<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Corporate Governance Firm Size and Financial Condition Drive Textile Financial Performance</article-title>
        <subtitle>Tata Kelola Korporasi, Ukuran Perusahaan, dan Kondisi Keuangan Mempengaruhi Kinerja Keuangan Industri Tekstil</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Hanun</surname>
            <given-names>Nur Ravita</given-names>
          </name>
          <email>hanun@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Pradina</surname>
            <given-names>Aulia Yunika</given-names>
          </name>
          <email>hanun@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-02-23">
          <day>23</day>
          <month>02</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>20</day><month>02</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan </title>
      <p id="_paragraph-12">Salah satu aspek untuk dapat melihat nilai atau mengukur kualitas dari suatu perusahaan yakni dari kesehatan kinerja finansial perusahaannya, sebab kinerja keuangan suatu perusahaan yang stabil adalah kinerja keuangan yang menunjukkan reputasinya tinggi atas kualitasnya dan sebaliknya apabila kinerja keuangan perusahaan yang buruk menunjukkan peringkat kualitasnya rendah [1]. Kinerja keuangan merupakan indikator krusial bagi keberlangsungan dan pertumbuhan sebuah entitas bisnis perusahaan karena mencerminkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya dalam menghasilkan keuntungan dan nilai bagi pemegang saham. Kinerja keuangan yang baik menjadi landasan bagi pengambilan keputusan strategis baik internal oleh manajemen maupun eksternal oleh investor dan kreditor. Kinerja keuangan itu sendiri juga digunakan oleh perusahaan untuk menganalisis sejauh mana perusahaan telah mengelola keuangan secara baik dan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku [2]. </p>
      <p id="_paragraph-13">Memahami perkembangan saat ini yang sangat pesat, kinerja keuangan menjadi penting bagi perusahaan terutama dalam industri tekstil yang dinamis dan kompetitif. Industri tekstil di Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian nasional baik dalam hal pendapatan ekspor maupun sebagai tempat peluang tenaga kerja. Industri tekstil ini dijuluki sebagai industri yang strategis karena memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia serta dapat mendorong peningkatan investasi dalam luar negeri [3]. Kemampuan perusahaan dalam mengidentifikasi kebutuhan pasar dan komitmen menghasilkan suatu produk berkualitas, sehingga membuat industri tekstil mampu membuat merek-merek ternama di negara lain maupun di negara sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa industri tekstil merupakan perusahaan yang maju dibidangnya. Namun, dengan berkembangnya zaman banyak pengusaha yang menjalankan usaha industri tekstil dan adanya impor dari luar negeri yang menyebabkan ancaman terhadap perusahaan – perusahaan yang sudah ada. Ancaman ini mengharuskan untuk selalu mengevaluasi kinerja untuk menghindari kesulitan keuangan [4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Sebelum pandemi Covid-19 melanda, industri tekstil dihadapkan oleh persaingan global yang semakin ketat dan terlalu banyak impor dari luar negeri. Dilihat dari segi makro, penuruan terjadi pada serapan industri hulu tekstil sepanjang Q1 tahun 2019 menurun 1%, padahal di quarter sebelumnya mampu bertumbuh sebesar 6% [5]. Memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 memberikan dampak yang sangat sigfinikan sehingga kontribusinya menurun menjadi Rp186.627 juta atau sekitar 6,8%. Penurunan tersebut terjadi karena selama pandemi Covid-19 lebih memilih menggunakan uang untuk membeli peralatan kesehatan, mendapatkan perawatan medis, dan menyimpan dana darurat. Akibat peristiwa tersebut menyebabkan penurunan kinerja keuangan yang drastis dan beberapa perusahaan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja dan menghadapi risiko kebangkrutan. Data di tahun 2022 kurang lebih 3,6 juta pekerja mampu terserap dalam industri ini dengan kontribusi mencapai 6,38% dari PDB nonmigas. Dengan demikian, industri tekstil Indonesia kembali mencatat penurunan kinerja sepanjang di tahun 2022 . Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), mengungkapkan bahwa volume ekspor dan produk tekstil Indonesia hanya mencapai 1,5 juta ton atau turun 17% dibandingkan tahun 2021. Memang terjadi penurunan permintaan terhadap produk tekstil, tetapi disisi lain terdapat kenaikan nilai ekspor. Hal ini ditunjukkan dari nilai ekspor tekstil pada tahun 2022 yang hanya turun 6,5 persen menjadi US$ 4,3 miliar [6]. Akan tetapi, di tahun 2023 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) volume ekspor industri tekstil Indonesia mengalami kembali penurunan yang signifikan sebesar 2,43% dibandingkan tahun lalu, angka tahun ini merupakan yang terendah dalam sembilan tahun terakhir. Di sisi lain, meski mengalami berbagai tekanan industri tekstil tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional [7].</p>
      <fig id="figure-panel-e633284be3bbbfcccfdf0206333b8777">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-b7e7c0c16eca540616acc199d59922a4"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-0779df8393cdd7bdc8d85f202ac79ba8" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12318-01.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-16">Penurunan dapat dilihat dari grafik di atas menunjukkan kinerja keuangan PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) untuk semester I tahun 2023 dan semester I tahun 2024. Pada pendapatan penjualan neto, terlihat adanya peningkatan dari 166,91 juta USD pada semester I 2023 menjadi 198,26 juta USD pada semester I 2024. Sementara itu, beban pokok penjualan juga meningkat dari 131,73 juta USD menjadi 150,24 juta USD. Dalam hal laba/rugi kotor, perusahaan mengalami kerugian yang lebih kecil, yaitu -31,35 juta USD pada semester I 2023 berkurang menjadi -18,51 juta USD di semester I 2024. Namun, kerugian operasional mengalami peningkatan, dengan nilai -23,72 juta USD pada semester I 2024. Untuk pendapatan keuangan, perusahaan mencatatkan nilai positif yang sangat kecil, yaitu 0,02 juta USD di semester I 2023 dan 0,01 juta USD di semester I 2024. Beban keuangan menunjukkan kenaikan dari 7,70 juta USD menjadi 1,95 juta USD, dan laba/rugi bersih mengalami peningkatan kerugian, dari -25,73 juta USD pada semester I 2023 menjadi -25,73 juta USD pada semester I 2024. Secara keseluruhan, terdapat fluktuasi dalam kinerja keuangan perusahaan antara dua periode yang tercatat. Sehingga di tahun 2024 perusahaan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak kurang lebih 10.965 buruh dan karyawan setelah diputus pailit oleh Pengadilan Niaga. Hal ini terjadi karena perusahaan Sritex tidak dapat membayar hutang atau terlambat membayar hutang yang berakibat fatal dengan para kreditor. Kasus keuangan PT Sritex ini bermula sejak tahun 2022 lalu yang setelah digugat penundaan kewajiban pembayaran hutang (PKPU) oleh salah satu debiturnya, yakni CV Prima Karya. Gugatan ini memicu proses kepailitan dimana tim kurator mencatat 1.645 kreditur dengan total tagihan sebesar Rp35,7 triliun meskipun hanya Rp29,8 triliun yang diakui sah. Rincian hutang tersebut meliputi 94 kreditur konkuren (Rp28,3 triliun), 349 kreditur preferen (Rp619 miliar), dan 22 kreditur separatis (Rp919 miliar). Beberapa kreditur utama termasuk Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sukoharjo (Rp28.6 miliar), Bea Cukai Surakarta (Rp189,2 miliar), dan PT PLN Jawa Tengah-DIY (Rp43,6 miliar). Akibat gagal memenuhi kewajiban Pengadilan Niaga Semarang menyatakan empat perusahaan dibawah naungan Group Sritex, yakni PT Sri Rejeki Isman, PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya. Keputusan ini muncul setelah PT Indo Bharat Rayon, salah satu pemasok sritex menggugat karena tidak dibayar. Sehingga, jika ditotal hutang Sritex saat ini mencapai sebesar Rp26,02 triliun dan hutang ke Indo Bharat hanya Rp101,31 miliar per Juni 2024 atau 0,38 persen [8]. Kasus ini menjadi bukti konkret kerapuhan kinerja keuangan di sektor tekstil [8].</p>
      <p id="_paragraph-17">Dari berbagai masalah yang terjadi pada industri tekstil menyebabkan ketidakstabilan kinerja keuangan yang berdampak luas bagi perusahaan. Penurunan kinerja dapat mengancam keberlangsungan usaha, mengurangi investasi, dan berdampak pada kesejahteraan karyawan. Kondisi seperti ini tidak boleh terjadi secara terus-menerus melainkan perusahaan harus mampu untuk mempertahankan kinerja keuangannya dan berupaya memastikan perusahaan terus tumbuh dengan stabil, karena industri tekstil merupakan salah satu industri manufaktur dan prioritas nasional yang masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan [9]. Kinerja keuangan yang sehat adalah kinerja keuangan yang memberikan seberapa baik suatu perusahaan dalam memanfaatkan semua jenis aset untuk menghasilkan keuntungan dan tingkat keberhasilan dalam menjalakan operasionalnya [10].</p>
