<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Influence of Brand Awareness, Brand Image, and Product Quality on Repurchase Intention of Fast Fashion Products</article-title>
        <subtitle>Pengaruh Brand Awareness, Brand Image, dan Kualitas Produk Terhadap Repurchase Intention Produk Fast Fashion</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-e201339b6dcc4db0dfac945d5c9b0857" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Almirah</surname>
            <given-names>Olga Violyta</given-names>
          </name>
          <email>olgaviolyta98@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-2929b2243627fdfa3cb3831fb090f3f2" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Indayani</surname>
            <given-names>Lilik</given-names>
          </name>
          <email>lilikindayani@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-08-27">
          <day>27</day>
          <month>08</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-cec68b07dc254b099d35a4aca0d866c3">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-33">Di zaman milenial ini <italic id="_italic-111">fashion </italic>menjadi salah satu sektor industri yang berkembang sangat pesat. Hal ini dikarenakan <italic id="_italic-112">fashion </italic>merupakan salah satu bagian penting dari <italic id="_italic-113">life style</italic> masyarakat <italic id="_italic-114">modern</italic>. Banyak masyarakat yang akhirnya membentuk sebuah perilaku konsumtif terhadap produk sebuah <italic id="_italic-115">fashion</italic>. Perilaku konsumtif ini didukung dengan meningkatnya penjualan dan penggunaan produk-produk <italic id="_italic-116">fashion </italic>yang mengarah pada modernisasi dan <italic id="_italic-117">brandminded</italic>, biasanya hal-hal seperti ini banyak terjadi di perkotaan di Indonesia salah satunya di Sidoarjo. Masyarakat di Indonesia rata- rata sering mengikuti perkembangan <italic id="_italic-118">fashion</italic> yang sedang <italic id="_italic-119">trend</italic> agar tidak terlihat ketinggalan zaman, hal ini otomatis meningkatkan perilaku konsumsi masyarakat untuk membeli produk <italic id="_italic-120">fashion</italic>, dengan meningkatnya perilaku konsumsi ini akan membuka peluang yang sangat besar bagi produsen untuk berinovasi dan meningkatkan produknya untuk bersaing dengan kompetitor lain yang sejenis.</p>
      <p id="_paragraph-34">Salah satu industri<italic id="_italic-121"> fashion</italic> yang sedang banyak difavoritkan saat ini adalah industri retail <italic id="_italic-122">fast fashion</italic>. Di era global saat ini target pangsa sasaran produk <italic id="_italic-123">fast fashion</italic> kebanyakan berasal dari kalangan anak muda, hal ini dikarenakan kebanyakan dari mereka senang mengikuti perkembangan <italic id="_italic-124">trend mode</italic> terbaru. Saat ini sudah banyak merek <italic id="_italic-125">fast fashion</italic> dari luar yang mulai masuk ke Indonesia dan tidak asing lagi oleh kebanyakan masyarakat kita seperti Zara. Merek ini adalah contoh dari merek <italic id="_italic-126">fast fashion</italic> yang saat ini sedang banyak difavoritkan oleh kebanyakan konsumen terutama bagi kalangan yang selalu mengikuti perkembangan <italic id="_italic-127">fashion</italic> dari waktu ke waktu. Merek ini selalu berusaha bersaing dan melakukan inovasi secara cepat untuk dapat mengikuti perkembangan <italic id="_italic-128">trend</italic> dan <italic id="_italic-129">mode</italic> yang sedang terjadi saat ini.</p>
      <p id="_paragraph-35">Zara dalam dunia <italic id="_italic-130">fashion</italic> memposisikan sebagai merek <italic id="_italic-131">high fashion</italic> <italic id="_italic-132">brand</italic> yang inovatif, dengan teknologi informasi di manfaatkan secara optimal agar dapat menciptakan desain pakaian yang baru. Zara lebih memfokuskan kuantitas model daripada kuantitas produk sehingga membuat produk-produk Zara memiliki presesi tinggi dan relatif ekslusif.</p>
      <p id="_paragraph-36">Merek Zara telah bertahan cukup lama dalam industri <italic id="_italic-133">fashion</italic> internasional. Awal mulanya Zara didirikan oleh Armancio Ortega dan Rosallia Mera ditahun 1975. Zara merupakan naungan dari P.T. Mitra Adiperkasa Tbk (MAP).</p>
      <p id="_paragraph-37">MAP sendiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang <italic id="_italic-134">fashion</italic>, <italic id="_italic-135">sport</italic>, dan juga <italic id="_italic-136">life style </italic>Zara memiliki banyak jenis pakaian mulai dari untuk anak-anak, pria, dan juga wanita, tidak hanya itu Zara juga memiliki produk kosmetik sendiri dan juga Zara <italic id="_italic-137">home</italic> yang berfokus pada perabotan rumah tangga. Saat ini Zara sudah memiliki sebanyak 13 toko di Indonesia.</p>
      <p id="_paragraph-38">Dalam menghadapi persaingan dengan para kompetitor lainnya Zara membutuhkan sebuah sistem penjualan, dengan adanya sistem penjualan yang baik akan menghasilkan laba untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Keberhasilan sebuah perusahaan untuk mencapai tujuan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mempromosikan produknya agar dapat dikenal oleh banyak orang. Salah satu faktor utama kunci keberhasilan adalah <italic id="_italic-138">brand awareness</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-39"><italic id="_italic-139">Brand awareness</italic> adalah salah satu hal penting yang harus mampu dicapai oleh sebuah perusahaan jika ingin produk yang dihasilkan dapat dikenal banyak orang. <italic id="_italic-140">Brand Awareness</italic> mencerminkan kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat bahwa sebuah merek merupakan anggota dari kategori produk tertentu [1]. <italic id="_italic-141">Brand awareness</italic> terhadap <italic id="_italic-142">brand </italic>Zara sudah cukup tinggi hal ini dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh Boomee.co tahun 2016 yang didapatkan melalui responden pengguna twitter mengenai merek yang paling populer dan paling banyak disebut di twitter, data tersebut diambil dengan menggunakan teknologi Provetic Indonesia.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-28"/>Merek fast fashion yang paling banyak disebut pengguna twitter</title>
