, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya kekurangan stok yang dapat menghambat penjualan.

Selain pengelolaan persediaan, efisiensi biaya juga terlihat dari upaya pemilik dalam menghemat penggunaan biaya operasional, seperti biaya listrik dan transportasi. Pengeluaran dilakukan sesuai kebutuhan sehingga tidak terjadi pemborosan yang dapat meningkatkan biaya operasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap pengeluaran dipertimbangkan berdasarkan manfaat yang diperoleh bagi kelangsungan usaha.

Penerapan efisiensi biaya pada Toko Pojok Lor sesuai dengan konsep dalam akuntansi manajemen yang menjelaskan bahwa efisiensi dapat dicapai melalui penggunaan sumber daya secara optimal untuk memperoleh hasil yang maksimal. Dalam penelitian ini, efisiensi biaya diwujudkan melalui kemampuan pemilik dalam mengatur penggunaan modal, menentukan prioritas pembelian barang, serta mengendalikan berbagai pengeluaran operasional. Meskipun belum terdapat pengukuran efisiensi secara formal menggunakan indikator tertentu, praktik yang dilakukan menunjukkan adanya upaya untuk menggunakan sumber daya usaha secara efektif.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa peningkatan efisiensi biaya pada UMKM dapat dilakukan melalui pengelolaan biaya yang tepat serta pengambilan keputusan yang disesuaikan dengan kondisi usaha [6]. Kesamaan tersebut terlihat pada Toko Pojok Lor, di mana pemilik melakukan penyesuaian penggunaan modal, pembelian barang, dan pengeluaran operasional berdasarkan kebutuhan usaha. Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan operasional yang tepat dapat membantu UMKM menjaga efektivitas kegiatan usaha meskipun masih menggunakan sistem pengelolaan yang sederhana.

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa upaya pencapaian efisiensi biaya pada Toko Pojok Lor masih memiliki keterbatasan, yaitu belum adanya pencatatan biaya operasional yang lengkap serta penyusunan anggaran biaya secara tertulis. Kondisi tersebut menyebabkan pemilik belum dapat melakukan evaluasi tingkat efisiensi berdasarkan data biaya yang terdokumentasi secara jelas. Menurut peneliti, pencatatan biaya operasional dan penyusunan anggaran sederhana dapat membantu pemilik mengetahui pola pengeluaran usaha, membandingkan antara biaya yang direncanakan dengan biaya yang dikeluarkan, serta menentukan langkah perbaikan apabila terdapat penggunaan biaya yang kurang efektif.

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa efisiensi biaya operasional pada Toko Pojok Lor tercapai melalui penerapan perencanaan biaya dan pengendalian biaya yang dilakukan secara sederhana sesuai dengan karakteristik usaha mikro. Praktik tersebut telah membantu pemilik dalam mengoptimalkan penggunaan modal, mengurangi potensi pemborosan, serta menjaga kelancaran kegiatan operasional usaha. Meskipun demikian, penyusunan anggaran dan pencatatan biaya yang lebih sistematis tetap diperlukan agar tingkat efisiensi biaya dapat dievaluasi secara lebih akurat dan mendukung pengambilan keputusan usaha pada periode berikutnya.

IV. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, perencanaan biaya operasional telah diterapkan melalui kegiatan memperkirakan kebutuhan persediaan, menentukan prioritas pembelian berdasarkan kondisi stok, permintaan pelanggan, serta kemampuan modal. Meskipun belum didukung oleh penyusunan anggaran biaya secara tertulis, perencanaan yang dilakukan berdasarkan pengalaman dan kondisi operasional mampu membantu pemilik dalam mengambil keputusan pembelian sesuai kebutuhan usaha.

Pengendalian biaya operasional dilakukan melalui pengawasan terhadap pembelian barang, pengelolaan persediaan, serta pengendalian pengeluaran operasional secara langsung. Pengendalian tersebut masih bersifat sederhana karena belum didukung oleh pencatatan biaya yang sistematis, namun telah membantu pemilik mengurangi pemborosan, menjaga perputaran modal, dan menyesuaikan penggunaan biaya dengan kebutuhan operasional.