      <p id="_paragraph-18">Terjadinya kinerja keuangan yang tidak stabil dan terealisasi dengan baik di suatu perusahaan, hal ini dapat terjadi karena kurangnya memperhatikan dalam mengaplikasikan standar <italic id="_italic-36">Good Corporate Governance</italic> (GCG). Penerapan <italic id="_italic-37">Good Corporate Governance</italic> (GCG) merupakan hal penting dalam kinerja perusahaan karena sebagai kunci keberhasilan bagi perusahan untuk dapat mencapai laba jangka panjang dan bertahan dalam persaingan global [11]. Tata Kelola perusahaan (<italic id="_italic-38">G</italic><italic id="_italic-39">ood Corporate Governance</italic>) merupakan suatu sistem dan struktur yang baik untuk meningkatkan nilai pemegang saham serta mengelola suatu perusahaan dengan tetap memperhatikan berbagai pemangku kepentingan dalam perusahaan (stakeholder) [12]. Tata kelola perusahaan harus diterapkan untuk memastikan bahwa perusahaan dijalankan selaras dengan kepentingan para pemegang saham. Menyelaraskan hak dapat mengurangi konflik antara prinsipal dan agen, mengurangi biaya keagenan, dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan [13]. Pada dasarnya penerapan <italic id="_italic-40">Good Corporate Governance</italic> (GCG) bertujuan untuk mencipatakan tata kelola perusahaan yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan adil bagi semua pihak yang berkepentingan, termasuk pemegang saham, staf, pelanggan, dan publik secara luas. Tidak sekadar memenuhi kewajiban peraturan dan kepatuhan hukum yang berlaku, <italic id="_italic-41">Good Corporate Governance</italic> (GCG) memuat prinsip moral dan norma etika yang ketat dalam setiap tindakan pengambilan keputusan dan aktivitas bisnis. Untuk mencapai kinerja keuangan yang efektif dan efisien bagi perusahaan melalui <italic id="_italic-42">Good Corporate Governance</italic> (GCG) dibutuhkan dewan komisaris independen dalam mengelola operasional perusahaan yang baik. Dewan komisaris independen adalah agen pengawas perusahaan yang bertindak sebagai badan audit yang mirip dengan komisaris, tetapi tidak memiliki hubungan khusus dengan pemilik saham perusahaan. Melainkan mempunyai kewenangan sebagai pengawas dan memberikan perlindungan bagi pemegang saham dengan kepemilikan minoritas dan memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan [14]. Komisaris independen berwenang melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan untuk memastikan kesesuaian perusahaan dalam mematuhi ketentuan yang berlaku, serta dapat meminimalisir potensi terjadinya penipuan maupun bermacam kesalahan penyimpangan keuangan lainnya yang berpotensi buruk terhadap kinerja. Berbagai penelitian terdahulu tentang dewan komisaris independen terhadap kinerja keuangan perusahaan menunjukkan temuan yang beragam, seperti hasil penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa dewan komisaris independen berdampak positif dan signifikan [15]. Sementara hasil penelitian sebelumnya membuktikan bahwa dewan komisaris independen tidak adanya korelasi yang signifikan terhadap kinerja keuangan [16].</p>
      <p id="_paragraph-19">Selain <italic id="_italic-43">Good Corporate Governance</italic> (GCG), ukuran perusahaan juga indikator penting yang berpengaruh dalam kinerja keuangan perusahaan. Apabila perusahaan memiliki ukuran relatif besar maka akan lebih mudah dalam mendapatkan modal di pasar saham karena dianggap kinerja perusahaannya yang stabil, sedangkan ukuran perusahaannya yang relatif kecil maka akan lebih sulit dalam menanamkan modal saham [17]. Untuk kegiatan bisnisnya, ukuran kinerja keuangan perusahaan ditentukan oleh total aset yang tersedia di perusahaan. Dengan memiliki sumber modal akan memungkinkan perusahaan dapat untuk memperluas operasinya dan seiring pertumbuhan perusahaan kinerja keuangannya juga akan meningkat [18]. Hal ini mengarah pada teori agensi, karena semakin bertambahnya ukuran perusahaan, maka semakin terik kebutuhan dan tantangan menjadi lebih kompleks yang menyebabkan sulit untuk memantau dan mengelola perusahaan besar. Sehingga bagi perusahaan besar dengan sumber daya keuangan yang signifikan, pengurangan biaya keagenan dapat memfasilitasi pengelolaan informasi potensial dan mengurangi biaya informasi tambahan, serta memperkuat keterbukaan informasi kepercayaan investor dalam meningkatkan kinerja keuangan suatu perusahaan [19]. Semakin efisien suatu perusahaan mengelola aset dalam operasi bisnisnya dalam menghasilkan laba, maka semakin besar juga potensi laba yang dimilikinya. Berdasarkan hasil temuan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan [20]. Sementara penelitian sebelumnya hasil yang didapatkan berbeda, bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara negatif dan tidak adanya korelasi yang signifikan terhadap kinerja keuangan [21].</p>
      <p id="_paragraph-20">Selain faktor-faktor tersebut yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan adalah <italic id="_italic-44">financial distress</italic>. <italic id="_italic-45">Financial distress</italic> merupakan salah satu prediksi yang sangat penting bagi organisasi di perusahaan untuk mengidentifikasi adanya masalah kegagalan dalam kesulitan keuangan yang berdampak pada likuiditasnya [22]. Kondisi kesulitan keuangan dapat terjadi karena adanya suatu perusahaan yang tidak mampu membayar hutangnya atau kewajiban lancarnya sehingga menyebabkan penurunan kinerja perusahaan dan bangkrut. Kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan saja karena sudah termasuk dalam masalah kritis bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingannya, termasuk karyawan, pemegang saham, dan kreditur. Kondisi ini tidak hanya mengancam stabilitas pekerjaan dan hak-hak finansial para pihak terkait, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan itu sendiri. Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks, prediksi, dan mitigasi risiko kesulitan keuangan menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan perusahaan. Dalam konteks ini, tingkat rasio keuangan berperan sebagai indikator peringatan dini untuk memprediksi kesulitan keuangan, sehingga kondisi keuangan dapat dipantau sebelum mencapai tahap krisis. Salah satu model yang digunakan untuk memprediksi atau kesulitan keuangan pada perusahaan tekstil ini adalah menggunakan model Altman <italic id="_italic-46">Z-score</italic>. Model Altman menggunakan perhitungan <italic id="_italic-47">Z-score</italic> melauli perkalian standar dari berbagai rasio keuangan yang berfungsi sebagai indikator memprediksi kebangkrutan suatu entitas [23]. Hal ini mengarah pada teori sinyal yang berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan, terutama apabila perusahaan saat mengalami kondisi <italic id="_italic-48">financial distress</italic>. Kondisi ini membuat perusahaan kesulitan mempertahankan atau meningkatkan kinerjanya jika perusahaan memiliki hutang besar dan harus melunasinya saat jatuh tempo. Hal itu dapat menjadi sinyal negatif bagi pemegang saham dan investor mengenai prospek bisnisnya. Dengan demikian, teori sinyal dapat menjadi alat penting dalam menilai kesehatan keuangan suatu perusahaan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa <italic id="_italic-49">financial distress</italic> dengan menggunakan model Altman <italic id="_italic-50">Z-score</italic> menyatakan berdampak positif terhadap kinerja keuangan [24].</p>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini secara khusus menganalisis pada perusahaan sektor tekstil yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan industri tekstil sebagai objek penelitian dilatarbelakangi oleh perkembangan kinerja keuangan yang fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya [25], dengan beberapa modifikasi signifikan berupa penggunaan variabel dependen berbeda yang spesifik pada industri tekstil dan penerapan variabel independen baru yaitu <italic id="_italic-51">financial distress</italic>, karena di penelitian ini masih jarang diaplikasikan dalam konteks penelitian di Indonesia. Berdasarkan uraian latar belakang dan mempertimbangkan hasil penelitian terdahulu yang saling bertentangan, maka penulis termotivasi untuk melaksakanan penelitian ini. Secara praktis, temuan penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor dalam mengevaluasi kesehatan finansial perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi. Analisis ini dilakukan dengan mempertimbangkan secara komprehensif peranan dewan komisaris independen, ukuran perusahaan, dan <italic id="_italic-52">financial distress</italic> yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari dewan komisaris independen, ukuran perusahaan, dan <italic id="_italic-53">financial distress</italic> terhadap kinerja keuangan perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-22">
        <bold id="_bold-9">Pengembangan Hipotesis</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-23">
        <bold id="_bold-10">Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-24">Dewan komisaris independen didefinisikan sebagai pihak yang tidak berafliasi dengan dewan direksi, anggota lainnya dan pemilik saham, serta bebas dari segala bentuk relasi bisnis yang mungkin mempengaruhi objektivitas dalam melaksankan tugasnya yang bertindak secara independen atau eksklusif untuk kepentingan perusahaan [26]. Dengan adanya dewan komisaris independen maka memastikan bahwa kepentingan pemegang saham mayoritas dan minoritas tidak terabaikan, melainkan dewan komisaris independen lebih ke netral terhadap keputusan manajemen dan memastikan bahwa perusahaan menjalankan tata kelola perusahaan (GCG) yang tepat [27]. Menurut teori keagenan, dewan komisaris independen dapat meminimalkan aspek-aspek yang tidak diinginkan dengan memantau kinerja para agen serta meyakinkan prinsipalnya (pemegang saham) bahwa para agen akan bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab untuk kepentingan perusahaan. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnnya [28][28][29] [30][31] yang membuktikan adanya pengaruh signifikan dewan komisaris independen terhadap kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan bukti empiris tersebut, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut.</p>
      <p id="_paragraph-25">
        <bold id="_bold-11">H1: Dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="_bold-12">Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Ukuran perusahaan dianggap sebagai ukuran keberhasilan suatu perusahaan karena apabila semakin besar nilai ukuran perusahaan maka semakin baik juga kinerja keuangannya [25]. Ukuran perusahaan merupakan jumlah aset yang dimiliki suatu perusahaan yang diklasifikasikan sebagai besar atau kecilnya ukuran yang dapat memanfaatkan sumber daya modal untuk memperluas bisnisnya dan meningkatkan kinerja keuangannya dengan seiring pertumbuhan perusahaan [18]. Ukuran perusahaan memiliki komponen yang berdampak pada hasil keuangan suatu bisnis. Hal ini merujuk pada teori agensi, yakni dimana semakin efisien operasi bisnis dalam mengelola aset maka semakin besar potensi keuntungan yang dapat diraih dan seiring dengan berkembangnya bisnis, persyaratan, dan tantangan menjadi kompleks menyebabkan makin sulit dalam memantau perusahaan besar [19]. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu [32][33][34][35] yang mengungkapkan adanya pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Merujuk pada bukti empiris tersebut, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut.</p>
      <p id="_paragraph-28">
        <bold id="_bold-13">H2: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-29">
        <bold id="_bold-14">Pengaruh </bold>
        <bold id="_bold-15">
          <italic id="_italic-54">Financial distress</italic>
        </bold>
