<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Determinants of Profit in Local Creative Bag UMKM Production</article-title>
        <subtitle>Penentu Keuntungan dalam Produksi UMKM Tas Kreatif Lokal</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Murtafi’a</surname>
            <given-names>Lutfi Ainun</given-names>
          </name>
          <email>imeldadian@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rahmawati </surname>
            <given-names>Imelda Dian</given-names>
          </name>
          <email>imeldadian@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-12-25">
          <day>25</day>
          <month>12</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>02</month><year>2025</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-3c3b8d154f40bf01d926f0e3fb195a9e">
      <title>
        <bold id="bold-3bbc2740c96662f3ea2ab53c65f9e921">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-11">Usaha Mikro atau yang sering disebut dengan UMKM adalah salah satu usaha yang menunjang perekonomian di Indonesia. UMKM bisa dijelaskan sebagai usaha yang didirikan oleh  perseorangan atau usaha dengan skala yang kecil. UMKM ini biasanya bisa diukur dengan melihat seberapa banyak Aset, Omset, dan Jumlah karyawan yang dimiliki. Dalam proses pelaksanaannya Usaha Mikro ini juga diatur oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 mengenai usaha kecil dan menengah.[1]</p>
      <p id="_paragraph-12">Dengan adanya tren barang impor yang marak terjadi pada saat ini, banyak produsen lokal yang sulit untuk mempertahankan usahanya, masuknya barang impor dengan kuantitas banyak berdampak pada pengusaha lokal terutama produsen yang bergerak di bidang pembuatan produksi barang lokal. Mereka kesulitan dalam melakukan penjualan dikarenakan tingginya angka bersaing dalam penjualan [2]. Dampak dari maraknya barang impor yang masuk ke Indonesia juga berdampak pada produsen UMKM, dimana UMKM yang mayoritas memproduksi barang lokal mempunyai kendala yang besar untuk mempertahankan usaha mereka[3]. Dampak dari banyaknya barang impor yang masuk ke Indonesia juga menjadi salah satu tantangan bagi pengusaha tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, para pelaku usaha harus lebih pintar dalam mengatur strategi agar tas lokal tidak kalah saing dengan barang impor, selain beradaptasi dengan strategi marketing yang baru pengusaha tas lokal ini juga harus mampu untuk menganalisis faktor keuangan yang mempengaruhi laba. Dengan mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan laba maka produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin akan lebih bisa bertahan pada maraknya persaingan dengan barang impor yang masuk ke Indonesia. </p>
      <p id="_paragraph-13">Usaha mikro ini berpengaruh terhadap perputaran ekonomi di Sidoarjo, dimana usaha mikro ini juga menjadi lapangan pekerjaan baru dan mengurangi pengangguran di Kabupaten Sidoarjo. Dimana dijelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh beberapa faktor dan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sidoarjo adalah pertumbuhan UMKM dimana UMKM ini memberikan manfaat yang baik dalam perputaran ekonomi yang ada di Kabupaten Sidoarjo, dengan adanya UMKM ini masyarakat Sidoarjo lebih terbantu dalam segi ekonomi terutama kalangan menengah kebawah, dimana dengan adanya UMKM ini menjadi salah satu solusi membuka  lapangan kerja baru serta mengurangi angka pengangguran di Sidoarjo [4]. Dalam proses pelaksanaan UMKM para pelaku UMKM juga mengalami kendala mengenai bagaimana melaksanakan proses produksi yang efektif terutama dalam mengolah biaya biaya yang dikeluarkan pada saat produksi berlangsung. Selain itu masalah yang lainnya adalah bagaimana pelaku UMKM mendapatkan laba yang maksimal.  Laba adalah salah satu faktor penting untuk keberlangsungan suatu usaha, banyak faktor yang mungkin bisa berpengaruh dalam mendapatkan laba dari sebuah usaha mikro diantaranya seperti Modal, Omzet penjualan, dan biaya produksi. </p>
      <p id="_paragraph-14">Grand Theory  yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori Teori Laba Efisiensi Manajerial ( Manajerial Efficiency Theory of Profit) Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal dan Teori ini menekankan peran manajemen dalam meningkatkan efisiensi operasi dan menghasilkan laba. Manajer yang efektif dapat mengurangi biaya, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan kualitas produk atau layanan, sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi. [5]. Oleh karena itu, semua perusahaan harus melakukan kegiatan manajemn produk secara bijaksana dan agar target penjualan tercapai [7]. Grand Theory ini sesuai dengan judul yang diambil dimana pada judul yang diambil pada penelitian ini berfokus tentang perolehan laba pada usaha mikro atau UMKM, usaha mikro sendiri menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat, dimana pendapatan tersebut diperoleh dari laba penjualan yang dilakukan. Usaha yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal yang diperoleh masyarakat melalui keuntungan atau laba yang didapat sebagai pelaku usaha mikro[8]. Adapun faktor yang mungkin mempengaruhi perolehan laba pada usaha mikro diantaranya Modal, Omzet Penjualan dan Biaya produksi.</p>
      <p id="_paragraph-15">Modal kerja merupakan dana yang dimiliki di suatu perusahaan atau sebuah usaha dengan jangka waktu yang tidak tertentu lamanya [9]. Selain itu modal juga bisa didapatkan dengan perhitungan selisih aktiva dan utang yang ada. Omzet Penjualan merupakan total barang dan uang yang dihasilkan pada saat melaksanakan penjualan [10]. Dimana omzet penjualan ini dihitung setiap periode dengan melihat total penjualan pada periode tersebut. Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat suatu produk dimana biaya produksi ini meliputi biaya bahan baku, biaya operasional, biaya tenaga kerja dan biaya lain yang masuk diproduksi untuk menciptakan suatu produk [11].</p>
