<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Pengaruh Biaya Operasional dan Beban Pajak terhadap Kemampuan Laba Bersih dengan Persediaan sebagai Variabel Moderasi Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI tahun 2014-2016</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-13b8b49ee459557835b18b8cccb9c9f5" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Andi</surname>
            <given-names>Andi Purdiansyah</given-names>
          </name>
          <email>andipurdiansyah@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2019-12-20">
          <day>20</day>
          <month>12</month>
          <year>2019</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-2">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-16">Indonesia menjadi salah satu negara berkembang dengan jumlah perusahaan yang cukup banyak. Perkembangan dunia bisnis yang modern yang diikuti dengan perkembangan ilmu pendidikan menjadi salah satunya timbulnya persaingan bisnis. Data ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah perusahaan yang tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI), untuk dapat bersaing dalam dunia bisnis yang begitu pesat, manajemen perusahaan harus menetapkan strategi-strategi yang baik sebagai langkah dalam mencapai tujuan perusahaan. Perusahaan yang memiliki resiko tertinggi dari pada saat ini yaitu perusahaan makanan dan minuman, karena selain persaingan bisnis yang pesat perusahaan juga dihadapkan pada harga bahan baku yang tidak menentu.</p>
      <p id="_paragraph-17">Dalam melaksanaan kegiatan bisnis, setiap perusahaan tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai. Adapun salah satu tujuan tersebut yaitu untuk memperoleh laba yang semaksimal mungkin (<ext-link id="_external-link-2" ext-link-type="uri" xlink:href="">Ernawati 2015</ext-link>). Laba merupakan penerimaan total dikurangi biaya total yang dikeluarkan, kerena biaya total merupakan tingkat penghasilan secara normal, maka laba juga harus mempertimbangkan modal (<ext-link id="_external-link-3" ext-link-type="uri" xlink:href="">Case 2007</ext-link>). Dalam upaya mencapai tujuan perusahaan yang berupa laba, setiap manajemen harus selalu mengantisipasi perubahan kondisi baik yang ada di internal maupun di lingkungan eksternal perusahaan. Sebagai upaya mengantisipasi perubahan kondisi ini diperlukan pengawasan dari pihak manajemen dan disertasi perencanaan strategi yang baik.</p>
      <p id="_paragraph-18">Sebagai bentuk langkah nyata yang dilakukan manajemen yaitu melakukan pengawasan terhadap biaya operasioal perusahaan. Biaya operasional atau yang sering disebut anggaran biaya operasional perlu diperinci lebih jelas yang terkait dengan beban-beban yang kemungkinan terjadi. Biaya operasional merupakan biaya yang memiliki peran langsung harga produk yang dijual perusahaan. Dengan harga yang kompetitif maka produk akan dapat bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis (<ext-link id="_external-link-4" ext-link-type="uri" xlink:href="">Ernawati</ext-link><ext-link id="_external-link-5" ext-link-type="uri" xlink:href="">2015</ext-link>).</p>
      <p id="_paragraph-20">Ketatnya persaingan bisnis, menuntut perusahaan untuk tidak memperhatikan biaya- biaya yang dikeluarkan, tetapi juga kepatuhan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku. Sebagai bentuk perusahaan menjalankan peraturan yang berlaku, tentunya perusahaan harus mematuhi pajak yang dibebankannya. Menurut Supramono (<ext-link id="_external-link-6" ext-link-type="uri" xlink:href="">2010</ext-link>) pajak diartikan sebagai iuran tidak mendapatkan jasa timbal yang langsung ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran umum.</p>