          <p id="_paragraph-41">Boomee.co (2016)</p>
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-33328dee47fec95adeaad84e7c7f067d">
              <td id="table-cell-29ddbaec7b43265a63b02910756cf9be">Merek</td>
              <td id="table-cell-cb9583c387da16f38ab25e64a8d07e13">Jumlah</td>
              <td id="table-cell-2c47d5c2287acdba1c23c2872a17c6a0">Keterangan</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9de53f471841e0b1b6646e2672b33d53">
              <td id="table-cell-7377a558ea9bc072283f2b75fcbccf6f">Zara</td>
              <td id="table-cell-6624cfc2dceca164eaba73a8c3b060fb">7050</td>
              <td id="table-cell-8a8d66d70900874a0b4145278ec32ed8">Paling populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3f99fa2eb44c086085b663f45763c442">
              <td id="table-cell-0342a9b142b9e7f37d561ab07b8e409a">H&amp;M</td>
              <td id="table-cell-7c347e3f5375d5134af4e78ca1f34e6e">2889</td>
              <td id="table-cell-b01b481b5c88b6c28e1be634ba87b032">Paling populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-62eb4eca0ae73cf101d0afb10e65548e">
              <td id="table-cell-ddce074e4ad63b93d3ade50b12300a14">Polo</td>
              <td id="table-cell-d01addcdc7003f628e722593849d7ad2">1411</td>
              <td id="table-cell-bb6c9e5dd2a67095cf1591ef53149e89">Paling populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-6b960adce6cfb5fdc63250242c4fc5da">
              <td id="table-cell-b5570c0c865eed425adf4652ec33a6b6">Next</td>
              <td id="table-cell-1342b85908732fbd6aaeacd7cf0cb1c5">878</td>
              <td id="table-cell-d40a1448cbe9c8cdc0a05e6446c7ebbf">Populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-515265674436ba1f86217c55ce0bad8f">
              <td id="table-cell-fc447327dc48c670d1f4ed5397a0d113">GAP</td>
              <td id="table-cell-377674b7e4bee78f8af9fe316653fd5c">668</td>
              <td id="table-cell-009f1e09db0a50b221dba7ec3f963947">Populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ec7b87fbacd464d7054ffa3a9335e51f">
              <td id="table-cell-eb6005efd4997ccec385a9460bc56f20">Guess</td>
              <td id="table-cell-a5f66db3f7f33ece02013e4429a867c9">668</td>
              <td id="table-cell-184d09b04e225352606fe531f87d4d45">Cukup populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5f13f8741ac73277ad7f07a59d3149c9">
              <td id="table-cell-41b45d4e4965a4cd915a2dbb1d615943">Lacoste</td>
              <td id="table-cell-1bd4e03b13a585d1454d1180d1bd0b90">440</td>
              <td id="table-cell-ae1f6937bcbe6cd095f3d0f46184b86a">Cukup populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-fdcd41a778edc84f12cf624b8652730f">
              <td id="table-cell-609e0696554560805f4db50e065c3d55">Levi’s</td>
              <td id="table-cell-3e06f83f488062c6baa401ea18699fb5">254</td>
              <td id="table-cell-7f4e5ce698e012fccdf84801e58701d9">Cukup populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-47c02f0091771c55adf5703cace5ea21">
              <td id="table-cell-a5a59774fa7a018105016b8d1890327d">Wakai</td>
              <td id="table-cell-d081359c36912e3c9cccaf895614f289">252</td>
              <td id="table-cell-b34de7c6615f6e5f2308fb9d99a00467">Cukup populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-aa8c9c25b092895712339be2382e0702">
              <td id="table-cell-c3c67b5c20f3d4cd74e0eef3e8d4176d">Uniqlo</td>
              <td id="table-cell-ae250153ecbb68c5720f94d3ee42a8c0">251</td>
              <td id="table-cell-ad4b09b0999106e8d82c78801d7922fd">Cukup populer</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-0a78e7514a80a48f81ec53afe01d5556">
              <td id="table-cell-5197e904630a6fa2ecb9fc2d088e380a">14854</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-42">Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Zara masih menjadi merek nomor satu yang paling banyak dibicarakan dan disebut oleh para pengguna twitter, padahal dalam mempromosikan produknya Zara tidak pernah menggunakan pendekatan melalui media masa/<italic id="_italic-143">zero advertising</italic>. Zara hanya mengandalkan pendekatan melalui kekuatan <italic id="_italic-144">local retail</italic> serta kekuatan <italic id="_italic-145">brand image</italic> yang terpercaya. Komunikasi pemasaran merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan strategi dalam pemasaran, bagaimanapun berkualitasnya sebuah produk, bila konsumen belum pernah mendengar atau tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mreka tidak akan tertarik membelinya [2].</p>