      <p id="_paragraph-16">yang akan dijual. Sedangkan Laba bisa didefinisikan sebagai selisih dari pendapatan yang dikurangi dari biaya biaya operasional yang dikeluarkan untuk melakukan proses produksi untuk menghasilkan barang[12]. Laba sendiri juga merupakan perihal yang harus dicatat untuk menjadi dasar untuk melakukan pengambilan keputusan untuk periode selanjutnya. Banyak faktor yang mempengaruhi perolehan laba, dimana faktor faktor tersebut tentunya berkaitan erat dalam perolehan laba, Adapun faktor faktor yang berkemungkinan mempengaruhi laba adalah modal, omset penjualan serta biaya produksi[13].</p>
      <p id="_paragraph-17">Usaha Mikro juga menjadi salah usaha yang menunjang perekonomian di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, di Kecamatan tersebut banyak usaha mikro yang bergerak di bidang produksi tas lokal. Dimana pada saat pelaksanaannya usaha mikro produksi tas lokal di daerah tersebut mengalami kesulitan dalam mendapatkan laba yang maksimal dalam proses produksinya [14]. Selain itu dalam pelaksanaan produksi tas lokal banyak biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi seperti pembelian bahan baku, gaji karyawan dan listrik yang digunakan untuk produksi [15]. Selain itu modal juga menjadi salah satu permasalahan yang umum terjadi pada saat proses yang dilakukan, dimana biasanya modal tidak cukup dikarenakan omset yang didapatkan tidak bisa menutupi biaya produksi [16]. </p>
      <p id="_paragraph-18">Modal merupakan salah satu faktor penting dalam berjalannya sebuah usaha, modal berperan penting dalam keberlangsungan usaha. Modal adalah salah satu faktor penunjang dalam penentuan sebuah laba, dimana pada penelitian sebelumnya memperoleh hasil bahwa Modal berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap laba UMKM di kota Palopo [17]. Namun berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan modal berpengaruh terhadap laba pada studi penelitian yang dilakukan di coffeshop Tulungaggung [18].</p>
      <p id="_paragraph-19">Omzet Penjualan merupakan salah satu komponen penting dalam pelaku usaha, omzet penjualan juga mempengaruhi banyak faktor dalam keberlangsungan usaha. Omzet Penjualan adalah salah satu aspek yang menentukan besar kecilnya suatu laba [19]. Dimana setiap perusahaan mempunyai sasaran dan tujuan yang berbeda untuk mendapatkan suatu laba. Omzet penjualan juga sangat penting untuk menjadi penunjang dalam keberlangsungan perusahaan, ketika perusahaan memiliki omzet penjualan yang besar maka angka keberlangsungan sebuah usaha akan besar pula. Dari penelitian terdahulu yang dilaksanakan memperoleh hasil bahwa Omzet Penjualan berpengaruh terhadap laba UMKM Saesnack Wangkung [19]. </p>
      <p id="_paragraph-20">Biaya Produksi merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi laba dari suatu usaha dimana biaya produksi ini mencakup biaya yang dikeluarkan oleh suatu usaha untuk menciptakan suatu produk. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa biaya produksi adalah biaya yang terlibat dalam proses produksi suatu usaha, dimana biaya ini mencakup biaya langsung atau tidak langsung [20]. Biaya produksi erat kaitannya dengan output stok yang laris di penjualan, Biaya Produksi terdiri atas tiga komponen yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik [21]. Dalam penelitian yang telah dilakukan memperoleh hasil bahwa biaya produksi berpengaruh negatif signifikan terhadap laba dimana dapat disimpulkan bahwa biaya produksi menjadi faktor faktor yang mempengaruhi naik turunnya laba [20]. </p>
      <p id="_paragraph-21">Berdasarkan dengan penelitian sebelumnya, peneliti melakukan penelitian terhadap UMKM produksi tas lokal yang ada di Porong dan Tanggulangin untuk menganalisa faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba pada usaha mikro atau UMKM produksi tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Faktor faktor tersebut diantaranya adalah modal, biaya produksi dan Omset penjualan dimana faktor tersebut menjadi faktor yang paling umum yang mempengaruhi perolehan laba suatu usaha.</p>
      <p id="_paragraph-22">Tujuan dari melaksanakan penelitian ini adalah untuk menganalisa secara umum mengenai faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM Produksi Tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Dimana peneliti melakukan penelitian ini didasarkan oleh fenomena yang terjadi serta melihat dari penelitian terdahulu yang mengkaji tentang faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM, dengan adanya fenomena yang terjadi di UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin membuat penelitian ini dilakukan untuk menganalisa apa saja faktor faktor yang mempengaruhi laba seperti faktor  modal, omzet penjualan serta biaya produksi apakah mempengaruhi perolehan laba di UMKM tersebut. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat apakah faktor faktor diatas bisa mempengaruhi perolehan laba dan hasilnya akan dijadikan sebuah kesimpulan untuk menunjang pelaksanaan UMKM yang diteliti, agar para pelaku UMKM mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap perolehan laba di sektor produksi tas lokal Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Dengan adanya fenomena serta permasalahan diatas peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji mengenai faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM produksi tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.</p>