        <bold id="_bold-16">Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-30"><italic id="_italic-55">Financial distress</italic> memiliki keterkaitan dengan teori sinyal yang memaparkan mekanisme penyampaian informasi perusahaan kepada stakeholder melalui laporan keuangan. <italic id="_italic-56">Financial distress</italic> merupakan kondisi dimana suatu entitas menghadapi masalah likuiditas yang serius bahkan mengarah pada potensi kebangkrutan. Tujuan adanya pada perusahaan adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi perusahaan itu sehat atau tidaknya secara finansial, karena tindakan ini penting bagi para advokat dan regulator bursa. Prediksi ini digunakan sebagai perencanaan keuangan dan tindakan korektif dalam menghindari terjadinya kebangkrutan [36]. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya [24][37][38][39] yang menyatakan adanya pengaruh signifikan <italic id="_italic-57">financial distress</italic> terhadap kinerja keuangan perusahaan.</p>
      <p id="_paragraph-31">
        <bold id="_bold-17">H3: </bold>
        <bold id="_bold-18">
          <italic id="_italic-58">Financial distress</italic>
        </bold>
        <bold id="_bold-19">berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-32">
        <bold id="_bold-20">Kerangka Konseptual</bold>
      </p>
      <fig id="fig2">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="_bold-21">Gambar </bold>
            <bold id="_bold-22">2.</bold>
            <bold id="_bold-23">Kerangka</bold>
            <bold id="_bold-24">Konseptual</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-33"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
      </fig>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-35">
        <bold id="_bold-25">Jenis dan Objek Penelitian</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-36">Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus analisis pada perusahaan-perusahaan sektor tekstil yang tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia selama kurun waktu 2019- 2024. Data penelitian ini diperoleh dari sumber resmi BEI yang dapat diunduh melalui website www.idx.co.id.</p>
      <p id="_paragraph-37">
        <bold id="_bold-26">Jenis dan Sumber Data</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-38">Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan tahunan perusahaan- perusahaan tekstil. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan mengambil data laporan keuangan tahunan emiten sektor tekstil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai periode 2016-2024. Seluruh data dapat diakses secara resmi melalui situs web Bursa Efek Indonesia di www.idx.co.id.</p>
      <p id="_paragraph-39">
        <bold id="_bold-27">Populasi dan Sampel</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-40">Penelitian ini berfokus pada seluruh perusahaan tekstil yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2016-2024, dengan jumlah populasi sebanyak 23 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan melalui metode teknik purposive sampling yaitu teknik metode penarikan sampel penelitian dengan cara mempertimbangkan tujuan tertentu untuk mendapatkan suatu sampel dengan sesuai kriteria peneliti yang telah ditentukan</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="_bold-28">Tabel</bold>
            <bold id="_bold-29">1</bold>
            <bold id="_bold-30">. Kriteria Dalam</bold>
            <bold id="_bold-31">Pengambilan</bold>
            <bold id="_bold-32">Sampel</bold>
          </title>
          <p id="_paragraph-42"/>
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-1ca7accdb127e88ecf84b5aa2510f208">
              <td id="ba5063391e3bab042e660655d35d1913">
                <bold id="_bold-33">No</bold>
              </td>
              <td id="49ce2f50c229423b5ee9b46edaa176c9">
                <bold id="_bold-34">Kriteria</bold>
              </td>
              <td id="1b19d658a85efb1112b7d563d0e9f0b3">
                <bold id="_bold-35">Jumlah</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d1fcb6d53a2159b48501058a514167dd">
              <td id="44ddd37477781e38356803dc7432ce2b"/>
              <td id="fb363f2807453427f90341efd2478afc">Industri tekstil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia</td>
              <td id="85ccc3056e22e6cde8fac8eb6e97bca9">23</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-6f608dfafd242fbf0b949072d04f3cf6">
              <td id="9c412ac2d496359be53b351002577b01">1.</td>
              <td id="8e818bf80aa62fed1430446a52e4fda8">Industri tekstil yang terdapat di Indonesia di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2024</td>
              <td id="dd4b9b5af81b120149f042d7da5ed6b3">(6)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c461b8452463dd4e4e61b389a44d5b4c">
              <td id="fc867a64f1fe1da1519ffc8df1140ec1">2.</td>
              <td id="8b622bd60256ab9bd3b11e8f52b25449">Industri tekstil yang menerbitkan laporan tahunan secara berturut-turutselama periode 2016-2024</td>
              <td id="ec77f4bc770c388573cbbcdc008cd276">(5)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ab2f91ed914deba85a04144f52163fed">
              <td id="d49f71634bfb87c818fa34231fd15edb">3.</td>
              <td id="41c4c9069bcb6963421835202466ded5">Industri tekstil yang penyajian laporan keuangan tahunannya dalam bentuk mata uang rupiah</td>
              <td id="eca93f4f165970274ba14aa924f0820e">(8)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-4c2dae4af15657d90f126512f31a5442">
              <td id="44b1e390da1f90ff54167a06572202b8" colspan="2">Jumlah perusahaan yang terpilih sebagai sampel penelitian</td>
              <td id="9b946d262131b0a45a758a3b8736e52a">4</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-af46a229c233ceee81c53890128ebbf9">
              <td id="b0c769a5e32cced188c153dbb4099ec3" colspan="2">Jumlah sampel yang terpilih 4 x 9</td>
              <td id="f86b33b81b640b1a9f4c271d8eabf741">36</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-43"> Sumber: Diolah oleh peneliti, 2025</p>
      <p id="_paragraph-44">Berdasarkan kriteria tersebut, maka sampel industri tekstil yang didapatkan pada penelitian ini adalah diantaranya PT Panasia Indo Resources Tbk, PT Trisula International Tbk, PT Asia Pasific Investama Tbk, PT Trisula Textile Industries Tbk.</p>
      <p id="_paragraph-45">
        <bold id="_bold-36">Identifikasi dan Indikator Variabel</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-46">Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan. Terdapat tiga variabel independen dalam penelitian ini diantaranya ialah dewan komisaris independen, ukuran perusahaan, dan <italic id="_italic-59">financial distress</italic>. Berikut merupakan tabel indikator variabel:</p>
      <fig id="figure-panel-2e35450d18d77a36332a254f5dd6677e">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <title>
            <bold id="_bold-37">Tabel 2. Indikator Variabel</bold>
          </title>
          <p id="paragraph-b538693b318746a6ec1bdcfc9e1ec525"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-2d63978e5d84f2cae7bf111be9e355bc" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12318-02.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-49">Sumber : Ringkasan peneliti, 2025</p>
      <p id="paragraph-5e8d3184fd3a123dfcc1163fae9f3f25">
        <bold id="_bold-41">Metode</bold>
        <bold id="_bold-42">Analisis</bold>
        <bold id="_bold-43">Data</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-50">Setelah data penelitian dikumpulkan, kemudian data tersebut dianalisis menggunakan teknik pengolahan perangkat lunak SPSS versi 23 <italic id="_italic-72">(Statistical Package for Social Science atau</italic><italic id="_italic-73">Statistical</italic><italic id="_italic-74">Product</italic><italic id="_italic-75">and</italic><italic id="_italic-76">Service Solutions) </italic>yang bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas data, mengetahui pola distribusi data, serta sejauh mana hubungan antara variabel-variabel yang akan diteliti. Untuk proses pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data regresi linier berganda karena melibatkan lebih dari satu variabel independen. Tujuan utama penerapan regresi linier berganda adalah untuk mengevaluasi pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat. Secara persamaan matematis regresi liner berganda dinyatakan sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-51"> 𝑌= 𝑎+ 𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2 + 𝛽3𝑋3 + e</p>
      <p id="_paragraph-52">Keterangan:</p>
      <p id="_paragraph-53">Y      : ROA</p>
      <p id="_paragraph-54">X1    : Dewan Komisaris Independen </p>
      <p id="_paragraph-55">X2    : Ukuran Perusahaan</p>
      <p id="_paragraph-56">X3    : <italic id="_italic-77">Financial distress</italic></p>
      <p id="_paragraph-57">A      : Konstanta</p>
      <p id="_paragraph-58">Β      : Koefisien Regresi</p>
      <p id="_paragraph-59">E      : Standard Error</p>
      <p id="paragraph-afa0b9a5a2c7b4621073916915babe4f">
        <bold id="_bold-44">Uji</bold>
        <bold id="_bold-45">Hipotesis</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-60">Pengujian hipotesis ini berguna untuk menilai kemungkinan kebenaran suatu parameter populasi berdasarkan data sampel yang diambil. Proses ini melibatkan pengujian signifikansi parsial (uji t) guna mengukur besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Dalam pengujian ini, hipotesis akan diterima jika nilai signifikansinya kurang dari 0,05 dan menolak hipotesis jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 .</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-a97388f3ede3bb96911930bb774126f4">
        <title>
          <bold id="_bold-46">Hasil</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-62">
          <bold id="_bold-47">Hasil Perhitungan Variabel </bold>
        </p>
        <fig id="figure-panel-bb0da3d80e54555a0f854e9892541446">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-48">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-49">3</bold>
              <bold id="_bold-50">. Hasil Perhitungan Variabel</bold>
            </title>