      <p id="_paragraph-43">Selain <italic id="_italic-146">brand awareness</italic> perusahaan juga perlu mempertimbangkan tentang bagaimana <italic id="_italic-147">brand image</italic> yang akan dibangun oleh perusahaan. Perusahaan yang mampu membangun <italic id="_italic-148">brand image</italic> yang kuat akan membawa pengaruh terhadap <italic id="_italic-149">repurchase intention</italic>. <italic id="_italic-150">Brand image</italic> berkenaan dengan persepsi konsumen terhadap sebuah merek. Dengan memberi sebuah citra merek yang baik dapat memastikan bahwa konsumen akan memiliki asosiasi kuat dan penilaian positif dalam benaknya kepada perusahaan [3]. Dalam hal ini <italic id="_italic-151">brand image</italic> yang dimiliki Zara memiliki nilai positif hal ini terbukti bahwa Zara telah menjadi <italic id="_italic-152">brand</italic> internasional yang mendunia, barang yang ditawarkan oleh Zara selalu berinovasi dan <italic id="_italic-153">up to date</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-44">Meskipun <italic id="_italic-154">brand image</italic> yang dibentuk oleh Zara cukup positif namun pada kenyataannya Zara masih memiliki sisi <italic id="_italic-155">image</italic> yang negatif terbukti dengan Zara yang mendapatkan kritik dari berbagai pihak, hal ini karena mode Zara dianggap rasis dengan peluncuran beberapa produknya seperti <italic id="_italic-156">t-shirt</italic> lengan pendek yang terdapat tulisan “<italic id="_italic-157">what is the new black</italic>” hal ini dianggap rasis terutama untuk orang berkulit hitam. Bukan hanya itu Zara juga meluncurkan aksesoris yaitu kalung, kalung tersebut memiliki bandul berbentuk wajah orang berkulit hitam dan bibirnya dipoles dengan lipstik warna merah. Hal ini sesuai dengan fakta sejarah terkait kisah para budak seks Afro-Amerika yang dulunya dipaksa harus menggunakan pemulas bibir bewarna merah agar terlihat lebih menarik dan cantik.</p>
      <p id="_paragraph-45">Dan pada tahun 2019 yang lalu Zara pun kembali dikritik terkait dengan pemilihan model untuk peluncuran produk terbarunya, model tersebut berasal dari Cina yang memiliki <italic id="_italic-158">freckless</italic> dari hal tersebut Zara dianggap telah menghina Cina karena secara tidak langsung telah mendiskriminasi para wanita Cina yang pada umumnya para wanita di Asia tidak memiliki <italic id="_italic-159">freckless</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-46">Selain itu faktor yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi <italic id="_italic-160">repurchase intention</italic> yaitu kualitas produk. Kualitas produk merupakan kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya [4]. Kualitas produk yang dihasilkan Zara selalu memiliki kualitas yang baik terbukti dengan MAP yang selalu mendatangkan produk Zara langsung dari pusatnya yaitu di Spanyol, pembelian dilakukan dengan cara sistem putus yang berarti apabila produk Zara ada yang tidak laku/tidak terjual kerugian harus ditanggung oleh MAP sendiri. Selain menjaga kualitas produk di setiap retailnya dengan mendatangkan produk langsung dari Spanyol dalam hal mendesain produk Zara juga bekerja sama dengan desainer internasional untuk merancang setiap produk yang akan diluncurkannya. Meskipun Zara sangat memperhatikan kualitas produknya ternyata harga produk Zara memiliki harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan <italic id="_italic-161">brand fast fashion</italic> lain yang sejenis.</p>
      <p id="_paragraph-47">Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut peneliti memutuskan untuk mengambil judul penelitian “Pengaruh <italic id="_italic-162">Brand Awareness</italic>, <italic id="_italic-163">Brand Image</italic>, dan Kualitas Produk terhadap <italic id="_italic-164">Repurchase Intention</italic> pada produk <italic id="_italic-165">fast fashion</italic> (Studi pada konsumen Zara Kota Sidoarjo)”.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-8ac2c495619625e40801c24f0f950005">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-49">A. Lokasi Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-50">Lokasi pada penelitian ini dilakukan di Penelitian ini berada di wilayah Kab. Sidoarjo, Jawa Timur..</p>
      <p id="paragraph-2bb6e2e095deb7441bb7440c96662de0">B. Populasi dan Sampel</p>
      <p id="_paragraph-51">Populasi dari penelitian ini adalah konsumen Zara di Kota Sidoarjo yang sudah pernah melakukan pembelian produk Zara lebih dari satu kali. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknik <italic id="_italic-166">purposive sampling</italic><italic id="_italic-167">, </italic>yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu [5]. Sampel dalam penelitian ini adalah konsumen Zara yang pernah membeli dan menggunakan produk Zara minimal sebanyak dua kali. sejumlah 100 responden.</p>
      <p id="_paragraph-52">Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Paul Leedy [6] sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-53">
        <bold id="_bold-37">
          <italic id="_italic-168">n </italic>
        </bold>
        <bold id="_bold-38">= </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-54"><italic id="_italic-169"><bold id="_bold-39"> n </bold></italic>= 𝟗𝟔, 𝟎𝟒 ≈ 𝟏𝟎𝟎</p>
      <p id="paragraph-af8f96c4e21932a6218fe49e2d97f298">C. Jenis dan Sumber Data</p>
      <p id="_paragraph-55">Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini berasal dari responden dengan melakukan penyebaran kuesioner. Kemudian data sekunder dalam penelitian ini berasal dari artikel dan internet yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. </p>
      <p id="paragraph-7c86911fa98ef325b9d2e309b33963d1">D. Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="_paragraph-56">Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara menyebarkan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk di jawabnya [7]. Jawaban yang diperoleh dari responden selanjutnya akan diukur menggunakan skala pengukuran yaitu skala <italic id="_italic-170">likert</italic>. Selain kuesioner teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan teknik wawancara. Wawancara merupakan teknik pengumpulan dari data yang hendak di teliti apabila bertujuan untuk melaksanakan studi pendahuluan agar dapat menemukan masalah penelitian yang hendak diteliti, serta jika peneliti ingin mengkaji dengan lebih dalam kepada para responden [8]. Dan yang terakhir teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei. Metode survei merupakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data pada saat ini ataupun masa lampau, terkait dengan karakteristik, pendapat, keyakinan, perilaku, hubungan variabel, peneliti melakukan teknik dalam pengumpulan data dengan pengamatan (kuesioner atau wawancara) yang tidak mendalam dan hasil penelitian cenderung digeneralisasikan [9].</p>