      <p id="_paragraph-23">Berdasarkan dengan tujuan penelitian ini dilaksanakan diharapkan penelitian ini memberikan manfaat bagi UMKM Produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, Manfaat dari penelitian ini berupa sumbangan pemikiran bagi para pelaku usaha produksi tas mengenai faktor faktor yang mempengaruhi perolehan laba seperti faktor modal, biaya produksi serta omzet penjualan, serta manfaat dari penelitian ini juga menjadi wawasan baru bagi penulis untuk menggambarkan secara umum serta meneliti secara umum tentang faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. </p>
      <p id="_paragraph-24">Kajian Literatur </p>
      <p id="_paragraph-25">Modal Usaha terhadap Perolehan Laba UMKM </p>
      <p id="_paragraph-26">Modal juga bisa didefinisikan sebagai sejumlah dana yang dimiliki oleh pelaku usaha untuk melakukan operasional [8]. selain itu modal juga berpengaruh dalam mempertahankan usaha termasuk juga UMKM dimana UMKM juga menjadikan modal untuk terus menjalankan usahanya. Tidak sedikit UMKM yang awalnya berjalan lancar menjadi berkendala karena kurangnya modal untuk melakukan produksi selanjutnya. Modal juga sangat penting untuk kelanjutan sebuah usaha dimana modal menjadi peran penting bagi pelaku usaha untuk terus melakukan kegiatan operasional sekaligus memperluas usaha yang sedang dijalankan. [23]. Dalam pelaksanaan sebuah usaha UMKM teori yang mendukung adalah teori Teori Laba Efisiensi Manajerial ( Manajerial Efficiency Theory of Profit) Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal dan Teori ini menekankan peran manajemen dalam meningkatkan efisiensi operasi dan menghasilkan laba dengan hal ini sama dengan pelaksanaan usaha UMKM dimana usaha ini dilaksanakan dengan memanfaatkan modal sebaik mungkin untuk meningkatkan laba.</p>
      <p id="_paragraph-27">Omset Penjualan terhadap Perolehan Laba UMKM</p>
      <p id="_paragraph-28">Omset Penjualan adalah jumlah dari seluruh penjualan produk yang dilakukan disuatu periode tertentu dalam pencatatan akuntansi [19]. Omset penjualan biasanya dikenal sebagai seluruh penghasilan yang didapatkan ketika usaha melaksanakan penjualan dibarang ataupun jasa. Omset penjualan ini penting untuk menjaga usaha terus berjalan serta omset penjualan ini juga pengukur awal dari berjalan atau tidaknya suatu usaha yang dilakukan. Selain itu omset penjualan juga bisa disebut juga sebagai penghasilan keseluruhan dari suatu usaha secara berkelanjutan.[18]. Dalam pelaksanaan usaha mikro omzet penjualan sangat penting dikarenakan menjadi salah satu faktor penentu apakah sebuah usaha mikro ini berjalan lancar atau tidak, teori yang berkesinambungan dengan hal ini adalah teori Teori Laba Efisiensi Manajerial (Manajerial Efficiency Theory of Profit) Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal hal ini berkesinambungan dengan pelaku usaha UMKM dimana para pelaku usaha harus mengelola operasional manajemen sebaik mungkin untuk mendapatkan omzet penjualan yang lebih banyak dan meningkatkan laba usaha.</p>
      <p id="_paragraph-29">Biaya Produksi terhadap Perolehan Laba UMKM</p>
      <p id="_paragraph-30">Biaya Produksi bisa didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan operasional sebuah usaha dimana biaya ini meliputi biaya langsung ataupun tidak langsung. Biaya produksi ini dibagi menjadi tiga komponen biaya yaitu biaya bahan baku atau bahan mentah, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Dimana biaya produksi ini bisa dihitung dengan menjumlahkan 3 komponen biaya yang telah disebutkan diatas [20]. Dengan kata lain biaya produksi juga menjadi biaya biaya yang digunakan dalam proses produksi untuk membuat suatu barang ataupun jasa [24]. Dalam pelaksanaan sebuah usaha UMKM teori yang mendukung adalah teori Teori Laba Efisiensi Manajerial ( Manajerial Efficiency Theory of Profit) Teori ini menekankan bahwa perusahaan yang dikelola secara efisien akan memperoleh laba di atas rata-rata laba normal dan Teori ini menekankan peran manajemen dalam meningkatkan efisiensi operasi dan menghasilkan laba dimana teori ini sesuai dengan pelaku usaha UMKM yang terus melakukan efisiensi terhadap biaya produksi agar laba yang diperoleh akan semakin tinggi</p>
    </sec>
    <sec id="heading-91ce17869da950eeba5614c4b124a499">
      <title>
        <bold id="bold-ff64405119f47bac0dcd5ad85050f5a3">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-32">Jenis penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif. Tujuan dari melaksanakan penelitian ini adalah untuk menganalisa secara umum mengenai faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM Produksi Tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Pada penelitian ini data yang akan diambil sebagai bahan penelitian berupa angka angka dimana metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif.</p>
      <p id="_paragraph-33">Lokasi Penelitian </p>
      <p id="_paragraph-34">Lokasi penelitian dilakukan di Porong dan Tanggulangin</p>
      <p id="_paragraph-35">Populasi dan Sampel </p>
      <p id="_paragraph-36">a.Populasi </p>
      <p id="_paragraph-37">Populasi dari penelitian yang dilakukan kali ini adalah pelaku UMKM yang bergerak di produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Jumlah Populasi yang digunakan pada penelitian kali ini sebanyak 91 pelaku UMKM produksi tas lokal yang berada di Kecamatan Porong dan Tanggulangin.</p>
      <p id="_paragraph-38">b.Sampel</p>
      <p id="_paragraph-39">Tahnik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik probability sampling. Dengan adanya teori tersebut peneliti mempertimbangkan pengambilan sampel dengan mengambil pelaku UMKM produksi tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Dari teknik sampling yang digunakan diperoleh 48 sampel yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian, dimana 48 sampling tersebut adalah pelaku UMKM Produksi Tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin dan dalam penentuan samplenya menggunakan rumus slovin sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-40">Rumus Slovin :</p>