Penerapan perencanaan biaya dan pengendalian biaya tersebut berkontribusi terhadap terciptanya efisiensi biaya operasional di Toko Pojok Lor. Efisiensi tercermin dari kemampuan pemilik dalam memanfaatkan sumber daya secara lebih optimal melalui penentuan prioritas pembelian, pengendalian persediaan, serta pengelolaan pengeluaran yang disesuaikan dengan kondisi usaha. Namun, penerapan perencanaan dan pengendalian biaya pada Toko Pojok Lor masih dilakukan secara sederhana karena belum didukung oleh penyusunan anggaran dan pencatatan biaya yang sistematis.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, pengetahuan, serta dukungan dari banyak pihak yang selama ini membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Dengan penuh ketulusan, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Teristimewa dengan penuh cinta kedua orang tua penulis, Ayah dan Mama. Dua orang yang senantiasa berjuang dan selalu mengusahakan segala yang terbaik untuk anak pertamanya ini dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Terima kasih atas segala pengorbanan, restu, dan kebahagiaan yang telah kalian berikan. Karya ini merupakan wujud sederhana dari upaya penulis dalam membalas kepercayaan dan harapan yang selalu disertakan dalam setiap langkah. Besar harapan penulis semoga ayah dan mama selalu sehat, panjang umur, dan bisa menyaksikan keberhasilan lainnya yang akan penulis raih di masa yang akan datang, Nyawaku nyala karnamu.

2. Adik tersayang, Wahyu Mahardika Sufiyanto. Penulis persembahkan karya ini sebagai bentuk rasa cinta dan tanggung jawab untuk menjadi contoh dan inspirasi. Terima kasih sudah ikut serta dalam proses penulis menempuh pendidikan selama ini. Terima kasih atas doa, dukungan, dan cinta yang selalu diberikan kepada penulis, Tumbuh lebih baik dibanding diriku.

3. Teman-teman terkasih yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu dan seluruh teman-teman seperjuangan Program Studi Akuntansi 2022, yang pernah singgah, menetap, atau sekadar lewat dalam perjalanan ini, Terima kasih atas kebersamaan, dukungan, dan kehadiran yang begitu berarti sejak awal masa perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini. Setiap bantuan dalam menyelesaikan tugas, semangat akademik yang terus diberikan, serta perhatian dan kepedulian yang tulus menjadi penguat langkah penulis untuk terus belajar dan bertahan dalam setiap proses. See you on top, guys!

4. Last but not least, terima kasih untuk Nadia Nurifayza Sufiyanti, diri penulis sendiri atas perjuangan yang mungkin tidak banyak terlihat oleh orang lain, atas mimpi besar yang diam-diam kamu perjuangkan, meskipun jalan yang harus ditempuh tidak selalu sesuai dengan harapan. Namun kamu membuktikan bahwa kamu mampu mengimbangi segalanya dengan baik dan menyelesaikan perjalanan ini tepat waktu. Setiap lelah, setiap air mata, dan setiap doa yang terucap dalam diam adalah bukti keteguhan hatimu. Kamu telah melakukan yang terbaik. Teruslah melangkah dengan penuh keyakinan, dan jangan pernah meragukan kekuatan yang ada dalam dirimu. Kamu layak bangga, kamu layak bahagia. Dan hari ini, izinkan penulis berkata: I'm so proud of you, Nadia Nurifayza Sufiyanti.