            <p id="paragraph-93f99644762f3b670a251c940219c669"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-a3d93669c717c75ebe0901a53a044abc" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12318-03.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-65">Tabel yang disajikan menunjukkan data dari empat perusahaan yang terdaftar di bursa, yaitu PT. Panasia Indo Resources Tbk, PT. Asia Pacific Investama Tbk, PT. Trisula International Tbk, dan PT. Trisula Textile Industries Tbk, selama periode 2016 hingga 2024. Dalam hal struktur dewan komisaris, nilai yang bervariasi antara 0,250 hingga 0,500 mencerminkan perbedaan dalam komposisi dewan di masing-masing perusahaan. Ukuran perusahaan, yang diukur dengan nilai X2, menunjukkan fluktuasi, dengan PT. Trisula International Tbk memiliki ukuran tertinggi mencapai 27,862 pada tahun 2024. Kondisi keuangan, yang diwakili oleh nilai <italic id="_italic-79">Financial distress</italic>, menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh beberapa perusahaan, dengan PT. Panasia Indo Resources Tbk mengalami perbaikan dari nilai negatif di tahun-tahun sebelumnya. Kinerja keuangan, yang diukur dengan nilai Y, bervariasi di antara perusahaan, di mana PT. Trisula International Tbk menunjukkan peningkatan signifikan dari 0,073 pada tahun 2016 menjadi 0,313 pada tahun 2024, sementara PT. Asia Pacific Investama Tbk menunjukkan stagnasi dengan nilai yang relatif rendah. Secara keseluruhan, terdapat tren peningkatan dalam kinerja keuangan di beberapa perusahaan, meskipun tidak semua perusahaan menunjukkan hasil yang konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan struktur dewan dapat mempengaruhi kinerja keuangan, namun analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang mendasari hasil tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-66">
          <bold id="_bold-51">Uji Analisis Deskriptif</bold>
        </p>
        <table-wrap id="tbl4">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-52">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-53">4</bold>
              <bold id="_bold-54">. Hasil Uji Analisis Deskriptif</bold>
            </title>
            <p id="_paragraph-68"/>
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-8adf47522e9b998be594ba16f9832063">
                <td id="2109b522be49a91da2f09d3d012c9d7b" colspan="6">
                  <bold id="_bold-55">Descriptive Statistics</bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e71fbdf6c0fd1f66c8ed436c1b92f8b0">
                <td id="bcf3fa1aedf0e3b7282df7a5c01fffc1"/>
                <td id="3e71278af66d68611ae125133f3ac238">N</td>
                <td id="cedcd1c50d54a06f3e415b7ac6098ea2">Minimum</td>
                <td id="8d0ce8b59c15b0adbe94c2b847aa9404">Maximum</td>
                <td id="be213401ecd757a9221e1c3f0b8b125b">Mean</td>
                <td id="365132de4cda27b7020687671140401e">Std. Deviation</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-085d65da4f7be347357a4eeb3db00507">
                <td id="603c4d167d4ac5d25f395e4213a55dae">DKI</td>
                <td id="505cd357cdc30a217c939bfa5f2b5f6f">36</td>
                <td id="bb767bf94decfbc89f3168f83304156b">,25</td>
                <td id="980f332023e3a569471e30320b0bb571">,50</td>
                <td id="f62f51e8f851403aaa02be7d19c75c69">,3724</td>
                <td id="766e3c014e67ef335228aac5d59025d1">,07595</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4a315b537c2809068b1c916dc74904bc">
                <td id="4b2fe01b503983aba331eb7d0df37ceb">Ukuran Perusahaan</td>
                <td id="19fd91958f90f1b9f3c36cbce70a88ef">36</td>
                <td id="26bcb3a8aa6598bde2bdbe69e92a0285">2,39</td>
                <td id="d27c53a19841b668e3121b51e8976774">60,29</td>
                <td id="c0315dc423e2bbd52dc4c23110a0325b">22,3039</td>
                <td id="6f06fb797c0290e093d9299ac3831252">10,92049</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4e791df0a989137f44bc056cfd93cb59">
                <td id="73e8917088925f5ba374aae9ca6d25a5">
                  <italic id="_italic-80">Financial distress</italic>
                </td>
                <td id="5dc41bdc30775ef15275d56663341c5e">36</td>
                <td id="aa216e1d41b1cc8795f0ace429a6d6c4">-17,33</td>
                <td id="c282a7bee7e9b9fbd8ab6e93fb9c856b">3,29</td>
                <td id="68c7bc05d2cf94054fef3b17f364453b">-1,3779</td>
                <td id="fed86f24da5a0b6159e50d22e79596f6">5,46207</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a303705afb657c7f4f8d9b5e0c73c4cc">
                <td id="a8d392749d3e5de32df7529bdbced0a1">Kinerja Keuangan</td>
                <td id="cc496c5c2be9a402cb4ce935ecf42d0c">36</td>
                <td id="477e7c5e02e1f897951ddb9b5231a3bf">-1,63</td>
                <td id="aa539fb640f910f30311eaf3c41814a5">,35</td>
                <td id="8e79868a1794a646cddf8eb396eda6c2">,0494</td>
                <td id="1187f330081670ff8617886dc7a0dd43">,33868</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6c6fd2f49a7b5fff4ab3fceb438bb6d0">
                <td id="ec9b0ff4f4c2186825be3b2ac72aa262">Valid N (listwise)</td>
                <td id="e3864f08f99074ff2b33f291992d8bca">36</td>
                <td id="edc51b748fa0b37150fbe46ee1e1bff4"/>
                <td id="7213db3dfcbf49c3a4a5e1ae64b1d675"/>
                <td id="8b8732c3693fb89b9a8bf155e9ca2556"/>
                <td id="2ef0cb1f845fef59844c8c6e232491fa"/>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-69">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-70">Berdasarkan hasil uji analisis deskriptif yang disajikan pada Tabel 4, terdapat empat variabel yang dianalisis: DKI, Ukuran Perusahaan, <italic id="_italic-81">Financial distress</italic>, dan Kinerja Keuangan. Untuk DKI, dengan 36 data, nilai minimum adalah 0,25 dan maksimum 0,50, serta rata-rata 0,3724, menunjukkan konsistensi yang relatif tinggi (standar deviasi 0,07595). Ukuran Perusahaan memiliki rentang yang lebih luas, dengan nilai minimum 2,39 dan maksimum 60,29, serta rata-rata 22,3039, mencerminkan variasi signifikan dalam skala operasi (standar deviasi 10,92049). <italic id="_italic-82">Financial distress</italic> menunjukkan rata-rata -1,3779 dengan rentang antara -17,33 hingga 3,29, mengindikasikan banyak perusahaan mengalami kesulitan keuangan, dan variasi besar dalam tingkat kesulitan (standar deviasi 5,46207). Kinerja Keuangan memiliki rata-rata rendah 0,0494, dengan rentang -1,63 hingga 0,35, di mana beberapa perusahaan mengalami kerugian, sementara yang lain masih menghasilkan laba (standar deviasi 0,33868). Secara keseluruhan, tabel ini mencerminkan tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan dalam sampel, yang mungkin disebabkan oleh manajemen yang tidak efisien, kondisi pasar yang sulit, atau struktur utang yang tidak sehat, dan memberikan dasar untuk analisis lebih lanjut mengenai hubungan antara ukuran perusahaan, <italic id="_italic-83">financial distress</italic>, dan kinerja keuangan.</p>
        <p id="_paragraph-71">
          <bold id="_bold-56">Uji Asumsi Klasik</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-72">
          <bold id="_bold-57">Uji Normalitas</bold>
        </p>
        <table-wrap id="table-figure-2f25e31ea0bfd18d958ba1103ebc463a">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-58">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-59">5</bold>
              <bold id="_bold-60">. Hasil Uji Normalitas</bold>
            </title>
            <p id="paragraph-c2521f2c9a27f98faab945ac964a9eec"/>
          </caption>
          <table id="table-881621bfae94c57df9234c0acad432d8">
            <tbody>
              <tr id="table-row-4cc9f85356ef428db5d4e075a9161f05">
                <td id="table-cell-86b35158298819e5809b38007cd608c4" colspan="4"> One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a7b07cad7d6c816a6fb4ac283675ba91">
                <td id="table-cell-107e66dda105d940794675cee81b6928" colspan="2"/>
                <td id="table-cell-40aa2ed59b91a378effd39811f6c36fe" colspan="2">Unstandardized Residual</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4bc96c7b675f1d7ab0da62babbed8530">
                <td id="table-cell-9ac7b7d5a521d444cbf1fd1da36381e3" colspan="2">N</td>
                <td id="table-cell-a5025bbea9550d0cb18da56adf523ad7" colspan="2">36</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-957248f78466d9b665f9ead15d99a9b7">
                <td id="table-cell-f637d383a0acdbddce695122a3a5bfb9">Normal Parametersa,b</td>
                <td id="table-cell-af8b5116420c5373cc0a96dc574b036a">Mean</td>
                <td id="table-cell-71ad0bb81d4b05cdbc69ce1054e5271c" colspan="2">,0000000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-72daf9722306e64fa5201e79d12a0198">
                <td id="table-cell-c71631e540a3874e326f3286d40c3856"/>
                <td id="table-cell-fbea44b8c415738ecaf56f397d569ea7">Std. Deviation</td>
                <td id="table-cell-229425e6de71dc03107c844f59f4b285" colspan="2">,11309224</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e844cae14b62db5d23672a3e6fbcb9cf">
                <td id="table-cell-ab4f14cecaff638b658564b054db661a" rowspan="3">Most Extreme Differences</td>
                <td id="table-cell-7fdde7c18df501c6431d0cb8ce07b9ab">Absolute</td>
                <td id="table-cell-cecb8b277d55d35a6b5eb3ff1a5c14a1" colspan="2">,132</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d6afb2d022be56f77d2ef7ac1f460f7a">
                <td id="table-cell-70d7d0838777ae1ce03882849097d806">Positive</td>
                <td id="table-cell-ee5b183531f4a9571f018856768f4bd4" colspan="2">,126</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b7adef60e398c1d2143b9fe50579e222">
                <td id="table-cell-50ebd78f98fc65a56b3a9485b309f318">Negative</td>
                <td id="table-cell-4cfbd7feafcd51899e723cb9701824f7" colspan="2">-,132</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8d6c96e47e8ef3bf4d958a9cdf44621f">
                <td id="table-cell-f65c186244d80ca2da56d4011f7bb7ea" colspan="2">Test Statistic</td>
                <td id="table-cell-af8c22549722a3ae039c6734a12e6ec8" colspan="2">,132</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d2ddba94c03fa1d0c75cd3245d40c357">
                <td id="table-cell-dfbef2641f2b206d020008fda77c060e" colspan="2">Asymp. Sig. (2-tailed)</td>
                <td id="table-cell-e0685156372a694a7c6df2cfb2818192" colspan="2">,116c</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ef68728e13cbc3a04a9354f7354d124b">