      <fig id="figure-panel-87d2dd7cc8dceeb65ac93531174f4133">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-4a5fde560fd6ccf741022b79596a08a4"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-af2497f2cba521d25fd86670469af9aa" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-01.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-43">Keterangan :</p>
      <p id="_paragraph-44">𝑛 = ukuran sampeI</p>
      <p id="_paragraph-45">N = popuIasi</p>
      <p id="_paragraph-46">d= taraf nyata atau batasan kesaIahan</p>
      <p id="_paragraph-47">Dalam mengambil jumlah sampel yang akan dipilih, penulis menggunakan batasan kesalahan sebesar 10%,  karena daIam penelitian  tidak akan mungkin jika hainya sempurna 100%, makin tinggi batasan kesalahan maka akan sedikit ukuran sampel. Jumlah populasi sebagai dasar perhitungan adalah 91 pengusaha, dengan perhitungan sebagai berikut : </p>
      <p id="_paragraph-48"/>
      <fig id="figure-panel-542c64485edda31a545387956839db7c">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-3b474bda2d778f91e774ed025b765a4f"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-3be36298384a5e73510223c697478105" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-02.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-50"> = 47,64 atau 48 orang responden </p>
      <p id="_paragraph-51">c.Tehnik Analisis Data </p>
      <p id="_paragraph-52">Tehnik ini dapat digunakan untuk mengubah data yang sudah diperoleh menjadi sebuah informasi baru dan membuat karakteristik data lebih mudah dipahami serta dapat bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah dalam penelitian yang akan dilakukan. Peneliti  menggunakan tehnik analisis  kuantitatif deskriptif.</p>
      <p id="_paragraph-53">d.Uji Frequensi Responden </p>
      <p id="_paragraph-54">Uji frekuensi responden adalah teknik analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menghitung seberapa sering suatu jawaban atau kategori muncul dalam data . Uji ini berguna untuk mengetahui distribusi atau pola jawaban responden terhadap pertanyaan tertentu, terutama pada data kategorial seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, atau pendapat. Hasilnya biasanya ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase, serta bisa divisualisasikan melalui grafik seperti diagram batang. Uji ini membantu peneliti memahami karakteristik responden, melihat untuk menarik kesimpulan umum (inferensi), dimana uji frekuensi ini sangat penting sebagai langkah awal sebelum analisis lanjutan. </p>
      <p id="_paragraph-55">e.Analisis Deskriptif </p>
      <p id="_paragraph-56">Analisis deskriptif bertujuan untuk menggambarkan karakteristik data yang dikumpulkan dimana Analisis ini menyajikan informasi mengenai variabel penelitian melalui ukuran-ukuran statistik seperti mean (rata-rata), median, modus, standar deviasi, frekuensi, dan persentase yang tujuanna bukan untuk menguji hipotesis, melainkan untuk memberikan gambaran umum tentang data, distribusi responden, dan pola-pola dasar yang muncul</p>
    </sec>
    <sec id="heading-a5a15e9cc4ee374b02724178c8c0722a">
      <title>
        <bold id="bold-e98ee94c195a4c37e3121f72232a6cbc">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-58">
        <bold id="bold-a93e7f05a4df103b5de36c2228e106d1">a.Uji Frequensi Responden </bold>
      </p>
      <fig id="figure-panel-c24930f1937ca0765386eedb9a9c2e97">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <title>Gambar 1.  Diagram Umur Pelaku Usaha</title>
          <p id="paragraph-9025db7e96992bff8ce8a9f3f9d1f5c7"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-ecc37c26099a2573c9172febed73c72b" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-03.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-60">Dari diagram yang disajikan diatas dengan menggunakan 4 skala umur yang berbeda, bisa dianalisa dan dijabarkan bahwasanya diagram menunjukkan bahwa nilai umur yang paling tinggi pada angka 36-45 tahun dan dapat disimpulkan bahwasanya umur pelaku UMKM produksi tas Lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin rata rata berumur 36-45 tahun dan dilihat dari diagram yang telah diperoleh umur pelaku usaha produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin paling sedikit berumur kisaran 26-35 tahun, sedangkan di kisaran umur 17-25 tahun dan lebih dari 55 tahun tidak ada pelaku usaha UMKM.</p>
      <fig id="figure-panel-589b104d54ef66a9b9bc931e158c7fcf">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <title>Gambar 2.  Diagram Pendidikan Terakhir Pelaku Usaha </title>
          <p id="paragraph-77c3fef3c7fb95395f25694251a689ac"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-2a76e89c875a900caa2377f90c6dfca1" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-04.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-62">Dari diagram yang disajikan diatas bisa dianalisa bahwa data mengenai pendidikan terakhir dari para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin diperoleh bahwa pendidikan yang paling banyak ditempuh oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin adalah pendidikan SMA dimana memperoleh nilai paling tinggi dengan 30 pelaku UMKM dan tingkat pendidikan yang paling minim ditempuh oleh para pelaku UMKM adalah pendidikan S1 dan Diploma dimana masing masing mendapatkan angka 0.</p>
      <fig id="figure-panel-43af31dcafaa8cfa03553c0588fef8cd">
        <label>Figure 5</label>
        <caption>