      <p id="_paragraph-21">Salah satu tujuan pengelolaan persediaan menurut Ristono (2009) dalam <ext-link id="_external-link-7" ext-link-type="uri" xlink:href="">Ernawati</ext-link> (2015) adalah untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan. Persediaan merupakan unsur yang paling penting dalam kegiatan sebuah perusahaan, karena persediaan merupakan salah satu faktor yang menentukan kelancaran produksi dan penjualan. Oleh karena itu, persediaan tersebut harus direncanakan, dikelola, dan diawasi dengan sebaik-baiknya, baik kuantitas maupun kualitasnya sehingga diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar dan memenuhi kebutuhan perusahaan. Dalam penelitian ini persediaan adalah variabel moderasi, sebagai variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel satu dengan variabel lainnya.</p>
      <p id="_paragraph-22">Berkembangnya negara-negara maju memberikan dampak yang kurang baik bagi negara berkembang salah satunya Indonesia. Nilai tukar rupiah yang melemah menjadikan perusahaan yang khususnya bergerak dalam produksi makanan dan minuman pada tahun 2015 menaikkan harga sekitar 5% sampai 10%, karena bahan pada yang diperoleh relatif tinggi (<ext-link id="_external-link-8" ext-link-type="uri" xlink:href="">Barus, Mudzakar and Edison 2016</ext-link>). Naiknya bahan baku seperti gula, gandum, buah, dan kedelai mengakibatkan biaya operasional yang harus dikeluarkan perusahaan lebih tinggi. Adanya kenaikan bahan baku disebabkan dari kenaikan harga bahan bakan minyak yang naik. Hal ini tentunya akan berakibat pada penurunan laba perusahaan.</p>
      <sec id="heading-5b2823d573373570ffdff2a48602519b">
        <title>Kajian Pustaka</title>
        <p id="heading-ccd2f3d981e6d2fede9cc9aabafa8e99">Biaya Operasional</p>
        <p id="_paragraph-24">Menurut (<ext-link id="_external-link-9" ext-link-type="uri" xlink:href="">Utami 2008</ext-link>) biaya operasional sebagai biaya rutin yang dikeluarkan perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Biaya operasional sebagai keseluruhan biaya yang berhubungan dengan operasional perusahaan diluar kegiatan proses produksi (<ext-link id="_external-link-10" ext-link-type="uri" xlink:href="">Pebriyanti 2013</ext-link>). Menurut <ext-link id="_external-link-11" ext-link-type="uri" xlink:href="">Hartoko (2011)</ext-link> biaya operasional didefinisikan sebagai seluruh biaya perusahaan yang dikeluarkan dalam kurun waktu tertentu untuk memperoleh suatu barang, yang nantinya akan dihitung dan akan dibebankan pada setiap barang yang dihasilkan.</p>
        <p id="paragraph-dcde7ae83560468283dfeeb3406da536">Beban Pajak</p>
        <p id="_paragraph-25">Pajak menurut <ext-link id="_external-link-12" ext-link-type="uri" xlink:href="">Supramono </ext-link><ext-link id="_external-link-13" ext-link-type="uri" xlink:href="">(2010)</ext-link> merupakan iuran yang tidak mendapatkan jasa timbal namun langsung dapat ditunjukkan dan dipergunakan untuk membayar pengeluaran- pengeluaran umum. Pajak memiliki peranan penting dalam penerimaan negara. Pajak mempunyai fungsi sebagai salah satu sumber penerimaan negara buka sebagai satu-satunya fungsi dari pajak. Pajak dipungut dengan berdasarkan Undang-Undang, dimana sifat pemungutan pajak sendiri adalah dipaksakan berdasarkan kewenangan yang di atur oleh Undang-Undangbesertaaturan pelaksanannya.</p>
        <p id="_paragraph-26">Sedangkan beban pajak merupakan jumlah agregat dari pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam laba rugi akuntansi pada periode berjalan sebagai beban atau penghasilan perusahaan (Waluyo, 2008:215 dalam Putra (<ext-link id="_external-link-14" ext-link-type="uri" xlink:href="">2013</ext-link>).</p>
        <p id="_paragraph-27">Menurut PSAK 46/IAS 12 beban pajak merupakan jumlah dari gabungan pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam menentukan laba rugi perusahaan dalam suatu periode (Putra, 2013):</p>
        <p id="paragraph-eb2b95d23a3cb515e3fde4da453a4e69">Persediaan</p>
        <p id="_paragraph-29">Persediaan didefinisikan sebagai barang-barang yang dimiliki suatu perusahaan untuk dijual atau akan digunakan untuk proses lebih lanjut menjadi barang jadi akan menjadi keluaran dan memperoleh penghasilan (<ext-link id="_external-link-15" ext-link-type="uri" xlink:href="">Soemarso 2007</ext-link>). Persediaan merupakan unsur yang paling penting bagi suatu perusahaan, yang mana persediaan menjadi faktor yang dapat menentukan kelancaran produksi serta penjualan perusahaan. Persediaan juga diartikan sebagai barang- barang milik perusahaan yang disimpan untuk digunakan dan dijual pada masa atau waktu yang akan datang (Ristono, 2009:1 dalam Ernawati,(<ext-link id="_external-link-16" ext-link-type="uri" xlink:href="">2015</ext-link>).</p>