      <p id="paragraph-1ccfe45fb22dd1eafa5889965b9a6d0d">E. Teknik Analisis Data</p>
      <p id="_paragraph-57">Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis data regresi linier berganda dan dalam uji data diukur dengan aplikasi <italic id="_italic-171">software </italic>PASW <italic id="_italic-172">Statistics</italic> 26.</p>
      <p id="paragraph-230ae152b02288d9a750c26ab14c2713">F. Kerangka Konseptual</p>
      <p id="paragraph-4338c356e5821868e4172667d3fa80c5">
        <italic id="italic-7da2af4241daa84db433f7e59a63bcbb">Supplementary Files</italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-58"><bold id="_bold-44">Gambar 1. </bold>Kerangka Konseptual</p>
      <p id="paragraph-a211d8f96644d38e717e4fdea9051b23">G. Hipotesis</p>
      <p id="_paragraph-59">Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.</p>
      <p id="_paragraph-60">Berdasarkan rumusan masalah, uraian diatas, dan tinjauan pustaka, maka didapatkan dua hipotesis alternatif didalam penelitian ini (H1 dan H2) seperti berikut ini:</p>
      <p id="_paragraph-61">H<sub id="_subscript-1">1 </sub>: Terdapat pengaruh secara parsial pada variabel <italic id="_italic-173">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-174">brand image</italic> dan kualitas produk terhadap <italic id="_italic-175">repurchase intention</italic> pada produk<italic id="_italic-176"> fast fashion </italic>Zara(Studi pada konsumen Zara Kota Sidoarjo)<italic id="_italic-177">.</italic> H<sub id="_subscript-2">2</sub> `: Terdapat pengaruh secara simultan pada variabel <italic id="_italic-178">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-179">brand image</italic> dan kualitas produk terhadap <italic id="_italic-180">repurchase intention</italic> pada produk <italic id="_italic-181">fast fashion</italic> Zara (Studi pada konsumen Zara Kota Sidoarjo).</p>
    </sec>
    <sec id="heading-2b4fd7667661a5c5e9f8302ca693c754">
      <title>Hasil dan Pembahasan<bold id="_bold-49"/></title>
      <p id="paragraph-cfb5d6006f2a95c219c0adb407393b75">A. Analisis Data</p>
      <p id="paragraph-732ecc049353fea1ca1546e64f7bf6c6">1. Analisis Regresi Linier Berganda</p>
      <p id="_paragraph-63">Analisis regresi analisis regresi digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dan menunjukkan arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat [10]. Pada penelitian ini terdapat variabel <italic id="_italic-182">brand awareness</italic> (X1), <italic id="_italic-183">brand image </italic>(X2), kualitas produk (X3) terhadap <italic id="_italic-184">repurchase intention</italic> (Y).</p>
      <p id="_paragraph-64">Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan dari program SPSS dan diperoleh hasil seperti berikut ini :</p>
      <p id="paragraph-4399b8d0cd47a84dff27843e7c6a808d">Coefficientsa</p>
      <p id="paragraph-edaf9363dbe8f08d8d510038ea466a36">
        <italic id="italic-101ddc8157cba4ad0cbbad0825d81456">Supplementary Files</italic>
      </p>
      <p id="paragraph-688d46ac4ba2373f813b0cce5c9d1c79"><bold id="bold-2b89e452dcf15296b733b8500a5a4829">Gambar 2.</bold> <bold id="_bold-51"/>Hasil Uji Regresi Linier Berganda</p>
      <p id="paragraph-9db763c8efb68f4c1efb29e9de9d6205">Sumber : Hasil <italic id="_italic-196">Output </italic>SPSS<italic id="_italic-197"> for Windows</italic></p>
      <p id="_paragraph-67">Berdasarkan hasil pengolahan SPSS pada tabel diatas, maka dapat diketahui model persamaan regresi berganda seperti berikut :</p>
      <p id="_paragraph-68">Y = a + b <sub id="_subscript-3">1</sub> X <sub id="_subscript-4">1 </sub>+ b <sub id="_subscript-5">2</sub> X <sub id="_subscript-6">2 </sub>+ b <sub id="_subscript-7">3</sub> X <sub id="_subscript-8">3 </sub>+ e </p>
      <p id="_paragraph-69">Y = 0,563+ 0,362 X1 + 0,500 X2 + 0,330 X3 + e </p>
      <p id="_paragraph-70">Berdasarkan hasil perolehan persamaan dapat diketahui arti dan koefisien regresi sebagai berikut :</p>
      <list list-type="bullet" id="list-299e72c1d6f06e31565eb4c21a537647">
        <list-item>
          <p>Nilai konstanta bernilai positif 0,563. Hal ini menyatakan bahwa tanpa adanya pengaruh variabel bebas yaitu <italic id="_italic-198">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-199">brand image</italic>, dan kualitas produk, maka nilai variabel terikat yaitu <italic id="_italic-200">repurchase intention</italic> tetap konstan sebesar 0,563 atau 56,3%.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien memiliki nilai positif (0,362) antara variabel <italic id="_italic-201">brand awareness</italic> (X1) dengan <italic id="_italic-202">repurchase intention</italic> (Y). Hal ini dapat dinyatakan bahwa variabel tersebut terdapat hubungan yang positif. Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila variabel <italic id="_italic-203">brand awareness</italic> (X1) mengalami kenaikan satu satuan maka variabel <italic id="_italic-204">repurchase intention</italic> (Y) akan terjadi kenaikan 0,362 satuan atau 36,2% dengan asumsi jika faktor lainnya ialah konstan atau tetap.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien memiliki nilai positif (0,500) antara variabel <italic id="_italic-205">brand image</italic> (X2) <italic id="_italic-206">dengan</italic><italic id="_italic-207"> repurchase intention</italic> (Y). Hal ini dapat dinyatakan bahwa variabel tersebut terdapat hubungan yang positif. Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila variabel <italic id="_italic-208">brand image</italic> (X2) mengalami kenaikan satu satuan maka variabel <italic id="_italic-209">repurchase intention</italic> (Y) akan terjadi kenaikan 0,500 satuan atau 50,0% dengan asumsi jika faktor lainnya ialah konstan atau tetap.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Nilai koefisien memiliki nilai positif (0,330) antara variabel kualitas produk (X3) dengan <italic id="_italic-210">repurchase intention</italic> (Y). Hal ini dapat dinyatakan bahwa variabel tersebut terdapat hubungan yang positif. Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila variabel kualitas produk mengalami kenaikan satu satuan maka variabel <italic id="_italic-211">repurchase intention</italic> akan terjadi kenaikan 0,330 satuan atau 33,0% dengan asumsi jika faktor lainnya ialah konstan atau tetap.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-4adcbf94c5f4c8263c58fbdefc5b3fc3">2. Uji Hipotesis</p>
      <p id="_paragraph-71">a. Uji Parsial (uji t)</p>
      <p id="_paragraph-72">Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas memiliki pengaruh masing-masing atau memiliki pengaruh secara parsial terhadap variabel terikat. Dalam melakukan uji hipotesis dapat menggunakan cara membandingkan nilai t<sub id="_subscript-9">hitung</sub> dengan nilai t<sub id="_subscript-10">tabel</sub>. Apabila t<sub id="_subscript-11">hitung</sub> lebih besar t<sub id="_subscript-12">tabel</sub>, dapat dinyatakan terdapat alasan yang kuat untuk menerima hipotesis satu (H1) dan menolak hipotesis nol (H0), dan hal ini dapat terjadi juga sebaliknya. Didalam uji hipotesis ini menggunakan uji t untuk mengukur tingkat pengaruh signifikasi secara parsial diantara variabel bebas, yaitu antara lain <italic id="_italic-212">Brand Awareness</italic> (X1), <italic id="_italic-213">Brand Image</italic> (X2) dan Kualitas Prouk (X3) terhadap variabel terikat yaitu <italic id="_italic-214">Repurchase Intention</italic> (Y).</p>
      <p id="paragraph-e1908aea9cc1d51df3e1a6658ff67b76">
        <italic id="italic-819ac1e351268ff9833cf2802f69d0fa">Supplementary Files</italic>
      </p>
      <p id="paragraph-903fd79e6c163d78fddebb9db9ef45bd"><bold id="bold-ec7b1fc0ba544ac857aa00bb0ad1eb68">Gambar 3.</bold> <bold id="bold-d80dde01457b6ca946a677816fe51612"/>Hasil Uji t<bold id="bold-bedbe713b59d1884596b5e08401dd1ca"/></p>
      <p id="paragraph-3dee3a4c458d8d85f92b6cd8618f8e76">Sumber : Hasil <italic id="italic-ff4fa8022ca9a976d2d8238e7b61a46c">Output </italic>SPSS<italic id="italic-58cd31aaf2af0f12e2806c9dbf2e59c1"> for Windows</italic></p>
      <p id="_paragraph-76">Dengan menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 5% (a = 0,05) dengan <italic id="_italic-228">degree of freedom</italic> sebesar k = 3 dan df2 = n – k – 1 (100 – 3 – 1 = 96) sehingga diperoleh ttabel sebesar 1,984 jadi dapat disimpulkan sebagai berikut :</p>
      <p id="paragraph-8006ae727b3b51eeef1e621490587476">1. Pengaruh <italic id="_italic-233">brand awareness</italic> terhadap repurchase intention</p>
      <p id="_paragraph-77">Berdasarkan tabel uji t didapatkan t<sub id="_subscript-13">hitung</sub> sebesar 3,922. Hal ini membuktikan bahwa t<sub id="_subscript-14">hitung</sub> 3,922 lebih besar daripada t<sub id="_subscript-15">tabel</sub> 1984. Maka dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak, yang berarti variabel <italic id="_italic-229">brand awareness</italic> (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap <italic id="_italic-230">repurchase intention</italic> (Y) pada Zara.</p>
      <p id="paragraph-e18a985539296de1bccfbe9028a74168">2. Pengaruh <italic id="_italic-235">brand image</italic> terhadap repurchase intention</p>
      <p id="_paragraph-78">Berdasarkan tabel uji t didapatkan t<sub id="_subscript-16">hitung</sub> sebesar 3,741. Hal ini membuktikan bahwa t<sub id="_subscript-17">hitung</sub> 3,741 lebih besar daripada t<sub id="_subscript-18">tabel</sub> 1,984. Maka dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak, yang berarti variabel <italic id="_italic-231">brand image</italic> (X<sub id="_subscript-19">2</sub>) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap <italic id="_italic-232">repurchase intention</italic> (Y) pada Zara.</p>
      <p id="paragraph-82ec8bdb4b174e36495d8ce3c6f3cb46">3. Pengaruh kualitas produk terhadap <italic id="_italic-237">repurchase intention</italic></p>
      <p id="_paragraph-79">Berdasarkan tabel uji t didapatkan t<sub id="_subscript-20">hitung</sub>sebesar 2,340. Hal ini membuktikan bahwa t<sub id="_subscript-21">hitung</sub></p>
      <p id="_paragraph-80">2,340 lebih besar daripada t<sub id="_subscript-22">tabel</sub> 1,984. Maka dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak, yang</p>
      <p id="_paragraph-81">berarti variabel kualitas produk (X<sub id="_subscript-23">3</sub>) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap <italic id="_italic-238">repurchase intention</italic> (Y) pada Zara.</p>
      <p id="_paragraph-82">b. Uji Signifikasi Simultan (uji F)</p>
      <p id="_paragraph-84">ANOVA<sup id="_superscript-5">b</sup></p>
      <table-wrap id="_table-figure-4">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-70"/>Hasil Uji F</title>
          <p id="_paragraph-85">Output Data SPSS <italic id="_italic-246">for windows</italic></p>
        </caption>
        <table id="_table-4">
          <tbody>
            <tr id="table-row-29eb7cfaa8853df5dbbb9e158435d8a6">
              <td id="table-cell-202099b38d54e2c8bcedafa86e7c11ce" />
              <td id="table-cell-733b979c90d57cb8e23668854728aeb9">Model</td>
              <td id="table-cell-bb336834fc21d9ff6f96e47b26e8e077">Sum of Squares </td>
              <td id="table-cell-f291206099b279653b89f6d2ba98619f">Df </td>
              <td id="table-cell-030d900713720618a66b22dfd5f60232">Mean Square </td>