          <title>Gambar 3.  Diagram Jenis Kelamin Pelaku Usaha</title>
          <p id="paragraph-b86854cac4582bac8bc494bb429ddb40"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-c7777ea58355556a7b58d3394f897f65" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-05.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-64">Dari Diagram yang sudah disajikan bisa dianalisa dan dijabarkan bahwasanya pelaku usaha UMKM Produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, mendapatkan data mayoritas pelaku usaha UMKM produksi tas lokal di Porong dan Tanggulangin berjenis kelamim Laki Laki dengan 43 pelaku usaha dan 5 sisanya berjenis kelamin perempuan. </p>
      <fig id="figure-panel-7599044aecbe94b4260decaaff0c7cbb">
        <label>Figure 6</label>
        <caption>
          <title>Gambar 4.  Diagram Alamat Pelaku Usaha </title>
          <p id="paragraph-709eceeffb820fb03019c20abe1d3a79"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-4ef374af7ad45dbef97cc94c407173f9" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-06.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-66">Dari data yang telah diambil dengan menggunakan sample dari pelaku usaha UMKM di Kecamatan Porong dan Tanggulangin lokasi yang paling banyak digunakan sebagai temapt pengambilan data adalah Kecamatan Tanggulangin dengan 25 reponden sedangkan di Kecamatan Porong hanya 23 responden.</p>
      <p id="_paragraph-67">
        <bold id="bold-a888d64762eccb1b20294412ea70792c">b.Analisis Deskriptif</bold>
      </p>
      <fig id="figure-panel-27f90c9e537607b7ad0c31c06ffc1622">
        <label>Figure 7</label>
        <caption>
          <title>Gambar 5.  Diagram Modal Pelaku Usaha </title>
          <p id="paragraph-bad8b50d70a9a2960271795b30a75204"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-b20a247c0024e85490913b16500b538d" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-07.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-69">Dari data yang sudah disebar kepada pelaku usaha UMKM berupa penyebaran angket didapatkan data seperti tabel diatas, tabel batang diatas menunjukkan data yang diperoleh dalam penelitian yang dilakukan dimana hasil yang diperoleh diambil dari jawaban angket yang disebar kepada 48 responden pelaku usaha UMKM tas Lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Dimana data yang diperoleh menunjukkan modal paling tinggi yang dikeluarkan oleh pelaku UMKM ada di nominal Rp. 674.400.000 dimana angka ini didasarkan dari perhitungan periode 1 tahun para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, selain itu dari 48 responden yang sudah mengisi angket didapatkan juga nilai terendah dari 48 responden berada di nominal Rp. 43.200.000 dengan periode yang sama. Dalam hasil yang diperoleh peneliti menemukan para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin rata rata modal yang dipakai untuk membiayai  kelangsungan produksi berada pada nominal Rp. 283.057.916.</p>
      <fig id="figure-panel-7b3fff1afffc42284a3141901bc22949">
        <label>Figure 8</label>
        <caption>
          <title>Gambar 6.  Diagram Omzet Penjualan Pelaku Usaha </title>
          <p id="paragraph-8db4c048e4cda1d69a5618ba843031d5"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-855a26c11d2e41296a1a069c257cedf2" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-08.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-71">Dari data yang telah diambil untuk penelitian kali ini dengan menggunakan 48 responden dihasilkan data yang telah disajikan dalam bentuk tabel diatas. Tabel diatas menyajikan data berupa omzet penjualan dari para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin pada 1 periode dimana hasil yang disajikan diambil dari angket yang telah diisi oleh para responden. Omzet penjualan dari para pelaku usaha ini mempunyai nilai nominal yang berbeda pada setiap para pelaku UMKM di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Dimana dari tabel yang telah disajikan diperoleh hasil nilai nominal omzet tertinggi yang didapatkan oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin berada pada nominal Rp720.360.000,00. Nominal tersebut adalah nominal tertinggi di variabel omzet penjualan dimana nominal tersebut didapat pada periode 1 tahun. Selain dari nilai omzet tertinggi dari 48 responden juga memiliki nilai terendah dari perolehan omzet penjualan dengan nominal Rp. 69.120.000,00. Selain itu dari tebal yang sudah disajikan diperoleh rata rata omzet penjualan dalam satu periode sebesar Rp434.277.916 dalam satu periode.</p>
      <fig id="figure-panel-078f2b27f6d1a714c6c4576b9353ad35">
        <label>Figure 9</label>
        <caption>
          <title>Gambar 7.  Diagram Biaya Produksi Pelaku Usaha</title>
          <p id="paragraph-b51e4b06007d0c0e32a0b6bc386a6661"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-327ecaf1718259cce06733dc59011ab8" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-09.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-73">Dari data yang sudah didapatkan dengan responden pelaku usaha UMKM berupa penyebaran angket adapun hasil yang didapatkan seperti diagram diatas, diagram batang diatas menunjukkan data yang diperoleh dalam penelitian yang dilakukan kepada para pelaku UMKM produksi tas lokal, dimana hasil yang diperoleh diambil dari jawaban angket yang disebar kepada 48 responden pelaku usaha UMKM tas Lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Data yang diperoleh menunjukkan Biaya Produksi paling tinggi yang dikeluarkan oleh pelaku UMKM berada di nominal  Rp. 578.000.000 dimana nominal ini didasarkan dari perhitungan periode 1 tahun para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, selain nominal biaya produksi tertinggi adapun nominal  biaya produksi terendah yang didapatkan dari 48 responden berada pada nominal Rp. 38.490.000 dengan periode yang sama. Dalam hasil yang diperoleh peneliti juga  menemukan para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin mengeluarkan rata rata biaya produksi sebesar Rp. 259.842.916 .</p>
