<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Analysis of the Internal Control System for Goods Inventory in Vocational High Schools</article-title>
        <subtitle>Analisis Sistem Pengendalian Internal Persediaan Barang di SMK</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-5549424e7ccd6a3e5b051ece91e5ed37" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Rizqollatifah</surname>
            <given-names>Sakinah Alfi</given-names>
          </name>
          <email>sakinahalfi69@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-fd67cc91677d32dbb1576cc784cd6daa" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Maryanti</surname>
            <given-names>Eny</given-names>
          </name>
          <email>enymaryanti@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-08-27">
          <day>27</day>
          <month>08</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-2">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Zaman semakin berkembang dan perlakuan terhadap jual beli juga semakin beacam-macam. Di masa modern ini kebutuhan semakin banyak dan bervarian dengan begitu kebutuhan lebih mudah didapatkan baik secara offline ataupun online ,kecanggihan teknologi saat ini memudahkan setiap konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangannya, pembayarannya yang mudah membuat rasa haus akan belanja semakin tinggi. Banyak dari kalangan ibu rumah tangga yang memenuhi kebutuhannya melalui pasar tradisional dan melakukan tawar-menawar ataupun pasar modern atau dikenal juga supermarket dan minimarket yang mana konsumen dapat memilih barang yang sesuai dengan keinginan dengan berbagai macam yang disediakan.</p>
      <p id="_paragraph-13">Salah satu perusahan gerai retail yaitu Alfamart telah membuka cabang yang terletak di berbagai daerah , hal ini menunjukkan bahwa supermarket telah menjadi bagian penting bagi masyarakat. Oleh karena itu Alfamart juga membuka program bernama Alfamart <italic id="_italic-2">Class</italic> yang bekerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan dengan menyediakan laboratorium pembelajaran yang dinamakan Bussiness Centre . Alfamart menyediakan program seperti ini dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai di industri ritel dan sesuai dengan standar perusahaan. <italic id="_italic-3">Bussiness</italic><italic id="_italic-4"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran sesuai dengan <italic id="_italic-5">bussiness</italic><italic id="_italic-6">centre</italic> yang lain , juga memiliki akun persediaan barang, pembukuan pendapatan, rekap penjualan dan bahkan sistem kasir sederhana yang mencakup juga sistem pencatatan persediaan barang yang telah dikembangkan oleh ahli Teknologi Informatika (TI) Alfamart sebagai bukti pelaksanaan praktik usaha dan juga pembelajaran bagi siswa-siswi untuk mengelola usaha ritel.</p>
      <p id="_paragraph-14">Persediaan barang dagang juga salah satu aset dari perusahaan atau usaha yang sengaja dibeli dan disimpan [1] lalu dikembangkan dan perlu diperhatikan dengan sangat teliti. persediaan harus dialokasikan dengan tepat dan kuantitas pesanan yang harus dilakukan untuk memenuhi pasokan Bussiness Centre.Persediaan adalah barang yang dipunyai dengan maksud dijual melalui kegiatan perusahaan yang normal serta barng-barang yang disimpan untuk tujuan itu.[2]. Persediaan barang dagang sangat rentan terhadap kesalahan pencatatan yang dilakukan oleh karyawan, oleh karena itu persediaan memerlukan pengendalian internal yang berupa perencanaan, pengelolaan, dan pengawasan yang baik dan ketat agar menimalisir kesalahan maupun perselisihan antara barang yang dikeluarkan seperti tanggal kadaluarsa atau expired yang dekat dan barang cacat yang masih tersimpan digudang.</p>
      <p id="_paragraph-15">Sistem pengendalian internal adalah meliputi struktur organisasi, metode, ukuran ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga aset dan kekayaan sebuah organisasi, memastikan ketelitian serta keabsahan data akuntansi, mendorong efisiensi dan kepatuhan atas kebijaksanaan manajemen [3]. Sistem Pengendalian internal bertujuan untuk melindungi persediaan barang dari kerusakan, pencurian, maupun kualitas barang yang dimiliki oleh perusahaan. Pengendalian internal dapat dilakukan dengan cara membuat kartu stok manual dan juga setiap barang yang masuk dan keluar digudang perlu adanya pencatatan baik secara manual maupun melalui sistem. Keefektifan sistem pengendalian internal harus berpegang pada standar-standar dan kriteria yang telah ditentukan dalam komponen teori COSO <italic id="_italic-7">(Committee of Sponsoring Organizations of the </italic><italic id="_italic-8">Treadway</italic><italic id="_italic-9">Commission</italic><italic id="_italic-10">)</italic>[4]</p>