              <td id="table-cell-ebba0cb5633784b8d5fe2d67e0ae9648">F </td>
              <td id="table-cell-0b413565e35a929ea4d40a209abdf30c">Sig. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-0e1faf5d26e69cf4d12f1603ba5673b6">
              <td id="table-cell-adb3994cb05633aaa69228f7ac546bd4">1</td>
              <td id="table-cell-ddd016d26eeade0fb3fd3a81f50e1d5c">Regression </td>
              <td id="table-cell-ec69ba078f2ffa7d9df27e362495284b">718.616</td>
              <td id="table-cell-06cc840931491328315d990568a61cca">3</td>
              <td id="table-cell-e5f30e3b133607a373d0e1e7da8a3934">239.539</td>
              <td id="table-cell-249682e365e9a2e77331a70aa7282105">101.261</td>
              <td id="table-cell-a3d1a5708462fbe91b1c53c50eb76bc0">.000b</td>
              <td id="table-cell-251cf036c916eaee7e5c72174ff207cf" />
            </tr>
            <tr id="table-row-25c67bba012da9665bf976f876203188">
              <td id="table-cell-d814025fa610cb10f431dcf9fc6bccad" />
              <td id="table-cell-4f283f6a124a1e0d0e0161e3c90f35ca">Residual </td>
              <td id="table-cell-4a821a096c2914c0c10649fa4a16524d">227.094</td>
              <td id="table-cell-a8e02197c8b145d628672525d50bd2f1">96</td>
              <td id="table-cell-f388a9fa57a7b04c89ab28476d0de3ba">2.366</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3a7d4b4fb41967abac027fc743f48b87">
              <td id="table-cell-e396146f67a5c44c6bcff3b9ff39fe51" />
              <td id="table-cell-bd9112d8c42b9cc3c24da6540cfd2165">Total</td>
              <td id="table-cell-c1c9b390d0525e2ed4ed43e75e3de2b9">945.710</td>
              <td id="table-cell-0d7b33c4c215ae3d6677b34667b00cc5">99</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-86">Dari hasil pengujian simultan diatas diperoleh nilai F<sub id="_subscript-24">hitung</sub> sebesar 101,261 sedangkan F<sub id="_subscript-25">tabel</sub> pada tingkat kepercayaan signifikansi sebesar 5% serta df1 = k-1 = 4-1 = 3 dan df2 = n-k = 100–3 = 97 jadi diperoleh nilai F<sub id="_subscript-26">tabel</sub> sebesar 2,698. Maka F<sub id="_subscript-27">hitung</sub> 101.261 lebih besar daripada F<sub id="_subscript-28">tabel</sub> 2,698 dan tabel diatas menunjukkan nilai sig = 0,000 yang lebih kecil darpadai a = 0,05 maka hal tersebut dapat dinyatakan bahwa H<sub id="_subscript-29">0</sub> ditolak dan H<sub id="_subscript-30">a</sub> diterima, yang berarti variabel bebas memiliki pengaruh secara simultan terhadap variabel terikat.</p>
      <p id="_paragraph-87">Maka dapat disimpulkan bahwa variabel <italic id="_italic-247">brand awareness, brand image</italic>, dan kualitas produk berpengaruh secara simultan terhadap <italic id="_italic-248">repurchase intention</italic> pada Zara.</p>
      <p id="_paragraph-88">c. Koefisien Korelasi Berganda (Uji R)</p>
      <p id="_paragraph-89">Koefisien Korelasi Berganda bertujuan untuk menghitung tingkat antara variabel bebas dan variabel terikat. Nilai koefisien determinasi simultan adalah hasil pengkuadratan koefisien korelasi yang membuktikan pengaruh variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat.</p>
      <p id="_paragraph-90">Hasil pengujian mengenai analisis korelasi berganda dengan bantuan SPSS dapat dilihat melalui tabel beriku ini :</p>
      <p id="_paragraph-92">Model <italic id="_italic-249">Summary</italic> <sup id="_superscript-7">b</sup> </p>
      <table-wrap id="_table-figure-5">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-74"/>Hasil Uji R</title>
          <p id="_paragraph-93">Hasil<italic id="_italic-253"> Output </italic>SPSS<italic id="_italic-254"> for Windows</italic></p>
        </caption>
        <table id="_table-5">
          <tbody>
            <tr id="table-row-4085ee70d6273298ef4e44eecae3a736">
              <td id="table-cell-581033a1253211c1f2dddb3cbf529234">Model</td>
              <td id="table-cell-4e85f3d083ebb1912c884139e92c7a32">R</td>
              <td id="table-cell-0db566fafb681c5977ca5d25897b8f42">R Square </td>
              <td id="table-cell-a96542c38a2a80a1e41c6e1a4d49f78c">Adjust R Square </td>
              <td id="table-cell-4427a325f9ac65e92d04dd9fb56ec726">Std. Error of the Estimate</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-cd2ee6c55ea5d9374010f2e206ec79a4">
              <td id="table-cell-b8d031942df62037dd09825363883966">1</td>
              <td id="table-cell-c81b02b028237583f4b6bdafcbbcf1b9">.872a</td>
              <td id="table-cell-aad8cf99aa8f787f8a1c692af0e94115">.760</td>
              <td id="table-cell-a757dff6073dfcdcdcf4a4b35b3f184e">.752</td>
              <td id="table-cell-9138dccae8f98b339f58d70a0e57d91f">1.538</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-94">Pada tabel uji R dapat dilihat bahwa nilai R sebesar 0,872 yang berarti membuktikan jika hubungan variabel independen dan variabel dependen cukup kuat karena nilai yang dimiliki mendekati angka 1.</p>
      <p id="_paragraph-95">d. Koefisien Determinasi Berganda (R<sup id="_superscript-9">2</sup>)</p>
      <p id="_paragraph-96">Uji R<sup id="_superscript-10"><bold id="_bold-78">2</bold></sup> bertujuan untuk menghitung kemampuan model regresi didalam menjelaskan perubahan variabel terikat akibat dari variabel bebas. Berikut ini merupakan tabel hasil pengujian dari uji R<sup id="_superscript-11">2</sup> :</p>
      <p id="_paragraph-98">Model <italic id="_italic-255">Summary</italic><sup id="_superscript-13">b</sup></p>
      <table-wrap id="_table-figure-6">
        <label>Table 4</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-82"/>Hasil Uji R<sup id="_superscript-12">2 </sup></title>
          <p id="_paragraph-99">Hasil<italic id="_italic-259"> Output </italic>SPSS<italic id="_italic-260"> for Windows</italic></p>