References

L. Haryo, “Pemerintah dorong UMKM naik kelas, tingkatkan kontribusi terhadap ekspor Indonesia,” 2025. [Online]. Available: https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/6152/pemerintah-dorong-umkm-naik-kelas-tingkatkan-kontribusi-terhadap-ekspor-indonesia

Statistics Indonesia (BPS), Profil Industri Mikro dan Kecil 2024. Badan Pusat Statistik, 2025. [Online]. Available: https://www.bps.go.id/id/publication/2025/09/16/a83f105e49377d0a7434e62a/profil-industri-mikro-dan-kecil-2024.html

D. Posroha Sitanggang, “Transformasi toko kelontong konvensional menjadi toko kelontong masa kini,” Kinerja: J. Ekon. dan Manaj., vol. 20, no. 1, p. 53, 2023.

Asnita, A. Khalid, and A. Salam, “Penerapan praktik akuntansi manajemen pada UMKM di Kota Makassar,” Paradoks: J. Ilmu Ekon., vol. 7, no. 3, pp. 332–343, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.feb-umi.id/index.php/PARADOKS/article/view/963

J. S. Bancin, Y. Waruwu, R. O. Sinaga, and I. P. S. Pardosi, “Akuntansi manajemen sebagai pilar pengambilan keputusan dan daya saing bisnis di tengah tantangan digitalisasi,” J. Ilm. Ekon. dan Manaj., vol. 3, no. 7, pp. 468–475, 2025, doi: 10.61722/jiem.v3i7.6098.

N. N. M. Sidik and G. W. Nugroho, “Penerapan metode target costing dalam upaya efisiensi biaya produksi untuk meningkatkan laba UMKM pada UMKM Sinar Terang Awning,” J. Akunt. AKUNESA, vol. 11, no. 1, pp. 78–90, 2022, doi: 10.26740/akunesa.v11n1.p78-90.

N. Ananda, F. Anjali, et al., “Strategi pengambilan keputusan taktis dalam akuntansi manajemen untuk meningkatkan efisiensi UMKM: Studi kasus pada Toko AIS Kamal,” Inisiatif: J. Ekon., Akunt. dan Manaj., vol. 17, no. 1, pp. 165–180, 2021. [Online]. Available: https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Inisiatif/article/view/3449

A. Mahsunah and H. Hariyati, “Peran penerapan target costing dalam peningkatan laba UMKM,” J. Akunt. AKUNESA, vol. 9, no. 3, pp. 1–9, 2021, doi: 10.26740/akunesa.v9n3.p1-9.

T. V. Sinambela, H. P. Br. Sitanggang, and R. Kusumastuti, “Analisis penerapan proses akuntansi manajemen pada UMKM Tao Toba,” J. Kaji. dan Penelit. Umum, vol. 1, no. 6, pp. 77–85, 2023, doi: 10.47861/jkpu-nalanda.v1i6.646.

E. S. Eskasari Putri, “Penerapan akuntansi manajemen pada usaha mikro Brownies Batik,” Abdi Psikonomi, vol. 3, no. 4, pp. 2746–2390, 2022.

A. Rahman Hakim, S. Narulita, and M. Iswahyudi, “Digitalisasi pencatatan keuangan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM): Perlukah?,” J. Akunt. AKUNESA, vol. 12, no. 3, pp. 331–337, 2024, doi: 10.26740/akunesa.v12n3.p331-337.

A. M. D. Dama Mustika and Arini, “Persepsi pengguna terhadap perangkat lunak akuntansi usaha kecil berbasis cloud,” J. Akunt., vol. 14, no. 2, pp. 1–11, 2024, doi: 10.37859/jae.v15i1.8505.

R. Yanto and Zainurradi, “Penerapan sistem pembukuan akuntansi pada usaha dagang UMKM berdasarkan SAK EMKM (kasus pada usaha dagang toko),” Digit. Bisnis: J. Publ. Ilmu Manaj. dan E-Commerce, vol. 1, no. 3, pp. 298–313, 2022.

P. A. Nurazizah and N. A. N. R. Ridha, “Strategi digital accounting untuk meningkatkan kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” J. Ris. Akunt. dan Bisnis, vol. 18, no. 2, pp. 140–152, 2024.