      <p id="_paragraph-16">Terdapat hasil penelitian yang memenuhi standar COSO <italic id="_italic-11">(Committee of Sponsoring Organizations of the </italic><italic id="_italic-12">Treadway</italic><italic id="_italic-13"> Commission)</italic>[5]. Dan terdapat pula penelitian yang belum memenuhi standar COSO <italic id="_italic-14">(Committee of Sponsoring Organizations of the </italic><italic id="_italic-15">Treadway</italic><italic id="_italic-16"> Commission)</italic>[6]. Dengan standar yang ditetapkan membuat adanya perusahaan yang efektif maupun tidak, maka penulis tertarik menyelidiki dan meneliti bagaimana keefektifan standar COSO bagi <italic id="_italic-17">Bussiness</italic><italic id="_italic-18"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d7035dbd181032b29618657915cac959">
      <title>Metode Penelitian<bold id="_bold-19"/></title>
      <p id="heading-268417bae2884d9e69409aee6ff5ef20">A. Jenis Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-18">Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualititatif. metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat pospositivisme yaitu memandang realitas, fenomena tersebut digolongkan, tetap stabil, faktual, terpantau, terevaluasi, dan berhubungan dengan sebab akibat yang dimana digunakan untuk meneliti pada keadaan objek yang alami, dan peneliti sebagai kunci dalam teknik pengumpulan data dengan triangulasi , dan lebih memprioritaskan makna daripada penyamarataan. [7].</p>
      <p id="paragraph-f24c0b4381f3a5134ddd47f0bbb9f488">B. Lokasi Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-19">Lokasi penelitian adalah <italic id="_italic-19">Bussiness</italic><italic id="_italic-20"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran yang berlokasi di Jl. Jenggolo 2A , Siwalanpanji , Sidoarjo .</p>
      <p id="paragraph-faa62b8cd8c73c9bfce1eb79a01a5635">C. Subjek dan Objek Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-20">Dalam Penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah persediaan barang dagang Bussiness Centre SMKN 2 Buduran yang beroperasi dibidang retail sebagai sarana pembelajaran dan praktek penjualan yang dikembangkan oleh Alfamart yang bekerja sama dengan sekolah menengah kejuruan.</p>
      <p id="_paragraph-21">Subjek penelitian adalah narasumber yang memberikan data penelitian dengan cara wawancara dengan peneliti.</p>
      <p id="paragraph-e8e125ecbee8d11c8404de947575f767">D. Teknik Penentuan Informan</p>
      <p id="_paragraph-22">Narasumber didalam penelitian kualitatif ini memakai metode purposive/judgemental sampling yakni metode penentuan narasumber yang dipilih dengan terencana atas standar atau tolak ukur maupun alasan tertentu yang sudah ditetapkan [8]. Yakni penanggung jawab, pengelola, pengurus <italic id="_italic-21">Bussiness</italic><italic id="_italic-22"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran Sidoarjo.</p>
      <p id="paragraph-6ba814d13c074a62b96921b088ee1008">E. Jenis dan Sumber Data</p>
      <p id="_paragraph-23">Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data primer yakni dengan cara mendatangi langsung lokasi penelitian yang menjadi objek peneliti. Untuk data sekunder peneliti memperoleh dari catatan atau dokumen <italic id="_italic-23">Bussiness</italic><italic id="_italic-24"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran Sidoarjo.</p>
      <p id="paragraph-1066e51d151d8190a77435080c691f6b">F. Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="_paragraph-24">Peneliti menggunakan metode Observasi yakni memantau proses penjualan, proses terima barang dari supplier maupun pencatatan persediaan barang dagang yang dilakukan di <italic id="_italic-25">Bussiness</italic><italic id="_italic-26"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran. Peneliti juga menggunakan metode wawancara dan mengajukan pertanyaan kepada informan berkenaan tentang pengendalian internal persediaan barang dagang di Bussiness Centre SMKN 2 Buduran. Metode Dokumentasi seperti foto, catatan anggota, daftar barang, serta dokumen lainnya juga digunakan untuk membantu penelitian. Metode <italic id="_italic-27">Checklist </italic>juga digunakan dalam teknik pengumpulan data dengan menjawab tanda <italic id="_italic-28">checklist </italic>oleh responden.</p>