                <td id="table-cell-def09570d4654072833e87abe1253ecd" colspan="4">a. Test distribution is Normal.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-07ae62546f66b099ad50d8e82484346b">
                <td id="table-cell-babb8c3c772e53d72d76454ba39c5bec" colspan="4">b. Calculated from data.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8c976fa2aaecaed157b6aa163d3a4ab3">
                <td id="table-cell-8145ac8d89d4fd3d8135db5693893eed" colspan="4">c. Lilliefors Significance Correction.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-75">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-76">Berdasarkan hasil pengujian normalitas pada data yang tercantum dalam Tabel 5 dilakukan dengan menggunakan metode <italic id="_italic-84">One-Sample Kolmogorov-Smirnov</italic> Test terhadap sampel berjumlah 36. Hasil uji tersebut menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,116. Nilai ini berada di atas ambang batas signifikansi yang telah ditetapkan, yaitu 0,05. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan pada uji normalitas, apabila nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar dari 0,05, maka hipotesis nol (H₀) yang menyatakan bahwa data berasal dari populasi dengan distribusi normal tidak dapat ditolak. Artinya, tidak ditemukan cukup bukti secara statistik untuk menyatakan bahwa data tidak berdistribusi normal. Dengan demikian, hasil pengujian ini memberikan indikasi bahwa sebaran data dalam sampel tersebut memenuhi asumsi normalitas, sehingga data dapat dianggap berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Temuan ini penting karena memenuhi salah satu syarat dalam penerapan berbagai analisis statistik parametrik yang memerlukan asumsi distribusi normal.</p>
        <p id="_paragraph-77">
          <bold id="_bold-62">Uji Heteroskedastisitas</bold>
        </p>
        <fig id="fig3">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-63">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-64">6</bold>
              <bold id="_bold-65">. Hasil Uji Heteroskedastisitas</bold>
            </title>
            <p id="_paragraph-79"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-3" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image3.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-80"> Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-81">Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas yang disajikan pada tabel 6. Dapat dipahami dengan cara mengamati pola persebaran titik-titik pada grafik scatterplot. Dalam hal ini, diketahui bahwa titik-titik residual menyebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu, seperti garis, kipas, corong, atau pengelompokan pada area tertentu. Persebaran titik yang acak ini menunjukkan bahwa varians residual atau galat dari model regresi adalah konstan pada seluruh nilai variabel independen, atau dengan kata lain model memenuhi asumsi homoskedastisitas. Hal ini berarti tidak terdapat indikasi terjadinya heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian, model regresi yang dihasilkan dapat dikatakan layak dan valid karena telah memenuhi salah satu syarat penting dalam regresi linear klasik, sehingga estimasi koefisien regresi, uji statistik, serta kesimpulan yang diambil dari model tersebut dapat dipercaya.</p>
        <p id="_paragraph-82">
          <bold id="_bold-66">Uji Multikolonearitas</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-84">
          <bold id="_bold-70">Coefficients</bold>
          <bold id="_bold-71">
            <sup id="_superscript-7">a</sup>
          </bold>
        </p>
        <table-wrap id="table-figure-3cfa4473f70e438e20d1a9d2b0ee6c80">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-67">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-68">7</bold>
              <bold id="_bold-69">. Uji Multikolonearitas</bold>
            </title>
            <p id="paragraph-90abd06721ce7675e5709e632a980dbe"/>
          </caption>
          <table id="table-e4f68f6b6cc2ad3a051cc11f7dae60f0">
            <tbody>
              <tr id="table-row-0e65cd0af85d1f23c9d757e1c7e49cb9">
                <td id="table-cell-5aa012ba084db0dbb4c17479e3582b3f">Model</td>
                <td id="table-cell-95db28cff34ea7ad125c6d7058b79949"/>
                <td id="table-cell-c038f017fd096fa25d104d347d50eeb5" colspan="2">Collinearity Statistics</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a91a9150c624bcf19298f3b72a5993bd">
                <td id="table-cell-d7b8bf23780022a01f027fad848bf51b"/>
                <td id="table-cell-bffb2fad2c1e6e62cd4d51d64a0860c0"/>
                <td id="table-cell-cf95f35f495ae57921a6529c5984a7ad">Tolerance</td>
                <td id="table-cell-47a1aecb1bc9d7d9dc647474dbb4b0eb">VIF</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-164af53e6e94cee766d6dfdfcfacd82d">
                <td id="table-cell-9791c53f0ad063c1e62fcb9fdb9419b6" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-297a91971f20a517a057b021767475a3">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-4fe45c07688293aaf020f1937174e5aa"/>
                <td id="table-cell-487eb481ecea5547b530fde158348597"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-4377583a49e302b12b950ff2ff5b5678">
                <td id="table-cell-45dc342e595a7cdc6816f82c9d07f05f">DKI</td>
                <td id="table-cell-79e2712bc7c2a61701af9f916d4a6dd9">,822</td>
                <td id="table-cell-b77acf3b356afe911762064df874fa3b">1,217</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4e776eae908df3b42e952cddc521791b">
                <td id="table-cell-90cf2ad04dc8524d6ffbbfc9abc70f96">Ukuran Perusahaan</td>
                <td id="table-cell-a91e9225e352d7fe20000d845c6c7200">,899</td>
                <td id="table-cell-ddde76c4d517f491e7452bc0be29db7b">1,113</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4ac3fafaf7a24d342bc91a42eaabd6c8">
                <td id="table-cell-9656a955b7260099996ca272017f24a7"> Financial distress </td>
                <td id="table-cell-4b7649bc08d095e0cf1499819f3b197d">,832</td>
                <td id="table-cell-36680205b17a4caa45ca227ac463bed4">1,202</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-86">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-87">Berdasarkan hasil uji multikolonearitas yang disajikan pada Tabel 7, seluruh variabel dalam model regresi menunjukkan nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang lebih kecil dari 10, serta nilai Tolerance yang lebih besar dari 0,1. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinieritas di antara variabel-variabel independen yang digunakan dalam model. Dengan kata lain, hubungan antarvariabel bebas tidak menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat yang dapat memengaruhi kestabilan model. Hasil ini memberikan keyakinan bahwa model regresi yang dibangun memiliki estimasi koefisien regresi yang stabil dan tidak bias. Selain itu, kontribusi masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dapat diinterpretasikan secara valid, sehingga hasil analisis regresi yang dilakukan dapat dipercaya dan digunakan untuk pengambilan keputusan lebih lanjut.</p>
        <p id="_paragraph-88">
          <bold id="_bold-72">Uji Autokorelasi</bold>
        </p>
        <table-wrap id="tbl7">
          <label>Table 5</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-73">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-74">8</bold>
              <bold id="_bold-75">. Uji Autokorelasi</bold>
            </title>
            <p id="_paragraph-90"/>
          </caption>
          <table id="_table-7">
            <tbody>
              <tr id="table-row-34e0a3041d4e5b2dea8d2b45e25cae8d">
                <td id="f59246b76e7ae3156b6bc12053c15d9d" colspan="6">
                  <bold id="_bold-76">Model Summary</bold>
                  <bold id="_bold-77">
                    <sup id="_superscript-8">b</sup>
                  </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a92e23eaecfdf8e4f4e98b77e97cfe93">
                <td id="827b0ff568b53bb0302a822833bd24f6">Model</td>
                <td id="385540047ff6fbe908f91d1140dc5f93">R</td>
                <td id="00afac7911c17a26da695cf0ffd9c928">R Square</td>
                <td id="8c9f01f5407589b2b2cea384d1f6d397">Adjusted R Square</td>
                <td id="442f13cb9a7921a17bacc66b2481f44a">Std. Error of the Estimate</td>
                <td id="5003d5833988b508dd2f371be8aed0f5">Durbin-Watson</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4c35529a34922c260dd19fda0b018a8c">
                <td id="cf152bd5bfef8b490985f6fb7bff0091">1</td>
                <td id="c35255d1e3cd69514246c8542274f243">,943<sup id="_superscript-9">a</sup></td>
                <td id="1102579d78a7ba2ff77678b00490162a">,888</td>
                <td id="6c7051fe5f14693d96e0ec48c918d719">,878</td>
                <td id="01271b5b35fe6c92c11c57f369563594">,11827</td>
                <td id="1cb4545b8d1ba1f4a10b69a1330203f3">,676</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-03c197291159599973688dc8acedbee8">
                <td id="c07cc4034d270e10ce69da0ebf8916bc" colspan="6">a. Predictors: (Constant), DKI, Ukuran Perusahaan, <italic id="_italic-86">Financial distress</italic></td>
              </tr>
              <tr id="table-row-15884bc0b088b32cd3ad69baa463434a">
                <td id="944b200648a48065cfe1bf207a1b1523" colspan="6">b. Dependent Variable: Kinerja Keuangan</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-91">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-92">Berdasarkan hasil uji autokorelasi yang telah disajikan pada Tabel 8, diperoleh nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 0,676. Nilai ini memberikan indikasi bahwa tidak terdapat masalah autokorelasi pada residual model regresi yang dianalisis. Hal ini disebabkan karena angka DW tersebut berada di dalam kisaran yang dianggap aman, yakni mendekati angka <bold id="_bold-78">2</bold>, yang menunjukkan tidak adanya korelasi di antara residual satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, residual dari model tidak menunjukkan pola tertentu yang saling berkaitan, baik secara positif maupun negatif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan telah memenuhi salah satu asumsi penting dalam uji asumsi klasik. Memenuhinya asumsi ini penting untuk memastikan bahwa hasil estimasi koefisien regresi yang diperoleh bersifat valid, dan interpretasi dari model dapat dilakukan dengan tingkat keandalan yang baik dalam rangka mendukung analisis lebih lanjut.</p>