        </caption>
        <table id="_table-6">
          <tbody>
            <tr id="table-row-d5f87129f5a68d2b9d940456e20d1401">
              <td id="table-cell-08c74b01b0fcab4fed082eb46f528834">Model</td>
              <td id="table-cell-3a359095edd323125b34b881a0767718">R</td>
              <td id="table-cell-e302a4945e93caa616a4541230aff979">R Square </td>
              <td id="table-cell-7ee39e082f9d100853947979f5ab0ed3">Adjust R Square </td>
              <td id="table-cell-ff3dc41e58d21bda4e7069a581523ba4">Std. Error of the Estimate</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-bacd020f69d5434dbe743f73582c2fe3">
              <td id="table-cell-d6fa95841a94de453212aa2e10330e9e">1</td>
              <td id="table-cell-674980af202ca5fa67746eb3549b422e">.872a</td>
              <td id="table-cell-f3456911dc43f952abdb38360720960b">.760</td>
              <td id="table-cell-76953bae48ee40c9bdb304ac06381f08">.752</td>
              <td id="table-cell-eeb66c17d17457e69aa6bbdd992c4bd2">1.538</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-100">Dibuktikan pada tabel diatas jika nilai dari koefisien determinan (R<sup id="_superscript-15">2</sup>) pada hasil pengujian koefisien determinan berganda (R<sup id="_superscript-16">2</sup>) yaitu sebesar 0,760 atau 76,0% maka bisa dinyatakan jika variabel <italic id="_italic-261">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-262">brand image</italic>, dan kualitas produk mampu menjelaskan tentang variabel <italic id="_italic-263">repurchase intention</italic> didalam penelitian ini dan sisanya sebesar 24% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak menjadi objek didalam penelitian ini.</p>
      <p id="paragraph-5870ffa985e6a72eb86fde73fbe29f6e">B. Pembahasan</p>
      <p id="_paragraph-101">Melalui hasil analisa dan pengujian yang dilakukan menggunakan data penelitian yang telah disesuaikan dengan hasil penelitian sebelumnya dapat diperoleh pembahasan sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-102">1. Hipotesis Pertama : <italic id="_italic-264">Brand Awareness</italic> berpengaruh terhadap <italic id="_italic-265">Repurchase Intention</italic> </p>
      <p id="_paragraph-103">Hasil analisis data membuktikan bahwa <italic id="_italic-266">brand awareness</italic> berpengaruh secara parsial terhadap <italic id="_italic-267">repurchase intention</italic>. <italic id="_italic-268">Brand awareness</italic> berpengaruh terhadap <italic id="_italic-269">repurchase intention </italic>pada produk Zara. Hal ini tidak terlepas dari Zara yang berhasil memasarkan produknya dengan baik sehingga menjadikan produk tersebut semakin dikenal dan menjadikan konsumen sadar akan keberadaan dari merek tersebut, terbukti dengan konsumen yang ketika membeli produk <italic id="_italic-270">fast fashion</italic> selalu menjadikan Zara sebagai pilihan utama karena merek tersebut telah melekat didalam benak konsumen.</p>
      <p id="_paragraph-104">Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh [11] <italic id="_italic-271">brand awareness </italic>adalah kemampuan suatu <italic id="_italic-272">brand </italic>untuk muncul didalam benak konsumen saat konsumen sedang mengingat suatu kategori <italic id="_italic-273">brand</italic> tertentu dan seberapa mudah nama produk tersebut diingat oleh konsumen, saat perusahaan bisa membangun sebuah<italic id="_italic-274"> brand</italic> yang kuat maka akan memunculkan hasrat didalam benak konsumen untuk melakukan pembelian ulang.</p>
      <p id="_paragraph-105">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [12] dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa <italic id="_italic-275">brand awareness</italic> berpengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-276">repurchase intention</italic>. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh [13] juga membuktikan bahwa <italic id="_italic-277">brand awareness</italic> berpengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-278">repurchase intention</italic>.</p>
      <p id="paragraph-eb5a7c8c4f7bc07a971dd924fed6f1fb">2. Hipotesis Kedua : <italic id="_italic-279">Brand Image </italic>berpengaruh terhadap <italic id="_italic-280">Repurchase Intention</italic></p>
      <p id="_paragraph-106">Hasil analisis data membuktikan bahwa <italic id="_italic-281">brand image </italic>berpengaruh secara parsial terhadap <italic id="_italic-282">repurchase intention</italic>. <italic id="_italic-283">Brand image</italic> berpengaruh terhadap <italic id="_italic-284">repurchase intention </italic>pada produk Zara. Konsumen banyak yang menilai positif akan kehadiran dari merek tersebut, dengan penilaian yang positif membuatpara konsumen semakin percaya serta memiliki sikap responsif akan produk yang dihasilkan oleh Zara.</p>
      <p id="_paragraph-107">Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh [14]sikap terhadap <italic id="_italic-285">brand image</italic> (citra merek) adalah pernyataan mental yang menilai negatif ataupun positif, baik dan tidak baik, suka dan tidak suka terhadap sebuah produk, yang dimana hal tersebut akan membuat konsumen untuk memutuskan akan melakukan keputusan pembelian ulang ataupun tidak.</p>
      <p id="_paragraph-108">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [15] dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa <italic id="_italic-286">brand image</italic> berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-287">repurchase intention</italic>. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh [16] membuktikan bahwa <italic id="_italic-288">brand image </italic>memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-289">repurchase intention</italic>. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh [17] membuktikan bahwa <italic id="_italic-290">brand image</italic> memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-291">repurchase intention</italic>. Dan yang terakhir penelitian yang dilakukan oleh [18] juga memiliki hasil analisis yang sama bahwa <italic id="_italic-292">brand image </italic>memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-293">repurchase intention</italic>.</p>