      </sec>
      <sec id="heading-f1ead561b88e4bc31e352fcf420ea4bb">
        <title>Kerangka Konseptual</title>
        <p id="_paragraph-30">Gambar 1 Rerangka Konseptual</p>
      </sec>
      <sec id="heading-03c72ba12b050aeb6f2b4487cb5e5949">
        <title>Hipotesis</title>
        <p id="_paragraph-31">H1 : Biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan.</p>
        <p id="_paragraph-32">H2 : Beban pajak berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan.</p>
        <p id="_paragraph-33">H3 : Persediaan memperkuat pengaruh biaya operasional terhadap laba bersih perusahaan.</p>
        <p id="_paragraph-34">H4 : Persediaan memperkuat pengaruh beban pajak terhadap laba bersih perusahaan.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-8">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-35">Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendektakan kuantitatif. Menurut Zulfikar dan Budiantara (<ext-link id="_external-link-17" ext-link-type="uri" xlink:href="">2015</ext-link>) pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan riset yang berdasarkan diri pada paradigma<italic id="_italic-54">postpositivist </italic>dalam pengembangan ilmunya. Penelitian kuantitatif mempunyai ciri berstandar pada pengumpulan data dan analisis data <italic id="_italic-55">numeric</italic>. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk melakukan pembuktian dari hipotesis, dan untuk dapat menghasilkan kesimpulan yang dapat digenerelasasikan, dan dapat menjelaskan kejadian yang terstruktur.</p>
      <p id="paragraph-f354b063a0f7a9c64ed6f62e9e27207c">Lokasi Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-36">Lokasi pada penelitian ini dilakukan di Galeri Bursa Efek Indonesia yang terletak di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo di Kampus 1 yang beralamat di Jalan Mojopahit 666B dan bisa diakses secara online melalui situs <ext-link id="_external-link-18" ext-link-type="uri" xlink:href="">www.idx.co.id</ext-link>.</p>
      <p id="paragraph-9681c66896e4e67e93e7f678b7e2c1b4">Identifikasi Variabel</p>
      <p id="_paragraph-37">Variabel independen dalam penelitian ini adalah biaya operasional dan beban pajak. Sedangkan variabel dependen adalah laba bersih, dan variabel moderasi adalah persediaan.</p>
      <p id="paragraph-35ec3b8089ad3fff12d3d1ef84fd7639">Populasi</p>
      <p id="_paragraph-38">Populasi merupakan wilayah generalisasi pada suatu objek atau subjek yang dimana generalisasi tersebut mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu (<ext-link id="_external-link-19" ext-link-type="uri" xlink:href="">Sarwono 2010</ext-link>). Populasi dalam penelitian ini yaitu jumlah perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Periode 2014-2016 yang berjumlah 16 perusahaan.</p>
      <p id="paragraph-b7ebcd43482cd31cfd3ff0cc1e0d3d96">Sampel</p>
      <p id="_paragraph-39">Sampel merupakan bagian dari populasi yang dapat mewakili dan diambil dengan cara tertentu, karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap, serta dianggap mampu mewakili populasi. Penentuan sampel dilakukan dengan metode <italic id="_italic-56">purposive sampling</italic>. Teknik <italic id="_italic-57">purposive </italic><italic id="_italic-58">sampling </italic>merupakan teknik pengambilan sampel dengan kreteria tertentu (<ext-link id="_external-link-20" ext-link-type="uri" xlink:href="">Sarwono</ext-link> <ext-link id="_external-link-21" ext-link-type="uri" xlink:href="">2010</ext-link>).</p>
      <p id="paragraph-14e9caa3e504f2929f265503ee661625">Jenis dan Sumber Data</p>