      <p id="_paragraph-74">Biaya produksi ini sangat berperan penting terhadap keberlangsungan suatu usaha, selain itu biaya produksi ini juga berkaitan erat dengan laba sebuah usaha UMKM. Biaya produksi ini dihitung dari biaya biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin untuk membiayai produksi yang sedang dijalankan. Biaya Produksi ini meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya Overheat yang dikeluarkan oleh para pelaku usaha UMKM dalam menjalankan produksinya. Biaya produksi ini juga erat kaitannya terhadap pengeluaran yang nantinya berpengaruh terhadap laba yang akan didapatkan oleh para pelaku UMKM. Dari diagram yang sudah disajikan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa pelaku usaha UMKM memiliki biaya produksi yang berbeda tergantung sebanyak apa penjualan yang bisa  diperoleh di setiap periodenya. Nominal yang diperoleh dari masing masing para pelaku usaha UMKM tidak sama. </p>
      <fig id="figure-panel-edf0b8798c67c483444fa7904cef814b">
        <label>Figure 10</label>
        <caption>
          <title>Gambar 8.   Diagram Laba Pelaku Usaha </title>
          <p id="paragraph-04952b4806a0318a5e84aeee2c52fd03"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-7c9541fd5c4027e4021f4f40448846c1" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="11410-10.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-76">Dari data yang telah diambil untuk penelitian kali ini dengan menggunakan 48 responden dihasilkan data yang telah disajikan dalam bentuk diagram diatas. diagram diatas menyajikan data berupa Laba dari para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin pada 1 periode dimana hasil yang disajikan diambil dari angket yang telah diisi oleh para responden. Laba yang dihasilkan oleh para pelaku UMKM ini adalah hasil dari pengurangan antara omset penjualan dan biaya produksi. Dimana dari data yang diperoleh dan disajikan menjadi diagram bisa ditarik analisa bahwasanya laba yang diperoleh masing masing pelaku usaha UMKM berbeda antara satu pelaku UMKM dan pelaku UMKM lainnya. Dilihat dari diagram yang sudah di sajikan nominal  tertinggi dari  laba suatu UMKM berada pada nominal  Rp 350.760.000 pada periode 1 tahun. Selain nilai tertinggi laba yang dihasilkan oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin adapun laba terendah yang dihasilkan oleh para pelaku UMKM di Kecamatan Porong dan Tanggulangin berada pada nominal Rp 22.950.000 , dari data yang sudah diperoleh dan disajikan pada diagram seperti gambar diatas rata rata perolehan laba para pelaku UMKM di Kecamatan Porong dan Tanggulangin berada pada nominal Rp 174.435.000 .</p>
    </sec>
    <sec id="heading-72da1ebd78dc4163c079f81eaa8545a7">
      <title>
        <bold id="bold-0cce22cef4c9b773e6f3aee8cd0120e3">Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-78">
        <bold id="bold-3f32db2b141923d795da034311f111f1">Modal Usaha terhadap Laba UMKM </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-79">Berdasarkan dari data yang diambil dan data yang disajikan dalam bentuk diagram maka bisa dianalisa bahwa semakin tinggi modal akan semakin tinggi pula laba, hal ini bisa dilihat dari diagram yang telah disajikan dimana perolehan laba juga dipengaruhi oleh modal. Saat tabel disajikan rata rata ketika modal naik perolehan laba juga ikut naik. Dari data yang dihasilkan bisa ditarik sebuah analisa bahwasanya modal ini berpengaruh dalam perolehan laba, hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menyatakan bahwa modal berpengaruh terhadap laba UMKM [27]. Bisa disimpulkan juga bahwasanya modal ini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perolehan laba di UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Faktor modal juga menjadi faktor penting dalam pelaksanaan sebuah usaha yang membantu para pelaku usaha UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi </p>
      <p id="_paragraph-80">Selain itu faktor modal juga penting dalam pelaksanaan usaha di sektor manapun begitupun dengan para pelaku usaha UMKM produksi tas lokal yang ada di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, modal menjadi salah satu faktor yang menjadi pengaruh dalam pelaksanaan proses produksi, dimana modal ini berperan penting untuk memulai dan membiayai proses produksi yang sedang berlangsung.  Para pelaku UMKM tentunya sangat mempertimbangkan pembiayaan modal untuk keberlangsungan usaha yang mereka jalankan selama ini, saat modal yang digunakan cukup untuk membiayai usaha maka hal ini juga bisa mempengaruhi laba yang diperoleh setiap periodenya, karena semakin banyak modal yang dikeluarkan maka semakin banyak juga perolehan laba setiap periodenya, dikarenakan saat pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin memiliki modal yang besar mereka dapat memproduksi lebih banyak tas untuk dijual dan mendapatkan laba yang lebih besar karena jumlah produksinya bertambah banyak. </p>