      <p id="paragraph-fc77a2f4b051414071c5d191e9b3d48d">3. Hipotesis Ketiga : Kualitas Produk berpengaruh terhadap <italic id="_italic-294">Repurchase Intention</italic></p>
      <p id="_paragraph-109">Hasil analisis data membuktikan bahwa kualitas produk berpengaruh secara parsial terhadap <italic id="_italic-295">repurchase intention</italic>. Kualitas produk berpengaruh terhadap <italic id="_italic-296">repurchase intention </italic>pada produk Zara, karena produk Zara dapat diandalkan dan memiliki tampilan serta fungsi yang sesuai dengan keinginan konsumen, kualitas yang baik tersebut membuat konsumen tidak merasa keberatan dengan harga yang dimiliki oleh Zara karena mereka percaya bahwa harga yang dimiliki sebanding dengan kualitas produk yang dihasilkan.</p>
      <p id="_paragraph-110">Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh [19]berpendapat bahwa kualitas produk memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kepuasan konsumen karena kualitas produk dapat dilihat melalui bagaimana kemampuan merek tersebut dalam menciptakan kepuasan konsumen. Konsumen yang puas dengan produk tersebut akan kembali mengonsumsi, menggunakan dan merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain.</p>
      <p id="_paragraph-111">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [20]dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-297">repurchase intention</italic>. Begitu juga penelitian terdahulu yang dilakukan oleh [21] yang membuktikan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-298">repurchase intention</italic>.</p>
      <p id="paragraph-3e30e0f7212f1bd7fb3a253acfd82eb8">4. Hipotesis Keempat : <italic id="_italic-299">Brand Awareness</italic>, <italic id="_italic-300">Brand Image </italic>dan Kualitas Produk secara simultan terhadap <italic id="_italic-301">Repurchase Intention</italic></p>
      <p id="_paragraph-112">Dari hasil penelitian membuktikan bahwa <italic id="_italic-302">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-303">brand image</italic>, dan kualitas produk berpengaruh secara simultan terhadap <italic id="_italic-304">repurchase intention</italic>. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dinyatakan bahwa turun atau naiknya <italic id="_italic-305">repurchase intention</italic> dapat dilihat dari sebarapa baik <italic id="_italic-306">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-307">brand image</italic>, dan kualitas produk yang telah dilaksanakan secara keseluruhan oleh produk <italic id="_italic-308">fast fashion</italic> Zara.</p>
      <p id="_paragraph-113">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [22] dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa <italic id="_italic-309">brand awareness</italic> berpengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-310">repurchase intention</italic>. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh [23] juga membuktikan bahwa <italic id="_italic-311">brand awareness</italic> berpengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-312">repurchase intention</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-114">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [24] dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa <italic id="_italic-313">brand image</italic> berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-314">repurchase intention</italic>. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh [25]membuktikan bahwa <italic id="_italic-315">brand image </italic>memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-316">repurchase intention</italic>. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh [26]membuktikan bahwa <italic id="_italic-317">brand image</italic> memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-318">repurchase intention</italic>. Dan yang terakhir penelitian yang dilakukan oleh [27] juga memiliki hasil analisis yang sama bahwa <italic id="_italic-319">brand image </italic>memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-320">repurchase intention</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-115">Teori ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh [28] dalam penelitian tersebut ditarik kesimpulan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-321">repurchase intention</italic>. Begitu juga penelitian terdahulu yang dilakukan oleh [29] yang membuktikan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap <italic id="_italic-322">repurchase intention</italic>.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-e5317aa754a76620ce41550fb10dd16e">
      <title>Kesimpulan<bold id="_bold-96"/></title>
      <p id="_paragraph-117">Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan serta perhitungan analisis terhadap data yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa <italic id="_italic-323">brand awareness</italic> berpengaruh terhadap <italic id="_italic-324">repurchase intention</italic>, <italic id="_italic-325">brand image </italic>berpengaruh terhadap <italic id="_italic-326">repurchase intention</italic>, kualitas produk berpengaruh terhadap <italic id="_italic-327">repurchase intention</italic> serta <italic id="_italic-328">brand awareness</italic>, <italic id="_italic-329">brand image</italic>, dan kualitas produk berpengaruh secara simultan terhadap <italic id="_italic-330">repurchase intention</italic>.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>