      <p id="paragraph-7ad43d5f99b56acc7bb64c13549f9fd4">G. Teknis Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-25">Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber yakni dengan wawancara dan juga menggunakan checklist yang mana menggunakan partisipasi yang terlibat, dengan menggunakan teknologi triangulasi dalam pengumpulan data, data yang diperoleh akan lebih stabil, teliti dan pasti [9] . Selain itu, dibandingkan dengan metode tunggal, triangulasi akan lebih meningkatkan intensitas data pendekatan. Berdasarkan perhitungan <italic id="_italic-29">range </italic><italic id="_italic-30">presentase</italic><italic id="_italic-31"> index checklist</italic> yang diterapkan menurut Champion (1990;302) [10] adalah sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-26">0,00-0,25 : <italic id="_italic-32">No association or low association </italic></p>
      <p id="_paragraph-27">0,26-0,050<italic id="_italic-33"> :Moderately low association</italic></p>
      <p id="_paragraph-28">0,50-0,075<italic id="_italic-34"> : moderately high association</italic></p>
      <p id="_paragraph-29">0,75-1,00<italic id="_italic-35"> : High association (strength up to perfect)</italic></p>
    </sec>
    <sec id="heading-cec3ac9c837c46c7a11ef21102aef846">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="heading-d88b6431656a40cc9dcabb45f6f657de">A. Hasil Analisis </p>
      <p id="paragraph-4ed0437c2388a938a67122d08106d11b">1. Hasil Wawancara dengan Narasumber</p>
      <p id="_paragraph-31"><italic id="_italic-36">Bussiness Centre </italic>SMKN 2 Buduran saat ini memiliki 1 karyawan dan 18 pengurus untuk membantu dalam menjalankan kegiatan sehari-hari . Bussiness Centre SMKN 2 Buduran menjual berbagai macam produk pilihan seperti kebutuhan pokok sembako, makanan , minuman dingin maupun hangat, frozen food , perlengkapan maspion, alat tulis , dan sebagainya. Jenis persediaan barang yang ada di <italic id="_italic-37">Bussiness</italic><italic id="_italic-38"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran didapatkan dari supplier maupun belanja sendiri dimana hal tersebut barang yang paling diminati oleh pelanggan maupun barang yang menjadi pilihan kedua. Dalam pengendalian persediaan barang dagang pada <italic id="_italic-39">Bussiness</italic><italic id="_italic-40"> Centre</italic> SMKN 2 Buduran masih menggunakan sistem perkiraan dan sistem aplikasi penjualan yang artinya karyawan toko mengecek barang yang masuk dan keluar secara manual dan memasukkan ke komputer sesuai dengan jumlah masuk persediaan barang ke Bussiness Centre SMKN 2 Buduran, tetapi masih ada perangkapan tugas yang dialami karyawan,serta kekurangan perlengkapan seperti komputer yang khusus untuk pencatatan penerimaan persediaan barang.</p>
      <p id="_paragraph-32">Terdapat posisi yang belum terisi seperti bagian penerimaan barang oleh karena itu terjadi kerangkapan tugas yang dilakukan oleh karyawan Bussiness Centre SMKN 2 Buduran, dan juga komputer yang hanya 1 untuk melakukan transaksi penjualan dan menyebabkan pencatatan dalam sistem komputer tidak optimal, dan juga masih terdapat kelemahan yakni masih minimnya pengawasan secara langsung dan pemisahan tugas yang belum efektif dan jelas pada setiap bagian baik kayawan maupun pengurus Bussiness Centre SMKN 2 Buduran. Persediaan barang pada Bussiness Centre SMKN 2 Buduran berdasarkan barang yang dijual merupakan barang yang <italic id="_italic-41">fast moving</italic> atau barang yang cepat terjual dan barang yang paling dibutuhkan oleh pelanggan yang digunakan sehari-hari. Kelebihan persediaan barang dagang sering terjadi pada air mineral, deterjen dan sabun mandi serta peralatan rumah tangga.</p>
      <p id="_paragraph-33">Sistem prosedur persediaan barang pada Bussiness Centre SMKN 2 Buduran meliputi prosedur analisa barang, pemesanan barang, penerimaan barang dan pengeluaran barang. Dalam proses pengadaan persediaan barang dagang , pengurus Stock Opname membuat daftar persediaan barang yang habis atau persediannya menipis lalu memberikan kepada karyawan. Kemudian karyawan akan memesan melaui supplier dan jika sudah barang datang maka karyawan akan melakukan pengecekan barang dan display barang dan juga memasukkan jumlah persediaan barng baru ke komputer maupun kartu stok sebagai pencatatan<italic id="_italic-42">. </italic></p>
      <p id="paragraph-79c02ff35503de1c703271db8a556088">2. Hasil <italic id="_italic-43">Checklist </italic></p>