F. F. Rafifan and R. U. Maghfiroh, “Analisis penerapan metode First In First Out (FIFO) terhadap efisiensi manajemen operasional pada Toko Kelontong Reni,” PPIMAN: Pus. Publ. Ilmu Manaj., vol. 3, no. 4, pp. 63–74, 2025, doi: 10.59603/ppiman.v3i4.1087.

S. Anjarwati, R. R. Zaena, D. Fitrianingsih, and I. Sulistiana, “Pengaruh digitalisasi akuntansi terhadap efisiensi dan pengurangan biaya pada perusahaan wirausaha UMKM di Kota Bandung,” J. Akt.: Ris. Akunt. dan Keuang., vol. 5, no. 1, pp. 43–58, 2023, doi: 10.52005/aktiva.v5i1.181.

Y. E. Siahaan and E. T. Oktaviana, “Strategi pricing dan pengendalian biaya pada UMKM di fase kedewasaan untuk mempertahankan profitabilitas,” J. Manaj. dan Akunt., vol. 5, no. 4, pp. 167–176, 2025. [Online]. Available: https://jurnal-stiepari.ac.id/index.php/gemilang

K. Vinna et al., “Peran akuntansi biaya dalam meningkatkan efisiensi operasional UMKM melalui pendekatan full costing,” Nusantara Entrep. Manag. Rev., vol. 3, no. 1, pp. 53–61, 2025. [Online]. Available: https://journal.unusida.ac.id/index.php/nemr/

S. A. K. Emkm, “Analisis penerapan akuntansi berdasarkan SAK EMKM pada Toko Jaya Abadi,” no. x, pp. 535–540, 2024.

R. Persianti, “Urgensi pengelolaan keuangan toko kelontong usaha mikro kecil dan menengah dengan manajemen akuntansi,” J. Stud. Islam dan Hum., vol. 4, no. 1, pp. 1186–1196, 2023, doi: 10.37680/almikraj.v4i1.4091.

E. H. K. and S. R. D. Choudhury, “Influence of record keeping on the performance of micro and small enterprises in the context of their area of operation: An empirical study,” Int. J. Prof. Bus. Rev., vol. 9, no. 4, pp. 1–17, 2024.

A. Paramita, T. A. Agatha, H. G. Amalia, and F. F. N. Nabur, “Penerapan sistem keuangan sederhana untuk mendukung kegiatan usaha Kedai Kopi ‘Roengpi Coffee,’” Small Bus. Account. Manag. Entrep. Rev., vol. 5, no. 2, pp. 76–85, 2025, doi: 10.61656/sbamer.v5i2.404.

N. K. Ningrat and S. Gunawan, “Meningkatkan efisiensi biaya persediaan dengan menggunakan metode EOQ (Economic Order Quantity) di UMKM Kerupuk Nusa Sari,” J. Ind. Galuh, vol. 5, no. 1, pp. 18–28, 2023.

M. Sekarwangi and Rediawan Miharja, “Analisis pengendalian persediaan menggunakan metode forecasting dan EOQ,” E-Bisnis: J. Ilm. Ekon. dan Bisnis, vol. 17, no. 2, pp. 88–97, 2024, doi: 10.51903/e-bisnis.v17i2.1995.

S. Sudjarwo, “Akses UMKM pada kredit bank,” Ekon. Bisnis, vol. 16, no. 1, pp. 6–11, 2017, doi: 10.32722/eb.v16i1.900.

“T. J. Ekonomi et al., ‘Analisis penerapan target costing dalam upaya mengoptimalkan perolehan laba pada UMKM Melvi’s Cake,’” vol. 2, no. 2, 2024.

N. I. Putri, N. A. B. Rahmani, and Y. S. J. Nasution, “Analysis of the application of target costing in managing production costs to increase profits in the Solo Medan Sausage SME,” J. Manaj. Bisnis, vol. 11, no. 2, pp. 1353–1364, 2024, doi: 10.33096/jmb.v11i2.873.

J. W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, vol. 32, no. 3, 2018.

M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 2014.