        <p id="_paragraph-93">
          <bold id="_bold-79">Uji Hipotesis</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-94">
          <bold id="_bold-80">Uji T</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-96">
          <bold id="_bold-84">Coefficients</bold>
          <bold id="_bold-85">
            <sup id="_superscript-10">a</sup>
          </bold>
        </p>
        <table-wrap id="table-figure-1fd518b9640a17fd15e8d748b28b4732">
          <label>Table 6</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-81">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-82">9</bold>
              <bold id="_bold-83">. Hasil Uji T</bold>
            </title>
            <p id="paragraph-a6273a14678ebdd1a660f7de21854123"/>
          </caption>
          <table id="table-b1c3cf06f7377007078cf010375fc83d">
            <tbody>
              <tr id="table-row-846f984822a7ec52c30baac54816207f">
                <td id="table-cell-b0083a3858af9b1dc3ec958a2ad974c2">Model</td>
                <td id="table-cell-dd7cdb93dea7e2f674e062a2b405078f"/>
                <td id="table-cell-4f563d71a14f1f3f4ee9765dbf0eb98a" colspan="2">Unstandardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-13a1b16e8a6011f87266c3051235904b">Standardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-2debf20e8acac98c53722efe746dfe39" rowspan="2">T</td>
                <td id="table-cell-7e79ed85dd953d89bbfe54ed17baf3fb" rowspan="2">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6845378e7e6795b8a44d5485c1296264">
                <td id="table-cell-d8bd1dbb6c88988e37132baa9cb1eee1"/>
                <td id="table-cell-546226a3fb95a79e029bb66658cda13f"/>
                <td id="table-cell-2a64080c0053021a78b9efc9537a78d8">B</td>
                <td id="table-cell-087044158694267ebd0ab86d3ce3d0dd">Std. Error</td>
                <td id="table-cell-31c0311809ba80368d982121e961ad91">Beta</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e86cff94e5aaf0872336f9f8049df99b">
                <td id="table-cell-05ad348fb78bfc1dcd8b584242be61db" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-e00767c1fbd908cc823816f5101fb061">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-4d692bd04cd127c62614d9efddd74243">,035</td>
                <td id="table-cell-b04cd3986c43874dfde80c0163de7b2b">,112</td>
                <td id="table-cell-576768d4fae41f9017631ac3e3079dd7"/>
                <td id="table-cell-67090fdc1bb6ddddea5ab05c15605feb">,308</td>
                <td id="table-cell-0eb26706928f8047a703d6a6e65d4238">,760</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4986199cb477fb39abac5602f3c9db8c">
                <td id="table-cell-92a380c17c9717dd7498c5f4ffc2462e">DKI</td>
                <td id="table-cell-1bd03ff2cc9ab4ef3d16dbf34aef4cff">1,619</td>
                <td id="table-cell-1eda343603ff1296a5a2c02852631ee3">,290</td>
                <td id="table-cell-e0ed98a2d0305dfb166d33a56dbac2d6">,363</td>
                <td id="table-cell-044f12c0febd1f703b8b3506a439cbc8">5,575</td>
                <td id="table-cell-7bb6c841d75636d1b0b9c4360ed7c9fc">,000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-aa20f287ffc16295dce2c4a975268a09">
                <td id="table-cell-8b2eb4f3110c37e0d90797bd0648e95f">Ukuran Perusahaan</td>
                <td id="table-cell-032105b4ec4d83bb7c63f2c122507cf5">,024</td>
                <td id="table-cell-aaed59eef36db5963c4d33b6ec5f9464">,002</td>
                <td id="table-cell-dc923db0bb5936d2470d6a8c760cc57a">,773</td>
                <td id="table-cell-58a4e62a8cef00129b03ed7c332596e0">12,418</td>
                <td id="table-cell-f5cbaff4fa6f2664b4635df3f9b36a17">,000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4d776c553cf6069d307b140a97d9efef">
                <td id="table-cell-28dffe1672e961b8d708aed6e8f208eb"> Financial distress </td>
                <td id="table-cell-9b859c7254b0625286f7d39cfed21335">,038</td>
                <td id="table-cell-da634f4f0f6bd56225699d5b96327838">,004</td>
                <td id="table-cell-42223cc755520269402fe77cabd668b4">,621</td>
                <td id="table-cell-1e6becdb1f20fa923d99ddedf97c5664">9,589</td>
                <td id="table-cell-412ae79f22d91ab7cdca5fc2029f263a">,000</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-98">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-99">Berdasarkan tabel yang disajikan, didapatkan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:</p>
        <p id="_paragraph-100">𝑌= 0,035 + 1,619𝑋1 + 0,024𝑋2 + 0,038𝑋3 + e </p>
        <p id="_paragraph-101">Yang menunjukkan bahwa semua variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen dalam model regresi. DKI memiliki koefisien 1,619, <italic id="_italic-88">t-statistic</italic> 5,575 dan <italic id="_italic-89">p-value</italic> 0,000, menunjukkan pengaruh positif yang sangat signifikan. Ukuran Perusahaan dengan koefisien 0,024, t-statistic 12,418 dan <italic id="_italic-90">p-value</italic> 0,000 juga menunjukkan kontribusi signifikan. <italic id="_italic-91">Financial distress</italic>, dengan koefisien 0,038, <italic id="_italic-92">t-statistic</italic> 9,589, dan <italic id="_italic-93">p-value</italic> 0,000. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang sangat signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen menunjukkan nilai p di bawah 0,05, yang mengindikasikan bahwa semua variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen.</p>
        <p id="_paragraph-102">
          <bold id="_bold-86">Uji Koefesien Determinasi</bold>
        </p>
        <table-wrap id="tbl9">
          <label>Table 7</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-87">Tabel </bold>
              <bold id="_bold-88">10</bold>
              <bold id="_bold-89">. Hasil Uji Koefesien Determinasi</bold>
            </title>
            <p id="_paragraph-104"/>
          </caption>
          <table id="_table-9">
            <tbody>
              <tr id="table-row-dc960110bce6ce3b48d8ef49e2384cbe">
                <td id="cdd5e4ddc30f141501dbb65e74a1f8da" colspan="5">
                  <bold id="_bold-90">Model Summary</bold>
                  <bold id="_bold-91">
                    <sup id="_superscript-11">b</sup>
                  </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3df74ed6cc6911db9696b90053fb28e8">
                <td id="3c5e9b4703fe713d2e0ceb7021e100f0">Model</td>
                <td id="67ce79fa4c2a0500723421165550c053">R</td>
                <td id="dcba478ffb0703fb7f38809b78db9c1d">R Square</td>
                <td id="5e736a0cf91486994f792306027f0421">Adjusted R Square</td>
                <td id="9baf2ac80366fd81d454e4c8e6d4a393">Std. Error of the Estimate</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-05b5584bf437e823b469bd79b8fe5820">
                <td id="c13503f60c60d890ead75a92ce86866c">1</td>
                <td id="e3fd68ffe5a0e78387e93d1657fec304">,943<sup id="_superscript-12">a</sup></td>
                <td id="1d91e42947819875f30dbac7bdf7bf44">,888</td>
                <td id="47661673b8a29c5779d03c3dd56a5ad1">,878</td>
                <td id="6fc7e996b91034e24e41b97803722751">,11827</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3ea65fd765f2f7bfcd8bf4b48dafc556">
                <td id="4118e9b5c872a029a37e672c9ac2ca5e" colspan="5">a. Predictors: (Constant), DKI, Ukuran Perusahaan, <italic id="_italic-94">Financial distress</italic></td>
              </tr>
              <tr id="table-row-cd6c608f42b0a4ab875d1534931eb81d">
                <td id="5117deff9d397b39eba8186e38531284" colspan="5">b. Dependent Variable: Kinerja Keuangan</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-105">Sumber : Output SPSS Ver 23</p>
        <p id="_paragraph-106">Hasil uji koefisien determinasi yang tercantum pada Tabel 10, biasanya dinyatakan dengan nilai R-squared (R²), hal ini memberikan gambaran tentang seberapa besar proporsi variasi pada variabel dependen yang dapat diterangkan oleh variabel-variabel independen dalam model regresi. Nilai R² yang diperoleh sebesar 0,878. Hal ini mengindikasikan bahwa 87,8% variasi pada variabel dependen berhasil dijelaskan oleh variabel independen dalam model, sedangkan sisanya sebesar 12,2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam analisis. Nilai R² yang tinggi ini menandakan bahwa model regresi memiliki kemampuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel -variabel tersebut.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-ae62952d3804ce98f04e6206a7289d59">
        <title>
          <bold id="_bold-92">Pembahasan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-108">
          <bold id="_bold-93">Pengaruh</bold>
          <bold id="_bold-94">Dewan</bold>
          <bold id="_bold-95">Komisaris</bold>
          <bold id="_bold-96">Independen</bold>
          <bold id="_bold-97">Terhadap</bold>
          <bold id="_bold-98">Kinerja</bold>
          <bold id="_bold-99">Keuangan</bold>