      <p id="_paragraph-40">Dalam suatu penelitian data menjadi aspek terpenting. Ada beberapa jenis data secara umum, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Dalam penelitian ini data yang digunakan yaitu data kuantitatif dengan sumber data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data yang secara umum dapat diperoleh dari arsip perusahaan baik yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Adapun dalam penelitian ini data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang sudah dipublikasikan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dapat diakses di situs <ext-link id="_external-link-22" ext-link-type="uri" xlink:href="">www.idx.com</ext-link>.</p>
      <p id="paragraph-ecf034e5b980b655d12640a6e2d0f38a">Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="_paragraph-41">Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka dan dokumentasi, adapun keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-42">teori (<ext-link id="_external-link-23" ext-link-type="uri" xlink:href="">Indriati 2001</ext-link>). Data tersebut diperlukan untuk analisis terhadap permasalahan dan pencatatan teori-teori yang telah dipelajari pada peristiwa yang terjadi.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-efd6617ba68d78814c78d69a4d1cf150">
        <list-item>
          <p>Studi pustaka, dilakukan dengan mengkaji berbagai penelitian terdahulu dan literatur buku sebagai bahan referensi yangberkaitan dengan masalah pada penelitian ini serta akan digunakan sebagai pedoman</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Dokumentasi, dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis laporan- laporan keuangan tang telah dipublikasikan oleh BEI. Dalam penelitian ini, sebagian besar data berbentuk laporan keuangan, laporan keuangan. Hasil dari pengumpulan data sekunder tersebut lalu akan dianalisis dan diolah untuk menguji hipotesis yang telah dikembangkan.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-f4d99e9f698c1e01c875ba736176d6e2">Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-43">Analisis data. Uji Asumsi Klasik dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel data. Uji asumsi klasik perlu dilakukan sebelum melakukan analisis regresi terhadap variabel tersebut.</p>
      <p id="paragraph-495360a0c0db85cf1b03b44410a1d367">Uji Normalitas</p>
      <p id="_paragraph-44">uji normalitas menggunakan analisis statistik Uji normalitas menggunakan grafik normal plot. Pada grafik normal plot, dengan asumsi (<ext-link id="_external-link-24" ext-link-type="uri" xlink:href="">Santoso 2010</ext-link>): 1) apabila data berada di sekitar dan mengikuti garis diagonal maka menunjukkan pola distribusi normal, 2) apabila data menyebar tidak mengikuti garis diagonal maka data tidak terdistribusi normal.</p>
      <p id="paragraph-89e695de0806f9ad11ad90bfbba43a0b">Uji Multikolonieritas</p>
      <p id="_paragraph-45">Uji asumsi multikolinearitas bertujuan untuk mengatahui terjadi tidaknya penyimpangan antaran variabel independen dengan variabel dependen dalam model regresi dalam penelitian. Asumsik klasik multikoliniaritas dalam penelitian mempunyai kreteria sebagai berikut (Santoso, 2010): 1) Mempunyai angka tolerence lebih dari (&gt;) 0,1; 2) Mempunyai nilai VIF kurang dari (&lt;) 10.</p>
      <p id="paragraph-19918d6da2124a87d3e3e4facdaf1afc">Uji Autokorelasi</p>
      <p id="_paragraph-46">Uji autokorelasi merupakan uji asumsi yang biasa digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Uji autokorelasi ini dilakukan dengan menggunakan metode</p>
      <p id="_paragraph-47"><italic id="_italic-59">Durbin Watson Test</italic>. <ext-link id="_external-link-25" ext-link-type="uri" xlink:href="">Santoso </ext-link><ext-link id="_external-link-26" ext-link-type="uri" xlink:href="">(2010)</ext-link> mengatakan bahwa nilai <italic id="_italic-60">Durbin-Watson </italic>digunakan untuk menentukan uji autokorelasi dengan ketentuan apabila nilai Durbin-Watson dibawah 5 maka tidak terjadi autokorelasi.</p>
      <p id="paragraph-e27a04bc543b4c1b99273b86c061a825">Uji Heteroskedasitas</p>
      <p id="_paragraph-48">Dasar pengambilan keputusan (<ext-link id="_external-link-27" ext-link-type="uri" xlink:href="">Santoso 2010</ext-link>):</p>