      <p id="_paragraph-81">Para pelaku UMKM yang menjadi responden di penelitian ini mempunyai nominal yang berbeda beda dalam penggunaan modal, hal ini bisa dilihat dari tabel yang telah disajikan sebelumnya bahwa setiap pelaku usaha UMKM memiliki modal yang berbeda dalam menjalankan usaha produksi tas mereka dan karena perbedaan ini yang bisa membuat perolehan laba menjadi berbeda tergantung dengan masing masing pelaku UMKM. Namun dari data yang sudah didapatkan sebelumnya diperoleh bahwa rata rata pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin memiliki  modal rata rata Rp. 283.057.916 dalam satu periode. Pada diagram yang sudah disajikan juga bisa dianalisa bahwasanya semakin tinggi modal yang dikeluarkan oleh pelaku UMKM semakin tinggi juga laba yang didapatkan, hal ini sesuai dengan teori bahwasanya modal berpengaruh terhadap laba usaha umkm. Selain rata rata modal yang dihasilkan dari data yang sudah didapatkan modal paling banyak diperoleh pada nominal Rp. 674.400.000 dimana hasil ini bisa diperoleh karena pelaku usaha melakukan produksi dengan jumlah besar, maka drai itu modal yang dikeluarkan juga besar untuk mencukup kebutuhan produksi yang berlangsung dalam satu periode, pelaku usaha yang memiliki modal yang besar mempunyai frekuensi jumlah produksi yang cenderung lebih banyak daripada pelaku usaha lainnya, selain nominal tertinggi ada juga nominal terendah pada nominal Rp.43.200.000 dimana hal ini dipengaruhi oleh frekuensi produksi yang lebih sedikit daripada pelaku usaha yang lainnya. </p>
      <p id="_paragraph-82">Dari penelitian yang sudah dilalukan menunjukkan bahwa modal menjadi salah satu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap perolehan laba dimana penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa modal menjadi salah satu faktor yang memiliki pengaruh terhadap perolehan laba dalam suatu usaha yang dijalankan [28]. Modal memang menjadi sarana penting dalam pelaksanaan usaha, modal ini merupakan pembiayaan awal yang dilakukan oleh pelaku UMKM untuk melaksanakan proses produksi yang akan dilakukan, modal ini menjadi awal untuk menjadikan suatu usaha apakah akan memperoleh laba yang maksimal atau tidak, dari penelitian yang sudah dilakukan bisa ditarik sebuah hasil analisa bahwa semakin tinggi modal akan semakin tinggi juga perolehan laba yang akan diperoleh oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. </p>
      <p id="_paragraph-83">
        <bold id="bold-7984f2d4d7955e6c23e4a3e830d3e7b4">Omzet Penjualan terhadap Laba UMKM</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-84">Dari penelitian yang sudah dilakukan dan disajikan dalam bentuk diagram bisa ditarik sebuah analisa dimana semakin tinggi omzet penjualan maka akan semakin tinggi pula laba yang akan diperoleh oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal, hal ini dikarenakan semakin banyak omzet penjualan yang dihasilkan bisa diindikasikan angka penjualan makin meningkat dan ketika angka penjualan meningkat perolehan laba pasti juga akan meningkat sejalur dengan tingkat penjualan. Penelitian yang dilakukan kali ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menjabarkan bahwasanya omzet penjualan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap laba usaha  [29].</p>
      <p id="_paragraph-85">Dari diagram yang disajikan bisa dianalisis bahwa omzet penjualan yang diperoleh oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin memiliki nilai yang berbeda beda tergantung pada pelaku UMKM. Omzet penjualan ini juga berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha yang dijalani oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal. Omzet penjualan bisa menjadi tolak ukur bagaimana berjalannya suatu usaha yang dilakukan oleh para pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Omzet yang diperoleh bisa dijadikan acuan para pelaku usaha untuk mengetahui apakah pada periode tersebut penjualan ada di posisi aman atau tidak. Omzet penjualan ini juga bisa dibuat landasan untuk periode berikutnya sebagai acuan data yang bisa dibandingkan untuk periode berikutnya. Omset penjualan yang dihasilkan dari data yang sudah didapatkan modal paling banyak diperoleh pada nominal Rp. 720.360.000 dimana hasil ini bisa diperoleh karena pelaku usaha melakukan produksi dengan jumlah besar dan akhirnya menghasilkan omset penjualan yang tinggi, dengan produksi skala besar omset penjualan yang didapatkan juga menjadi besar dalam satu periode, pelaku usaha yang memiliki omset penjualan yang besar mempunyai frekuensi jumlah produksi yang cenderung lebih banyak daripada pelaku usaha lainnya, selain nominal tertinggi ada juga nominal terendah pada nominal Rp. 69.120.000 dimana hal ini dipengaruhi oleh frekuensi produksi yang lebih sedikit daripada pelaku usaha yang lainnya</p>
      <p id="_paragraph-86">Penelitian yang dilakukan kali ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwasanya omzet penjualan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap laba UMKM, hasil ini didukung juga dengan penelitian pada usaha [30]. bahwasanya omzet penjualan berpengaruh terhadap perolehan laba pada usaha UMKM [31]. Omzet penjualan bisa menjadi tolak ukur sebuah usaha berjalan lancar atau tidak, hal ini dikarenakan ketikan omzet penjualan meningkat bisa diartikan bahwa penjualan barang meningkat dan ketika omzet penjualan mengalami penurunan maka hal ini mengindikasikan bahwa ada yang salah dalam pelaksanaan usaha tersebut, maka dari itu data omzet penjualan merupakan data yang penting untuk para pelaku usaha untuk menentukan bagaimana langkah kedepan untuk usahanya. </p>
      <p id="_paragraph-87">Selain itu Omzet Penjualan menjadi salah satu pondasi dalam sebuah usaha, para pelaku usaha pasti akan selalu berfokus terhadap omzet penjualan untuk mempertahankan usaha mereka, omzet penjualan ini bisa ditingkatkan dengan menambah tingkat penjualan suatu barang, dan ketika omzet penjualan ini meningkat makan besar kemungkinan perolehan laba juga meningkat sejalur dengan omzet penjualan yang dihasilkan.</p>
      <p id="_paragraph-88">