          <bold id="_bold-100">Perusahaan</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-109">Analisis statistik yang dilakukan dalam penelitian ini, khususnya melalui uji T, telah menghasilkan temuan yang sangat signifikan terkait pengaruh Dewan Komisaris Independen (DKI) terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Hasil uji T menunjukkan bahwa variabel DKI memiliki koefisien regresi positif sebesar 1,619, yang secara langsung mengindikasikan adanya hubungan searah yang semakin tinggi proporsi dewan komisaris independen dalam struktur tata kelola perusahaan, maka semakin baik juga kinerja keuangan yang dicapai oleh perusahaan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan DKI berperan penting dalam meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap manajemen, sehingga dapat meminimalkan praktik-praktik yang mengutamakan kepentingan pribadi oleh para manajer. Dengan pengawasan yang lebih ketat, perusahaan mampu menjaga integritas operasional dan mencapai kinerja keuangan yang lebih optimal. Tingkat signifikansi dari pengaruh ini sangat kuat yang dibuktikan dengan nilai p-value sebesar 0,000, yang jauh di bawah ambang batas signifikansi 0,05 yang menegaskan bahwa hubungan ini signifikan secara statistik. Interpretasi ini sangat selaras dengan prinsip teori keagenan yaitu dewan komisaris independen berfungsi sebagai mekanisme pengawasan krusial yang meminimalkan konflik kepentingan dan memastikan manajemen bertindak demi kepentingan terbaik perusahaan. Temuan ini konsisten dengan penelitian terdahulu, memperkuat validitas bahwa dewan komisaris independen adalah pilar penting dalam mendorong tata kelola perusahaan yang baik (GCG), berkontribusi pada peningkatan akuntabilitas, transparansi, dan pada akhirnya, kinerja finansial perusahaan yang lebih optimal. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh     yang secara jelas membuktikan bahwa adanya pengaruh signifikan dari dewan komisaris independen terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Dewan Komisaris Independen (DKI) berhubungan erat dengan kinerja keuangan perusahaan. Secara teori, proporsi DKI yang memadai dapat meningkatkan efektivitas fungsi pengawasan sehingga mendorong terciptanya praktik tata kelola perusahaan yang lebih baik. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan investor dan meminimalisasi potensi konflik kepentingan yang berimplikasi pada peningkatan kinerja keuangan. Dengan kata lain, keberadaan DKI tidak hanya berpengaruh terhadap ROA sebagai indikator profitabilitas, tetapi juga memiliki keterkaitan terhadap stabilitas dan keberlanjutan kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. DKI yang efektif dapat memperkuat penerapan prinsip <italic id="_italic-95">Good corporate governance</italic> (GCG), meningkatkan transparansi, serta mengurangi risiko terjadinya praktik manipulasi laporan keuangan. Dengan demikian, kepercayaan investor dan kreditor akan semakin meningkat, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penguatan posisi keuangan jangka panjang perusahaa. Hal ini menggarisbawahi bahwa mekanisme pengawasan yang dibawa oleh dewan komisaris independen, seperti kemampuan untuk mengevaluasi laporan keuangan secara kritis, meminimalkan potensi penipuan, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi, secara efektif berkontribusi pada peningkatan profitabilitas dan stabilitas finansial. Konsistensi yang berulang kali muncul dari berbagai penelitian ini, termasuk penelitian saat ini, secara kolektif memperkuat validitas temuan bahwa dewan komisaris independen memainkan peran yang sangat penting. DKI bukan hanya sekadar formalitas dalam struktur organisasi melainkan merupakan pilar penting dalam mendorong tata kelola perusahaan yang baik (<italic id="_italic-96">Good corporate governance</italic><italic id="_italic-97">/</italic>GCG). Melalui fungsi pengawasan yang objektif dan independen, dewan komisaris independen membantu memastikan bahwa keputusan strategis dan operasional manajemen selaras dengan kepentingan seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham minoritas yang rentan. Dengan demikian, mereka berkontribusi pada peningkatan akuntabilitas, transparansi, dan pada akhirnya, kinerja finansial perusahaan yang lebih optimal.</p>
        <p id="_paragraph-110">
          <bold id="_bold-101">Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-111">Hasil uji T dalam penelitian ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif dan sangat signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan Tabel 8, variabel Ukuran Perusahaan (X2) memiliki koefisien positif sebesar 0,024, dengan nilai t-<italic id="_italic-98">statistic </italic>yang sangat tinggi yaitu 12,418, dan nilai <italic id="_italic-99">p-value </italic>sebesar 0,000. Nilai <italic id="_italic-100">p-value</italic> yang jauh di bawah ambang batas signifikansi 0,05 ini secara tegas mengindikasikan bahwa pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja keuangan adalah signifikan secara statistik. Koefisien positif menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, yang diukur dengan logaritma natural dari total aset, semakin tinggi pula kinerja keuangannya. Mengamati data pada Tabel 2, dapat dlihat bagaimana ukuran perusahaan (X2) bervariasi antar perusahaan dan dampaknya terhadap Kinerja Keuangan (Y), dengan asumsi bahwa perusahaan-perusahaan ini bergerak di bidang produksi tekstil seperti benang, kain, atau pakaian jadi. PT. Panasia Indo Resources Tbk: Perusahaan ini memiliki ukuran perusahaan (X2) yang berkisar antara 19,293 hingga 20,190. Meskipun ukurannya relatif stabil, kinerja keuangannya (Y) menunjukkan fluktuasi yang signifikan, dari negatif di awal periode (-0,385 hingga -1,629) menjadi positif di tahun-tahun berikutnya (0,112 hingga 0,134). Ini menunjukkan bahwa meskipun ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif secara umum, perusahaan dengan ukuran menengah ini masih rentan terhadap dinamika pasar dan efisiensi operasional dalam produksi tekstilnya. PT. Asia Pacific Investama TbkPerusahaan ini memiliki ukuran perusahaan (X2) yang cenderung lebih kecil dibandingkan yang lain, berkisar antara 14,298 hingga 15,192. Kinerja keuangannya cenderung rendah dan stagnan (berkisar antara -0,177 hingga 0,045). Hal ini konsisten dengan temuan bahwa ukuran perusahaan yang lebih kecil mungkin menghadapi tantangan lebih besar dalam mencapai skala ekonomi atau akses modal, yang berdampak pada profitabilitas produk tekstilnya. PT. Trisula International Tbk memiliki ukuran perusahaan (X2) yang paling besar di antara sampel, berkisar antara 27,024 hingga 27,862. Seiring dengan ukurannya yang besar, kinerja keuangannya (Y) menunjukkan peningkatan signifikan dari 0,073 di 2016 menjadi 0,313 di 2024. Sebagai produsen pakaian jadi, ukuran besar ini kemungkinan memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan skala ekonomi dalam produksi, negosiasi dengan pemasok, dan jangkauan pasar yang lebih luas, yang semuanya berkontribusi pada kinerja keuangan yang lebih baik. PT. Trisula Textile Industries Tbk ini juga memiliki ukuran perusahaan (X2) yang besar, berkisar antara 26,684 hingga 27,105. Kinerja keuangannya (Y) menunjukkan tren positif yang signifikan, dari 0,058 di 2016 menjadi 0,320 di 2024. Sebagai perusahaan yang fokus pada produksi tekstil (kain/benang), ukuran besar ini memungkinkan investasi dalam teknologi, efisiensi produksi massal, dan kemampuan untuk melayani pesanan besar, yang semuanya mendukung peningkatan profitabilitas.</p>
        <p id="_paragraph-112">Interpretasi temuan ini sangat relevan dengan Teori Agensi (<italic id="_italic-101">Agency Theory</italic>). Teori ini menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya ukuran perusahaan, kebutuhan dan tantangan dalam pengelolaan menjadi lebih kompleks, yang dapat mempersulit pemantauan dan pengelolaan perusahaan besar. Namun, di sisi lain, perusahaan yang lebih besar seringkali memiliki keunggulan kompetitif. Mereka cenderung lebih mudah mendapatkan modal di pasar saham karena dianggap memiliki kinerja yang lebih stabil. Dengan memiliki sumber daya modal yang signifikan, perusahaan besar dapat memperluas operasinya dan meningkatkan efisiensi dalam mengelola aset untuk menghasilkan laba. Dalam konteks teori agensi, ukuran perusahaan yang besar juga dapat memfasilitasi pengurangan biaya keagenan melalui pengelolaan informasi yang lebih baik dan pengurangan biaya informasi tambahan, serta memperkuat keterbukaan informasi untuk meningkatkan kepercayaan investor. Semakin efisien suatu perusahaan mengelola aset dalam operasi bisnisnya untuk menghasilkan laba, maka semakin besar pula potensi laba yang dimilikinya . Semakin efisien suatu perusahaan mengelola aset dalam operasi bisnisnya untuk menghasilkan laba, maka semakin besar pula potensi laba yang dimilikinya. Keselarasan hasil penelitian ini dengan studi-studi sebelumnya juga sangat jelas dan konsisten. Temuan ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh     yang secara jelas menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Konsistensi yang kuat ini memperkuat argumen bahwa, meskipun manajemen perusahaan besar menjadi lebih kompleks, keuntungan dari skala ekonomi, akses modal yang lebih mudah, dan kemampuan yang lebih baik dalam mengelola biaya keagenan secara efektif seringkali mendominasi, sehingga menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik. Oleh karena itu, ukuran perusahaan dapat dianggap sebagai indikator keberhasilan, di mana perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih stabil dan menguntungkan.</p>
        <p id="_paragraph-113">
          <bold id="_bold-102">Pengaruh </bold>
          <bold id="_bold-103">
            <italic id="_italic-102">Financial distress</italic>
          </bold>
          <bold id="_bold-104">Terhadap</bold>
          <bold id="_bold-105">Kinerja</bold>
          <bold id="_bold-106">Keuangan </bold>
          <bold id="_bold-107">Perusahaan</bold>
        </p>
        <fig id="figure-panel-01735a87781457e72b7de0d6b2f8f071">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="_bold-108">Tabel 11. Hasil </bold>
              <bold id="_bold-109">Perhitungan Altman </bold>
              <bold id="_bold-110">
                <italic id="_italic-103">Z-score</italic>
              </bold>
            </title>
            <p id="paragraph-7e46afcf627a5b7d04dcf40a9636f0b7"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-d5aeffaa379221183b0bb2d613c2bb22" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12318-04.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-116">Sumber: Diolah oleh peneliti, 2025</p>