      <p id="_paragraph-49">1) Jika titik-titik membentuk pola tertentu (melebar, bergelombang, dan kemudian menyempit), maka dapat dikatakan telah terjadi heteroskedastisitas. 1) Jika ada pola yang jelas, dan pola tersebut menyebar baik kebawah maupun keatas angka 0 pada sumbu Y, maka dapat diketahui bahwa model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.</p>
      <p id="paragraph-38554344c917afdb524720d647b87286">Analisis Regresi Berganda</p>
      <p id="_paragraph-50">Teknik analisis regresi berganda bertujuan untuk mengetahui sejauh mana arah hubungan dari variabel independen dengan variabel dependen, dan apakah masing-masing variabel independen tersebut berhubungan baik positif atau negatif serta memprediksi apakah terjadi kenaikan atau penurunan variabel independen dengan variabel dependen, adapun persamaan regresi dalam penelitian ini sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-51">Y = a + 1 X1 + 2X2 + e + Z</p>
      <p id="_paragraph-52">Keterangan:</p>
      <p id="_paragraph-53">Y : Laba bersih a : Konstanta</p>
      <p id="_paragraph-54">X1 : Biaya operasional X2 : Beban pajak</p>
      <p id="_paragraph-55">Z : Persediaan</p>
      <p id="_paragraph-56">1 : Koefisisen regresi e : <italic id="_italic-61">Error</italic></p>
      <p id="paragraph-3e27183de788dcd579f2a1436b81e0bd">Uji Hipotesis</p>
      <p id="_paragraph-57">Uji t atau parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh sendiri-sendiri atau parsial secara signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dalam penelitian ini varabel independen terdiri dari biaya operasional dan beban pajak (<ext-link id="_external-link-28" ext-link-type="uri" xlink:href="">Santoso 2010</ext-link>). Langkah-langkahnya adalah:</p>
      <p id="_paragraph-58">ketentuan dari nilai <italic id="_italic-62">level of significance </italic>(α)</p>
      <p id="_paragraph-59">yaitu harus di bawah 0,05.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-ed0d8adfc92b686173af10b6d9643231">
        <list-item>
          <p>Dalam penelitian ini untuk mengetahui besarnya thitung dengan menggunakan ketentuan dari nilai <italic id="italic-1">level of significance </italic>(α) yaitu harus di bawah 0,05.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Adapun langkah unutuk mengambil keputusan</p>
          <list list-type="bullet">
            <list-item>
              <p>Jika nilai dari <italic id="_italic-63">level</italic><italic id="_italic-64">of</italic><italic id="_italic-65">significance</italic>thitung menurut hasil perhitungan kurang dari atau lebih kecil dari 0,05, maka H1 diterima. Dengan demikian terdapat pengaruh secara parsial atau sendiri-sendiri dari variabel independen dengan variabel dependen.</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Jika diperoleh nilai <italic id="_italic-66">level</italic><italic id="_italic-67">of</italic><italic id="_italic-68">significance</italic>thitung 0,05, maka H0 diterima. Maka dapat diketahui bahwa tidak terdapat pengaruh secara parsial atau sendiri dari variabel independen dengan variabel dependen.</p>
            </list-item>
          </list>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-60">Analisis Moderated Regression Analysis (MRA)</p>
      <p id="_paragraph-62">Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel moderating dalam penelitian akan memberikan kontribusi baik memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Persamaan statistika yang digunakan untuk menentukan variabel moderating yang mendukung pengaruh antara biaya operasional dan beban pajak terhadap laba bersih sebagai berikut</p>
      <p id="_paragraph-63">Y = α + β1x1 + e</p>
      <p id="_paragraph-64">Y = α + β1x2 + e</p>
      <p id="_paragraph-65">Y = α + β1x1 + β 2 + β 3(x1*z) + e Y = α + β1x2 + β 2 + β 3(x2*z) + e Keterangan :</p>
      <p id="_paragraph-66">α : Konstanta regresi X1: Biaya operasional X2: Beban pajak</p>
      <list list-type="bullet" id="list-5533b438572116183e3a8dbe83522da0">
        <list-item>
          <p>: Laba bersih</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>: Persediaan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-67">β1- β2 : Koefisien regresi yaitu menyatakaan perubahan nilai Y</p>