      <p id="_paragraph-34">Analisis perbandingan pengendalian internal atas persediaan barang dagang Bussiness Centre SMKN 2 Buduran dengan teori COSO , penulis memakai metode checklist, dengan 73 pertanyaan dan total keseluruhan nilai mendapakan hasil 58,90%, berdasarkan barometer Champion (1990) hal ini membuktikan bahwa pengendalian internal atas persediaan barang dagang dikategorikan cukup efektif. Pembahasan tentang penyesuaian penerapan pengendalian internal persediaan barang di Bussiness Centre SMKN 2 Buduran berdasarkan 17 prinsip pendukung 5 komponen inti menurut teori COSO (2013).</p>
      <p id="paragraph-5dd2d443681bbb5ee0d0f448ad592554">B. Pembahasan</p>
      <p id="paragraph-662c290dcc41df5686b597b79c940655">1. Lingkungan Pengendalian</p>
      <p id="_paragraph-35">Menurut teori COSO (2013<italic id="_italic-44">), </italic><italic id="_italic-45">Bussiness Centre</italic> SMKN 2 Buduran memiliki peraturan yang mengandung nilai-nilai etika , Bussiness Centre SMKN 2 Buduran juga memiliki struktur organisasi beserta jabatan , tugas dan wewenang nya , dan juga melakukan seleksi terhadap penerimaan baik karyawan maupun pengurus <italic id="_italic-46">Bussiness Centre </italic>SMKN 2 Buduran.</p>
      <p id="paragraph-d4fded7a724cc80d81e80a2e7097c851">2. Penilaian Resiko</p>
      <p id="_paragraph-36">Penilaian resiko yang sesuai dengan teori COSO yaitu <italic id="_italic-47">Bussiness Centre</italic> SMKN 2 Buduran telah mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin terjadi seperti mempelajari mengenai kompetitor, penetapan tingkat maksimum atau minimum persediaan barang dagang, pengecekan barang dagang yang baru datang dari supplier yang dilakukan secara dua kali , dan secara cepat menyesuaikan diri dengan perubahan sistem yang ada dan memberitahukan secara cepat kepada pihak IT Alfamart untuk segera dibenahi. Sedangkan penerapan yang tidak sesuai dengan teori COSO adalah pelaporan tentang Bussiness Centre SMKN 2 Buduran hanya dilakukan oleh karyawan, dan Bussiness Centre SMKN 2 Buduran sering tidak terlalu memperhatikan persediaan barang dagang baik dikarenakan rusak maupun expired. Serta pencatatan penerimaan barang baru yag seharusnya dimasukkan kedalam sistem di komputer sering tidak dilakukan karena komputer hanya terdapat 1 dan digunakan untuk kasir sehingga dikhawatirkan menghambat transaksi penjualan.</p>
      <p id="paragraph-f55cc09c9687d8297d74e97ed199290b">3. Aktivitas Pengendalian</p>
      <p id="_paragraph-37">Implementasi aktivitas yang sesuai dengan COSO adalah Bussiness Centre SMKN 2 Buduran memiliki sistem penjualan yang dikembangkan oleh Alfamart yang memuat data-data tentang produk persediaan barang dagang , dan hasil penjualan harian Bussiness Centre SMKN 2 Buduran. Penerapan yang tidak sesuai dengan teori COSO adalah tidak adanya pengamanan persediaan barang dagang yaitu CCTV dibagian gudang dan Bussiness Centre SMKN 2 Buduran tidak memiliki dokumen tertulis resmi bagaimana menjalankan prosedur pengadaan barang dagang, prosedur stock opname , prosedur pelayanan penjualan , hal tersebut dilakukan melalui praktek yang telah dicontohkan sebelumnya oleh penanggung jawab Bussiness Centre SMKN 2 Buduran.</p>
      <p id="paragraph-16a373699a563871760158f32029db73">4. Informasi dan Komunikasi</p>
      <p id="_paragraph-38">Kegiatan yang telah sesuai dengan COSO adalah Bussiness Centre SMKN 2 Buduran memiliki sistem yang juga memuat data tentang barang-barang yang menjadi persediaan barang dagang dan juga dapat digunakan juga sebagai transaksi penjualan (kasir).</p>
      <p id="paragraph-bfcca86bbe1586a9ec0ef2dd2752a181">5. Kegiatan Pemantauan</p>
      <p id="_paragraph-39">Implementasi yang sesuai dengan teori COSO adalah adanya tindakan koreksi yang dilakukan Bussiness Centre SMKN 2 Buduran jika terjadi hal yang menyimpang yang mengganggu pengendalian internal persediaan barang dagang, tetapi tindakan koreksi dilakukan cukup lambat sehingga mengakibatkan kurang maksimalnya kegiatan pemantauan</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-40">Berdsarkan hasil wawancara bahwa pengendalian lingkugan internal di Bussiness Centre SMKN 2 Buduran belum sempurna dan masih banyak hal yang perlu dibenahi seperti keamanan, petugas dan sistem yang ada di Bussiness Centre SMKN 2 Buduran diperkuat dengan hasil checklist , dari 73 pertanyaan yang diajukan yang disesuaikan dengan COSO (2013) sebanyak 58,90% menjawab “Ya” maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengendalian internal persediaan barang dagang Bussiness Centre SMKN 2 Buduran adalah cukup efektif. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pengendalian internal persediaan barang dagang di Bussiness Centre SMKN 2 Buduran sudah cukup sesuai dengan teori COSO hanya saja ada beberapa elemen yang belum sesuai..</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>