        <p id="_paragraph-117">Dari hasil perhitungan nilai <italic id="_italic-105">Z-Score </italic>pada tahun 2016 hingga 2024 menunjukkan bahwa terdapat 2 perusahaan yang mengalami kondisi distress yaitu PT Panasia Indo Resources Tbk yang menunjukkan nilai <italic id="_italic-106">Financial Distress </italic>(X3) yang sangat rendah (negatif) berkisar antara -2,470 hingga -17,326 di awal periode, yang mengindikasikan kondisi <italic id="_italic-107">financial distress </italic>yang parah. Sejalan dengan itu, kinerja keuangannya (Y) juga sangat rendah bahkan negatif (-0,385 hingga -1,629). Meskipun ada perbaikan di tahun-tahun berikutnya (nilai X3 menjadi -1,264 dan Y menjadi 0,118) perusahaan ini masih menghadapi tantangan besar. Dan PT Asia Pasific Investama Tbk juga menunjukkan nilai <italic id="_italic-108">Financial Distress </italic>(X3) yang negatif, berkisar antara -0,805 hingga -1,749, yang mengindikasikan adanya <italic id="_italic-109">distress</italic>. Kinerja keuangannya (Y) cenderung rendah dan stagnan (berkisar antara -0,177 hingga 0,045).. Kondisi tersebut menandakan bahwa perusahaanya sedang tidak sehat atau bangkrut. Terutama pada perusahaan PT Panasia Indo Resources Tbk setiap tahunnya mengalami kenaikan angka distress yang tinggi. Hal ini disebabkan karena rasio keuangan yang lemah dan penurunan pendapatan serta produksi. Perusahaan ini dulunya memproduksi berbagai jenis benang yang berbahan polister dan sempat memasarkan produknya ke berbagai negara. Akan tetapi, pada tahun 2017 PT Panasia Indo Resources Tbk sudah mulai berhenti produksi di sektor tekstil melainkan sekarang bertransformasi ke sektor lain, seperti penyewaan gudang dan investasi di sektor properti yang bertujuan untuk memulihkan kondisi keuangan perusahaan kembali. Sedangkan, PT Asia Pasific Investama Tbk juga mengalami distress tiap tahunnya, tetapi tidak separah perusahaan PT Panasia Indo Resources Tbk. Perusahaan ini memproduksi benang, kain greige, kain denim, pakaian jadi, dan laundry industri (layanan pencucian skala besar untuk produk tekstil). Perusahaan tersebut merupakan hasil dari kerugian operasional kronis, struktur keuangan yang lemah, penurunan ekspor, dan dampak pandemi. Meskipun ada upaya untuk diversifikasi dan peningkatan pendapatan, tetapi perusahaan belum mampu keluar dari tekanan keuangan secara signifikan. Selain itu, nilai <italic id="_italic-110">Z-Score </italic>yang negatif juga mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut berada dalam kondisi <italic id="_italic-111">financial distress </italic>yang parah, bahkan mendekati kebangkrutan. Penyebab utama nilai Z-Score yang negatif ini adalah profitabilitas yang sangat buruk atau negatif (misalnya, laba ditahan atau laba sebelum pajak dan bunga yang negatif), rasio utang yang sangat tinggi (nilai pasar saham biasa/total utang yang sangat rendah), efisiensi aset yang rendah (penjualan/total aset yang rendah), dan/atau modal kerja yang negatif. Dalam industri tekstil, hal ini bisa disebabkan oleh kerugian operasional berkelanjutan, utang menumpuk, ketidakmampuan aset menghasilkan pendapatan, atau masalah likuiditas parah. </p>
        <p id="_paragraph-118">Selain itu, terdapat 2 perusahaan juga yang mengalami kondisi perusahaan safe dan grey. Perusahaan tersebut adalah PT Trisula International Tbk dan PT Trisula Textile Industries Tbk yang dimana keduanya masih berada di bawah Trisula Corporation yang sama-sama bergerak di sektor tekstil dan garmen. PT. Trisula International Tbk (produsen pakaian jadi) dan PT. Trisula Textile Industries Tbk (produsen kain/benang) menunjukkan nilai X3 yang positif dan lebih tinggi (misalnya, 2,471 hingga 3,293 untuk PT. Trisula International), yang sejalan dengan kinerja keuangan (Y) yang meningkat signifikan (0,073 di 2016 menjadi 0,313 di 2024 untuk PT. Trisula International). Untuk PT Trisula International Tbk, perusahaan induk dan produsen pakaian jadi yang memproduksi jaket, celana, pakaian olahraga, APD, dan yang paling unggul hingga saat ini adalah seragam korporat. Perusahaan ini menunjukkan kondisi non distress atau safe, namun sempat mengalami kondisi grey area di tahun 2016 dan 2018-2021 yang dimana dapat dikatakan tingkat kondisi keuangannya sehat atau berada dalam kesulitan. Tetapi, PT Trisula International Tbk pada tahun 2022-2024 berhasil membuktikan bahwa perusahaan dapat kembali kondisi sehat atau tidak terjadinya kebangkrutan serta menjaga kesehatan keuangan yang melalui diversifikasi ekspor, inovasi produk, efisiensi operasional, dan manajemen yang adaptif. Strategi ini yang membuat perusahaan dapat menghindari distress bahkan di tengah tantangan industri tekstil global. Akan tetapi, berbeda dengan PT Trisula Textile Industries Tbk yang tiap tahunnya mengalami kondisi grey area yang masih di ambang kondisi sehat atau berada dalam kesulitan. Kondisi ini disebabkan karena tekanan industri yang signifikan dan risiko stagnasi. Namun, dengan investasi baru, diversifikasi produk, dan penguatan segmen seragam, perusahaan akan berpotensi keluar dari grey area dan kembali tumbuh. Perusahaan ini memproduksi berbagai jenis kain dan benang yang berkualitas tinggi, terutama untuk kebutuhan pakaian formal, seragam, dan fashion retail.</p>
        <p id="_paragraph-119"> Interpretasi temuan ini sangat relevan dengan Teori Sinyal (<italic id="_italic-112">Signaling Theory</italic>). Teori Sinyal berpendapat bahwa manajemen perusahaan memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi internal perusahaan dibandingkan pihak eksternal seperti investor, kreditor, dll. . Oleh karena itu, manajemen akan berusaha mengirimkan sinyal positif kepada pasar untuk mengurangi asimetri informasi dan mempengaruhi persepsi pihak eksternal. Dalam konteks <italic id="_italic-113">financial distress</italic>, kondisi kesulitan keuangan itu sendiri merupakan sinyal yang sangat kuat kepada pasar. Ketika suatu perusahaan berada dalam kondisi <italic id="_italic-114">financial distress</italic>, ini adalah sinyal negatif yang mengindikasikan adanya masalah likuiditas serius, ketidakmampuan membayar utang, atau bahkan potensi kebangkrutan. Sinyal negatif ini dapat merusak kepercayaan investor dan kreditor, menyebabkan penurunan harga saham, kesulitan mendapatkan pendanaan baru, dan pada akhirnya berdampak buruk pada kinerja keuangan. Namun, jika perusahaan mampu menunjukkan upaya atau indikasi untuk mengatasi <italic id="_italic-115">financial distress</italic> (misalnya, melalui restrukturisasi utang, efisiensi operasional, atau perbaikan rasio keuangan yang tercermin dalam peningkatan <italic id="_italic-116">Z-score</italic>), ini dapat menjadi sinyal positif. Peningkatan <italic id="_italic-117">Z-score</italic>, meskipun kecil, dapat diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa perusahaan sedang bergerak menuju kondisi keuangan yang lebih sehat. Manajemen yang proaktif dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah <italic id="_italic-118">financial distress</italic> mengirimkan sinyal kompetensi dan komitmen untuk menjaga keberlanjutan perusahaan. Hal ini dapat memulihkan sebagian kepercayaan pasar, mengurangi persepsi risiko, dan pada akhirnya mendukung peningkatan kinerja keuangan. Dengan demikian, hubungan positif antara <italic id="_italic-119">Z-score</italic> (indikator kesehatan finansial) dan kinerja keuangan sangat konsisten dengan Teori Sinyal, di mana kondisi keuangan yang membaik (kurangnya <italic id="_italic-120">financial distress</italic>) adalah sinyal positif yang dihargai oleh pasar . Keselarasan hasil penelitian ini dengan studi-studi sebelumnya juga sangat jelas dan konsisten, memperkuat validitas temuan. Temuan ini didukung kuat oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh     , yang secara jelas menyatakan bahwa <italic id="_italic-121">financial distress</italic>yang diukur menggunakan model Altman <italic id="_italic-122">Z-score</italic> memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Hal Ini menunjukkan bahwa semakin baik <italic id="_italic-123">Z-score</italic> (yang berarti semakin rendah tingkat <italic id="_italic-124">distress</italic>), maka akan semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan. Konsistensi temuaan ini menekankan pentingnya memprediksi dan mengurangi risiko kesulitan keuangan untuk keberlanjutan perusahaan. Kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal <italic id="_italic-125">financial distress</italic> dan mengambil langkah-langkah perbaikan sangat penting untuk menjaga stabilitasd dan pertumbuhan. Model Altman <italic id="_italic-126">Z-score</italic> berfungsi sebagai alat prediksi yang memungkinkan perusahaan dan pemangku kepentingan untuk memantau kesehatan finansial sebelum mencapai tahap krisis, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal. Oleh karena itu, temuan ini tidak hanya memperkaya literatur akademis tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi manajemen perusahaan dan investor dalam mengevaluasi risiko dan prospek finansial.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-120">Kesimpulan dari pembahasan ini adalah variabel Dewan Komisaris Independen memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Semakin tinggi proporsi dewan komisaris independen dalam struktur tata kelola, semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Hal ini sejalan dengan prinsip <italic id="_italic-127">Good corporate governance</italic> (GCG) dan Agency Theory, di mana keberadaan komisaris independen dapat mengurangi konflik kepentingan, meningkatkan pengawasan, serta menjaga transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Variabel Ukuran Perusahaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar cenderung memiliki akses yang lebih mudah terhadap modal, mampu memanfaatkan skala ekonomi, dan lebih efisien dalam mengelola aset sehingga menghasilkan laba yang lebih optimal. Temuan ini mendukung Agency Theory yang menekankan pentingnya manajemen aset dalam perusahaan berskala besar. Variabel <italic id="_italic-128">Financial distress</italic> (yang diukur dengan Altman <italic id="_italic-129">Z-score</italic>) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Artinya, semakin tinggi nilai <italic id="_italic-130">Z-score</italic> (semakin sehat kondisi keuangan perusahaan), semakin baik pula kinerja keuangan yang ditunjukkan. Hal ini konsisten dengan Signaling Theory, bahwa kondisi keuangan yang baik merupakan sinyal positif yang dapat meningkatkan kepercayaan investor dan kreditor, sehingga mendukung keberlanjutan dan profitabilitas perusahaan.</p>
      <p id="paragraph-1d31c40cf17457c4bb28bd58a808ee1c">
        <bold id="bold-f4a172f15f5180c865c9c39ad665e3b6">Ucapan Terima Kasih </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-b838fa594800db5ef11e9d08d8cba676">Saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah memudahkan saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada suami tercinta yang selalu memberikan dukungan dan semangat. Kepada orang tua saya, terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan yang tiada henti. Saya juga sangat berterima kasih kepada teman-teman saya, Ilma, Chika, dan Rena, atas kebersamaan dan motivasi yang telah kalian berikan. Semoga kebaikan kalian semua mendapatkan balasan yang setimpal.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