      <p id="_paragraph-68">apabila terjadi perubahan X e: error</p>
      <p id="_paragraph-69">Pengaruh hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dapat dilihat dari taraf signifikansinya yaitu 5%. Apabila tingkat signifikansi yang diperoleh lebih dari 5% maka hipotesis ditolak, sebaliknya apabila tingkat signifikansinya berada diantara 0-5% maka hipotesis diterima.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-17">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-71">Analisis Data dan Hasil Penelitian</p>
      <p id="paragraph-3c86289d476dedf6c41fbfa6c67a7468">1. Uji Normalitas</p>
      <p id="_paragraph-72">Dari gambar di atas menunjukkan pola dari distribusi nilai variabel mengikuti garis diagonal yang menunjukkan pada model regresi data sudah terdistribusi normal.</p>
      <p id="paragraph-eb5075bf14b3865033c67bdb4e9107f3">2. Uji Multikolonieritas</p>
      <p id="_paragraph-73">Dari hasil perhitungan pad atabel di atas, diketahui nilai VIF untuk masing-masing variabel kurang dari 10 sedangkan nilai <italic id="_italic-70">tolerance </italic>di atas 0,1. Sehingga pada model regresi I terbebas dari penyimpangan multikolinieritas.</p>
      <p id="paragraph-5e7bf2578772f52dfa0a9410f8b64632">3. Uji Autokorelasi</p>
      <p id="_paragraph-74">Pada hasil olah data yang ditunjukkan pada tabel di atas, nilai <italic id="_italic-71">Durbin Watson </italic>sebesar 2,278 atau di bawah 5. Sehingga pada model regresi I data terhindar dari gejala autokorelasi.</p>
      <p id="paragraph-2cc953c3b41c0b2c5835c7eef171c59e">4. Uji Heteroskedasitas</p>
      <p id="_paragraph-75">Dari hasil pengolahan data diperoleh <italic id="_italic-72">scratterplot </italic>di atas, diketahui bahwa pola menyebar di bawah maupun di atas angka 0, sehingga dapat diketahui pada model regresi I tidak terjadi heteroskedastisitas.</p>
      <p id="_paragraph-76">Koefisien Regresi Linier Berganda</p>
      <p id="_paragraph-77">Dari hasil pengolahan data di atas, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-78">Y = 22549945732 + 0,065 X1 + 0,748 X2 + 0,017 Z</p>
      <p id="_paragraph-79">Persamaan di atas mempunyai arti sebagai berikut:</p>
      <list list-type="bullet" id="list-7b618370e168998bff7fd66636e202b2">
        <list-item>
          <p>Nilai konstanta adalah 22549945732, hal ini menunjukkan bahwa tanpa adanya pengaruh dari variabel biaya operasional, beban pajak dan persediaan, nilai variabel laba bersihtetapkonstansebesar 30508582297.101.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien dari variabel biaya operasional sebesar 0,065 yang berarti bahwa setiap kenaikan satu satuan variabel biaya operasional, akan mengakibatkan kenaikan sebesar 0,065 satuan pada variabel laba bersih dengan asumsi faktor lainnya adalah konstan atau tetap.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien dari variabel beban pajak sebesar 0,748 yang berarti bahwa setiap kenaikan satu satuan variabel beban pajak, akan mengakibatkan kenaikan variabel laba bersih sebesar 0,748 satuan pada variabel terikat dengan asumsi faktor lainnya konstan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien dari variabel persediaan sebesar 0,017 yang berarti bahwa setiap kenaikan satu satuan variabel persediaan, akan mengakibatkan kenaikan variabel laba bersih sebesar 0,017 satuan pada variabel terikat dengan asumsi faktor lainnya konstan.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-80">Uji t (parsial)</p>
      <p id="_paragraph-81">Dari dasil olah data yang ditunjukkan pada tabel di atas, diperoleh hasil bahwa variabel biaya operasional memperoleh nilai tingkat signifikan sebesar 0,000 atau di bawah 0,5. Sehingga dapat diketahui bahwa variabel biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan. Dengan demikian H1 dalam penelitian ini diterima, yaitu biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-82">Dari dasil olah data yang ditunjukkan pada tabel di atas, diperoleh hasil bahwa variabel beban pajak memperoleh nilai tingkat signifikan sebesar 0,000 atau dibawah 0,5. Sehingga dapat diketahui bahwa variabel beban pajak berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan. Dengan demikian H2 dalam penelitian ini diterima, yaitu beban pajak berpengaruh teradap laba bersih perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-83">Moderated Regresion Analysis (MRA)</p>