        <bold id="bold-1c0263fd2180e9a6b38739c364498030">Biaya Produksi terhadap Laba UMKM </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-89">Dari  penelitian yang sudah dilakukan didapatkan hasil bahwa biaya produksi menjadi salah satu faktor  berpengaruh terhadap perolehan laba UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, hal ini bisa dilihat diagram yang telah disajikan bahwasanya semakin tinggi biaya produksi maka semakin tinggi pula perolehan laba yang didapat [32] Hal ini bisa terjadi dikarenakan ketika biaya produksi makin tinggi diartikan bahwa produksi barang yang dilakukan oleh pelaku usaha makin besar. Semakin banyak barang yang diproduksi maka akan meningkatkan angka penjualan dan akan mempengaruhi perolehan laba usaha. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya dimana biaya produksi mempengaruhi laba usaha [33].</p>
      <p id="_paragraph-90">Biaya produksi yang dikeluarkan oleh para pelaku usaha UMKM memiliki nominal yang berbeda beda, setiap pelaku UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin mengeluarkan biaya produksi yang berbeda hal ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Seperti bahan baku setiap para pelaku UMKM harganya tidak sama, gaji tenaga kerja setiap pelaku usaha juga tidak sama dan biaya produksi lain yang menyebabkan nilai setiap pelaku usaha memiliki biaya produksi yang berbeda. Biaya produksi paling banyak diperoleh pada nominal Rp. 578.000.000 dimana hasil ini bisa diperoleh karena pelaku usaha melakukan produksi dengan jumlah besar, maka dari itu biaya produksi yang dikeluarkan juga besar untuk mencukupi pengeluaran produksi yang berlangsung dalam satu periode, pelaku usaha yang memiliki biaya produksi yang besar mempunyai frekuensi jumlah produksi yang cenderung lebih banyak daripada pelaku usaha lainnya, selain nominal tertinggi ada juga nominal terendah pada nominal Rp. 38.490.000 dimana hal ini dipengaruhi oleh frekuensi produksi yang lebih sedikit daripada pelaku usaha yang lainnya</p>
      <p id="_paragraph-91">Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwasanya biaya produksi ini juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perolehan laba pada usaha, biaya produksi ini berkaitan erat dengan perolehan laba dikarenakan semakin banyak biaya produksi bisa diartikan bahwasanya barang yang diproduksi makin banyak dan tingkat penjualan tinggi [34] Para pelaku UMKM tentunya juga memikirkan bagaimana agar biaya produksi efisien untuk menghasilkan laba lebih banyak. Salah satu cara untuk menghasilkan laba yang lebih tinggi adalah menekan biaya produksi. </p>
      <p id="_paragraph-92">Biaya produksi selalu erat kaitannya dengan perolehan laba usaha, apapun bentuk usahanya biaya produksi ini akan selalu menjadi tolak ukur bagaimana perolehan laba. Biaya produksi ini menjadi salah satu cara untuk menambah perolehan laba dengan menekan biaya yang dikeluarkan selama produksi atau efisiensi [35]. Data pencatatan biaya produksi ini juga penting untuk pelaku usaha untuk menganalisa bagaimana usahanya selama ini berjalan apakah sudah efisien atau belum. Selain itu biaya naik turunnya biaya produksi juga dipengaruhi banyak faktor diantaranya faktor yang paling umum yang menjadi alasan biaya produksi naik turun adalah faktor harga bahan baku yang tidak stabil</p>
    </sec>
    <sec id="heading-0f77989cbfe469602303653572a1b116">
      <title>
        <bold id="bold-b14eec0dc9f508514a6b63ffedb7f901">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-94">Penelitian yang dilakukan kali ini bertujuan untuk menganalisa secara umum mengenai faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perolehan laba UMKM Produksi Tas di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Subjek yang diambil dalam penelitian kali ini adalah para pelaku UMKM Produksi tas Lokal yang berlokasi di Kecamatan porong dan Tanggulangin. Dengan hasil dan pembahasan diatas dapat ditarik bahwasanya ada beberapa faktor yang mempengaruhi perolehan laba dari UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin, dimana faktor faktor tersebut berupa modal, omset penjualan dan biaya produksi. Dari penelitian yang sudah dilakukan bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor modal, omset penjualan dan biaya produksi menjadi faktor yang mempengaruhi dalam perolehan laba UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin.</p>
      <p id="_paragraph-95">Modal, omset penjualan dan biaya produksi adalah beberapa faktor utama yang mempengaruhi perolehan laba pada UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin dimana setiap pelaku usaha UMKM memiliki nominal yang berbeda beda sehingga mempengaruhi perolehan laba usaha yang sedang dijalankan. Semakin tinggi modal maka akan semakin tinggi juga perolehan laba yang diperoleh begitupun dengan semakin tingginya omset penjualan akan meningkatkan laba usaha UMKM produksi tas lokal di Kecamatan Porong dan Tanggulangin. Biaya produksi juga menjadi faktor yang menentukan perolehan laba dimana para pelaku usaha harus terus melakukan efisiensi terhadap biaya produksi agar perolehan laba bisa lebih tinggi </p>
      <p id="paragraph-d06b1b7d271f199373945674404daa1e">
        <bold id="bold-1d8ee92b4a8ff499da5361ece78fdf41">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-97">Puja dan puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir ini dengan baik. Saya menyampaikan terima kasih yang sangat besar kepada kedua orang tua saya atas doa, dukungan yang tak pernah henti. Ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada dosen pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dengan penuh kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh dosen di program studi, serta kepada teman-teman saya yang telah memberikan bantuan dan semangat selama melaksanakan studi. Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada saya dibalas dengan sebaik baiknya.. </p>
    </sec>
  </body><back/></article>