      <p id="_paragraph-84">Dari tabel di atas merupakan model regresi dengan persamaan Y = α + β1x1 + e, diketahui nlai <italic id="_italic-74">R Square </italic>sebesar 0,853. Sehingga diperoleh informasi bahwa hubungan varibel biaya operasionel terhadap laba bersih sebesar 85,3%, adapun sisanya sebesar 14,7% dipengaruhi variabel lain.</p>
      <p id="_paragraph-85">Dari tabel di atas merupakan model regresi dengan persamaan Y = α + β1x1 + β 2 + β 3(x1*z) + e, diketahui nlai <italic id="_italic-75">R Square </italic>sebesar 0,873. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara variabel biaya operasional dengan adanya variabel persediaan terhadap laba bersih sebesar 87,3%, sedangkan sisanya sebesar 12,7% dipengaruhi variabel lain.</p>
      <p id="_paragraph-87">Dengan demikian dari hasil uji regresi model II diperoleh nilai <italic id="_italic-76">R Square </italic>sebesar 0,853, sedangkan pada regresi model IV diperoleh nilai <italic id="_italic-77">R Square </italic>sebesar 0,873. Hal ini menunjukkan bahwa H3 dalam penelitian ini diterima, yaitu persediaan memperkuat pengaruh biaya operasional terhadap laba bersih perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-88">Dari tabel di atas merupakan model regresi dengan persamaan Y= α + β1x2 + e, diketahui nlai <italic id="_italic-78">R Square </italic>sebesar 0,778. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara variabel beban pajak terhadap laba bersih sebesar 77,8%, sedangkan sisanya sebesar 22,2% dipengaruhi variabel lain.</p>
      <p id="_paragraph-89">Dari tabel di atas merupakan model regresi dengan persamaan Y = α + β1x2 + β 2 + β 3(x2*z) + e, diketahui nlai <italic id="_italic-79">R Square </italic>sebesar 0,821. Sehingga hubungan antara variabel beban pajak dengan adanya variabel persediaan terhadap laba bersih sebesar 82,1%, sedangkan sisanya sebesar 17,9% dipengaruhi variabel lain.</p>
      <p id="_paragraph-90">Dengan demikian dari hasil uji regresi model III diperoleh nilai <italic id="_italic-80">R Square </italic>sebesar 0,778, sedangkan pada regresi model V diperoleh nilai <italic id="_italic-81">R Square </italic>sebesar 0,821. Sehingga H4 dalam penelitian ini diterima, yaitu persediaan memperkuat pengaruh beban pajak terhadap laba bersih perusahaan.</p>
      <p id="paragraph-e46dbf55e880f54f16a17a099f6501f3">Pembahasan</p>
      <p id="_paragraph-91">Berdasarkan hasil analisa dan pengujian yang dilakukan menggunakan data penelitian yang disesuaikan dengan penelitian sebelumnya dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
      <p id="paragraph-ec28a66b441a5fb70ff2d9a15a06255c">1. Pengaruh Biaya Operasional Terhadap Laba Bersih Perusahaan</p>
      <p id="_paragraph-92">Biaya operasional dalam penelitian ini dimaknai sebagai sebagai keseluruhan biaya yang berhubungan dengan operasional perusahaan diluar kegiatan proses produksi. Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk kegiatan operasi perusahaan perlu dikendalikan sebaik mungkin, hal ini disebabkan meskipun biaya operasional dapat ditekan serendah-rendahnya jika tidak didukung dengan usaha untuk meminimalisir biaya operasional akan mengakibatkan kenaikan pada biaya operasional, dengan pengelolan biaya operasional dengan baik akan membantu perusahaan dalam memperoleh keuntungan yang maksimal.</p>
      <p id="_paragraph-93">Dari hasil analisis data diperoleh informasi bahwa biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan manakan dan minuman di BEI periode 2014- 2016. Hal ini menunjukkan tinggi rendahnya laba bersih yang diperoleh perusahaan, dapat dilihat dari biaya operasional yang digunakan perusahaan tersebut. Perusahaan yang dapat meminimalisir biaya operasional, maka akan dapat meningkatkan laba bersih perusahaan.</p>
      <p id="paragraph-d9c4d4991824af7eb4b4d9221a6851e5">2. Pengaruh Beban Pajak Terhadap Laba Bersih Perusahaan</p>
      <p id="_paragraph-94">Beban pajak dalam penelitian ini dimaknai sebagai jumlah agregat dari pajak kini dan pajak tangguhan yang diperhitungkan dalam laba rugi akuntansi pada periode berjalan sebagai beban atau penghasilan perusahaan. Pajak menjadi suatu kewajiban setiap perusahaan kepada pemerintah dimana perusahaan itu beroperasi. Pajak dipungut dengan berdasarkan Undang-Undang, dimana sifat pemungutan pajak sendiri adalah dipaksakan berdasarkan kewenangan yang diatur oleh Undang-Undang beserta aturan pelaksanannya.</p>
      <p id="_paragraph-96">Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil bahwa beban pajak berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan makanan dan minuman di BEI periode 2014-2016. Besar kecilnya laba perusahaan akan sangat mempengaruhi jumlah pajak yang harus dibayarkan perusahaan. Hal ini menyebabkan banyaknya perusahaan yang berusaha menurunkan laporan laba rugi dengan tujuan untuk menghindari pajak yang dikeluarkan.</p>
      <p id="paragraph-b3186201b2adee5e6dc124fd976b8941">3. Pengaruh Biaya Operasional Terhadap Laba Bersih Perusahaan Dengan Persediaan Sebagai Variabel Pemoderasi</p>
      <p id="paragraph-d6b959eaa83de2e7de4c8c8a35471e86">Persediaan dalam penelitian ini dimaknai sebagai barang-barang yang dimiliki suatu perusahaan untuk dijual atau akan digunakan untuk proses lebih lanjut menjadi barang jadi akan menjadi keluaran dan memperoleh penghasilan. Persediaan menjadi bagian dari harta perusahaan yang berperan dalam proses produksi dari aktivitas perusahaan. Setiap perusahaan diharuskan untuk mengungkapkan persediannya dalam laporan akuntansi (Pebriyanti, 2013). </p>
      <p id="paragraph-c545880e8f40638e020551be65ab760c">Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil bahwa persediaan mampu memperkuat pengaruh antara biaya operasional terhadap laba bersih perusahaan makanan dan minuman di BEI periode 2014-2016. Hal ini menunjukkan persediaan yang dimiliki perusahaan selama satu periode mampu memberikan kontribusi pada penggunaan biaya operasional perusahaan.</p>
      <p id="paragraph-1ac4ee8c9fef7a4a2095436e9c7dd6ba">4. Pengaruh Beban Pajak Terhadap Laba Bersih Perusahaan Dengan Persediaan Sebagai Variabel Pemoderasi </p>
      <p id="paragraph-f5391ce2510a5ee740a11848a5faa661">Dalam sistem akuntansi persediaan barang dagang hanya tercatat pada pembukuan perusahaan dagang, sedangkan pada perusahaan jasa tentunya tidak memiliki atau tidak ditemukannya persediaan barang dagang yang dimiliki perusahaan. Persediaan dianggap sebagai bahan yang dimiliki perusahaan kemudia disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Perusahaan yang bergerak dalam bidang dagang, hampir tidak ada yang perusahaan yang tidak memiliki persediaan, meskipun persediaan hanyalah sumber dana yang menganggur.</p>
      <p id="paragraph-2">Dari hasil pengolahan data, diperoleh hasil bahwa persesidiaan memperkuat pengaruh antara beban pajak terhadap laba bersih perusahaan makanan dan minuman di BEI periode 2014-201ng6. Selaras dengan pendapat Ristono dalam Ernawati (2015), dimana persediaan sebagai unsur paling penting bagi suatu perusahaan, yang mana persediaan menjadi faktor yang dapat menentukan kelancaran produksi dan penjualan perusahaan yang berdampak pada tercapainya tujuan perusahaan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-74d0aec3dac29caee0a906d67a20f00a">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-101">Dari hasil pengujian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut:</p>
      <list list-type="bullet" id="list-87cedf37fbaa58589d12f002a1127693">
        <list-item>
          <p>Biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Beban pajak berpengaruh terhadap laba bersih perusahaan makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih dengan persediaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Beban pajak berpengaruh terhadap laba bersih dengan persediaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016.</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>